LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
4. Model Pembelajaran Konvensional
Konvensional dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:592) berarti tradisional. Lebih lanjut, tradisional diartikan sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan secara turun-temurun (2001:1208). Dipahak lain Maryono (1998:56) berpendapat bahwa pengajaran klasik/tradisional adalah pengajaran yang
commit to user
kita kenal sehari-hari, dimana guru mengajar sejumlah murid dalam suatu ruangan yang mempunyai tingkat kemampuan tertentu. Model konvensional merupakan model yang biasa dilakukan sebagian besar pendidik dengan lebih banyak didominasi metode pembelajaran dengan menggunakan ceramah ataupun ekspositori. Menurut Amin Suyitno (2004:2) metode ceramah adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara diawal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya-jawab.
Pembelajaran konvensional identik dengan paham behaviorisme (tingkah laku) yaitu pengetahuan disampaikan kepada peserta didik dengan menganggap peserta didik merupakan sebuah botol kosong yang harus isi terus menerus. Jika peserta didik berhasil setelah proses pembelajaran diberi hadiah akan tetapi jika menyalahi prosedur dapat diberi dengan hukuman. Tokoh yang terkenal penganut behaviorisme antara lain Skinner yang terkenal dengan operant conditioning: reinforcement and punishment. Seiring dengan berkembangnya komputer, aliran kognitif yang sempat kalah pamor dengan paham behaviorisme kembali bangkit (Marpaung, 2005: 3-4).
Menurut beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran konvensional adalah proses dari awal pelajaran yang dimulai dengan membahas tugas rumah maupun materi sebelumnya kemudian menyampaikan materi melalui ceramah serta tanya jawab dan diakhiri dengan pemberian tugas ataupun rangkuman materi yang telah
commit to user dipelajari.
Kelebihan dan kekurangan dari model ini dapat dikembangkan sebagai berikut, kelebihannya antara lain:
a. Relatif banyak materi yang dapat disampaikan b. Dapat menampung kelas besar.
c. Bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru.
d. Guru dapat menentukan hal-hal yang dianggap penting.
e. Guru dapat memberikan penjelasan-penjelasan secara individual maupun klasikal.
Sedangkan kekurangan dari model konvensional antara lain:
a. Tidak menekankan penonjolan aktivitas fisik seperti aktivitas mental siswa.
b. Kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran) dan siswa hanya mendengar sehingga hanya bersifat menghafal.
c. Jika terlalu dominan pada ceramah terus menerus siswa akan cepat bosan.
Kesimpulan dari pembahasan dan definisi model pembelajaran konvensional di atas dapat ditarik kesimpulan tentang langkah-langkah dalam model pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam Tabel 2.3 berikut ini:
commit to user
Tabel 2.3 Langkah-Langkah dalam Model Pembelajaran Konvensional
FASE PERAN GURU
a. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
Guru memperkenalkan serta
menjelaskan tujuan dan latar belakang materi yang diajarkan.
b. Mendemostrasikan pengetahuan dan ketrampilan.
Guru mendemonstrasikan ketrampilan dan menyampaikan informasi tahap demi tahap.
c. Memberikan contoh soal dan pelatihan.
Guru memberikan contoh soal dan membahasnya.
d. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dan memberi umpan balik.
e. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan.
Guru mempersiapkan pelatihan lanjutan yang berupa rangkuman, tugas, atau Pekerjaan Rumah (PR).
5. Kreativitas
Kreativitas menurut Depdiknas (2008:4) adalah mempergunakan imaginasi dan berbagai kemungkinan yang diperoleh dari interaksi dengan ide atau gagasan, orang lain, dan lingkungan untuk membuat koneksi dan hasil yang baru serta bermakna.
commit to user
Menurut Baron dalam Utami Munandar (1999: 28) kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru. Sedangkan menurut Haefele dalam Utami Munandar, (1999: 28) kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial.
Menurut Drevdahl dalam Elizabeth (2004: 4) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan belum dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintetis pemikiran yang hasilnya bukan hanya rangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap.
Beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan individu yang dapat berupa cipta, karsa dan karya seseorang untuk dapat menciptakan sesuatu yang baru. Artinya mengembangkan pemikiran alternatif atau kemungkinan dengan berbagai cara sehingga mampu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dalam interaksi individu dengan lingkungan sehingga diperoleh cara-cara baru untuk mencapai tujuan yang lebih bermakna.
commit to user
Menurut Winny Liliawati dan Erna Puspita (2010:426) keterampilan berfikir kreatif secara keseluruhan mencakup empat aspek dan beberapa indikator yang ditunjukkan dalam Tabel 2.4 berikut ini:
Tabel 2.4 Aspek dan Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif No Aspek Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif
a Fluency
(berpikir lancar)
· Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
· Lancar mengungkapkan gagasan-gagasannya.
· Dapat dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek atau situasi.
b Flexibility
(berpikir luwes)
· Memberikan bermacam-macam penafsiran terhadap suatu gambar, cerita, atau masalah.
· Jika diberi suatu masalah biasanya memikirkan bermacam cara yang berbeda untuk menyelesaikannya.
· Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda.
c Originality
(orisinalitas berpikir)
· Setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menyelesaikan yang baru.
d Elaboration
(penguraian)
· Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah langkah yang terperinci.
· Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
· Mencoba/menguji detail-detail untuk melihat arah yang akan ditempuh.
commit to user
Bergqvist dalam Tatag Y.E.S (2007:7) menyatakan kriteria penalaran kreatif matematis (berpikir kreatif dalam matematika), antara lain: a. Kebaruan (novelty)
Kebaruan ditunjukkan bahwa penalarannya baru bagi dirinya sendiri atau suatu penciptaan kembali dari solusi-solusi yang sudah tidak diingat.
b. Fleksibilitas
Fleksibilitas ditunjukkan bahwa penalarannya yang lancar (fluency) memuat pendekatan-pendekatan dan adaptasi-adaptasi yang berbeda pada suatu situasi.
c. Masuk akal (plausibility)
Masuk akal (plausibilitas) ditunjukkan bahwa penalarannya didasarkan pada argumen-argumen yang mendukung, pilihan strategi dan implementasinya yang benar atau logis.
d. Dasar matematis (mathematical foundation).
Dasar matematis ditunjukkan bahwa penalarannya berdasarkan argumen-argumen yang ditemukan pada sifat-sifat intrinsik matematis dari komponen-komponen yang terlibat dalam penalaran tersebut.
Sejalan dengan itu Silver dalam Tatag Y.E.S (2007:6) menjelaskan bahwa untuk menilai kemampuan berpikir kreatif anak-anak dan orang dewasa sering digunakan “The Torrance Tests of Creative Thinking (TTCT)”. Tiga komponen kunci yang dinilai dalam kreativitas menggunakan
commit to user
TTCT adalah kefasihan (fluency), fleksibilitas, dan kebaruan (novelty). Kefasihan mengacu pada banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespons sebuah perintah. Fleksibilitas tampak pada perubahan-perubahan pendekatan ketika merespons perintah. Kebaruan merupakan keaslian ide yang dibuat dalam merespons perintah. Tatag Y.E.S (2007:5) menambahkan bahwa kreativitas adalah produk dari kemampuan berpikir kreatif atau berpikir kreatif menghasilkan suatu kreativitas.
Beberapa pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa karekteristik siswa kreatif (yang menghasilkan kreativitas) antara lain:
a. Kebaruan (novelty/originality), yaitu keaslian ide yang dibuat dalam merespons perintah.
b. Kefasihan (fluency), yaitu banyaknya ide-ide yang dibuat dalam merespons sebuah perintah.
c. Fleksibility, yaitu perubahan-perubahan pendekatan dan adaptasi ketika merespons perintah.
d. Elaboration, yaitu penguraian terhadap masalah yang timbul.