• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Uraian Teoritis

2.3.8 Model Pembelajaran STEAM

Model pembelajaran STEAM ( sains, teknologi, teknik dan Matematika ) ialah pembelajaran terbaru yang difokuskan pada anak usia dini. Pembelajaran ini mengembangkan strategi dinamis, kuat dan produktif. STEAM bukan hanya sekedar konten pengetahuan namun berperan untuk menumbuhkan soft skilss dan kemampuan memecahkan masalah. Pada pembelajaran anak usia dini, model STEAM memancing anak untuk mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar hingga mengkomunikasikan. Peran seorang Guru dengan pendekatan STEAM ialah mempersiapkan kegiatan lengkap alat dan bahan main dalam proses belajar mengajar.

Pembelajaran STEAM pada anak usia dini berfokus pada aspek kaloborasi, mengarahkan anak untuk berfikir kritis, kreatif, berinovasi serta menemukan solusi (problem solving). Kegiatan bermain dengan pendekatan STEAM pada anak usia dini diikuti dengan kegiatan yang direncanakan dan menantang murid membuat kegiatan yang telah disediakan guru. Kegiatan STEAM disesuaikan

dengan tema bulanan lembagapendidikan. Menurut Hasnawati (2019 :23) Tujuan dari kegiatan STEAM ialah mengarahkan pemikiran anak untuk berfokus dengan materi STEAM pada setiap kegiatan yang akan dilaksanakan anak. Kegiatan bermain disesuaikan dengan rentang anak umur 4 hingga 6 tahun sesuai dengan tingkat dasar dan tahapan perkembangan anak usia dini.

Model pembelajaran STEAM dengan pendekatan saintifik membutuhkan metodologi yang unik dan kreatif. Pada pendekatan ini diharapkan anak merasa nyaman dan tidak merasakan tekanan pada pembelajaran. Kegiatan ini berpusat pada kegiatan anak, agar hal ini anak dapat mengespolarikan lingkungan sekitarnya sehingga menstimuli ide kreatif pada kegiatan yang dilakukan.

Menurut Hasnawati dkk (2019: 32), Model STEAM dapat menstimuli perkembangan anak usia dini, berikut 5 hal yang dapat menstimuli dengan kegiatan yang tersusun sesuai STEAM, yakni :

1. Motivasi anak untuk memperhatikan sekitarnya.

Sebagai pendidik dapat mengajak anak unntuk memperhatikan hal-hal kecil disekitarnya seperti kain kering menjadi basah ketika direndam air, perubahan kain yang dijemur dari basah menjadi kering, pertumbugan cabe yang ditanam dari pembibitan hingga tumbuh. Lakukan pengamatan pada kegitatan yang dilakukan anak agar anak dilatih untuk berfikir kritis dengan memahami proses perubahan kegiatan yang dilakukannya.

2. Motivasi anak untuk menyampaikan hal yang mereka lihat dan lakukan anak.

Diharapkan pendidik dapat menyampaikan kepada anak apa yang dilihat pada kegiatan yang mereka lakukan. Pada saat anak melihat kain kering dan basah, kain tebal dan tipis. Pendidik dapat meminta peserta didik untuk menggambarkannya secara detail mengenai warna, bentuk, Tekstur dan ukurannya.

3. Ajukan pertanya „Apa‟ daripada „Mengapa‟

Pada saat memberikan pertanyaan pada peserta didik, fokuslah menanyakan dengan pertanyaaan „Apa‟ bukan mengapa. Karna pertanyaan

‟Apa‟ lebih mudah dipahami dibandingkan pertanyaan „Mengapa‟. Seperti ketika anak main perca kain, “ Apa yang terjadi dengan kain yang direndam air? ”. Pertanyaan ini lebih mudah dipahami dari pada pertanyaan diawali dengan mengapa. Seperti, “ Mengapa kain menjadi basah ?”. Mengembangkan perkembangan bahasa anak dengan percakapan dan pembelajaran, diharapkan dengan menutup pertanyaan yang mudah dipahami sehingga kita dapat memaknai respon anak.

4. Menghitung dengan cara On-to-one-correspondence.

Anak diharapkan tidak hanya bisa menghitung melainkan mengetahui cara one to one correspondence, bahwa satu dengan satu objek atau dua dengan dua benta dan seterusnya. Pendidik dapat mengembangkan ketrampilan inni dengan meminta kepada peserta didik seperti mengumpulkan lima

bola diluncurkan pada bambu, tiga sendok detergen dilarutkan dengan air atau bertanya berapa jumlah tepung yang dimasukkan.

5. Ajak anak membayangkan ruang di sekitar.

Ajak anak untuk membayangkan apa yang dilihat disekitarnya. Jika anak mengingat dan menceritakaan secara detail, hal ini membuktikan anak terhubung antara ketrampilan spasial dan ketrampilan STEAM sudah dapat kelihatan. Seperti saat berkunjung ke tempat wisata Taman kupu-lupu, mintalah mereka menceritakan lokasinya dimmana, dekat dan jauhnya, bagaimana menuju ke sana atau mencoba mereka untuk mengingat jalan untuk berangkat sekolah.

Berikut langkah pengembangan dan perencanaan pada pembelajaran STEAM melalui kegiatan yang telah dilaksanakan di lembaga atau kurikulum yang telah disusun oleh lembaga :

1. Mengkaji standar tigkat pencapain perkembangan anak (STPPA) 2. Mengembangkan dan menentukan tema

Sesuai pedoman pengembangan Tema Pembelajaran Kurikulum 2013 PAUD, mengidentifikasi tema, guru harus memperhatikan prinsip pemiihan dan penatapan tema , yaitu: kedekatan, kesederhanaan, kemenarikan, daya dukung, dan keinsidentalan.

3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran.

4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH).

5. Menentukan jenis penilaian.

Penilaian meliputi ukuran fisik, perkembangan mencakup fungsi psikis anak, yaitu nilai agama, moral dan perkembangan fisik motorik dan kesehatan fisik (kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni).

2.3.9 Metode Pembelajaran Al Quran 2.3.8.1 Metode Tilawati

Metode pembelajaran Alquran adalah tata cara pelaksanaan pembelajaran atau metode yang tepat untuk menjadikan anak didik belajar cepat membaca dan memahami Alquran menurut aturan-aturan tertentu. Setiap metode pembelajaran bertujuan membantu peserta didik dalam proses belajar untuk mencapai tingkat keberhasilan yang maksimal sekaligus mampu bertahan lama sehingga menyatu dalam diri sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam metode pembelajaran Alquran pada anak usia dini dibutuhkan metode yang tepat agar pembelajaran disesuaikan dengan kondisi anak usia dini yang cenderung suka bermain sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan pembelajaran yang di selingi dengan permainan atau belajar sambil bermain. Berikut yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran Alquran, yaitu:

1. Materi pengajaran : Materi pengajaran yang baku tidak terikat pada satu buku artinya bahwa semakin banyak buku pegangan yang dimiliki memperluas wawasan dan mempertajam kemampuan siswa yang di bimbing oleh guru.

2. Sumber materi pegajaran bervariasi : Seorang guru terbuka pada model atau buku pengajaran Alquran dan menerapkannya dalam proses belajar mengajar.

Setiap siswa memiliki penanganan yang berbeda dalam pembelajaran Alquran sehingga seorang guru harus memiliki inovasi dalam pembelajaran.

Dalam pembelajaran Alquran yang perlu diperhatikan seorang guru ialah harus berbasis Al Quran dan Assunnah meliputi standar tahsin,tilawah, talaqqi, tahfidz dan muraja‟ah. Namun metode pembelajaran Alquran sekarang lebih bervariatif seperti active learning, quantum learning dan brain-base learning.

Sehingga seorang guru Alquran dituntut harus bisa mempertahankan tradisi-tradisi lama dan mengikuti pembelajaran yang inovatif guna peserta didik dapat belajar Alquran dengan sesuatu hal yang menyenangkan.

Di Indonesia metode-metode pembelajaran Alquran telah banyak berkembang sejak lama. Berikut Metode pembelajaran Alquran yang disesuaikan dengan pembelajaran Anak usia dini. Salahsatunya metode tilawati. Tilawati merupakan metode belajar mengajar baca Alquran dengan pendekatan klasikal baca simak secara seimbang. Disusun oleh Drs. H.Hasan Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dan dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya (Hasan, 2010:15).

Beberapa prinsip pembelajaran metode Tilawati yaitu: Disampaikan dengan praktis, menggunakan lagu rost, menggunakan pendekatan klasikal dengan peraga, dan menggunakan pendekatan baca simak secara seimbang. Tujuan dari pembelajaran Alquran untuk anak usia dini ialah membekali dasar-dasar anak agar fasih melafalkan huruf hijaiyah, menjembatani kecenderungan dunia anak yang banyak bergerak dan sulit konsentrasi dan persiapan menghantarkan pembelajaran tilawati jilid 1 yang menggunakan teknik klasikal baca simak. Kelengkapan media dan sarana dalam pembelajaran Alquran dengan metode tilawati PAUD

menggunakan media dan sarana guna mempengaruhi terhadap kemudahan belajar sehingga proses pembelajaran dapat berhasil. Media yang digunakan berupa:

Buku Tilawati PAUD, peraga tilawati, sandaran peraga, alat penunjuk untuk peraga dan buku, media belajar, buku panduan kurikulum dan lembar program dan realisasi pengajaran. (Widyanti, 2018: 52)

2.3.10 Hasil Belajar

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik (Wingkel, 2014:204).

1). Ranah Kognitif

Ranah yang berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi serta pengemangan keterampilan intelektual.

2). Ranah afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.. Hasil belajar afektif tampak pada peserta didik dalam tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

3). Ranah psikomotor

Ranah Psikomotor berhubungan dengan keterampilan motorik, memanipulasi benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan (Dimyati,Mudjono,2015:35). Hasil belajar psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.

2.3.11 Hambatan Komunikasi Instruksional

Dalam proses komunikasi instruksional tidak serta merta berjalan lancar.

Hasil belajar yang belum maksimal disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Menurut Slamerto (2010: 54) ada dua faktor yang mempengaruhi hambatan dalam proses belajar yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal terdiri dari tiga yaitu faktor jasmaniyah (kesehatan dan cacat tubuh), Faktor Psikologis (minat dan kesiapan), dan Faktor kelelahan (bosan dan kelelahan). Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor keluarga ( ekonomi, pola asuh keluarga), faktor sekolah ( pembelajaran berdasarkan metoode, pengajar dan kurikulum) dan faktor masyarakat ( lingkungan sekelilingnya).

Proses pembelajaran memiliki hambatan yang menyebabkan gagalnya tujuan pembelajaran yang ingin dituju. Sedangkan menurut Ludlow &Panton (Gea , 2016:8), hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu:

1. Status effect. Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia. Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.

2. Semantic Problems. Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan semantik ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian

(misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : Pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.

3. Perceptual distorsion . Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.

4. Cultural Differences. Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti : Kata "jangan" dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.

5. Physical Distractions. Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : Suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.

6. Poor choice of communication channelsadalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telphone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf

ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.

7. No Feed back. Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia.