MEDAN
TESIS
Oleh:
SITI ZUBAIDAH 187045016
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
MEDAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu Komunikasi pada Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
SITI ZUBAIDAH 187045016
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2022
i
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komunikasi intruksional guru privat dalam pembelajaran Alqur‟an pada anak usia dini di Alqur‟an Learning Islamic and Foundation Iqra Medan, menganalisis strategi komunikasi intruksional dan faktor penghambat komunikasi intruksional guru privat Alqur‟an pada anak usia dini di Alif Iqra Medan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 6 (enam) pengajar, 1 ( Satu ) manajemen Alif Iqra dan 2 ( dua ) wali murid Alif Iqra Medan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Guru Alif Iqra Medan telah menerapkan proses komunikasi intruksional baik dengan offline system dan online system seperti spesifikasi isi dan tujuan, penaksiran prilaku mula, penetapan strategi intruksional, organisasi satuan-satuan intruksional dan umpan balik.
Sedangkan strategi intruksional yang dilakukan guru Alif Iqra Medan ialah menggunakan strategi fun learning yaitu dengan metode bermain, bernyanyi, berdongeng dan demonstrasi. Hambatan yang ditemui guru adalah faktor mood anak yang berubah-ubah dan lingkungan. Upaya yang dilakukan guru Alif Iqra Medan agar hambatan ini tidak terjadi ialah menanamkan minat belajar anak dengan kegiatan yang menyenangkan. Sedangkan lingkungan yang kurang mendukung dapat mempengaruhi faktor keberhasilan belajar sehingga orang tua murid dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang baik agar pembelajaran tercapai sesuai harapan.
Kata Kunci : Komunikasi Intruksional, Proses Pembelajaran, Pembelajaran Privat, Pembelajaran Alquran, Anak Usia Dini
ii
ABSTRACT
The objective of the research was to analyze the process of instructional communication of private teachers in teaching the Koran to minors in the Alqur’an Learning Islamic and Foundation, Medan, the instructional communication strategy and its inhibiting factors.
The research used descriptive qualitative method. The research subjects were 6 (six) teachers, 1 (one )Alif Iqra management, 2 (two) students’parents. The data were gathered by conducting in-depth interviews and documentary study. The result of the research showed that the teachers had applied the process of intructional communication well with either offline or online systems such as the specification of content and purpose, interpreting initial behavior, promulgating instructional strategy, organizing intructional units, and feedback. Meanwhile, the teachers did intructional strategy by using fun learning strategy such as the methods of playing, singing, telling stories, and demosctrating. Some obstcles were the children’s chaning mood and environment. The teachers made attemps to avoid the obstacles by instilling their students’ learning interest with enjoyable activitives. However, unfavorable environment can influence the students’
success in learning: therefore, the parents should contribute to the creation of good environtment so that favorable learning condution can be achived.
Keywords: Instructional Communication, Process of Teaching, Private Teaching, Teaching Alqur’an, Minors
iv
Tanggal: 1 Februari 2021
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Humaizi, MA.
Anggota : 1. Prof. Dr. Syukur Kholil, MA.
2. Prof. Dra. Lusiana Andriani, MA.,Phd 3. Dr. Nurbani, M.Si
vi
kemudahan dan berkah-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesiakan penulis sesuai waktu yang diharapkan. Bimbingan, bantuan dan dukungan tidak terlepas dari berbagai pihak. Rasa hormat penulis kepada orang tua tercinta, Bapak Drs Suhadi dan Ibu Ummi Kaltsum S.Ag, kakak dan abang tercinta Ria Laily S.Pd dan Ahmad Satria Fatawi S.H, atas doa dan dukungan kepada penulis.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada :
1. Bapak Dr.Muryanto Amin, S.Sos., M.S.i, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Prof. Dra. Lusiana Andriani Lubis, M.A, Ph.D, selaku Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan Komisi Pembanding 1 yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.
3. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si., Ph.D, selaku sekretaris Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan arahan dan masukan kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.
4. Bapak Prof. Dr. Humaizi, M.A. Selaku Ketua Komisi Pembimbing I saya yang telah banyak memberikan arahan dan masukan, evaluasi dan tips kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.
5. Bapak Prof. Dr. Syukur Kholil, M.A selaku Komisi Pembimbing II saya yang telah banyak memberikan arahan dan masukan dan evaluasi yang mendalam kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.
6. Ibu Dr. Nurbani, M.Si, selaku Komisi Pembanding II yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini.
vii
Islamic Foundation Iqra Medan “, yaitu Miss Amima, Miss Lina, Miss Ika, Miss Riza, Miss Hanny, Miss Ririn, Kak Ocha, Kak Nurul, Kak Syahru dan Bunda Rini.
8. Bapak dan Ibu Dosen di Lingkungan Program Studi MagisterIlmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan pengetahuan Ilmu Komunikasi kepada penulis.
9. Seluruh staff administrasi Magister Ilmu Komunikasi yang telah membantu segala sesuatu yang dibutuhkan penulis selama mengikuti perkuliahan.
10. Kepada seluruh teman-teman Magister Ilmu Komunikasi Angkatan 2018/2019 Mahasiswa Reguler dan Kominfo yang telah menjadi teman seperjuangan.
Penulis menyadari tesis ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun demikian penulis berharap tesis ini bisa bermanfaar bagi banyak orang terutama mahasiswa yang akan melakukan penelitian yang sejenis dengan tesis ini. Semoga Allah senatiasa selalu memberikan keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Aamiiin.
Medan, 1 Februari 2021 Penulis,
Siti Zubaidah
viii
ABSTRACT ... ii
LEMBAR PENGESAHAN TESIS ... iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ...iv
PERNYATAAN ... v
KATA PENGANTAR ...vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Fokus Penelitian ... 14
1.3 Tujuan Penelitian ... 14
1.4 Manfaat Penelitian ... 15
BAB II ... 16
KAJIAN PUSTAKA ... 16
2.1 Paradigma Penelitian ... 16
2.2 Penelitian Sejenis Terdahulu ... 17
2.3 Uraian Teoritis ... 25
2.3.1 Komunikasi Antarpribadi ... 26
2.3.2 Komunikasi Pendidikan ... 28
2.3.3 Komunikasi Instruksional ... 32
2.3.4 Fungsi Komunikasi Instruksional ... 33
2.3.5 Proses Komunikasi Instruksional ... 34
2.3.6 Anak Usia Dini ... 37
2.3.7. Fun Learning ... 42
2.3.8 Model Pembelajaran STEAM ... 45
ix
2.4 Kerangka Pemikiran ... 55
BAB III ... 56
METODOLOGI PENELITIAN ... 56
3.1 Metode Penelitian ... 56
3.2 Aspek Kajian ... 57
3.3 Subyek Penelitian ... 58
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 59
3.5 Teknik Analisis Data ... 60
3.6 Teknik Keabsahan Data ... 61
BAB IV ... 64
HASIL PENELITIAN ... 64
4.1 Proses Penelitian ... 64
4.2 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 66
4.3 Temuan Penelitian ... 70
4.3.1 Deskripsi Informan Utama ... 72
4.4 Triangulasi Data ... 107
4.4.1 Informan Triangulasi 1: Masmuhah ... 108
4.4.3 Informan Triangulasi 4 : Bunda Rini Azhary ... 113
4.4.4 Informan Triangulasi 5 : Bunda Novita Hendarso ... 114
BAB V ... 116
PEMBAHASAN ... 116
5.1 Proses Komunikasi Instruksional Pendidik Alif Iqra Medan dalam Pembelajaran Alquran di Alif Iqra Medan ... 116
5.2 Strategi Komunikasi Instruksional Guru Privat dalam Pembelajaram Alquran pada Anak Usia Dini di Alif Iqra Medan ... 125
5.2.3 Strategi Fun Learning ... 130
5.2.3 Model STEAM ... 136
5.3 Hambatan Komunikasi Instruksional Guru Privat dalam Pembelajaran Alquran pada Anak Usia Dini di Alif Iqra Medan ... 138
x
6.2 Saran ... 143 DAFTAR PUSTAKA ... 146 LAMPIRAN
xi
Gambar 4.2 Struktur Organisasi...73
xii
Tabel 4.1Kategorisasi Temuan Penelitian ...104
1
1.1 Latar Belakang
Komunikasi instruksional merupakan bagian dari komunikasi pendidikan.
Komunikasi pendidikan merupakan bentuk proses komunikasi yang terjadi dalam lingkungan kependidikan, baik secara teoritis mapun secara praktis, sedangkan komunikasi instruksional lebih ditekankan kepada proses perencanaan dan pelaksanaan secara operasional yang didukung oleh teori untuk kepentingan keberhasilan efek perubahan perilaku pada pihak sasaran (komunikan). Efek perubahan perilaku inilah yang merupakan tujuan pokok dari pelaksanaan komunikasi instruksional. Perubahan-perubahan itu berupa perubahan kognisi, afeksi, dan konotasi atau psikomotor dikalangan masyarakat, khususnya yang sudah dikelompokkan kedalam ranah sasaran pada komunikasi instruksional (Yusuf, 2010:10).
Selanjutnya Yusuf (2010: 42), adanya komunikasi instruksional ini menarik, dikarenakan beberapa pernyataan yang penting sebagai berikut: Pertama bahwa kegagalan komunikasi pendidikan atau komunikasi instruksional yang sering terjadi di lapangan, lebih banyak disebabkan oleh salah satu unsur komponen terjadinya proses pendidikan dan instruksional, dalam psikologi kognitif disebut sebagai struktur kognisi seseorang, baik dalam kedudukannya sebagai komunikator maupun dalam perannya sebagai komunikan, tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Kedua, para guru dan praktisi komunikasi instruksional
142
di lapangan tidak memahami pendekatan dalam pelaksanaan instruksional.
Ketidakpahaman dasar-dasar teori belajar yang sudah teruji secara ilmiah bisa meningkatkan prestasi belajar sasaran jika digunakan secara tepat. Ketiga, kurangnya perhatian oleh komunikator instruksional dalam aspek psikologi seperti kemampuan dan kapasitas kecerdasaan yang dimiliki oleh manusia, minat, bakat, motivasi, perhatian, sensasi, persepsi, ingatan, retensi, faktor lupa, kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif. Keempat, para komunikator instruksional belum banyak yang memanfaatkan multimedia untuk tujuan instruksional.
Penelitian ini difokuskan untuk meneliti komunikasi instruksional guru privat dalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini. Komunikasi instruksional guru sangatlah penting untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Seorang guru merupakan komunikator sedangkan murid ialah komunikan. Seorang guru harus bisa menyampaikan pesannya dengan baik agar murid bisa dengan mudah menerima dan memahami pesan-pesan yang disampaikan, maka harus diperhatikan bagi seorang guru seperti apakah komunikasi yang efektif yang dapat diterapkan pada anak didiknya guna tercapainya tujuan pembelajaran. Seorang guru sebagai komunikator instruksional dalam pembelajaran, dapat merencanakan sistem pembelajaran bagi anak usia dini yang menyenangkan, kondusif dan sesuai tahapan perkembangan murid. Berkomunikasi dengan anak yang terbilang masih usia dini sangatlah berbeda dengan remaja atau dewasa. Hal ini dikarenakan cara berfikir anak yang masih sangat sederhana, kongkrit, kreatif, aktif, penuh khayal dan selalu berkembang. Komunikasi instruksional guru dalam pembelajaran Alquran dapat disesuaikan dengan tujuan pendidikan anak usia dini yaitu
142
mengembangkan pengetahuan dan pembinaan anak yang menyeluruh dan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak.
Pembelajaran Alquran pada anak usia dini dapat diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal. Pada jalur formal adalah taman kanak-kanak (TK) atau raudhatul athfal (RA), dan lembaga sejenis. Sedangkan jalur nonformal di selenggarakan oleh masyarakat atas kebutuhan dari masyarakat itu sendiri dan informal dilakukan oleh keluarga atau lingkungan. Pembelajaran Alquran banyak ditemui melalui jalur informal seperti Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan jalur formal di sekolah-sekolah islam terpadu. Keadaanya saat ini proses pembelajaran yang dilakukan pada anak usia dini masih merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran secara konvensional dan bersifat teacher center oriented.
Sehingga menjadikan peserta didik pasif dan tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan dan pembelajaran anak usia dini belum dapat dicapai dengan optimal (Aminah, 2016:2). Bersamaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 207 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, pasal 5 ayat (2), yang berbunyi “Pendidikan agama diajarkan sesuai dengan tahapan perkembangan kejiwaan peserta didik” (Permen, 2007).
Suatu fenomena bagi anak usia dini di umur yang belia dapat mengerti dasar- dasar agama islam dengan pembelajaran. Menurut Sulaiman (2007: 20), seorang anak kecil berusia 5 tahun yang hafal dan paham Alquran meraih gelar Doktor Honoris Causa di umur 7 tahun bernama Husein Tabataba‟i yang berasal dari negara Iran. Anak lelaki ini meraih Doktor diusia dini dengan menempuh ujian yang meliputi 5 bidang yaitu menghafal Alquran dan menerjemahkannya ke
dalam bahasa ibu, menerangkan ayat Alquran dengan menggunakan ayat lainnya dari Alquran, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Alquran, dan metode menerangkan makna Alquran dengan metode isyarat tangan.
Pada saat istirahat dalam proses ujian Husein layaknya seorang anak kecil usia 7 tahun bermain-main dihalaman gedung tempat ia ujian. Seorang Doktor salah satu anggota tim penguji, mendatangi lelaki kecil itu dan mengeluhkan kepalanya yang terasa sakit. Lelaki kecil itu memegang dahi dan membacakan doa, lalu kemudian melanjutkan bermain. Dilihat dari keberhasilan Husein si Doktor kecil yang menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang “ Sceince of The Retention of Holy Quran”. Hal ini dilatarbelakangi oleh pendidikan informal dari keluarga dan lingkungannya. Seiring dengan kegiatan belajar mengajar Al quran orang tuanya, kedua orang tuannya bertekad untuk menghafal Al quran bersama-sama. Selama hamil dan menyusui Husein, ibunya dalam sehari membaca minimalnya 1 juz Al quran.
Menurut Benyamin S.Bloom dalam (Yazid, 2012:5) akademisi pendidikan Chicago Amerika serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 hingga 4 tahun mencapai 50%. Jika anak mendapat rangsangan dengan membacakan Alquran kepada bayi akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak kedepannya. Komunikasi efektif yang dilakukan oleh ibu Husein sudah terjalin dari masa kehamilan Husein hingga Husein hafal dan paham Alquran sampai saat ini. Keberhasilan Husein sebagai Doktor kecil berawal dengan kegiatan belajar dan mengajar Alquran orang tuanya. Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein sudah menghafal Al quran juz ke-30 secara otodidak, hasil
dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal sekaligus pengajar Alquran. Melihat bakat yang dimiliki Husein, ayahnya mengajarkan hafalan Quran juz ke-29. Dalam proses belajar, ayah Husein biasa memberikan hadiah sebagai pembangkit semangat.
Komunikasi pembelajaran yang dilakukan ayah terhadap Husein dicocokkan dengan psikologi pada anak usia dini, yaitu dengan menciptakan metode sendiri untuk mengajarkan makna ayat-ayat Alquran dengan komunikasi nonverbal yaitu dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya kata Allah, tangan menunjuk ke atas, kata Yuhibbu (mencintai), tangan seperti memeluk sesuatu, kata Sulh (berdamai), dua tangan saling berpegangan. Ayah Husein biasanya akan menceritakan makna suatu ayat secara keseluruhan dengan bahasa sederhana kepada Husein kemudian dia akan mengucapkan ayat itu sambil melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat. Komunikasi nonverbal menggunakan isyarat tangan ini ternyata menarik perhatian Husein dan berpengaruh pada kemajuan Husein dalam menguasai ayat-ayat Alquran, sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu ke dalam bahasa Persia (bahasa sehari-hari orang Iran) dan mampu menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.
Melihat dari penerapan pendidikan informal oleh keluarga Husein Si Doktor kecil, Pendidikan Anak Usia Dini dapat berlangsung dimana saja. Baik itu didapati melalui pengalaman hidup sang anak pada masa kecilnya bersama keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Kenyataannya pada saat ini kebingungan kerap terjadi pada orang tua yang memiliki anak usia dini
dalam menerapkan pendidikan keagamaan pada sang anak. Pentingnya pendidikan keagaaman dikenal sejak sedari dini dapat membuat pribadi sang anak lebih kuat. Jika orang tua gagal dalam mengelola baik dari segi teoritis dan praktis, bagi anak usia dini mengakibatkan timbulnya berbagai masalah.
Permasalahan ini menimbulkan kerusakan tatanan masyarakat seperti drugs addiction, criminalities, mortalities, dan sexsuality abuses(Anderson, 2003:36).
Orangtua memiliki tanggung jawab penuh dalam memperhatikan aspek pendidikan anak. Menurut Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan anak usia dini di Indonesia terbilang rendah pada tahun 2018-2019 yaitu sebesar 38,91 %.
Perhitungan ini berdasarkan jumlah keseluruhan usia anak di Indonesia dari usia 3 tahun hingga 6 tahun. Dengan jumlah keseluruhan anak Indonesia 19.214.227 anak dari jumlah usia 3-6 tahun. Anak usia dini yang bersekolah pada pendidikan PAUD adalah 7.475.500 anak, yaitu terdiri dari TK berjumlah 3.655.383 anak, RA berjumlah 1.306.498 anak, kelompok bermain berjumlah 1.929.023 anak, taman penitipan anak berjumlah 46.481 anak dan satuan PAUD sejenis berjumlah 537.753 anak (Sumber: Buku APK PAUD 2018-2019).
Jika dilihat dari layanan PAUD secara nasional, Sumatera Utara berada pada presentase 26,19. Sumatera Utara tertinggal jauh dari provinsi lainnya seperti APK PAUD tertinggal di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 69, 91, Jawa Timur sebesar 67,4, provinsi Jawa Tengah 54, 46 dan provinsi Nusa Tenggara Barat 49,93. Cakupan terhadap pelayanan PAUD secara internasiol, Indonesia sangat jauh dibandingkan dengan Singapura dan Korea Selatan.
Singapura menyelesaikan penuntasan dua bahasa Cina dan Inggris telah selesai
pada tingkat TK, dimana negara tersebut sangat jauh diatas Indonesia sesuai dari Human Development Index (HDI).Peringkat 25 oleh Singapura, peringkat 27 oleh Korea Selatan, dan Indonesia berada pada tingkat 110 dari 173 negara (Siswanto, 2014:12).
Pendidikan anak usia dini sangatlah penting karena anak berada pada usia emas atau golden age. Golden age adalah masa dalam proses kecerdasan anak.
Dalam usia 0-5 tahun, anak diajarkan berbagai macam pendidikan dasar, mulai dari berbicara, bersikap, bermain, hingga diajarkan untuk belajar pelajaran- pelajaran ringan. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengasah kecerdasan dan bakat yang ia miliki sejak lahir (Gede dan Dewi, 2017:30). Untuk menstimuli anak akan pendidikan anak usia dini dapat diperoleh dari pengajaran. Namun proses pendidikan disini ialah sesuai perkembangan anak usia dini, sementara sebagian orang tua masih bingung bagaimana pola komunikasi kepada anaknya guna mencapai sasaran anak pada minat pendidikan. Menumbuhkan minat belajar anak bagi orang tua didasarkan pada semangat, bahwa mendidik anak lebih menitikberatkan pada proses menggali potensi terbesar sang anakyang sering masih tersembunyi (Ekomadyo, 2005: 16).
Pendidikan prasekolah menjadi wadah sebagai lingkungan belajar dan bermain bagi anak usia dini untuk menunjang perkembanagan anak.
Keberlagsungan proses pembelajaran dalam pengenalan dasar-dasar agama pada anak usia dini berkaitan pada Permen No. 17 Tahun 2010 pasal 1 ayat 27, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaran
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu komunikasi instruksional prasekolah anak usia dini disesuaikan dengan strategi komunikasi guru dengan memperhatikan kebutuhan anak dari berbagai aspek yaitu perkembangan, berorientasi pada bermain, lingkungan yang kondusif, menggunakan media serta dilaksanakan secara bertahap.
Realitanya saat ini pendidikan bagi anak usia dini hanya diselenggarakan untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya saja dan menjauhkan anak dari situasi budaya yang mengelilinginya. Hampir semua lembaga pendidikan anak usia dini menjadikan belajar menulis, membaca dan berhitung sebagai kegiatan inti. Sebagian orang tua dan guru seakan memaksakan harapan kepada anak untuk menjadi pintar secara akademik dan melupakan kodrat anak untuk tumbuh serta berkembang secara alami (Maghta, 2013:222).
Menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas mendefinisikan pembelajaran anak usia dini sebagai berikut: Pertama, proses pembelajaran anak usia dini adalah proses interaksi antaranak, sumber belajar, dan pendidikan dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kedua, sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain, maka proses pembelajaran ditekankan pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Ketiga, belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap prilaku serta agama), bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi atau kemampuan yang secara aktual dimiliki
anak. Keempat, program belajar mengajar dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggungah dan memberi kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktivitas yang bersifat kongkrit, dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak usia dini (Departemen pendidikan Nasional, 2007:3).
Pengenalan pembelajaran Alqur‟an pada anak usia dini dapat ditetapkan pada umur anak 4 tahun. Hal ini berdasarkan faktor perkembangan psikologis, fisik dan afektif anak telah dapat menerima intruksi sehingga dapat dikenalkan dasar-dasar agama islam pada umur 4 tahun. Pengenalan dasar agama diumur 4 tahun menanamkan nilai-nilai positif dan mempersiapkan bekal demi menjalankan kewajiban anak saat dewasa kelak. Diumur 7 tahun anak dapat ditekankan dan dilatih menjalankan shalat, karna itu diumur 4 tahun anak sudah dilatih menjalankan shalat dan mengerjakan shalat membutuhkan kelancaran bacaan- bacaan kelancaran bacaan alqur‟an seperti bacaan alfatihah, suroh-suroh pilihan, dan bacaan doa-doa harian. Mempersiapakan anak diumur 4 tahun dapat dipersiapkan prasaranan anak sebelum benar-benar diperintahkan melakukan shalat ( Syarifuddin, 2004: 62). Hal ini sesuai hadist Rasulullah Saw, yang artinya
“ suruhlah anak-anakmu menjalankan shalat disaat umur 7 tahun, beri mereka pukulan bila meninggalkan shalat di saat umur sepuluh tahun, dan dipisahkan tempat-tempat tidur diantara mereka (HR.Abu Dawud)
Alif Iqra ialah pengembangan pencarian guru privat Alquran di Indonesia.
Induk lembaga ini ialah ALIF (Alquran Learning and Islamic Foundation) yang
berdiri sejak awal 2016 sebagai lembaga pembelajaran Alquran anak-anak hingga dewasa. Melalui strategi Fun learning, bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) dan intensif, sehingga anak-anak diharapkan akan lebih fokus dan senang belajar Alquran. Mendukung proses pembelajaran, fasilitas pembelajaran dirancang modern, interaktif dan nyaman. Alif Iqra memiliki beberapa Program yaitu, Alif School, pesantren kilat, Alif Fieldtrip: Goes to Mosque, Alif Islamic Camp, Alif after School, kajian parenting nabawi, Alif Pop Up class dan Alif Iqra (Program privat). Program privat inilah yang tersebar di sebelas kota besar di Indonesia dan salah satunya di Kota Medan.
Alif Iqra memiliki beberapa program unggulan yaitu (Regular (1x seminggu)Intensive (2x seminggu) dan Full English(, 2020). Selanjutnya berikut Segmentasi dalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini: Toodler ( 3-5 Tahun) : Target belajar ialah hafal lagu hijaiyyah, mampu mengenal dan membedakan 28 huruf hijaiyyah, dan memiliki pengetahuan dasar agama, meliputi : hafal surat-surat pendek, hafal ayat pilihan, hafal bacaan sholat, hafal doa-doa harian, memahami pelajaran fiqh, tauhid, sejarah, dan akhlak. Kids and Teens (6-15 tahun) : Target belajar ialah fashohah, tajwid, suara dan lagu, khatam Alquran 30 juz dan memiliki pengetahuan agama meliputi: hafal surat-surat pendek, hafal ayat pilihan, hafal bacaan sholat, hafal doa-doa harian, memahami pelajaran fiqh, tauhid, sejarah, dan akhlak.
Alif Iqra Medan ialah cabang privat dari beberapa kota besar di Indonesia.
Beberapa cabang yang tersebar di Indonesia ialah Alif Iqra Bandung, Al Cirebon, Alif Iqra yogyakarta, Alif Iqra surabaya, Alif Iqra Malang, Alif Iqra Pontianak,
Alif Iqra Lampung, Alif Iqra Pekanbaru, Alif Iqra Medan. Kehadiran Alif Iqra di kota Medan disambut baik oleh masyarakat Kota Medan hal ini terlihat ketika Alif Iqra Medanpernah menjadi Alif Iqra privat dengan jumlah murid terbanyak di seluruh Indonesia. Hingga saat ini terhitung jumlah murid Alif Iqra Medan sebanyak 20 anak dengan jumlah Guru aktif 6 guru dari 10 Guru Alif Iqra Medan yang tersebar dari beberapa kecamatan di kota Medan. Terhitung sejak aktif Alif Iqra berada di kota Medan dari bulan Mei 2019-Januari 2020.
Alif Iqra Medan memiliki aplikasi mobile yang akan segera diluncurkan, namun saat ini, pendaftaran privat hanya menggunakan online. Untuk itu orang tua murid mendaftarkan anaknya untuk menjadi peserta didik dengan mengubungi alif pusat melalui formulir yang ada di website dan bisa langsung menghubungi kontak admin melalu aplikasi whatsapp. Dilihat dari minat masyarakat kota Medan untuk bergabung menjadi peserta didik Alif Iqra Medan didominasi oleh anak usia dini atau toodler dengan umur 2, 8 tahun sampai 5 tahun. Alif Iqra Medan mempertahankan eksistensi hingga saat ini dengan pembelajaran yang menyenangkan ( Fun learning ).
Aplikasi pencarian guru ngaji ialah aplikasi pertama yang ada di Indonesia untuk memfasilitasi masyarakat Indonesia yang ingin belajar agama dengan mudah dan terverifikasi oleh guru-guru dengan pengalaman mengajar. Sesuai dengan visi Alif Iqra ialah menyelenggarakan pembelajaran Alquran dengan benar dan menyenangkan dan menghadirkan pembelajaran ibadah dengan baik dan mudah. Motto keberadaan Alif Iqra ini ialah mengenalkan Alquran lebih secara dekat dengan cara yang lebih akrab.
Penelitian ini penting untuk dilakukan karena peneliti ingin melihat bagaimana proses komunikasi instruksional guru privat dalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini. Suatu fenomena bagi anak usia dini di umur yang belia dapat mengerti dasar-dasar agama Islam dengan pembelajaran. Maka dengan pembelajaran Alquran yang menyenangkan, anak dapat bermain juga belajar namun tujuan pembelajaran tetap tercapai. Berdasarkan penelitian sejenis terdahulu oleh layyinah (2017) pendekatan Fun learning yang dilakukan guru Alifiqra Medan pada peserta didik men erapkan sistem student centered approach pada pembelajaran Alquran sehingga anak didik cenderung lebih aktif. Realitas nya peserta didik Alif Iqra Medan didominasi anak usia dini pada proses komunikasi intruksional yang dilakukan guru lebih efektif dengan penerapan seorang murid menjadi komunikator dan guru sebagai komunikan. Tidak serta merta guru sebagai komunikator dalam penyampaian pesan pada peserta didik sebagai komunikan.
Peneliti juga melihat sebagian besar murid-murid Alif Iqra Medan walaupun pembelajaran tidak terfokus dikarenakan anak usia dini masih cenderung bermain tapi pembelajaran tetap kondusif. Terlihat dari salah satu murid Alif Iqra Medan yang sudah memahami dan mengenal huruf hijaiyyah dan dasar-dasar agama Islam sejak mengikuti privat Alif Iqra Medan. Penelitian terdahulu yang meneliti komunikasi instruksional guru privat dalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini masih terbilang cukup minim. Ditinjau dari penelitian terdahulu dari Kurniawan (2018) menjelaskan proses komunikasi anak usia dini di Taman Pendidikan Alquran dengan merujuk pada teori stimulus organism response dari
Laswell sedangkan penelitian yang meneliti terkait proses komunikasi intruksional berdasarkan aspek psikologi anak usia dini dengan sistem home learning belum ada.
Peneliti juga berfokus pada komunikasi intruksional guru privat pada rentang umur anak usia dini dengan usia 4 tahun dikarnakan memiliki intesitas belajar yang tinggi dan diumur 4 tahun masa prasekolah anak telah fokus dan efektif diberikan pembelajaran dasar-dasar agama. Proses pembelajaran di Alif Iqra Medan dilakukan dengan cara online mapun offline sesuai dengan protokoler covid 19. Sehingga memungkinkan setiap guru dapat melakukan proses pembelajaran daring sebagai salah satu bentuk transisi kebiasaan baru transormasi digital pada masa covid 19 hingga saat ini. Penelitian ini juga meneliti proses komunikasi intruksional, strategi komunikasi intruksional baik online maupun offline. Jika dilihat dari kebiasaan baru online system sebagai alternative dimasa pandemi hal ini dilakukan dari beberapa faktor yaitu revolusi industri 4.0, generasi Z, perkembangan IT, dan situasi yang tidak memungkinkan dilakukan secara tatap muka. Hal ini sesuai pernyataan praktisi Paud Pedia dalam seminar talkshow menyatakan bahwa pada masa PJJ (pembelajaran jarak jauh) 79 % anak tidak mendapatkan interaksi sosial pada pembelajaran online system untuk itu peneliti ingin mengkaji apakan online sytem Alif Iqra Medan sesuai dengan kondisi saat ini.
Karna itu permasalahan ini cukup layak untuk dikaji dan menarik untuk diteliti lebih lanjut. Berdasarkan uraian tersebut peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Komunikasi Instruksional Guru Privat dalam
Pembelajaran Alquran pada Anak usia dini di Alif Iqra Medan”. Peneliti akan memaparkan secara utuh dan apa adanya kondisi realitas yang ada di dalamnya.
1.2 Fokus Penelitian
Untuk memperjelas Fokus permasalahan dan mempermudah penelitian, penulis merumuskan permasalahan ini pada:
1. Bagaimana proses komunikasi instruksional guru privat dalam pembelajaran Al Quran pada anak usia dini di Alif Iqra Medan ?
2. Bagaimana strategi komunikasi instruksional guru privat pada anak usia dini dalam pembelajaran Alquran di Medan ?
3. Apa hambatan komunikasi guru privatdalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini di Alif Iqra Medan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan diatas, maka peneliti bertujuan untuk mengetahui:
1. Untuk menganalisis proses komunikasi instruksional yang dilakukan guru privat Alquran untuk anak usia dini dalam proses pembelajaran al-qur‟an di Alif Iqra Medan.
2. Untuk menganalisis strategi komunikasi instruksional guru privat Alquran pada anak usia dini di Alif Iqra Medan.
3. Untuk Menganalisis hambatan komunikasi pengajar guru Alquran kepada anak usia dini dalam pembelajaran Alquran di Alif Iqra Medan.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Aspek Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dan memperluas wawasan secara teori, terutama yang berkaitan dengan komunikasi instruksional guru privat dalam pembelajaran Alquran pada anak usia dini di Alif Iqra Medan.
2. Aspek Akademis
Penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi dalam menambah danatau memperluas khazanah penelitian ilmu komunikasi, dan dapat menjadi referensi tambahan bagi mahasiswanya. Khususnya mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara.
3. Aspek Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi pihak- pihak yang membutuhkan pengetahuan terkait pelaksanaan komunikasi instruksional guru privat Al Quran padaanak usia dini dalam dunia pendidikan khususnya di kota Medan.
142
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Penelitian
Paradigma yang dipakai dalam penelitian ini adalah interpretif. Paradigma Interpretif adalah memandang realitas sosial secara dinamis, kompleks, penuh makna dan holistik. Berproses dan penuh makna subjektif, posisi manusia ialah memandang manusia sebagai makhluk yang berkesadaran dan bersifat intensional dalam bertindak. Paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif yang umumnya digunakan ilmu-ilmu sosial dan Humaniora. Paradigma interpretif disebut dengan paradigma fenomenologi atau naturalistik (Patton, 1990:
68). Paradigma Interpretif selalu berhubungan dengan ilmu sosial bahwasanya paradigma interpretif merupakan ilmu sosial sebagai bentuk analisis yang sistematis „ Socially meaningful action’ melalui paradigma langsung terhadap aktor sosial dalam latar alamiah agar dapat memahami dan menafsirkan bagaimana para aktor sosial menciptakan dan memelihara dunia sosial mereka (Hendrarti, 2010:4).
Asumsi dasar paradigma interpretif adalah keduanya tidak dapat dipisahkan, dimana nilai-nilai dan pengetahuan yang dipegang oleh peneliti dan responden sama-sama mempengaruhi hasil penelitian. Kebenaran dinegosiasikan melalui dialog antara kedua pihak tersebut. Makna dan pengetahuan dipertukarkan antara peneliti dan responden sehingga menghasilkan pemahaman yang menyeluruh
terhadap suatu fenomena. Hasil penelitian Interpretif bersifat kaustik yang artinya penelitian tidak dapat menjelaskan fenomena yang sama dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Kebenaran bersifat relatif, dimana kebenaran dapat berubah sesuai konteksruang dan waktu (Putri, 2016: 4). Selanjutnya menurut Putri, metode yang digunakan dalam paradigma interpretif adalah observasi, wawancara dan analisis teks tertulis. Hal yang penting dalam melakukan penelitian dengan menggunakan paradigma ini adalah interaksi antara peneliti dan responden untuk menciptkan pemahaman bersama dan realitas yang menjadi topik penelitian.
2.2 Penelitian Sejenis Terdahulu
Peneliti mencari referensi hasil penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan pada fokus penelitian yang ingin diteliti. Adapun penelitian terdahulu yang dapat digunakan dalam penelitian ini sebagai referensi adalah sebagai berikut :
1) Penelitian ini dilakukan oleh Siti Sarah pada tahun 2018 berjudul “Komunikasi Instruksional dalam Membina Akhlak Siswadi Taman Pendidikan Alquran Unit 373 At-Tahiriyyah H “. Beberapa kesamaan penelitian ini dengan peneliti ialah untuk mengetahui bagaimana komunikasi instruksional yang digunakan oleh guru dalam pembinaan akhlak anak dan ingin mengetahui apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat komunikasi instruksional dalam pembinaan akhlak anak. Pengumpulan data dalam penelitian ini ialah melalui wawancara dan observasi. Metode penelitian ini ialah degan pendekatan penelitian kualitataif menurut Taylor yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi non-verbal dan komunikasi antarpribadi (interpersonal communication). Faktor pendukung yang ditemui adalah komunikator (guru), Komunikan (murid), masyarakat sekitar dan juga pesan (materi). Sedangkan faktor penghambatnya adalah keadaan guru yang tidak siap atau jenuh dalam mengajar, hambatan semantik atau bahasa yang digunakan terlalu tinggi, hambatan fisik, dan hambatan kerangka berfikir. Murid juga berperangai buruk, perhatian yang bercabang, dan tidak adanya tanggapan.Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti ialah sama-sama menjelaskan komunikasi instruksional, namun penelitian ini lebih menekankan pada pembinaan akhlak pada taman pendidikan Alquran yang membedakan dalam penelitian peneliti.
2) Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 oleh Khalilah berjudul “Komunikasi Instruksional Dalam Pengajaran Mulok di Madrasah Diniyah Awaliyah Al Ittihad Serang, Banten”. Penelitian ini membatasi masalah pada komunikasi instruksional didalam kelas, subyek penelitian ini adalah guru sebagai komunikator dalam proses belajar mengajar dikelas, objek penelitian ialah aktivitas komunikasi yang dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dokumen, pengolahan data dan analisis data. Hasil dalam penelitian ini ialah komunikasi instruksional yang dibangun oleh guru atau komunikator didalam kelas menggunkan kode verbal dan non-verbal, dan juga menggunakan media podium, buku mata pelajaran dan contoh-contoh naskah pidato yang telah disiaplan sebelum komunikator mengkomunikasikan pesannya atau materi pada mata pelajaran mulok.
Untuk mendekatkan komunikator dengan komunikan, guru atau komunikator menggunakan komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, dengan demikian akan terjadi komunikasi instruksional yang efektif. Persamaan penelitian ini dengan yang akan diteliti peneliti ialah sama-sama menjelaskan tentang komunikasi instruksional seorang guru. Namun beberapa perbedaan penelitian ini dengan peneliti subyek dan obyek yang berbeda, menekankan pada pembelajaran mulok di Madrah diniyah.
3). Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 oleh Martika Wahyu Ningrum berjudul “Pola Komunikasi Guru Taman Kanak-kanak RA Darul Karomah Betro Sedati Sidoarjo”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi guru TK dengan anak didiknya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang diharapkan dapat menyelidiki lebih dalam tentang fokus penelitian mengenai pola komunikasi guru Taman Kanak- Kanak dengan anak didik.
Hasil penelitian ditemukan bahwa pola komunikasi primer terjadi diantara guru pada siswanya saat menyampaikan pesannya melalui komunikasi verbal maupun nonverbal, Pola komunikasi bermedia (mainan), alat yang digunkan guru dalam menyampaikan pesan kepada peserta didiknya menggunakan media mainan yang merukapan pola komunikasi bermedia. Pola komunikasi dialog, pola komunikasi dialog dengan menggunakan metode tanya jawab. Pola komunikasi perhatian, pola komunikasi yang terjadi antara guru kepada siswanya pada saat melakukan proses belajar mengajar, pola ini dilakukaan ketika siswa sedang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan dari guru dan Pola komunikasi
stimulan, pola komunikasi ini digunakan guru untuk melatih keberanian anak dalam berkomunikasi baik dengan guru atau dengan orang sekitar dilingkungan sekolahnya.
4). Penelitian yang dilakukan oleh Sekartaji Renia pada tahun 2017 berjudul “Pola Komunikasi Antara Guru dengan siswa dan antara siswa pada kelompok ektrakulikuler Tari di SMP N I Delanggu”. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan pola komunikasi antara guru dengan siswa dan antar siswa pada kelompok ekstrakurikuler tari di SMP N1 Delanggu. Metode penelitian ini menggunakan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian ini adalah pola komunikasi antara guru dengan siswa merupakan komunikasi santun dan pola komunikasi antar siswa dalam kelompok ekstrakurikuler tari adalah komunikasi semtris.
Komunikasi kelompok ini bersifat nyaman sehingga membuat kegiatan ekstrakurikuler tari ini sebagai kegiatan yang menyenangkan. Dalam penelitian ini dengan penelitian peneliti yang membedakan ialah penelitian ini memaparkan pola komunikasi yang dilakukan guru kepada siswa dalam kelompok ekstrakurikuler sedangkan penelitian peneliti menjelaskan komunikasi instruksional berdasarkan proses, strategi dan hambatan yang dilakukan guru privat kepada anak usia dini. Sedangkan persamaan penelitian ini dengan peneliti menggunakan metode deskriptif.
5). Penelitian ini dilakukan oleh Purnama Cicilia pada tahun 2015 berjudul
“Komunikasi Instruksional Guru pada proses pembelajaran siswa Tunarungu Jenjang Sekolah Menegah atas (SMA) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Sri Mujinab Pekanbaru”. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui proses komunikasi instruksionalguru dalam pembelajaran Siswa Tunarungu Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di sekolah luar biasa (SLB) Sri Munijab Pekanbaru.
Metode penelitian ini ialah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data ini menggunakan teknik seperti pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman yang menyatakan sifat interaktif antar kolektif data atau pengumpulan data dengan analisis data. Analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini ialah metode yang digunaan dalam membantu dan mempermudah siswa tunarungu dalam memahami apa yang disampaikan ialah metode bahasa isyarat, metode oral dan sistem komunikasi total. Media komunikasi instruksional yang digunakan guru guna mempermudah mahasiswa dalam menerima pesan yang disampaikan ialah menggunakan media seperti gambar, video, benda asli maupun tiruan dapat memacu semangat mereka dalam belajar. Hambatan dalam komunikasi instruksional ini ialah adanya hambatan pada sumber yaitu pada gurunya sendiri seperti suara yang kurang keras dan keadaan fisik guru yang lagi sakit yang mempengaruhi proses belajar mengajar.
Hambatan pada saluran seperti infocus yang rusak ataupun gambar video yang kurang jelas. Hambatan pada komunikan atau sasaran ialah siswa yang tidak fokus
atau kemampuan pribadi siswa yang berbeda-beda yang menjadi penghambat pada komunikasi instruksional tersebut.
6).Penelitian ini dilakukan oleh Ahmad Gawdy Pranos, Doni Pestalozi dan Adlisel pada tahun 2015 berjudul “Konsep Komunikasi Pendidikan dalam Alquran Surat Lukman”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep komunikasi pendidikan dalam Alquran surat Lukman. Metode penelitian ini menggunakan kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder yaitu Naskah Al-Qur‟an dan surat Lukman didukung dengan Hadist yang relevan terkait permasalahan penelitian ini.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa konsep komunikasi pendidikan dalam surat Lukman ialah adanya pesan yang disampaikan sang ayah sebagai komunikator kepada anaknya yang sebagai komunikan dalam meyampaikan pesan berupa mencapai keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.
7).Penelitian yang dilakukan Adi Setyawan tahun 2015 dengan judul
“Komunikasi Persuasif Guru dalam Membangun Kreatifitas Anak Usia Dini pada TK Melati Putih Desa Bukit Kratai” dirujuk oleh peneliti dalam penulisan penelitian ilmiah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah TK Melati Putih dan untuk mengetahui komponen kurikulum pembelajaran yang ada di TK Melati Putih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitataif dengan informan yang telah di tetapkan menggunakan metode purposive sampling diantaranya kepala sekolah TK, dua guru tetap di TK Melati Putih, wali murid dan siswa TK Melati Putih, pengumpulan data, wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian
menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah TK Melati Putih sangat membangun kreatifitas anak dalam mengembangkan pola pikir mereka di usia dini, metode pembelajaran tersbut diantaranya ; persiapan guru dalam proses belajar, penguasaan teknik dan juga penilaian, membangun kepercayaan diri dalam belajar, cara pembelajaran yang membangun kreatifitas anak, serta peran guru dalam permainan kreatif anak.
Di dalam komponen kurikulum yang diterapkan di sekolah TK Melati Putih diantaranya; bidang pengembangan, struktur kurikulum, muatan kurikulum, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, dan juga komponen kurikulum.Persamaan penel itian ini dengan penelitian peneliti adalah sama- sama meneliti tentang komunikasi guru pada anak usia dini dan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Namun perbedaanya dari penelitian ini lebih menjelaskan komunikasi persuasif dan lebih menekankan bagaimana membangun suatu kreatifitas anak usia dini.
8).Penelitian ini dilakukan oleh Amelia Kurniawati tahun 2013 berjudul”Pola komunikasi Guru dan Orang tua dalam pembinaan karakter murid di taman kanak-kanak El-fikri Yayasan Kahfi, Tangerang Selatan”. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pola komunikasi guru dan orang tua dalam pembinaan karakter murid di TK El-Fikri Yayasan Kahfi Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Teknik yang dilakukan menggunakan teknik wawancara dan observasi diketahui subyek ialah kepala sekolah, guru dan 3 orang tua murid.
Hasil penelitian menunjukkan Komunikasi guru dan orang tua berjalan dengan
baik dan lancar. Orang tua memberikan respon positif terkait pembinaan karakter.
Guru memberikan saran dan dukungan saat orang tua menghadapi kesulitan terkait pembinaan karakter sang anak. Hal ini menunjukkan sekolah menjalin komunikasi yang baik terhadap orang tua murid.
9). Penelitian ini dilakukan Hartanti pada tahun 2012 oleh Stefani Budi berjudul
“Komunikasi Instruksional pada Pendidikan Anak usia dini (PAUD)” Anak-anak Ceria” Bandung (Studi Deskriptif mengenai Komunikasi Instruksional melalui Permainan Edukatif Logico Primo Pada PAUD “Anak-Anak Ceria” Bandung)”.
Tujuan dari penelitian ini ialah bagaimana komunikasi instruksional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “ Anak-Anak Ceria” Bandung. Penelitian ini mencoba menganalisis dari spesifikasi isi dan tujuan instruksional, penaksiran perilaku mula, penetapan strategi instruksional, organisasi satuan-satuan instruksional, dan umpan balik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif. Informan penelitian berjumlah 8 (delapan) orang dan informan kunci berjumlah 5 (lima) orang. Sebagian besar data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, internet searching dan didukung studi pustaka serta triangulasi data. Adapun teknik analisa data yang digunakan yaitu penngumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan evaluasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi instruksional pada PAUD anak-anak ceria meliputi proses spesifikasi isi dan tujuan instruksional yaitu persiapan oral yang meliputi tambahan informasi dan persiapan tertulis yang meliputi SKM (Satuan Kegiatan Mingguan) serta materi cadangan. Selanjutnya
yaitu startegi Instruksional yang berupa penggunaan alat peraga serta penggunaan buku PAUD, buku cerita anak-anak, dan pelacakan informasi melalui internet.
Proses organiasi satuan-satuan instruksional dengan cara pengelolaan pesan dan pengelolaan hambatan dan yang terakhir umpan balik yang nampak yaitu berupa umpan balik positif dan umpan balik negatif. Komunikasi instruksioanl melalui permainan edukatif logico primo pada PAUD anak-anak ceria tidak melalui proses penaksiran perilaku mula dikarenakan siswa yang masih berada pada fase yang belum stabil sehingga sulit untuk dilakukan suatu penaksiran. Persamaan penelitian ini dengan peneliti ialah sama-sama menggunakan komunikasi instruksional pada anak usia dini. Namun, perbedaannya ialah penelitian ini lebih pada pembahasan tentang permainan edukatif logico primo sedangkan penelitian peneliti membahas tentang pembelajaran Alquran.
2.3 Uraian Teoritis
Penelitian ini menggunakan beberapa teori yang berasal dari kajian pustaka yang sesuai dengan topik penelitian yang diteliti mengenai komunikasi instruksional. Teori ini diharapkan dapat memberi acuan, arahan dan sumber informasi bagi penelitian ini.
2.3.1 Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi interkasi antara dua atau beberapa orang secara tatap muka, pengirim berfungsi menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan berfungsi menerima dan menanggapi secara langsung pula. Komunikasi antarpribadi terdiri dari komunikator dan komunikan memiliki peran yang bergantian. Saat proses komunikasi berlangsung komunikan menjadi komunikator, setalah menjadi komunikator bergantian menjadi komunikan, hal ini berlanjut hingga mencapai tujuan komunikasi tersebut (Sobur, 2014: 402).
Komunikasi antarpribadi lebih daripada penyampaian informasi antara dua manusia. Sebaliknya, ini merupakan cara manusia memperoleh makna, identitas, dan hubungan-hubungan melalui komunikasi antar manusia (Budyatna, 2015:6).
Komunikasi Antar Pribadi mempunyai tujuan sebagai berikut (Liliweri, 2015:88):
a. Orang Lain Mengerti Saya
Dalam fase ini individu memiliri harapan agar dapat mengerti maksud dan tujuan percakapan atau bersifat memaksak
b. Saya Mengerti Orang lain
Pada fase ini bertujuan untuk membantu satu sama lain dan memahami masing-masing individu memiliki identitas diri.
c. Orang Lain Menerima Saya
Pada fase ini penerimaan dari individu merupakan usaha dari hasil komunikasi yang dilakukannya.
d. Kita Bersama Dapat Melakukan Sesuatu
Fase ini memiliki tujuan yang penting dikarnaka masing-masing individu ingin memperoleh sesuatu yang harus dikerjakan bersama dari komunikasi antar personal.
Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang (Mulyana, 2011: 81).
Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh setiap manusia pada tingkatan awalnya adalah komunikasi antarpribadi. Dikutip dari Mubarok, Dwi (2014: 73) Ciri-ciri komunikasi antarpribadi di antaranya:
1. Pesan yang kuran terstruktur dikirim dan diterima secara spontan seperti komunikasi dengan teman, sodara, seseorang yang baru dikenal, topik yang dibahas berubah-ubah topik. Perkembangan pembicaraan mengalir dengan candaan menyesuikan kehendak mereka. Ciri-cirinya tidak memiliki kesimpulan dan tidak memiliki maksud dan tujuan percakapan namun lebih mengembangkan hubungan.
2. Umpan balik segera (immediately feedback) Dalam komunikasi antarpribadi, umpan balik baik berupa tanggapan, dukungan, ekspresi wajah, dan emosi bisa diberikan secara langsung. Masing-masing bisa saling mendukung, menyanggah, marah, sedih seketika itu juga. Dalam komunikasi antarpribadi yang tidak bersifat tatap muka, ekspresi wajah mungkin tidak bisa ditampilkan, tetapi ekspresi melalui suara sangat mungkin di dapatkan.
3. Komunikasi berlangsung secara sirkuler. Dimana masing-masing komunikator dan komunikator saling menanggapi pesan yang disampaikan. Hal ini menunjukkan peran komunikator dan komunikan saling bertukar pesan.
4. Kedudukan keduanya adalah setara (dialogis). Komunikasi diantara komunikator dan komunikan bersifat dua arah dan diologis. Keduannya memberi pesan dan bertukar pesan secara terus-menerus dan tidak ada maksud untuk mendominasi pembicaraan dan memberi kesempatan untuk lawan pembicaraan memberi tanggapan.
5. Mempunyai efek yang paling kuat dibanding konteks komunikasi lainnya.
Pesan yang disampaian memiiki efek yang kuat. Efek tersebut mempengaruhi prilaku dengan pesan yang disampaikan secara verbal mapun nonverbal
2.3.2 Komunikasi Pendidikan
Pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Inggris adalah “ Education” yang bermakna pengembangan atau bimbingan, sedangkan dalam bahasa Arab, Pendidikan adalah “Tarbiyah” (Rusydi, Amiruddin, 2017:9).
Zakiah (1994:1) menyatakan pendidikan berasal dari kata „didik‟ dengan memberinya awalan „pe‟ dan dan akhiran “kan” yang mengandung makna perbuatan. Dengan demikian pendidikan berarti usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Adams dan Dickey menyatakan dalam Hamalik (2004:123), ada empat hal besar peran seorang guru yaitu:
a. Guru sebagai pengajar (teacher as instructor)
Guru memiliki peran dalam menyampaikan pelajaran agar anak didik dapat memahami dengan baik dari pesan yang disampaian guru sehingga memiliki perubahan baik itu aspek pengetahuan, sikap, hubungan sosial dan pembelajaran dilakukan dengan manajemen perencanaan.
b. Guru sebagai pembimbing (teacher as counsellor)
Guru membimbing peserta didik untuk memecahkan masalahnya sendiri, memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan, mengenalkan dirinya, mengatasi permalasahan pribadi dengan teknik penyuluhan individual, mengumpulkan keterangan, psikologi belajar dan evaluasi.
c. Guru sebagai ilmuwan (teacher as scientiest)
Guru sebagai mengembangkan pengetahuan dan terus memberikan pengetahuan baru pada peserta didiknya sehinga peserta didik dapat berkembang dengan pengetahuan yang terus dipupuk oleh guru.
d. Guru sebagai pribadi (teacher as person)
Guru pendidik dapat menjadi pribadi yang disukai dari prilakunya sehingga peserta didik mendapatkan contoh pendidik yang memiliki karakter yang baik pula. Hal itu sebagai bentuk motivasi pada peserta didik agar terus menjadi pribadi bagaimana menjadi sifat dan pribadi yang baik pada orang lain.
Rosyada (2004:112) menyatakan secara umum guru harus memenuhi dua katagori yaitu memiliki capability dan loyality. Capability yaitu guru harus
memiliki kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan dalam ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi. Loyalitas keguruan yakni loyal terhadap tugas-tugas keguruan tidak semata di dalam kelas, tetapi sebelum dan sesudah di luar kelas.
Gary dan Margaret dalam Mulyasa (2007:21) memaparkan bahwa guru yang efektif dan kompetensi secara profesional memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Memiliki kemampuan menciptakan iklim belajar yang kondusif
a. Kemampuan interpersonal untuk menunjukkan empati dan penghargaan kepada peerta didik.
b. Hubungan baik dengan peserta didik.
c. Menerima dan memperhatikan peserta didik dengan tulus.
d. Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar.
e. Menciptakan iklim untuk tumbuhnya kerjasama
f. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan pembelajaran, mendengarkan dan menghargai hal peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi.
g. Meminimalkan bahkan mengeleminasi setiap permasalahan yang sering terjadi dalam pembelajaran.
2) Memiliki kemampuan mengembangkan strategi dan manajemen pembelajaran.
a. Kemapuan untuk menghadapi dan menangani peserta didik yang bermasalah, suka menyela, mengalihkan pembicaraan.
b. Mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam pembelajaran c. Kemampuan bertanya yang memerlukan tingkat berpikir yang berbeda
untuk semua peserta didik.
3) Memiliki kemampuan memberikan umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement)
a. Memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik.
b. Memberikan respon yang sifatnya membantu terhadap peserta didik yang lambat belajar.
c. Memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan.
d. Kemampuan memberikan bantuan profesional kepada peserta didik jika diperlukan
4) Memiliki Kemampuan untuk peningkatan diri
a. Menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif.
b. Memperluas dan menambah pengetahuan tentang metode pembelajaran.
c. Memanfaatkan kelompok kerja guru (KKG) untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan.
2.3.3 Komunikasi Instruksional
Istilah instruksional berasal dari kata instruction, yang dalam dunia pendidikan lebih diartikan sebagai “pengajaran atau pelajaran” daripada perintah atau instruksi. Webster’s Third New International Dictionary Of English Language mencantumkan kata instruksional dengan arti “memberikan pengetahuan atau informasi khusus dengan maksud melatih dalam berbagai bidang khusus, memberikan keahlian atau pengetahuan dalam berbagai bidang seni atau spesialisasi tertentu” (Yusuf, 2010:57). Para pelaksana instruksional di lapangan seperti guru atau dosen, instruktur, para penyuluh lapangan dan siapa saja yang pekerjaannya menyampaikan informasi dengan tujuan mengubah perilaku sasaran, perlu mengetahui proses perubahan yang terjadi pada pihak sasaran secara baik .
Selanjutnya Yusuf (2010:6-11) menyatakan komunikasi intruksional memiliki tujuan bahwa komunikan sebagai sasaran komunikasi memiliki perubahan prilaku dari sebelumnya menjadi lebih baik. Perubahan kognitif, afektif dan psikomotor keseluruhan tersebut berdampak efek edukatif. Efek perubahan perilaku ditujukan sebagai tindakan komunikasi intruksional yang dapat dikontrol dari upaya proses komunikasi intruksional sebagai manfaat itu sendiri. Berhasil tidaknya tujuan instruksional yang telah ditetapkan paling tidak bisa dipantau melalui kegiatan evaluasi. Komunikasi instruksional terdapat pada kelas-kelas formal dan informal. Dapat dibedakan bahwa kelas formal mempunyai ciri-ciri antara lain relatif tetap, homogen dan teratur seperti kelas-kelas formal di sekolah.
Sedangkan kelas informal misalnya kelas bentukan sementara yang hanya untuk
sekali atau untuk beberapa kali pertemuan saja seperti kelompok-kelompok kelas pada penataran atau kelompok organisasi keagamaan. Kelompok ini dibentuk tidak seketat kelas formal.
Dapat disimpulkan bahwa komunikasi instruksional mempunyai arti komunikasi dalam bidang instruksional atau pembelajaran. Di dalam kegiatan komunikasi instruksional agar berjalan secara efektif diharuskan adanya komunikator sebagai pihak pengajar, komunikan dan media. Pada komunikasi instruksional guru, pengajar atau instruktur atau pelatih merupakan sumber utama dalam pemberian pelajaran, metode, menerangkan dan menyampaikan sebuah materi yang akan disampaikan kepada murid yang berperan sebagai komunikan.
2.3.4 Fungsi Komunikasi Instruksional
Kita mengenal bahwa ilmu komunikasi secara umum memiliki empat fungsi utama yang diantaranya ialah untuk memberikan informasi (to inform), untuk menghibur (to entertain), untuk memberikan pendidikan (to educate) dan sebagai kontrol social (to influence). Yusuf (2010:10) menyatakan tidak jauh halnya dengan fungsi komunikasi instruksional yang berada pada ranah pendidikan sehingga, komunikasi instruksional memiliki tiga fungsi utama yaitu:
1. Fungsi edukatif
Sebagai fungsi edukasi, komunikasi instruksional bertugas mengelola proses- proses komunikasi yang secara khusus dirancang unutk tujuan memberikan nilai tambah bagi pihak sasaran, atau setidaknya untuk memberikan perubahan- perubahan dalam kognisi, afeksi, dan konasi atau psikomotorik di kalangan
masyarakat, khususnya yang sudah dikelompokkan ke dalam ranah sasaran pada komunikasi instruksional.
2. Fungsi manajemen instruksional
Fungsi manajemen instruksional merupakan fungsi yang bersifat teknis. Fungsi manajemen instruksional merupakan fungsi pengelolaan organisasi dan pengelolaan personal.
3. Fungsi pengembangan instruksional
Sama halnya dengan fungsi manajemen instruksional, fungsi ini bersifat teknis.
Fungsi pengembangan instruksional mempunyai fungsi riset-teori, desain, produksi, evaluasi, seleksi, logistik, pemanfaatan, dan penyebaran. Ketiga fungsi di atas pada dasarnya sengaja diarahkan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan komponen sumber informasi edukasi yang berupaya memberhasilkan proses belajar secara tuntas.
2.3.5 Proses Komunikasi Instruksional
Kita mengenal bahwa peristiwa komunikasi merupakan suatu proses dimana secara keseluruhan berorientasi tidak hanya kepada hasil namun sejak peristiwa itu mulai terjadi hingga akhir peristiwa. Sama halnya dengan komunikasi instruksional yang memiliki proses yang bersifat khas. Proses hubungan komunikasi sebagai urutan instruksional memiliki gambaran yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 7.2.2 Rangkaian Instruksional
Sumber : “Komunikasi Instruksional “ Yusuf (2010:70)
Gambar di atas menjelaskan dimana komunikasi instruksional merupakan suatu proses yang di dalamnya terdapat seperangkat langkah-langkah berangkaian yaitu:
1. Spesifikasi isi dan tujuan instruksional, merupakan langkah pertama dimana dalam tahap ini, komunikator menyiapkan suatu persiapan sebelum melaksanakan tugasnya di lapangan. Disini, komunikator diharapkan mampu menyampaikan suatu isi dari rincian informasi secara lebih jelas dengan apa yang dimaksudkannya. Untuk mencapai tujuan dalam hal memola perilaku komunikasi, komunikator pun harus mampu mengkhususkan isi dan tujuan-tujuan instruksionalnya.
2. Penaksiran perilaku mula (assessment of entering behavior), merupakan tahap dimana komunikator melakukan perkiraan mula yang perlu diperhatikan, misalnya dengan memahami situasi dan kondisi pihak sasaran, termasuk kemampuan awal yang telah dimilikinya. Hal tersebut perlu dilakukan oleh
seorang komunikator dengan tujuan untuk tindakan selanjutnya. Tahap ini diperlukan dalam suatu proses komunikasi instruksional karena dengan melakukan penaksiran, maka akan semakin banyak kita dalam mengenal kondisi sehingga semakin besar pula perilaku komunikasi kita sesuai dengan harapan.
Dengan begitu akan lebih mudah untuk kita mengetahui segala sesuatu mengenai sasaran sejak awal.
3. Penetapan strategi instruksional, merupakan langkah dimana komunikator mulai menetapkan startegi yang tepat dan cocok bagi sasaranya. Strategi yang digunakan oleh komunikator banyak ditentukan oleh situasi dan kondisi Medan.
Dalam komunikasi instruksional, dikenal dua macam strategi yaitu strategi ekspository, dan strategi inkuiri. Strategi ekspository merupakan strategi dengan pemaparan yang sistematis, dengan menggunakan strategi ini, diharapkan informasi yang diberikan komunikator akan lebih meresap diterima sasaran.Sementara strategi inkuiri merupakan strategi penemuan dengan menggunakan alat-alat dan sarana tertentu sebagai percobaan dengan tujuan untuk menemukan suatu kesimpulan berdasarkan hasil percobaan atau penelitian tadi.
4. Organisasi satuan-satuan instruksional, merupakan langkah dimana mulai dirumuskan pengelolaan satuan-satuan instruksional yang banyak bergantung pada isi yang akan disampaikan. Informasi yang disampaikan haruslah dipecah ke dalam unit-unit kecil dengan sistematika yang berurutan. Pesan-pesan informasi dikelompokkan sehingga tersusun secara runtut dan hirarkis. Penyajiannya pun harus runtut dan tidak boleh melompat dimulai dari yang paling sederhana, merumit, hingga ke tahap yang kompleks.
5. Umpan Balik, merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses. Melalui umpan balik kegiatan instruksional bisa dinilai apakah berhasil atau tidak, apakah strategi komunikasi yang dijalankan bisa mempunyai efek yang jelas, dan apakah penguasaan materi yang sudah direncanakan sesuai dengan tujuan-tujuan instruksional.
2.3.6 Anak Usia Dini
Anak usia diniAnak Usia Dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun (di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional). Sedangkan menurut para pakar pendidikan anak, menjelaskan bahwa anak usia dini yaitu kelompok manusia yang berusia 9-8 tahun. Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Mursyid (2016 :14) menyatakan keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini terbagi dalam tiga tahapan, yaitu (a) masa bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toodler (batita) usia 1-3 tahun, (c) masa prasekolah usia 3-6 tahun, (d) masa kelas awal SD 6-8 tahun.
Menurut Catron dan Allen (Mursid, 2015: 22) menyebutkan bahwa terdapat enam aspek perkembangan anak usia dini, yaitu kesadaran personal, kesehatan emosional, sosialisasi, kognisi dan keterampilan motorik sangat penting dan harus