BAB II KAJIAN PUSTAKA
3. Model pembelajaran kooperatif
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru
dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun
secara tidak tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media
pembelajar.
Istilah pembelajaran dan penggunaanya masih tergolong baru, yang mulai
populer semenjak lahirya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20
Tahun 2003. Menurut undang-undang ini, pembelajaran diartikan sebagai proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar. Menurut pengertian ini, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan,
kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik.
Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar
dapat belajar dengan baik.
Joyce and Weil (Rusman, 2010: 133) berpendapat bahwa model pembelajaran
15
(rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan dan membimbing
pembelajaran di kelas atau yang lain Model pembelajaran dapat dijadikan pola
pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan
efisien untuk mencapai tujuan pendidikanya.
Tom V savage (Rusman, 2010: 134) mengemukakan bahwa cooperative
learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana
para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu
sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat
sampai dengan enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. .
Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan
membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika
salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu
interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan
siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic communication). Hal tersebut
sesuai dengan apa yang diungkakan oleh Slavin (Rusmin, 2007: 201) pembelajaran
kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam
kelompok. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam
16
Pembelajaran kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat bekerja sama
dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Situasi kooperatif
merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok, siswa harus
merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan, maka siswa lain dalam
kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap anggota kelompok bersikap
kooperatif dengan sesama anggota kelompok.
Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Oleh
karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam
pembelajaran kooperatif karena mereka beranggapan telah biasa melakukan
pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok. Seperti
dijelaskan abdulhak (Rusmin, 2010: 203) bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat
mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri”.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok.
Ada unsur dasar pembelajar kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran
kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan david johnson (Lie, 2008: 31-35)
bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Untuk
mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong
harus diterapkan. Lima unsur tersebut antara lain:
a. Saling ketergantungan
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggota.
17
yang sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan
tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dengan demikian,
setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan.
Beberapa siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap
rekan-rekan mereka karena mereka juga memberikan sumbangan. Mereka akan merasa
terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dan dengan demikian menaikan nilai
mereka. Sebaliknya, siswa yang lebih pandai juga tidak akan merasa dirugikan
karena rekanya yang kurang mampu juga telah memberikan bagian sumbangan
mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan
Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.
Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran cooperative learning membuat
persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota
kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya
dalam kelompok bisa dilaksanakan. Siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan
diketahui dengan jelas dan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan
menuntut untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan
berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk
18
menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan
masing-masing.
d. Komunikasi antar anggota
Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para
anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk
mengutarakan pendapat mereka. Ada kalanya pembelajaran perlu diberi tahu secara
eksplisit mengenai cara-cara berkomunikasi efektif seperti bagaimana caranya
menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang
tersebut. Masih banyak orang yang kurang sensitif dan kurang bijaksana dalam
menyatakan pendapat mereka. Tidak ada salahnya mengajar siswa beberapa
ungkapan positif atau sanggahan dalam ungkapan yang lebih halus,
e. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya
bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan
selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan
pembelajaran cooperative learning.
Pelaksanaan prinsip dasar dalam pokok sistem pembelajaran kooperatif
dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.
Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru
19
Dalam model pembelajaran koperatif, guru lebih berperan sebagai fasilitator
yang berfungsi sebagai jembatan penguhubung ke arah pemahaman yang lebih
tinggi, dengan catatatn siswa sendiri. guru tidak hanya memberikan pengetahuan
pada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikiranya. Siswa
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam
menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk
menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal
ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukanoleh Slavin (Rusman,
2010: 206) dinyatakan bahwa: (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan
sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2)
pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis,
memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
Terdapat enam langakah utama atau tahapan dalam pelajaran yang
menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru
menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi sis wa belajar. Fase ini diikuti oleh
penyajian informasi yang sering kali dengan bahan bacaan daripada verbal.
Selanjutnya, siswa dikelompokkan ke dalam tim tim belajar. Pada tahap ini guru
membimbing siswa saat mereka bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Fase
20
atau evaluasi tentang apa yang telah siswa pelajari dan memberi penghargaan
terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran
kooperatif ini dirangkum pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. Tahap pembelajaran kooperatif
Tahap Tingkah laku guru
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan Mengorganisasikan siswa
kedalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Memberikan penghargaan. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik
upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Tujuan utama dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah agar
peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temanya dengan
cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain
untuk mengemukakan gagasanya dengan menyampaikan pendapat mereka secara
21
Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk
mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum
ibrahim, et al. (Isjoni, 2009:10)
a. Hasil belajar akademik
Dalam pembelajaran kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial,
juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik lainnya. Beberapa ahli
berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukan, model struktur
penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar
akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas
dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan
dan ketidakmampuanya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari
berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada
tugas-tugas akademik dan melalaui struktur penghargaan kooperatif akan saling
menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan
bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki oleh
22
kenyataan yang dihadapi bangsa ini dalam mengatasi masalah-maslah sosial yang
semakin kompleks, serta tantangan bagi peserta didik supaya mampu dalam
menghadapi persaingan global untuk memenangkan persaingan tersebut. Dengan
dikembangkanya sikap sosial dan ketrampilan sosial dalam pembelajaran
kooperatif diharapkan peserta didik akan mendapatkan makna dan manfaat praktis
dari setiap proses pembelajaran tersebut.
Sebagai suatu model pembelajaran pastilah mempunyai suatu keunggulan
dan kelemaha dalam pelaksanaanya. Jarlimek & parker (dalam Rusman, 2010: 135)
mengatakan keunggulan yang diperoleh dalam pembelajaran kooperatif adalah: 1)
saling ketergantungan yang positif, 2) adanya pengakuan dala merespon perbedaan
individu, 3) siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, 4) suasana
kelas yan rileks dan menyenangkan, 5) terjalinnya hubungan yang hangat dan
bersahabat antara siswa dengan guru, 6) memiliki banyak kesempatan untuk
mengekpresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.
Kelemahan model pembelajaran kooperatif bersumber pada dua faktor, yaitu
faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu: 1)
guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu
memerlukan lebih banyak tenaga, pikiran dan waktu, 2) agar proses belajar berjalan
lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya tambahan yang cukup
memadai, 3) selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan
23
dengan waktu yang telah ditentukan, dan 4) saat diskusi kelas, terkadang
didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa lain menjadi pasif.