• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Analisis Data

Dalam dokumen TESIS Oleh : NUQTHY FAIZIYAH S (Halaman 97-106)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Analisis Data

c. Uji Komparasi Minat Belajar Matematika antar Sel Model Pembelajaran pada Kolom Kecerdasan Emosional.

Hasil perhitungan uji komparasi minat belajar matematika antar sel model pembelajaran pada kolom kecerdasan emosional disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.14 Hasil Uji Komparasi Minat Belajar Matematika antar Sel Model Pembelajaran pada Kolom Kecerdasan Emosional

H0 ̊ 1 ; 侨, Keputusan Uji

µ112 = µ212 0,1294 (5) (2,21) = 11,05 H0 diterima µ122 = µ222 18,1945 (5) (2,21) = 11,05 H0 ditolak µ132 = µ232 7,1416 (5) (2,21) = 11,05 H0 diterima Berdasar tabel di atas dapat dibuat simpulan sebagai berikut:

1) Tidak terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional tinggi

2) Terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional sedang

3) Tidak terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional rendah Hasil perhitungan uji komparasi minat belajar matematika antar kolom kecerdasan emosional pada model ARIAS selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 57.

D. Pembahasan Hasil Analisis Data

yaitu model ARCS dan model ARIAS, untuk menentukan model pembelajaran mana yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dilihat dari rataan marginalnya sebagai berikut.

Tabel 4.15 Rataan Prestasi Belajar

Model Pembelajaran Kecerdasan Emosional

Rataan Marginal Tinggi Sedang Rendah

Model ARCS 78,8333 70,4583 65.625 71,6389 Model ARIAS 83,2917 79,1667 69,9167 77,4583 Rataan Marginal 81,0625 74,8125 67,7708

Dari tabel tersebut, rataan marginal prestasi belajar matematika model ARCS adalah 71,6389 sedangkan rataan marginal prestasi belajar matematika model ARIAS adalah 77,4583. Dengan demikian, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa dengan pembelajaran model ARIAS lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran model ARCS.

Pada pembelajaran dengan model ARIAS, terdapat komponen asesmen.

Asesmen adalah proses mengamati sebuah sampel dari perilaku seorang siswa dan mengambil kesimpulan tentang pengetahuan dan kemampuan siswa tersebut.

Asesmen yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan memberikan satu butir soal di setiap akhir pembelajaran. Soal tersebut diambil dari materi pokok yang diajarkan pada pertemuan tersebut. Soal berupa soal uraian. Siswa menulis jawaban pada lembar jawab yang telah disediakan kemudian di kumpulkan.Jawaban kemudian dikoreksi dan diberi catatan berdasar atas kesalahan pengerjaan. Pada pertemuan berikutnya lembar jawab dibagikan kepada masing-masing siswa. Selanjutnya, beberapa catatan tersebut dibahas di depan kelas. Hal ini memberikan pemahaman terhadap materi yang lebih.

Dengan hal tersebut, guru dapat mengetahui dengan cepat kelemahan siswa, materi mana yang belum dipahami siswa, dan apakah materi tertentu perlu dilakukan pembahasan ulang atau tidak. Dengan hasil tersebut, masing-masing siswa juga dapat dengan segera mengetahui kesalahannya sehingga dapat dengan segera pula memperbaikinya dengan mempelajari materi yang belum dipahami commit to user

sendiri ataupun bertanya kepada guru. Pembahasan beberapa catatan secara klasikal dapat memberikan pelajaran bagi semua siswa untuk tidak melakukan kesalahan pengerjaan seperti yang dilakukan siswa lain atau untuk tidak mengulangi kesalahan pengerjaan yang dilakukannnya sendiri.

Dengan demikian, pada saat pengambilan data dengan tes prestasi, siswa sudah lebih siap dengan pemahaman materi dan tidak melakukan kesalahan pengerjaan yang telah menjadi catatan. Hal ini mengakibatkan, siswa dapat memperoleh hasil tes prestasi yang baik.

Komponen asesmen tidak terdapat dalam model ARCS, sehingga hal-hal yang diperoleh dari pemberian asesmen itu tidak didapatkan pada kelas dengan pembelajaran model ARCS. Oleh karena itu, hasil tes prestasi siswa dengan pembelajaran model ARIAS lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran model ARCS.

Simpulan tersebut dan simpulan hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian ini yaitu model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Conficence and Satisfaction).

2. Hipotesis Kedua

Hasil analisis univariat diperoleh .럸a˒hr 훠tshúhi 17,745 3,84

侨,侨 0,05 sehingga .럸a˒hr 훠tshúhi merupakan anggota daerah kritis.

Akibatnya H0 ditolak, berarti dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan minat belajar pada perbedaan model pembelajaran. Hal ini sesuai dengan simpulan dalam penelitian Haryadi (2006) bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan pada skor minat belajar matematika antara siswa yang diberi perlakuan yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran yang berbeda.

Oleh karena hanya ada dua kategori model pembelajaran, yaitu model ARCS dan model ARIAS, untuk menentukan model pembelajaran mana yang menghasilkan minat belajar matematika lebih baik dilihat dari rataan marginalnya sebagai berikut.

commit to user

Tabel 4.16 Rataan Minat Belajar Model Pembelajaran Kecerdasan Emosional

Rataan Marginal Tinggi Sedang Rendah

Model ARCS 79,8333 68 63,8333 70,5556

Model ARIAS 81 81,8333 72,5 78,4444

Rataan Marginal 80,4167 74,8125 68,1667

Dari tabel tersebut, rataan marginal minat belajar matematika model ARCS adalah 70,5556 sedangkan rataan marginal minat belajar matematika model ARIAS adalah 78,4444. Dengan demikian, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa dengan pembelajaran model ARIAS lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran model ARCS.

Komponen asesmen yang ada dalam pembelajaran dengan model ARIAS memberikan maanfaat bagi siswa. Manfaat yang diperoleh adalah dengan adanya asesmen tersebut masing-masing siswa mengatahui kelemahannya dalam pembelajaran yaitu melalui catatan yang diberikan dalam lembar jawabanya.

Kelemahan yang dimaksud adalah kelemahan dalam pemahaman materi yang diajarkan. Dengan mengetahui kelemahan tersebut, siswa menjadi terdorong untuk mempelajari materi yang belum dipahami tersebut. Dengan kata lain, minat belajar siswa menjadi terdorong. Oleh karena itu, hasil angket minat siswa dengan pembelajaran model ARIAS lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran model ARCS.

Simpulan tersebut dan simpulan hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian ini yaitu model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) menghasilkan minat belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Conficence and Satisfaction).

3. Hipotesis Ketiga

Hasil analisis multivariat diperoleh 15,241 3,84 ,侨 0,05 sehingga merupakan anggota daerah kiritis. Akbatnya H0 ditolak, ini berarti terdapat perbedaan prestasi dan minat belajar pada perbedaan tingkat kecerdasan emosional. Oleh karena itu dilanjutkan dengan analisi univariat commit to user

Hasil analisis univariat diperoleh . iterhea 훠tshúhi 29,862 3,84

,侨 0,05 sehingga . iterhea 훠tshúhi merupakan anggota daerah kritis.

Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan prestasi belajar pada perbedaan tingkat kecerdasan emosional. Oleh karena ada tiga kategori tingkat kecerdasan emosional, yaitu tingkat kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah maka dilakukan uji komparasi untuk menentukan tingkat kecerdasan emosional mana yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik

Berdasarkan uji komparasi prestasi belajar matematika antar kolom kecerdasan emosional, diperoleh F.11 21-. =9 8523, >6 00, =(3 1- )F0 05 3 1, ;( - );(144 6- )

sehingga F.11 21-. merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang. NilaiF.11 31-. =44 5595, >6 00, = -(3 1)F0 05 3 1, ;( -);(144 6- ) sehingga F.11 31-. merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.Nilai

21 31 12 5064 6 00 3 1 0 05 3 1 144 6

. . , ;( );( )

F - = , > , = -( )F - - sehingga F.11 31-. merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

Selanjutnya, dengan melihat rataan marginal yaitu raataan marginal prestasi belajar matematika pada tingkat kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah masing-masing adalah 82,4792; 74,8333; dan 67,7083 dapat disimpulkan bahwa tingkat kecerdasan emosional tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada tingkat kecerdasan emosional sedang dan rendah dan tingkat kecerdasan emosinal sedang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada tingkat kecerdasan emosional rendah.

Simpulan hasil penelitian tersebut sesuai dengan hipotesis penelitian bahwa siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan commit to user

emosional sedang dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang mempunyai prestasi belajar lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

4. Hipotesis Keempat

Hasil analisis univariat diperoleh .럸a˒hr 훠tshúhi 14,312 3,84

,侨 0,05 sehingga .럸a˒hr 훠tshúhi merupakan anggota daerah kritis.

Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan minat belajar pada perbedaan tingkat kecerdasan emosional. Oleh karena ada tiga kategori tingkat kecerdasan emosional, yaitu tingkat kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah maka dilakukan uji komparasi untuk menentukan tingkat kecerdasan emosional mana yang menghasilkan minat belajar matematika lebih baik

Berdasarkan uji komparasi minat belajar matematika antar kolom kecerdasan emosional, diperoleh F.12 22-. =8 2770, >6 00, =(3 1- )F0 05 3 1, ;( - );(144 6- )

sehingga F.12-.22merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan minat belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang. NilaiF.12 32-. =41 0601 6 00, > , =(3 1- )F0 05 3 1, ;( - );(144 6- )sehingga F.12-.32 merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan minat belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah. Nilai

22 32 12 4668 6 00 3 1 0 05 3 1 144 6

. . , ;( );( )

F - = , > , = -( )F - - sehingga F.12-.32 merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya H0 ditolak, berarti terdapat perbedaan minat belajar matematika antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

Selanjutnya, dengan melihat rataan marginal yaitu raataan marginal minat belajar matematika pada tingkat kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah masing-masing adalah 80,4167; 74,9167; dan 68,1667 dapat disimpulkan bahwa tingkat kecerdasan emosional tinggi menghasilkan minat belajar matematika lebih baik dari pada tingkat kecerdasan emosional sedang dan rendah dan tingkat commit to user

kecerdasan emosinal sedang menghasilkan minat belajar matematika lebih baik dari pada tingkat kecerdasan emosional rendah.

Simpulan hasil penelitian tersebut sesuai dengan hipotesis penelitian ini bahwa siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai minat belajar lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang mempunyai minat belajar lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

5. Hipotesis Kelima

Hasil analisis multivariat diperoleh 2,189 3,84 侨,侨 0,05 sehingga bukan merupakan anggota daerah kiritis. Akbatnya H0 diterima, ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional pada prestasi dan minat belajar matematika. Hasil ini sejalan dengan hasil analisis univariat yaitu 0,791 3,84

侨,侨 0,05 sehingga bukan merupakan anggota daerah kiritis. Akibatnya H0

diterima, ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional pada prestasi belajar matematika.

Dengan kata lain, pada siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS. Pada siswa dengan kecerdasan emosional sedang, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS. Pada siswa dengan kecerdasan emosional rendah, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS.

Simpulan hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian ini bahwa pada kategori kecerdasan emosional sedang Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) memberikan prestasi belajar lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). Sedangkan pada kategori kecerdasan emosional tinggi dan rendah, kedua model memberikan prestasi belajar geometri yang sama.

commit to user

Perbedaan antara hipotesis penelitian dengan hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Ditinjau dari teori pembelajaran, model ARCS dan model ARIAS merupakan model yang berdasar pada teori desain motivasi. Kedua model tersebut merupakan model untuk meningkatkan motivasi. Namun, hipotesis pertama telah terbukti bahwa model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Conficence and Satisfaction).

Dalam kedua kelompok eksperimen, masing-masing terdapat siswa yang dikelompokkan berdasar karakteristik kecerdasan emosional yaitu kelompok siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah. Komponen asesmen pada pembelajaran dengan model ARIAS memberi dampak siswa mengetahui kelemahan pemahaman materi dan kesalahan pengerjaan soal sehingga lebih siap dengan pemahaman materi dan tidak melakukan kesalahan pengerjaan yang telah menjadi catatan sehingga menghasilkan prestasi lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran model ARCS. Dampak ini terjadi pada setiap kategori kecerdasan emosional sehingga hasil prestasi belajar yang lebih baik itu terjadi pada masing-masing tingkat kecerdasan emosional. Sehingga, Pada siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS. Pada siswa dengan kecerdasan emosional sedang, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS. Pada siswa dengan kecerdasan emosional rendah, model ARIAS menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS.

6. Hipotesis Keenam

Dari hasil analisis multivariat pada efek interaksi disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional pada prestasi dan minat belajar matematika. Namun setelah dilakukan analisis univariat diperoleh yaitu 3,855 3,84 侨,侨 0,05 sehingga merupakan anggota daerah kiritis. Akibatnya H0 ditolak, ini dapat disimpulkan bahwa ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional

commit to user

pada minat belajar matematika. Oleh karena itu, dilanjutkan uji komparasi antar sel model pembelajaran pada masing-masing tingkat kecerdasan emosional.

Dari uji komparasi tersebut diperoleh 侨侨 0,1294 11,05

̊ 1 ; 侨, sehingga 侨侨 bukan merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya, H0 diterima, ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional tinggi. Nilai 18,1945 11,05 ̊ 1 ; 侨, sehingga bukan merupakan anggota daerah kritis. Akibatnya, H0 ditolak, ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional sedang. Oleh karena itu, dilihat rata-rata masing-masing sel untuk mengetahui model pembelajaran mana yang menghasilkan minat belajar lebih baik pada kecerdasan emosional sedang. Rata-rata minat belajar pada model ARCS adalah 68 sedangkan Rata-rata-Rata-rata minat belajar pada model ARIAS adalah 81,8333 maka model ARIAS menghasilkan minat belajar lebih baik dari pada model ARCS. Nilai 7,1416 11,05

̊ 1 ; 侨, sehingga bukan merupakan anggota daerah kritis.

Akibatnya, H0 diterima, ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan minat belajar matematika antara model ARCS dengan model ARIAS pada kecerdasan kecerdasan emosional rendah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada kecerdasan emosional sedang, model ARIAS menghasilkan minat belajar lebih baik dari pada model ARCS, sedangkan pada kecerdasan emosinal tinggi dan rendah model ARCS menghasilkan minat belajar sama dengan model ARIAS.

Kesimpulan ini sama dengan hipotesis penelitian yaitu Pada kategori kecerdasan emosional sedang Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) memberikan minat lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). Sedangkan pada kategori kecerdasan emosional tinggi dan rendah, kedua model memberikan minat yang sama.

commit to user

Dalam dokumen TESIS Oleh : NUQTHY FAIZIYAH S (Halaman 97-106)

Dokumen terkait