1.7 Defisi Istilah
2.1.2 Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Von Glasersveld dalam Suparno (2007) membedakan tiga taraf konstruktivisme, yaitu realisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa. Konstruktivisme radikal berpegang pada pikiran bahwa kita hanya dapat mengetahui apa yang dibentuk dalam pikiran kita. Bentukan itu harus “jalan” dan tidak harus selalu merupakan representasi dunia nyata. Taraf realisme
hipotesis menjelaskan bahwa pengetahuan (ilmiah) kita dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat dengan realitas. Taraf yang ketiga adalah konstruktivisme yang biasa. Aliran ini tidak mengambil semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini, pengetahuan kita merupakan gambaran dari realitas itu. Pengetahuan kita dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.
Berdasarkan paham konstruktivisme dalam proses belajar mengajar guru tidak hanya menstransfer pengetahuan yang dimikinya kepada siswa atau dengan kata lain siswa harus membangun suatu pengetahuan yang didasarkan pada pengalamannya masing-masing. Pembelajaran merupakan hasil dari peserta didik tersebut dalam membina ilmu pengetahuan. Pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan skema, yaitu aktifitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan. Sukarjo (2009) mengungkapkan bahwa teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data.
Piaget dalam Suparno (1997) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan/ tindakan seseorang. Piaget membedakan adanya tiga macam pengetahuan, yaitu: 1) pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis suatu objek, seperti bentuk, besar, berat dan bagaimana atas suatu objek, 2) pengetahuan matematis-logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berfikir tentang pengalaman dengan suatu objek atau
kejadian tertentu, dan 3) pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang pengetahuan yang didapatkan dari kelompok budaya dan sosial yang secara bersama menyetujui sesuatu misalnya norma atau nilai.
Suparno (2007) juga membedakan tiga macam konstruktivisme berdasarkan siapa atau apa yang menentukan dalam pembentukan pengetahuan. Pertama, konstruktivisme psikologis personal yang lebih menekankan bahwa pribadi seseorang sendirilah yang mengkonstruksikan pengetahuan. Kedua, konstruktivisme sosiologis yang lebih menekankan masyarakat sebagai pembentuk pengetahuan. Ketiga, sosiokulturalisme yang menggunakan keduanya, yaitu konstruksi personal dan sosial. Bahwa dalam pembentukan pengetahaun kedua aspek itu berkaitan.
Berdasarkan uraian di atas, teori belajar konstruktivisme adalah kegiatan pembelajaran dimana pengetahuan yang didapatkan oleh peserta didik merupakan pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri secara aktif sehingga terjadi perubahan menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, dan sesuai. Pendidik hanya menjadi fasilitator saja, yang menyediakan sarana yang salah satunya berupa bahan ajar dan situasi agar proses konstruksi peserta didik dapat berjalan sesuai dengan situasi yang konkret. Maka dari itu strategi mengajar perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
2.1.2.2 Model Pembelajaran Berbasis Masalah A. Pengertian
Dutch (dalam Amir) mengatakanbahwa PBL merupakan metode instruksional yang menantang mahasiswa agar belajar untuk belajar. Bekerjasama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang
nyata. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis mahasiswa dan inisiatif atas materi pembelajaran. PBL mempersiapkan siswa untuk berfikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai.
Menurut Tan dalam Rusman (2011), pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.
Ibrahim dan Nur dalam Rusman (2011) mengatakan bahwa
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan
pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaiman belajar.
Moffit dalam Rusman (2011) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah
dunia nyata yang dimaksudkan agar siswa dapat berpikir kritis dan analitis dalam mencari solusi dan menemukan pengetahuan yang baru. B. Karakteristik
Tan dalam Rusman (2011) mengatakan bahwa karakteristik dalam
PBM adalah permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
Permasalahan yang diangkat merupakan permasalahan dunia nyata yang tidak terstruktur dan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). Selain itu juga menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBM.
Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
Pengembangan keterampilan inquiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. PMB melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.
C. Langkah
Menurut Amir (2009), ada tujuh langkah yang dilakukan dalam setiap kelompok kecil yaitu yang pertama mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas. Setelah itu merumuskan masalah dan menganalisis masalah. Langkah selanjutnya adalah menata gagasan dan
menganalisisnya secara sitematis. Langkah yang keenam yaitu menformulasi tujuan pembelajaran. Terakhir adalah mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasi baru, dan Membuat laporan untuk dosen/ kelas.
Ibrahim dan Nur (2000) dan Ismail (2002) dalam Rusman mengemukakan bahwa langkah-langkah PBM adalah:
Tabel 2 Fase Tahapan PBM
Fase Idikator Tingkah Laku Guru
1 Orientasi siswa pada
masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
2 Mengorganisasi siswa
untuk belajar
Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
3 Membimbing
pengalaman individu atau kelompok
Mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melakukan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.
4 Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
Membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya.
5 Menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dengan proses yang mereka gunakan
D. Tujuan
Pembelajaran berdasarkan permasalahan memiliki tujuan
membantu siswa mengembangkan ketrampilan berpikir dan ketrampilan memecahkan masalah. Secara sederhana berpikir didefinisikan sebagai proses yang melibatkan operasi mental yaitu penalaran. Berfikir juga dapat
diartikan sebagai kegiatan menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada interferensi atau pertimbangan.
Model pembelajaran berbasis masalah dengan sendirinya akan mengembangkan kemampuan siswa dalam menghadapi masalah. Siswa dilatih menemukan permasalahan dari hal yang dihadapinya serta merumuskan dengan jelas. Berdasarkan permasalahan yang yang telah dirumuskan dengan jelas diharapkan siswa terlatih dalam kemungkinan-kemungkinan jawaban, dan mampu memilih jawaban yang terbaik (sebagai hipotesis), dan selanjutnya menguji jawaban tersebut, serta selanjutnya mengevaluasinya.
Pembelajaran berbasis permasalahan tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi kepada siswa sebanyak-banyaknya kepada siswa, namun diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan belajar otonom dan mandiri, serta bekerjasama.