• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.3. Model Pembelajaran Kooperatif

Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai definisi pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning), antara lain: (Miftahul Huda, 2014: 29)

1. Roger dkk. (1992) menyatakan pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh suatu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajaran yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain.

2. Parker (1994) mendefinisikan kelompok kecil kooperatif sebagai suasana pembelajaran dimana para siswa saling berinteraksi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas akademik demi mencapai tujuan bersama.

3. Arts Newman (1990) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai

small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal yang berarti kelompok kecil pembelajar/siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai satu tujuan bersama.

Jadi berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dimana para siswa saling berinteraksi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2-6 anggota untuk mengerjakan tugas akademik demi mencapai tujuan bersama dengan struktur kelompok heterogen.

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa ciri-ciri yang tentunya berbeda dibandingan model pembelajaran lain. Menurut Miftahul Huda (2014: 76) ciri-ciri pembelajaran kooperatif antara lain:

a. Bekerja dalam kelompok kecil yang heterogen

b. Mengupayakan keberhasilan kerja teman-teman satu kelompok

c. Apa yang bermanfaat bagi diri sendiri harus harus bermanfaat bagi orang lain

d. Keberhasilan bersama dirayakan bersama

e. Penghargaan dipandang sebagai sesuatu yang tak terbatas f. Dievaluasi dengan membandingkan performa satu sama lain

Roger dan David (dalam Anita Lie, 2010: 31) mengatakan tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning, untuk mencapai hasil maksimal harus diterapkan 5 unsur yaitu:

a. Saling ketergantungan positif

b. Tanggungjawab perseorangan

c. Tatap muka

d. Komunikasi

e. Evaluasi proses kelompok

Terdapat beberapa langkah atau tahapan yang dapat dilakukan saat menggunakan pembelajaran kooperatif. Menurut Trianto (2011: 48) terdapat 5 fase dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang meliputi:

a. FASE-1 menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

c. FASE-3 mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif

d. FASE-4 membimbing kelompok bekerja dan belajar

e. FASE-5 memberikan penghargaan

2.3.2 Model-Model Pembelajaran Kooperatif

Miftahul Huda (2014: 114) menyebutkan metode-metode pembelajaran kooperatif terdiri dari:

1. Metode-metode Student Teams Learning a. Student Teams-Achievement Divisoins (STAD)

Dikembangkan oleh Slavin, dimana menurutnya STAD merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individu dan pembagian tim. Teknisnya yaitu siswa dikelompokkan secara beragam, pertama siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis. Perolehan nilai kuis setiap anggota menentukan skor yang diperoleh oleh kelompok mereka.

b. Team-Games-Turnament (TGT)

Dikembangkan oleh Slavin dkk, penerapannya mirip dengan metode STAD. Setiap siswa ditempatkan dalam satu kelompok yang terdiri dari 3 orang yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi. Komposisi ini dicatat dalam tabel khusus (tabel turnamen) yang tiap minggunya harus diubah. Setiap anggota ditugaskan untuk mempelajari materi terlebih dahulu, lalu mereka diuji secara

individual melalui game akademik. Nilai yang mereka peroleh dari game ini akan menentukan skor kelompok mereka masing-masing.

c. Jigsaw II (JIG II)

Setiap kelompok disajikan informasi yang sama, kemudian masing-masing kelompok menunjuk satu orang anggota yang dianggap ahli untuk bergabung dalam satu kelompok lagi, yang sering dikenal dengan kelompok ahli (expert group). Dalam kelompok ahli ini setiap anggota saling berdiskusi untuk memahami lebih detail tentang informasi tersebut. Setelah itu mereka kembali ke kelompoknya masing-masing untuk mengajarkan topik yang lebih spesifik dari informasi tersebut kepada teman-teman satu kelompoknya. Setelah itu setiap anggota diuji secara individual melalui kuis. Perhitungan skor dan rekognisi didasarkan pada kemajuan yang dicapai. (Robert E. Slavin, 2005: 14)

2. Metode-metode Supported Cooperative Learning a. Learning Together (LT) –Circle Of Learning (CL)

Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing kelompok diminta untuk menghasilkan satu produk kelompok (single group product). Guru bertugas mengawasi kelompok-kelompok ini berdasarkan lima elemen kooperatif: interpedensi positif, akuntabilitas individu, interaksi langsung, keterampilan-keterampilan sosial, dan pemrosesan kelompok. Jika menemukan kesulitan setiap anggota diminta untuk mencari bantuan dari teman-teman satu kelompoknya terlebih dahulu sebelum meminta bantuan kepada guru. Terdapat

reward dalam metode ini, namun tidak terdapat kompetisi baik antar anggota maupun antar kelompok.

b. Jigsaw (JIG)

Metode Jigsaw versi Aranson ini menurut Knight dan Bohlmeyer (1990) dalam Miftahul Huda (2014:121) sama teknisnya dengan metode Jigsaw II, perbedaannya hanya tidak ada reward khusus yang diberikan atas individu maupun kelompok yang mampu menunjukkan kemampuannya untuk bekerja sama dengan mengerjakan kuis.

c. Jigsaw III

Tidak ada perbedaan menonjol antara JIG I, JIG II, JIG III dalam tata laksana dan prosedurnya masing-masing. Hanya dalam JIG III, Kagan lebih fokus pada penerapannya dikelas-kelas bilingual, berbeda dengan dua metode Jigsaw yang dapat diterapkan untuk semua materi pelajaran, metode Jigsaw III khusus diterapkan untuk kelas bilingual.

d. Group Investigation (GI)

Dikembangkan oleh Sharan dan Sharan (1976) dalam Miftahul Huda (2014:123), pertama siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi tugas atau proyek yang berbeda-beda. Dalam kelompoknya setiap anggota berdiskusi dan menentukan informasi apa yang akan dikumpulkan, bagaimana mengolahnya, bagaimana meneliti, dan bagaimana menyajikan penelitian didepan kelas. Semua anggota ikut andil dalam menentukan topik penelitian apa yang akan mereka ambil, mereka pula yang memutuskan sendiri pembagian kerjanya. Selama proses penelitian atau investigasi ini mereka akan terlibat dalam aktivitas-aktivitas berfikir tingkat

tinggi, seperti membuat sintesis, ringkasan, hipotesis, kesimpulan, dan menyajikan laporan akhir.

e. Complex Instruction (CI)

Siswa ditempatkan dalam kelompok kooperatif dalam komposisi yang beragam (baik kemampuan, etnik, maupun bahasa). Guru memberikan keleluasaan pada mereka untuk menentukan sendiri proyek yang akan mereka kerjakan. Setiap kemampuan anggota kelompok harus dilibatkan dan dimaksimalkan.

f. Team Accelerated Instruction (TAI)

Siswa dikelompokan berdasarkan kemampuan yang beragam, masing-maisng kelompok terdiri dari 4 siswa. Setiap kelompok diberi serangkaian tugas tertentu untuk dikerjakan bersama-sama. Poin-poin tugas dibagikan secara berurutan kepada setiap anggota (misalnya untuk materi matematika yang terdiri dari 8 soal, berarti empat anggota dalam setiap kelompok harus saling bergantian menjawab soal-soal tersebut). Semua anggota harus saling mengecek jawaban teman-teman satu kelompoknya dan saling memberi bantuan jika memang dibutuhkan. Setelah itu setiap anggota diberi tes individu tanpa bantuan dari anggota yang lainnya.

g. Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)

Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil, baik homogen maupun heterogen. Pertama mereka mengikuti serangkaian instruksi guru tentang keterampilan membaca dan menulis, kemudian praktik, lalu pra penilaian, dan

kuis. Setiap kelompok tidak bisa mengikuti kuis hingga anggota-anggota di dalamnya menyatakan bahwa mereka benar-benar siap.

h. Structured Dyadic Methods (SDM)

Melibatkan hanya dua anggota saja dalam satu kelompok (berpasangan), satu siswa bertindak sebagai guru dan siswa lain bertindak sebagai siswa. Biasanya mereka diminta untuk mempelajari prosedur-prosedur tertentu atau meringkas informasi-informasi penting dari sebuah buku.

3. Metode-metode Informal

a. Spontaneous Group Discussion (SGD)

Teknisnya dengan meminta siswa untuk berkelompok dan berdiskusi tentang sesuatu hal secara spontan, setelah itu guru memanggil satu persatu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas. Diskusi ini dapat dilaksanakan beberapa menit atau sepanjang jam pelajaran.

b. Numbered Heads Together (NHT)

Pertama guru meminta siswa untuk duduk berkelompok – kelompok dengan masing-masing anggota diberi nomer. Setelah selesai, guru akan memanggil nomer (baca:anggota) untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru tidak memberitahukan nomer berapa yang akan berpresentasi selanjutnya, begitu seterusnya hingga semua nomer terpanggil.

c. Team Product (TP)

Setiap kelompok diminta untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu, misalnya guru meminta siswa berkelompok untuk menulis sebuah esai, menggambar mural, mengerjakan tugas, membuat presentasi didepan kelas dll.

Semua hal yang dilakukan oleh setiap kelompok haruslah berbentuk produk, baik abstrak maupun konkret. Untuk memastikan adanya tanggung jawab individu, guru dapat memberikan peran atau tugas yang berbeda-beda pada masing-masing anggota dalam setiap kelompok untuk menciptakan satu produk kelompok.

d. Cooperative Review (CR)

Metode ini biasanya dilaksanakan beberapa hari menjelang ujian, setiap siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan poin-poin utama dari materi pelajaran. Setelah itu mereka diminta untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaaan itu, lalu mengajukannya kembali pada kelompok-kelompok yang lain. Baik kelompok yang mengajukan pertanyaan maupun kelompok yang mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan benar akan mendapatkan poin khusus, begitu pula kelompok lain yang mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan tambahan informasi baru juga akan memperoleh poin istimewa.

e. Think-Pair-Share (TPS)

Siswa diminta untuk duduk berpasangan, kemudian guru mengajukan satu pertanyaan atau masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta untuk berfikir sendiri-sendiri terlebih dahulu tentang jawaban pertanyaan tersebut, kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya dengan pasangan disebelahnya untuk memperoleh satu konsensus yang sekiranya dapat mewakili jawaban mereka berdua. Setelah itu guru diminta setiap pasangan untuk mempresentasikan hasil jawaban yang telah mereka sepakati pada siswa yang lain diruang kelas.

f. Discussion Group (DG) –Group Project (GP)

Kelompok diskusi dan proyek kelompok ini dirancang untuk mengerjakan tugas pembelajaran atau proyek-proyek tertentu. Misalnya mereka ditugaskan untuk membuat laporan, setiap anggota kelompok harus mendapatkan tugas mengerjakan masing-masing bagian. Jika tugas tersebut ternyata tidak bisa dibagi-bagi, setidak-tidaknya mereka mendapat peran yang berbeda-beda (misalnya, ada yang berperan sebagai penulis, presentator, dan pencari bahan).

4. Teknik-teknik pembelajaran Kooperatif meliputi:

a. Mencari Pasangan (Make a Match)

Dikembangkan oleh Lorna Curran, siswa mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana yang menyenangkan. Metode ini dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian) 2. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu

3. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya

4. Siswa dapat bergabung dengan 2 atau 3 siswa lain yang memegang kartu yang berhubungan

b. BertukarPasangan

Metode ini bertujuan memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain, dan dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.

1. Setiap siswa membentuk pasangan-pasangan yang bisa ditunjuk langsung oleh guru ataupun siswa sendiri yang mencari pasangannya.

2. Guru memberikan tugas untuk dikerjakan oleh setiap pasangan siswa 3. Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain 4. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing pasangan

yang baru ini kemudian saling berdiskusi dan menshare jawaban mereka. 5. Hasil diskusi yang baru didapat dari bertukar pasangan ini kemudian

didiskusikan kembali oleh pasangan semula.

c. Berfikir-Berpasangan-Berbagi (Think-Pair-Share)

Dikembangkan Frank Lyman, memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Mengoptimalkan partisipasi siswa dengan memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk menunjukan partisipasi mereka kepada orang lain.

1. Setiap siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 anggota/siswa

2. Guru memberikan tugas kepada setiap kelompok

3. Masing-masing anggota memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri-sendiri terlebih dahulu

4. Kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan dengan setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya

5. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompoknya masing-masing untuk menshare hasil diskusinya

d. Berkirim Salam dan Soal

Model ini bertujuan untuk melatih keterampilan dan pengetahuan siswa dengan meminta mereka membuat sendiri pertanyaan-pertanyaan, sehingga mereka akan lebih terdorong untuk belajar dan menjawab semua pertanyaan yang dibuat oleh teman-temannya sekelas. Model ini cocok untuk persiapan menjelang ujian dan tes.

1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim kelompok lain.

2. Masing-masing kelompok mengirim salah seorang anggotanya yang akan

menyampaikan ”salam dan soal” dari kelompoknya kepada kelompok lain.

3. Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain

4. Setelah selesai jawaban tersebut dikirimkan kembali ke kelompok asal untuk dikoreksi dan diperbandingkan satu sama lain.

e. Kepala Bernomor (Numbered Heads Together)

Dikembangkan oleh Russ Frank, dimana memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling sharing ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat sehingga meningkatkan semangat kerja siswa.

1. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang masing-masing siswa diberi nomor

2. Guru memberikan tugas/pertanyaan dan masing-masing kelompok

3. Kelompok berdiskusi untuk menemukan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut

4. Guru memanggil salah satu nomor dan siswa mempresentasikan jawaban hasil diskusi kelompoknya

f. Kepala Bernomor Terstruktur (StructuredNumbered Heads)

Pengembangan dari teknik NHT dimana memudahkan pembagian tugas, memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab individunya sebagai anggota kelompok.

1. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang masing-masing siswa diberi nomor

2. Penugasan diberikan kepada siswa berdasarkan nomornya, misal nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan data yang berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomer 2 bertugas mencari penyelesaian soal, dan siswa 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompoknya

g. Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray)

Dikembangkan Spencer Kagan, yang dapat dikombinasikan dengan teknik NHT. Memungkinkan setiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain.

1. Siswa bekerja sama kelompok dengan 4 anggota

2. Guru memberikan tugas kepada kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan bersama

3. Setelah selesai 2 anggota dari masing-masing kelompok diminta meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu kedua anggota dari kelompok lain.

4. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas mensharing informasi dan hasil kerja mereka ke tamu mereka

5. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok yang semula dan melaporkan

apa yang mereka temukan dari kelompok lain

6. Setiap kelompok lalu membandingkan dam membahas hasil pekerjaan mereka semua.

h. Keliling Kelompok

Masing-masing anggota kelompok berkesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan anggota yang lain. Dapat diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.

1. Salah satu siswa dari tiap kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan

2. Siswa berikutnya lalu ikut memberikan kontribusi pemikirannya

3. Demikian seterusnya, giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.

i. Kancing Gemerincing

Dikembangkan Spencer Kagan, masing-masing anggota kelompok berkesempatan memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan anggota lain. Dapat digunakan untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan

yang mewarnai kerja kelompok. Teknik ini memastikan siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berperan serta dan berkontribusi pada kelompoknya masing-masing.

1. Guru menyiapkan satu kotak kecil yang berisi kancing-kancing

2. Sebelum memulai, masing-masing anggota kelompok mendapatkan 2 atau

3 buah kancing (jumlah bergantung pada sukar atau tidaknya tugas yang diberikan)

3. Setiap kali anggota selesai berbicara atau mengeluarkan pendapata, dia harus menyerahkan salah satu kancing dan meletakkannya ditengah meja kelompok

4. Jika kancing yang dimiliki salah seorang siswa habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai semua rekannya menghabiskan kancingnya masing-masing

5. Jika kancing sudah habis sedangkan tugas belum selesai kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali

j. Keliling Kelas

Masing-masing kelompok dalam teknik ini memiliki kesempatan yang sama untuk memamerkan hasil kerjanya masing-masing dan melihat hasil kerja kelompok-kelompok lain.

1. Siswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan 4 2. Mereka diminta untuk membuat satu produk atau kreasi kelompok

3. Setelah selesai masing-masing kelompok memamerkan hasil kerja mereka. Hasil dapat dipajang dibeberapa bagian kelas.

4. Masing-masing kelompok berjalan keliling kelas dan mengamati hasil karya kelompok-kelompok lain.

Dengan banyaknya model model pembelajaran kooperatif, maka dibatasi menjadi sejumlah 15 model saja yang akan disimulasikan. Model tersebut adalah:

1. Students Team-Achievement Divisions (STAD) 2. Dua tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray) 3. Team Accelerated Instrutions (TAI)

4. Numbered Heads Together (NHT) 5. Teams-Games-Tournaments (TGT) 6. Berkirim Salam dan Soal

7. Group Investigation (GI) 8. Think Pair Share

9. Bertukar pasangan 10. Jigsaw (JIG)

11. Learning Together (LT) 12. Complex Instruction (CI)

13. Lingkaran Dalam-Lingkaran Luar (Inside Outside Circle) 14. Structured Dyadic Methods (SDM)

2.3.3 Pengaruh Model Pembelajaran terhadap Hasil Pembelajaran

Menurut Hamzah B.Uno dkk (2014: 130) perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif yang memiliki landasan teoritik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang sederhana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan, dan hasil belajar yang disasar. Untuk membelajarkan peserta sesuai dengan gaya belajar mereka, maka pendidik diharapkan dapat menerapkan suatu model pembelajaran yang inovatif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tetap haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas media yang tersedia, dan kondisi pendidik itu sendiri.

Salah satu pembelajaran inovatif yang popular adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), dimana dalam model pembelajaran ini peserta didik dapat belajar dan bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang lebih mampu dapat menolong teman yang lemah, dengan setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada presentasi kelompok. Selain itu para peserta didik juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi. (Hamzah B. Uno dkk, 2014: 120)

Diharapkan dengan adanya model-model pembelajaran ini, tenaga pendidik dapat meningkatkan hasil pembelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas.

2.4. Adobe Flash

Flash atau macromedia flash pertama kali dikenalkan pada tahun 1996, kemudian diganti menjadi adobe flash dikarenakan macromedia flash atau

macromedia yang merupakan produsen pembuat flash pofesional kini telah merjer dengan adobe corp . Perubahan terjadi pada macromedia flash series 9 menjadi adobe flash CS3 pada 16 april 2007. Versi terakhir yang diluncurkan di pasaran pada tanggal 3 Desember 2005 dengan menggunakan nama

Macromedia‟ adalah Macromedia Flash 8. Adobe Flash adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan produk unggulan Adobe Systems

digunakan untuk membuat gambar vektor maupun animasi gambar tersebut. Berkas yang dihasilkan dari perangkat lunak ini mempunyai file extension .swf dan dapat diputar di penjelajah web yang telah dipasangi Adobe Flash Player.

Flash menggunakan bahasa pemrograman bernama ActionScript yang muncul pertama kalinya pada Flash 5.

Flash didesain dengan kemampuan untuk membuat animasi 2 dimensi yang handal dan ringan sehingga flash banyak digunakan untuk membangun dan memberikan efek animasi pada website, CD Interaktif dan yang lainnya. Selain itu aplikasi ini juga dapat digunakan untuk membuat animasi logo, movie, game, pembuatan navigasi pada situs web, tombol animasi, banner, menu interaktif, interaktif form isian, e-card, screen saver dan pembuatan aplikasi-aplikasi web lainnya. Dalam Flash, terdapat teknik-teknik membuat animasi, fasilitas action script, filter, custom easing dan dapat memasukkan video lengkap dengan fasilitas

diberikan sedikit code pemograman baik yang berjalan sendiri untuk mengatur animasi yang ada didalamnya atau digunakan untuk berkomunikasi dengan program lain seperti HTML, PHP, dan Database dengan pendekatan XML, dapat dikolaborasikan dengan web, karena mempunyai keunggulan antara lain kecil dalam ukuran file outputnya. Dalam pembuatan aplikasi ini digunakan Adobe Flash Professional CS6 sebagai aplikasinya. Versi adobe flash:

a. FutureSplash Animator (10 April 1996)

b. Flash 1 (Desember 1996)

c. Flash 2 (Juni 1997)

d. Flash 3 (31 Mei 1998)

e. Flash 4 (15 Juni 1999)

f. Flash 5 (24 Agustus 2000) –ActionScript 1.0

g. Flash MX (versi 6) (15 Maret 2002)

h. Flash MX 2004 (versi 7) (9 September 2003) –ActionScript 2.0

i. Flash MX Professional 2004 (versi 7) (9 September 2003)

j. Flash Basic 8 (13 September 2005)

k. Flash Professional 8 (13 September 2005)

l. Flash CS3 Professional (sebagai versi 9,16 April 2007) –ActionScript 3.0

m. Flash CS4 Professional (sebagai versi 10, 15 Oktober 2008)

n. Adobe Flash CS5 Professional (as version 11, to be released in spring of 2010, codenamed “Viper)

2.5. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan bagian berisi uraian mengenai hasil kajian penelitian-penelitian terdahulu yang sejenis dan relevan dengan penelitian ini. Beberapa hasil penelitian terdahulu dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, yaitu Penelitian dari Hendy Arif Hidayat (2015) dan Riko Wahyu Pradita (2015) tentang pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia

flash.

Penelitian yang dilakukan oleh Hendhy (2015) berjudul “Penerapan Aplikasi „LST Berbasis Flash XML‟ Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Sejarah Perkembangan Teknologi Komputer Di Kelas X SMK HKTI 2 Purwareja Klampok”. Pada penelitian tersebut menunjukan nilai validitas kelayakan media

pembelajaran yang telah dibuat sebesar 86.67% oleh ahli media dan 86.25% oleh ahli materi, dapat diartikan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia flash

layak digunakan sebagai media pendamping proses pembelajaran. Serta dengan memperoleh N-Gain sebesar 0,63 dapat disimpulkan media pembelajaran yang tealah dibuat dapat meningkatkan pemahaman siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Riko (2015) berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Bipolar Junction Transistor Common Collector Amplifier

Dokumen terkait