BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Model Pembelajaran
Dalam pembelajaran, diperlukan pola dan strategi agar pembelajaran dapat mencapai tujuan. Pola dan strategi tersebut termuat dalam suatu model pembelajaran. Trianto (2010: 53) mengatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
commit to user
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, dan pengelolaan kelas (Arends, 1997: 7).
Menurut Joice dkk dalam Trianto (2010: 52), model pembelajaran adalah suatu perecanaan atau pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas atau mengatur tutorial, dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film-film, tipe-tipe, program-program media komputer, dan kurikulum.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan pengertian model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
a. Model ARCS
Model ARCS dikembangkan oleh Keller dan Kopp pada tahun 1982.
Model ini berdasar pada teori desain motivasi (Motivational Design Theory).
Menurut Keller dalam Shellnut (1996: 5) model ARCS adalah sebuah model untuk meningkatkan motivasi dalam materi pembelajaran.
Menurut Keller (1983: 395), terdapat empat komponen. Komponen-komponen Model ARCS yaitu: Interest, Relevance, Expectancy, dan satisfactian. Intersest merujuk pada apakah rasa ingin tahu siswa meningkat dan apakah peningkatan tersebut bertahan sampai pembelajaran selesai.
Relevance merujuk pada persepsi siswa terhadap kebutuhan kepuasan siswa pada hubungannya dengan pembelajaran, atau apakah tujuan yang hendak dicapai sejalan dengan aktivitas pembelajaran. Expectancy merujuk pada kesadaran akan kemungkinan keberhasilan dan tingkat keberhasilan mana yang dapat dicapai oleh siswa. Satisfaction merujuk pada penghargaan ekstinsik dan motivasi intrinsik dan apakah hal tersebut sesuai dengan harapan siswa.
commit to user
Dalam Shellnut (1996: 5) untuk mendapatkan akronim yang sesuai maka beberapa istilah diubah, Interest menjadi Attention, dan Expectancy menjadi Confidence, sehingga diperoleh Model ARCS.
Strategi-strategi pada tiap komponen model ARCS adalah sebagai berikut (Keller, 1987: 2-6).
1) Attention (Perhatian)
b) Menciptakan rasa ingin tahu dan penasaran dengan menggunakan pendekatan novel, memberikan materi bersifat personal dan emosional.
c) Meningkatkan rasa ingin tahu dengan memberikan pertanyaan, menyajikan hal-hal yang bersifat paradoksal, membangkitkan penemuan, meningkatkan pemikiran akan tantangan.
d) Mempertahankan perhatian dengan gaya presentasi yang bervariasi, membuat analogi yang kongkrit, memberikan contoh yang menarik dengan menyebutkan nama orang atau kejadian yang tak terduga.
2) Relevance (keterkaitan)
a) Memberikan penyataan atau memberi contoh kegunaan pembelajaran, dan menyatakan tujuan pembelajaran, atau meminta siswa menyatakan kegunaan atau tujuan pembelajaran.
b) Menyajikan pembelajaran yang responsif terhadap siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa akan pencapaian diri, aktivitas-aktivitas kooperatif, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan aturan-aturan yang positif.
c) Membuat materi dan konsep menjadi akrab dengan siswa dengan membuat contoh konkret dan analogi yang berhubungan dengan pekerjaan siswa.
3) Confidence (percaya diri)
a) Membangun kepercayaan dan harapan positif dengan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian keberhasilan dan kriteria-kriteria yang evaluatif.
commit to user
b) Meningkatkan keyakinan akan kompetensi dengan memberikan pengalaman yang banyak, bervariasi, dan menantang yang dapat meningkatkan keberhasilan siswa.
c) Menggunakan teknik menawarkan kontrol diri dan memberikan umpan balik yang mendukung keberhasilan usaha.
4) Satisfaction (kepuasan)
a. Memberikan permasalahan, stimulasi, atau contoh-contoh pekerjaan yang memperlihatkan kepada siswa bahwa mereka telah dapat menyelesaikan masalah “dunia nyata”.
b. Menggunakan penghargaan verbal, hadiah nyata maupun simbolik, dan imbalan, atau mempersilakan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya (menunjukkan dan menceritakan) sebagai imbalan atas keberhasilan.
c. Membuat kriteria-kriteria yang konsisten dengan harapan yang telah dinyatakan, dan membuat standar pengukuran yang konsisten.
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran dengan model ARCS adalah sebagai berikut.
(1) Kegiatan Awal
(a) Memberitahukan tujuan pembelajaran dan menjelaskan relevansinya dengan kehidupan nyata, atau meminta siswa menyatakan kegunaan pembelajaran. (Relevance)
(b) Memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. (Confidence)
(c) Membuat kriteria standar pencapaian pencapaian tujuan pembelajaran yang konsisten. (Satisfaction)
(2) Kegiatan Inti
(a) Memberikan pernyataan untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang materi pembelajaran. (Attention)
(b) Menyajikan materi dan konsep secara akrab terhadap siswa dengan membuat contoh konkret atau analogi yang berhubungan dengan kegiatan siswa. (Relevance) commit to user
(c) Menggunakan pembelajaran yang bervariasi. (Attention)
(d) Memberikan soal-soal latihan yang cukup banyak dan menantang.
(Confidence)
(e) Memberikan umpan balik terhadap hasil usaha siswa.
(Confidence)
(f) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa. (Satisfication) (g) Memberikan permasalahan yang memperlihatkan bahwa siswa
dapat menyelesaikan masalaha “dunia nyata”. (Satisfaction) (3) Kegiatan Akhir
Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa. (Satisfication)
b. Model ARIAS
Model ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ini mengandung lima komponen yaitu Assurance, Relevance, Interest, Assesment, dan Satisfaction (Dimyati dan Erwin, 2009: 219). Modifikasi ARCS menjadi ARIAS dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris dalam Dimyati dan Erwin, 2009: 219). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata Attention menjadi interest (minat), karena pada kata interest sudah terkandung pengertian attention. Pembelajaran tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Selanjutnya, diadakan Assesment (penilaian).
Menurut Ormrod (2002: 267), assesmen adalah proses mengamati sebuah sampel dari perilaku seorang siswa dan mengambil kesimpulan tentang pengetahuan dan kemampuan siswa tersebut. Webber (1999: 7) menyatakan bahwa:
commit to user
Assesment refers to the process of observing learning, collaborating to interpret data and create standards, describing progress, collecting results, recording reflections, scoring performances, and mirroring students’ strengths to help them improve weakness.
Bahwa penilaian mengacu pada proses pengamatan belajar, mengkolaborasikan antara interpretasi data dan menentukan standar, mendeskripsikan kemajuan, mengumpulkan hasil, mencatat refleksi, memberikan skor pada unjuk kerja, dan mengetahui kelebihan siswa untuk membantu mereka meningkatkan kelemahan.
Mimin Haryati (2007: 15) menyatakan, penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat untuk memperoleh berbagai ragam informasi tentang sejauh mana hasi belajar peserta didik atau informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik.
Bell dan Cowie (2000: 538) mengatakan bahwa asesmen mempunyai beberapa tujuan. Pertama, memonitor perkembangan atau peningkatan pendidikan. Kedua, memberikan feedback. Ketiga, memberikan dorongan pada praktek dan pada kebijakan untuk mencapai tujuan yang diingainkan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen/penilaian adalah proses pengamatan kepada siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Dalam Dogan (2011: 420-421) dijelaskan terdapat dua jenis asesmen.
dan masing-masing memiliki metode dalam pelaksanaannya, yaitu:
1). Asesmen tradisional, dengan metode:
a). Tes Pen-and-paper b). Tes pilihan ganda c). Tes benar-salah d). Isian singkat
2). Asesmen alternatif, dengan metode:
a). Tugas oral, dimana siswa memberikan jawaban pendek, proyek atau seminar, dan debat
b). Tugas praktek, siswa menggunakan instrument tertentu untuk mengaplikasikan prinsip matematika commit to user
c). Asesmen autentik.
d). Guru mengobservasi siswa dalam kegiatan yang terstruktur maupun tak terstruktur dan mengevaluasi tugas siswa.
e). Jurnal siswa
f). Self-assessmen siswa
g). Asesmen yang melibatkan orang tua siswa.
Dalam penelitian ini, asesmen dilakukan adalah formative assessment (asesmen formatif).
Dalam Peterson (2008: 1), Shute (2008) menyatakan: “Formative assessment is defined as information communicated to the learner that is intended to modify his or her thinking or behavior for the purpose of improving learning” (Asesmen formatif didefinisikan sebagai informasi yang dikomunikasikan kepada siswa yang dimaksudkan untuk memodifikasi pemikiran atau sikap mereka dalam tujuan meningkatkan pembelajaran).
Popham (2008) dalam Castro et al (2009: 3) mengatakan: “Formative assessment is a process used by the teachers and students during instruction that provides feedback to adjust ongoing teaching and learning to improve students’ achievement of intended instructional outcomes” (Asesmen formatif adalah sebuah proses yang dilakukan oleh guru dan siswa selama pembelajaran yang menyediakan umpan balik untuk menyesuaikan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung untuk meningkatkan pencapaian siswa sebagai hasil pembelajaran yang direncanakan).
Bell dan Cowie (1998:1) memberikan pengertian tentang asesmen formatif, yaitu: “the process used by teachers and students to recognize and respond to student learning in order to enhance that learning, during the learning” (sebuah proses yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mengenali dan menanggapi pembelajaran siswa agar meningkatkan pembelajaran tersebut, selama pembelajaran).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian formatif adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa selama
commit to user
pembelajaran dengan memberikan umpan balik untuk meningkatkan pembelajaran.
Peterson (2008: 2-7) mengatakan bahwa inti dari asesmen formatif adalah feedback (umpan balik). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan asesmen adalah sebagai berikut.
1) Menentukan kriteria atau standar kinerja tentang kemajuan siswa yang dinilai.
2) Mengkomunikasikan kriteria atau standar kinerja kepada siswa sebelum memberikan tugas/penilaian.
3) Memberikan feedback (umpan balik) yang spesifik berdasarkan criteria atau standar kinerja.
Cara membuat umpan balik yang efektif adalah sebagai berikut.
1) Menentukan topik.
2) Menentukan jawaban.
3) Mendiskusikan kesalahan-kesalahan tertentu.
4) Memberikan contoh yang tepat.
5) Memberikan bimbingan yang hangat.
Alat yang dapat digunakan dalam asesmen formatif adalah:
1) Pre-Reading Quiz
Siswa diberikan kuis, kemudian jawabannya digunakan untuk memberikan umpan balik yang spesifik kepada siswa untuk meningkatkan belajar siswa atau membantu siswa mengidentifikasi tujuan belajar mereka.
2) The one minutes paper
Teknik ini efektif untuk mengecek kemajuan siswa baik dalam pemahaman maupun pencapain materi pembelajaran. Teknik ini dilakukan dengan memberikan siswa untuk menjawab pertanyaan dalam selembar kertas kemudian meminta siswa untk memberikan jawabannya dalam satu menit.
commit to user
3) Think-pair-share
Teknik ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangku kemudian berdiskusi dalam satu kelompok.
4) Practice quiz
Siswa diberikan sebuah tes setelah pembelajaran berakhir. Tes ini mengarah pada pembelajaran selanjutnya.
5) Case-based learning
Guru memberikan model penyelesaian masalah. Kemudian, siswa dalam suatu kelompok atau secara individu mengevaluasi dan memberikan jawaban dengan cara mereka sendiri.
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran dengan model ARIAS adalah sebagai berikut.
(1) Kegiatan Awal
(a) Memberitahukan tujuan pembelajaran dan menjelaskan relevansinya dengan kehidupan nyata, atau meminta siswa menyatakan kegunaan pembelajaran. (Relevance)
(b) Memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. (Assurance)
(c) Membuat kriteria standar pencapaian pencapaian tujuan pembelajaran yang konsisten. (Satisfaction)
(2) Kegiatan Inti
(a) Memberikan pernyataan untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang materi pembelajaran. (Interest)
(b) Menyajikan materi dan konsep secara akrab terhadap siswa dengan membuat contoh konkret atau analogi yang berhubungan dengan kegiatan siswa. (Relevance)
(c) Menggunakan pembelajaran yang bervariasi. (Interest)
(d) Memberikan soal-soal latihan yang cukup banyak dan menantang.
(Asssurance)
(e) Memberikan umpan balik terhadap hasil usaha siswa. (Assurance) commit to user
(f) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa (Satisfication) (g) Memberikan permasalahan yang memperlihatkan bahwa siswa
dapat menyelesaikan masalaha “dunia nyata” (Satisfaction) (3) Kegiatan Akhir
(a) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa (Satisfication) (b) Memberikan asesmen (Assesment).
c. Persamaan dan perbedaan model ARCS dengan model ARIAS
Model ARCS dan ARIAS mempunyai persamaan. Diantaranya adalah kedua model mempunyai komponen yang sama. Model ARCS memiliki 4 komponen yaitu Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction, sedangkan model ARIAS memiliki lima komponen yang empat diantaranya mirip dengan komponen pada model ARCS, yaitu Assurance, Relevance, Interest, dan Satisfaction.
Adapun perbedaan model ARCS dengan model ARIAS adalah pada model ARIAS terdapat satu komponen yang tidak terdapat pada model ARCS.
Komponen tersebut adalah Assesment. Dalam penelitian ini, asesmen yang digunakan adalah formative assesment (asesmen formatif). Asesmen formative merupakan asesmen yang berfungsi sebagai wahana untuk memberikan balikan (feed-back) kepada siswa secepat mungkin. Asesmen ini dilakukan pada setiap akhir pembelajaran.