• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

C. MODEL PEMBELAJARAN CTL

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Dibawah ini akan diuraikan faktor-faktor tersebut:

a. Faktor- faktor internal seperti: 1) Faktor biologi

2) Faktor kesehatan jasmani dan rohani 3) Cacat tubuh

4) Faktor psikologis seperti: perhatian, kesiapan, bakat. b. Faktor-faktor eksternal seperti:

1) Faktor keluarga 2) Suasana rumah

3) Keadaan ekonomi keluarga

C. MODEL PEMBELAJARAN CTL (Contextual TeachingLearning) 1. Pengertian Model Pembelajaran CTL (Contextual TeachingLearning)

Pembelajaran selama ini diselenggarakan di sekolah-sekolah banyak didominasi oleh pandangan yang menganggap pengetahuan itu sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Guru sebagai sumber utama bahkan bisa dikatakan satu-satunya sumber, sehingga ceramah sebagai strategi utama dalam pembelajaran. Padahal pengetahuan bukan seperangkat fakta yang harus dihafal tetapi suatu yang harus dikonstruksikan sendiri oleh siswa.

15

Oleh karena itu dibutuhkan model pembelajaran yang dapat memberdayakan pembelajar, tidak memaksanya menghafal fakta-fakta, dan dapat mendorongnya untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, serta memberikan pelayanan kepada siswa sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Model yang tepat untuk pembelajaran PKn adalah CTL (Contextual Teaching Learning)., model ini menggabungkan semua best practice, prakte-praktek terbaik dari model yang ada. Disamping itu banyak pendekatan yang dilibatkan untuk merumuskan prinsip-prinsipnya. Dengan kata lain CTL (Contextual Teaching Learning) adalal sinergi berbagai pendekatan dan disiplin ilmu.

CTL (Contextual Teaching Learning) disebut juga pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi sehahri-hari siswa, sehingga dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Disamping itu siswa dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal, karena pengetahuan bukan suatu perangkat fakta dan konsep yang siap diterima, akan tetap sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa.

2. Komponen-komponen CTL (Contextual Teaching Learning)

Ada tujuh komponen yang menandai pelaksanaan dalam proses pembelajaran model CTL (Contextual Teaching Learning) yaitu:

a. Konstruktivisme, konsep ini menuntun siwa untuk menyusun dan membangun

makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pembelajaran dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima

pengetahuan.

b. Tanya Jawab (Quetioning), dalam konsep ini kegiatan Tanya jawab yang dilakukan dengan baik oleh guru maupun siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertamyaan siswa merupakan

wujud keingintahuan. Dalam konsep ini proses perpindahan berlangsung dari pengamatan menjadi pemahaman.

c. Inquiry, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan atau konsep

yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep.

d. Komunitas Belajar (Learning Community), yaitu kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Siswa dapat bertukar penglaman dengan yang lainnya dan dapat berbagi ide dengan yang lain tentang apa yang sedang dialami atau dilakukan.

e. Pemodelan (modeling), dalam konsep ini kegiatan mendemonstrasikan suatu kerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan.

f. Refleksi (reflection), yaitu melihat kembali atau merespon kejadian, kegiatan dan penglaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan.

g. Penilaian Otentik (authentic assessment), adalah prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan sikap) siswa secara nyata. Pembelajaran seharusnya mampu membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi diakhir periode. Kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa 16.

3. Proses Belajar Menurut Model CTL (Contextual Teaching Learning) a) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksi

pengetahuan dipikiran mereka sendiri.

b) Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiripola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

16

Moh. Murtadho Amin dkk, Pembelajaran PKn MI, (Surabaya: Amanah Pustaka,2009),h.8-9

c) Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan.

d) Pengetahuan tidak dapat dipisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. e) Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi

baru.

f) Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.

g) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu dapat berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang 17.

4. Perbedaan Model CTL (Contextual Teaching Learning) dengan konvensional

Model CTL (Contextual Teaching Learning): a) Menyandarkan pada memori spasial.

b) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.

c) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan.

d) Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. e) Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

f) Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.

g) Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok).

h) Perilaku dibangun atas kesadaran sendiri.

i) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. j) Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri.

17

M. Hanafi, M.Ag, M.A, Sejarah Kebudayaan Islam, (Dirjen Pendidikan Islam Republik Indonesia,2009),h.52

k) Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut keliru dan merugikan

l) Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.

m) Pembelajaran terjadi diberbagai tempat, konteks dan setting. n) Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Model Konvensional:

a) Menyandarkan pada hafalan.

b) Pemilihan informasi ditentukan oleh guru. c) Siswa secara pasif menerima informasi. d) Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.

e) Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. f) Cenderung berfokus pada satu bidang.

g) Waktu belajar siswa sebagaian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan melalui kerja individual.

h) Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan.

i) Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.

j) Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapot.

k) Siswa tidak melakukan hal-hal yang buruk karena takut akan hukuman. l) Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.

m) Pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.

n) Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes / ujian /ulangan.

5. Langkah-langkah Pembelajaran Model CTL (Contextual Teaching Learning)

Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran model CTL (Contextual Teaching Learning) adalah sebagai berikut:

a) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

b) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic. c) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

d) Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). e) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

f) Melakukan refleksi diakhir pertemuan.

g) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

D. HAKIKAT PEMBELAJARAN PKN

Dokumen terkait