• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model pembelajaran langsung adalah gaya mengajar dimana guru terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada peserta didiknya secara langsung kepada seluruh kelas (Suprijono, 2013: 47). Media gambar merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana (Sadiman, dkk, 2014: 29).

FASE-FASE PERILAKU GURU

Fase 1: Estabishing Set

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik

Menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, mempersiapkan peserta didik untuk belajar

Fase 2: Demonstrating

Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan

Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, menyajikan informasi tahap demi tahap dengan bantuan media gambar

Fase 3: Guided Practice

Membimbing pelatihan

Merencakan dan memberi pelatihan awal

Fase 4: Feed Back

Mengececek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik

Fase 5: Extended Practice

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Mempersiapkan kesempaatan

melakukan pelatihan lanjutan, dengan pelatihan khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari- hari

Sumber: Suprijono, 2013: 50

14. Memelihara sistem rem a. Rem

Rem merupakan bagian mobil yang penting sekali, pemeliharaan rem yang baik adalalah sangat penting karena menyangkut faktor keselamatan penumpangnya (Daryanto, 2005a: 279). Fungsi rem adalah mengurangi kecepatan kendaraan atau menghentikan kendaraan (Daryanto, 2005b: 1). Pengereman bisa tidak bekerja dengan baik apabila kanvas rem tipis, permukan rem habis,

silinder-kerusakan termasuk sitem rem. Rem merupakan komponen penting bagi keselamatan pengendara, sehingga perawatan rem sebaiknya dilakukan secara rutin.

Sebab-sebab utama dari kerusakan rem menurut Arismunandar dan Hirao (1998: 88) adalah sebagai berikut:

1. Kekurangan minyak rem.

2. Terdapat kebocoran pada pipa-pipa atau sambungan-sambungannya.

3. Terdapat kebocoran minyak rem dari sebelah dalam dari roda.

4. Kebocoran-kebocoran dari silinder utama.

5. Terdapat gelembung-gelembung udara di dalam saluran-saluran minyak

rem.

6. Jarak bebas antara bidang rem dan selubung rem terlalu besar.

b. Pemeliharaan Rem Cakram

Cakram rem dipasangkan pada poros roda yang dapat berputar diantara kanvas rem. Jika terjadi pengereman maka tekanan hidrolis dari silinder master akan menekan piston, dan piston mendorong kanvas rem untuk menekan cakram sehingga terjadi gesekan dan pengereman (Boentarto, 1995: 44). Adapun pemeriksaan sistem rem cakram secara visual adalah sebagai berikut :

1) Periksa ketinggian cairan rem dalam master silinder dan memeriksa sistem

hidrolik rem.

Gambar 2.1. Ketinggian fluida (Sugeng, 2013: 146 )

Gambar 2.2. Keausan Mekanis (Sugeng, 2013: 148)

Yang pertama adalah indikator keausan mekanis atau bunyi yang terdengar menggunakan strip logam yang melekat pada pad rem dan diposisikan untuk membuat kontak dengan cakram rem ketika pad mencapai tingkat ketebalan yang ditentukan.

Gambar 2.3. Keausan Pad Rem Dengan Listrik (Sugeng, 2013: 148)

Tipe kedua adalah indikator keausan pad rem dengan listrik / elektronik, dengan menggunakan konektor listrik yang tertanam dalam materi pad rem.

Ketika bearing mencapai titik yang telah ditentukan, konektor listrik di pad akan

kontak dengan permukaan cakram, yang akan menghubungkan rangkaian antara konektor pad denga ground dan menyalakan lampu peringatan rem pada panel instrumen.

Tipe ke tiga adalah dengan alur pada pad.

Adapun pemeriksaan sistem rem cakram dengan pengukuran adalah sebagai berikut:

1) Periksa ketebalan cakram.

Gambar 2.5. Ketebalan Piringan (Sugeng, 2013: 149)

Gambar 2.6. Keolengan Piringan (Sugeng, 2013: 149)

2) Periksa alur cakram.

3) Prosedur untuk mengukur run-out cakram.

Jika cakram tidak bisa dilepas dari hub, kencangkan kembali mur roda ke hub untuk menahan cakram di tempat. Dalam beberapa kasus, mungkin perlu untuk menginstal spacer sebelum mengencangkan roda. Ikuti prosedur yang direkomendasikan produsen. Putar cakram sambil melihat jarum dial indikator. seting dial indicator pada angka nol pada titik terbaca terendah. Terus putar cakram. Hentikan putaran saat dial indikator di angka tertinggi. Kurangi

4) Melepas, memeriksa dan memasang kaliper rem cakram.

Lepas dan periksa caliper. Selalu gunakan alat angkat yang tepat untuk menaikkan kendaraan. Lepaskan roda, Tandai roda untuk pemasangan ulang di lokasi aslinya. Periksa roda dari retak dan memakaian pola yang tidak biasa. Simpan roda ditempat yang aman. Identifikasi apakah kaliper untuk tetap atau. Sebuah caliper mengambang mempunyai satu sisi piston. Kaliper tetap biasanya mengandung empat piston dua di setiap sisi.

Gambar 2.7. Angkat Kaliper (Sugeng, 2013: 150)

Angkat kaliper dan keluarkan balok-balok rem. Bersihkan semua komponen rem. Gunakan hanya pelarut pembersih rem untuk membersihkan komponen rem. Jangan gunakan pelarut mesin atau bensin. Membongkar caliper dengan meniupkan udara bertekanan pada lubang selang pleksibel untuk mengeluarkan piston. Slipkan kain antara piston dan caliper untuk melindungi Piston. P a d a caliper tetap, setelah salah satu piston keluar, maka lepaskan piston lainnya satu per satu dengan penarik khusus.

Gambar 2.8. Torak bergerak keluar (Sugeng, 2013: 151)

Tekan pedal, torak harus bergerak keluar. Jika torak macet, kaliper rem

harus dioverhaul. Untuk mengembalikan posisi torak, pakai alat penekan khusus.

Periksa komponen caliper. Setelah membersihkan semua bagian internal dengan pelarut rem yang disarankan, memeriksa piston dari karat, retak, dan lubang-lubang. Jika ada salah satu hal tersebut ditemukan, ganti piston. Periksa busing, batang dan tabung pengantar

Gambar 2.9. Pasang Kaliper (Sugeng, 2013: 152)

Pasang kaliper pada kerangka, keraskan baut pengikatnya. Kaliper harus dapat bergerak ke kanan dan ke kiri dengan baik. Jika gerakannya beratatau macet, maka busing, batang dan tabung pengantar harus diperbaiki

Gambar 2.10. Komponen Rem Cakram (Sugeng, 2013: 152)

Gambar 2.11. Lumasi Semua Bagian Yang Bergerak (Sugeng, 2013: 152)

Selama pemasangan, lumasi semua bagian yang bergerak dengan minyak rem bersih atau pelumas lain yang sesuai. Lumasi seal piston, Perlahan- lahan menekan kedalam dengan jari. Kemudian pasang piston

Gambar 2.12. Pasang Piston (Sugeng, 2013: 153)

Lumasi piston dengan vet silicon. Masukkan kedalam silinder kaliper, menekan perlahan – lahan dengan jari. Lalu pasang boot

Gambar 2.13. Pasang Boot (Sugeng, 2013: 153)

Lumasi tutup karet dengan vet silicon. Pasang perlahan-lahan dengan jari.

Gambar 2.14. Pasang Balok-Balok Rem (Sugeng, 2013: 153)

Pasang balok–balok rem pada dudukannya dalam kerangka. Lalu pasang busing

Gambar 2.15. Pasang Busing (Sugeng, 2013: 153)

Pasang busing, batang dan tabung pengantar pada busing dalam kaliper. Kemudian pasang kaliper

Gambar 2.16. Pasang Kaliper (Sugeng, 2013: 154)

Pasang kaliper pada kerangka dengan cara memasukkan busing kaliper pada batang pengantar tetap. Pasang kaliper pada kerangka

Gambar 2.17. Pasang Kaliper Pada Kerangka (Sugeng, 2013: 154)

Pasang kaliper pada kerangka dengan cara memasukkan busing kaliper pada batang pengantar tetap. Pasang selang rem. Bleeding semua sistem hidrolis dan kaliper, periksa ketinggian minyak rem dalam master silinder. Jika memasang caliper roda belakang, sambungkan kabel rem parkir dan setel rem parkir menurut petunjuk produsen. Pasang kembali roda / ban dan kencangkan mur roda dengan torsi sesuai dengan spesifikasi.

c. Pemeliharaan Rem Tromol

Rem tromol hidrolik menggunakan minyak rem sebagai perantara untuk meneruskan tekanan dari pedal rem ke kanvas rem dalam tromol (Boentarto, 1995: 34). Periksa sistem rem tromol secara visual. Lepaskan tromol sebelum melakukan pemeriksaan visual. Periksa level minyak rem dalam master silinder dan memeriksa sistem hidrolik rem. Gunakan alat angkat yang tepat untuk menaikkan kendaraan. Lepaskan roda. Bersihkan semua komponen rem tromol. Lepas tromol rem. Dalam beberapa sistem, tromol dapat dilepass dari hub roda.

Dalam sistem lain, diperlukan untuk melepas bearing roda sebelum mengeluarkan

Gambar 18. Pemberian Grease (Sugeng, 2013: 156)

Jika tromol rem beralur oleh paku keling sepatu rem sebagai akibat dari pemakaian kanvas sepatu ren yang buruk, alur membuat tromol rem sulit dilepas. Jika ini terjadi, setel mundur mundur sepatu rem. putar roda bintang dengan sendok rem, untuk menjauhkan sepatu rem terhadap rem tromol. Periksa komponen rem tromol. Hati-hati memeriksa komponen rem tromol dan mencatat setiap indikasi kebocoran cairan dan mengidentifikasi sumber kebocoran. Periksa ketebalan kampas rem.

Gambar 2.19. Kampas Rem (Sugeng, 2013: 157)

Kepala keling harus setidaknya 1/64 inchi di bawah permukaan lapisan. Lapisan yang terikat pada sepatu harus setidaknya setebal sepatu itu sendiri. Periksa kampas rem dari retak, paku keling longgar, hilang atau kawasan yang rusak, atau masalah lainnya. Ganti sepatu yang tidak jelas memenuhi standar ketebalan.

Gambar 2.20. Backing plate

(Sugeng, 2013: 157)

Periksa backing plate dari retak dan distorsi, ganti jika retak atau distorsi

yang ditemukan. Pastikan backing plate dipasang dengan aman. Jika lokasi

kontak dengan sepatu ini beralur maka ganti backing plate. Periksa pegas

pengembali sepatu rem dari retak dan distorsi. Pastikan pegas terhubung pada kedua ujungnya.

Gambar 2.21. Roda Bintang (Sugeng, 2013: 157)

Pastikan roda bintang roda tidak hilang setiap gigi dan pastikan bahwa tuas pengatur diposisikan dengan baik untuk penyetelannya. Periksa rem tromol (Perhatikan apakah tromol oval atau berlekuk juga perhatikan juga apakah tromol retak atau bintik-bintik).

Gambar 2.22. Ukur Diameter Tromol (Sugeng, 2013: 158)

Mengukur diameter tromol. Diameter maksimal sering tertera pada tromol. Jika tromol tidak konsentris, dapat dibubut sampai batas diameter maksimal tromol. Periksa tromol dari alur. Perkirakan kedalaman setiap alur, Tentukan apakah dengan membubut alur tromol akan menyebabkan tromol melebihi diameter maksimalnya. Spesifikasi diameter maksimal tromol tertulis pada bagian luar atau bagian dalam tromol. Selama pemeriksaan rem, penyetel dapat dilepas dan dibersihkan tanpa membongkar seluruh komponen rem. Prosedur umum untuk pembongkaran, pembersihan, dan pemasangan kembali dan menyetel.

2) Melepas sepatu rem.

Gambar 2.23. Lepas Pegas (Sugeng, 2013: 159)

Lepas pegas pengembali menggunakan alat khusus pelepas pegas pengembali sepatu rem.

Gambar 2.24. Lepas Pegas Penahan Sepatu Rem (Sugeng, 2013: 159)

Lepas ring penahan pegas, penahan sepatu rem dengan memutar ring dan menahan pin dari belakang backing palte. Lepas unit pemegang sepatu rem. Lepas sepatu rem.

Gambar 2.25. Lepas Sepatu Rem (Sugeng, 2013: 159)

Lepas sepatu rem dengan menark kedua seaptu rem menjauh dari backing

plate. Bersihkan backing plate dengan air dan sabun cuci, segera keringkan. Pastikan untuk menghilangkan semua kotoran dan karat. Lumasi dudukan sepatu rem.

Gambar 2.26. Lumasi Dudukan Sepatu Rem (Sugeng, 2013: 159)

Pemeriksa daerah yang menjadi persinggungan dengan sepatu rem dari tanda-tanda keausan. Selanjutnya melumasi daerah tersebut dengan pelumas yang

Prosedur perawatan silinder roda. Lepas baut pengikat silinder roda dari backing plate. Dorong keluar semua komponen dalam roda silinder - piston, pegas, seal

Gambar 2.27. Komponen Silinder Roda (Sugeng, 2013: 160)

Hati-hati membersihkan silinder roda dan dua piston dengan pelarut yang direkomendasikan untuk sistem rem. Periksa silinder dan kedua piston dari karat, lubang-lubang. Setelah menghoning silinder roda, cuci silinder dengan larutan pembersih rem. Pastikan bahwa semua bagian dilumasi dengan minyak rem bersih atau pembersi lain yang disetujui rem perakitan pelumas. Pasang seal baru dan pegas baru. Dorong kedua seal ke dalam silinder, sehingga menekan pegas. seal harus menghadap ke pegas. Pasang kedua piston dengan sisi datar menghadap ke arah seal. Kemudian mendorong piston ke silinder sampai rata dengan silinder. Pasang boot dan harus bisa memegang piston. Pasang baut bleeding. Pastikan bahwa baut bleeding bersih. Pasang silinder roda pada

backing plate. Pasang pipa atau selang hidrolis sesuai dengan prosedur manual perbaikan.

Gambar 2.28. Periksa Sepatu Rem (Sugeng, 2013: 161)

Periksa sepatu rem baru dan tentukan apakah ada perbedaan antara sepatu rem baru dan yang lama, kebanyakan tipe rem servo menggunakan sepatu rem yang berbeda pada setiap roda, lapisan rem satu sepatu lebih panjang dari yang lain. Pasang sepatu rem terletak di masing-masing sisi silinder roda dengan menghubungkan ke ujung penyetel sepatu rem dengan pegas. Pasang pegas pemegang sepatu rem. Setel sepatu rem.

Gambar 2.29. Pegas Sepatu Rem (Sugeng, 2013: 161)

Gambar 2.30. Sesuaikan Sepatu Rem Dengan Pengukur Diameter Tromol (Sugeng, 2013: 162)

Sesuaikan sepatu rem dengan pengukur diameter tromol. Kencangkan kenop untuk mengunci pengukur dalam posisi yang tepat. mSesuaikan sepatu rem melalui unit penyetel sampai menyentuh pengukur.

membantu penelitian untuk melakukan penelitian serupa.

Penelitian pertama Budiharyanto, (2015). Meningkatkan Hasil Belajar

Praktik Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pada Standar Kompetensi AC di Kelas XI Kompetensi Keahlian Tehnik Ototronik SMK Taman Karya Madya Pertambangan Kebumen Tahun Pelajaran 2013/2014 menyimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar praktek siswa kelas XI OTO 3 SMK Taman Karya Madya Pertambangan Kebumen. Hal itu dapat dilihat dari peningkatan rata-rata nilai hasil belajar pada pra siklus sebesar 72.5, pada siklus 1 sebesar 77.3 dan pada siklus 2 sebesar 81.7. Selain itu juga dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar siswa pada pra siklus sebanyak 13 siswa (32.5%), pada siklus 1 sebanyak 25 siswa (62.5%) dan pada siklus 2 sebanyak 40 siswa (100%).

Penelitian kedua Hidayat dan Suwito, (2014). Penerapan Model

Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada Kompetensi Dasar Menguji Baterai Kelistrikan Otomotif Kelas XII di SMK PGRI 1 Lamongan menyimpulkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan aktivitas guru dalam menyiapkan RPP adalah 81,36 % (sangat baik) dan aktivitas guru dalam menerapkan RPP adalah 81,46 % (sangat baik). Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran adalah 80, 62 % (baik). Respon minat siswa terhadap penerapan model pembelajaran masalah

Dokumen terkait