EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MODEL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION)
DAN MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, AND SATISFACTION) TERHADAP PRESTASI
DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN EMOSIONAL SISWA
TESIS Oleh :
NUQTHY FAIZIYAH S851102031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012 commit to user
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MODEL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION)
DAN MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, AND SATISFACTION) TERHADAP PRESTASI
DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN EMOSIONAL SISWA
TESIS
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajad Magister Program Studi Pendidikan Matematika
Oleh :
NUQTHY FAIZIYAH S851102031
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012 commit to user
ii
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MODEL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION)
DAN MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, AND SATISFACTION) TERHADAP PRESTASI
DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN EMOSIONAL SISWA
TESIS
Oleh
NUQTHY FAIZIYAH S851102031
Komisi Pembimbing
Nama Tanda Tangan Tanggal
Pembimbing I Prof.Dr. Budiyono, M.Sc NIP. 19530915 197903 1 003
---
… Juli 2012
Pembimbing II Dr. Suyono, M.Si
NIP. 19500301 197603 1 002
---
… Juli 2012
Telah dinyatakan memenuhi syarat Pada tanggal … Juli 2012
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Program Pasca Sarjana UNS
Prof.Dr. Budiyono, M.Sc NIP. 19530915 197903 1 003 commit to user
iii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MODEL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION)
DAN MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, AND SATISFACTION) TERHADAP PRESTASI
DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN EMOSIONAL SISWA
TESIS
Oleh:
NUQTHY FAIZIYAH S851102031
Tim penguji
Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal
Ketua Dr. Mardiyana, M.Si.
NIP. 19660225 199302 1 002 ……… …… Juli 2012 Sekretaris Dr. Riyadi, M.Si.
NIP 19670116 199402 1 001 ……… …… Juli 2012 Anggota
Penguji
Prof. Dr. Budiyono, M.Sc.
NIP. 19530915 197903 1 003 ……… …… Juli 2012 Drs. Suyono, M.Si.
NIP. 19500301 197603 1 002 ……… …… Juli 2012 Telah dipertahankan di depan penguji
Dinyatakan telah memenuhi syarat pada tanggal ………… 2012 Direktur Program Pascasarjana UNS
Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S.
NIP. 19610717 198601 1 001
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika
Prof. Dr. Budiyono, M.Sc.
NIP. 19530915 197903 1 003 commit to user
iv
PERNYATAAN ORISINALITAS DAN PUBLIKASI TESIS
Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa:
1. Tesis yang berjudul: “EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MODEL ARCS (ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, AND SATISFACTION) DAN MODEL ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, AND SATISFACTION) TERHADAP PRESTASI DAN MINAT
BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KECERDASAN
EMOSIONAL SISWA” ini adalah karya sendiri dan bebas plagiat, serta tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis digunaan sebagai acuandalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber acuan daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan (Permendiknas, No. 17 Tahun 2010).
2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah lain harus seijin dan menyertakan tim pembimbing sebagai author dan PPs UNS sebagai institusinya. Apabila dalam waktu sekurang-kurangnya satu semester (enam bulan sejak pengesahan Tesis) saya tidak melakukan publikasi dari sebagian atau keseluruhan Tesis ini, maka Program Studi Matematika PPs UNS berhak mempublikasikannya pada jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Prodi Matematika PPs UNS. Apabila saya melakukan pelanggaran dari ketentuan publikasi ini, maka saya bersedia mendapatkan sanksi akademik yang berlaku.
Surakarta, 27 Juli 2012 Mahasiswa,
Nuqthy Faiziyah NIM. S851102031
commit to user
v
Hari ini, Anda adalah orang yang sama dengan Anda lima tahun mendatang, kecuali dua hal:
Orang-orang di sekeliling Anda dan Buku-buku yang Anda baca.
-Charles "Tremendeous" Jones-
commit to user
vi
To my beloved family
commit to user
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala pujian hanya milik Alloh SWT, dzat penggenggam setiap jiwa, dan pengatur setiap langkah atas keberkahan rizki serta kelapangan jalan yang diberikan, skripsi yang berjudul “Eksperimentasi Pembelajaran Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, And Satisfaction) dan Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, And Satisfaction) terhadap Prestasi dan Minat Belajar Matematika Ditinjau dari Kecerdasan Emosional Siswa” dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, saran, dukungan, dan dorongan dari berbagai pihak yang sangat membantu dalam menyelesaikan makalah kualifikasi ini. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada segenap pihak antara lain:
1. Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menempuh studi di program Magister Pendidikan Matematika
2. Prof. Dr. Budiyono, M.Sc, Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Pembimbing I yang telah memberikan petunjuk, saran, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini
3. Drs. Suyono, M.Si, selaku Pembimbing II, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis dengan penuh kesungguhan dan kesabaran hingga penyusunan tesis ini selesai
4. H. Syamsudin, M.Si, selaku Kepala SMP Negeri 2 Sidoharjo yang telah memberikan ijin penelitian
5. Drs. Hartono, MM, selaku Kepala SMP Negeri 2 Masaran yang telah memberikan ijin penelitian
6. M. M. Wiwik Yulisriani, S.Pd, selaku Kepala SMP Saverius 1 Sragen yang telah memberikan ijin penelitian
7. Drs. Muh Hadi Masykur, selaku Kepala SMP Negeri 1 Sragen yang telah memberikan ijin tryout instrumen penelitian commit to user
viii
8. Abdul Aziz, S.Pd selaku Kepala SMPIT Az-Zahro Sragen yang telah memberikan ijin tryout instrumen penelitian
9. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi penulis
10. Umi dan segenap keluargaku yang senantiasa memberi dukungan jiwa dan raga
11. Sahabat-sahabatku dan rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika 2011 Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bantuan dan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut di atas mendapatkan balasan sebaik-baik balasan dari Alloh SWT. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan memberikan kontribusi serta masukan bagi dunia pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Surakarta, Juli 2012 Penulis
commit to user
ix DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
ABSTRAK ... xvii
ABSTRACT ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 3
C. Pemilihan Masalah ... 6
D. Batasan Masalah ... 6
E. Rumusan Masalah ... 7
F. Tujuan Penelitian ... 7
G. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II LANDASAN TEORI ... 10
A. Tinjauan Pustaka ... 10
1. Belajar Matematika ... 10
a. Hakekat Matematika ... 10
b. Pengertian Belajar ... 10
2. Model Pembelajaran ... 11 a. Model ARCS ... commit to user 12
x
b. Model ARIAS ... 15
c. Persamaan dan Perbedaan Model ARCS dengan Model ARIAS ... 20
3. Kecakapan Kognitif, Kecakapan Afektif, dan Minat ... 20
a. Kecakapan Kognitif ... 20
b. Kecakapan Afektif ... 22
c. Minat ... 23
4. Kecerdasan Emosional ... 25
B. Penelitian yang Relevan ... 36
C. Kerangka Berpikir ... 37
D. Hipotesis ... 41
BAB III METODE PENELITAN ... 43
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 43
1. Tempat Penelitian ... 43
2. Waktu Penelitian ... 43
B. Metode Penelitian ... 43
1. Jenis Penelitian... 43
2. Rancangan Penelitian ... 44
C. Populasi dan Sampel ... 45
1. Populasi Penelitian………….. ... 45
2. Sampel Penelitian……… ... 45
3. Teknik Pengambilan Sampel ... 45
D. Teknik Pengumpulan Data ... 46
1. Identifikasi Variabel ... 46
2. Teknik Pengumpulan Data dan Penyusunan Instrumen . 47 a. Metode Tes ... 47
b. Metode Angket ... 50
c. Skala Likert ... 52
E. Teknik Analisis Data... 52
1. Uji Keseimbangan ... 52 a. Normal secara Multivariat ... commit to user 52
xi
b. Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi ... 53
c. Uji Keseimbangan Rata-rata ... 54
2. Uji Prasyarat ... 56
3. Pengujian Hipotesis ... 56
4. Uji Komparasi Ganda ... 60
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 62
A. Deskripsi Data ... 62
1. Uji Keseimbangan ... 62
2. Data Kecerdasan Emosional Siswa ... 66
3. Data Hasil Penelitian ... 68
B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 70
1. Uji Normalitas Multivariat ... 70
2. Uji Homogenitas Matriks Variansi-kovariansi ... 72
C. Pengujian Hipotesis ... 72
1. Analisis Multivariat ... 72
2. Analisis Univariat ... 73
3. Uji Komparasi ... 74
D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 76
E. Keterbatasan Penelitian ... 85
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 86
A. Kesimpulan ... 86
B. Implikasi ... 87
1. Implikasi Teoritis ... 87
2. Implikasi Praktis ... 87
C. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89
LAMPIRAN ... 93
commit to user
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Peringkat PISA ... 1
Tabel 1.2 Daya Serap Siswa pada Pelajaran Matematika ... 3
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian ... 44
Tabel 3.2 Kategorisasi Indeks Tingkat Kesukaran ... 49
Tabel 3.3 Tabel Rerata pada MANOVA (Multivariate Analysis of Variance) ... 57
Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Multivariat Awal Populasi ... 64
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Multivariat Awal Setiap Kelompok ... 65
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi Awal ... 65
Tabel 4.4 Hasil Uji Keseimbangan Menggunakan Uji F ... 66
Tabel 4.5 Rataan Hasil Penelitian ... 70
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Multivariat Populasi... 70
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Multivariat Kelompok Model Pembelajaran ... 71
Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Multivariat Kelompok Kecerdasan Emosional... 71
Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi ... 72
Tabel 4.10 Rangkuman Analisis Multivariat Dua Jalan Dengan Sel Sama .... 72
Tabel 4.11 Rangkuman Analisis Univariat ... 73
Tabel 4.12 Hasil Uji Komparasi Minat Belajar Matematika antar Kolom Kecerdasan Emosional ... 74
Tabel 4.13 Hasil Uji Komparasi Minat Belajar Matematika antar Kolom Kecerdasan Emosional ... 75
Tabel 4.14 Hasil Uji Komparasi Minat Belajar Matematika antar Sel Model Pembelajaran pada Kolom Kecerdasan Emosional ... 76
Tabel 4.15 Rataan Prestasi Belajar... 77
Tabel 4.16 Rataan Minat Belajar ... 79 commit to user
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Laporan Hasil Kota/Kabupaten Ujian Nasional SMP/MTs
Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 93
Lampiran 2 Persentase Penguasaan (Daya Serap) Materi Soal Matematika Ujian Nasional SMP/MTs Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 94
Lampiran 3 Daftar Sekolah SMP Berdasarkan Jumlah Nilai Ujian Nasional SMP/MTs Tahun Pelajaran 2010/2011 ... 96
Lampiran 4 Rencana Program Pembelajaran Model ARCS ... 99
Lampiran 5 Rencana Program Pembelajaran Model ARIAS... ... 105
Lampiran 6 Soal Tes Prestasi Awal ... 111
Lampiran 7 Data Prestasi Matematika Awal ... 113
Lampiran 8 Kisi-kisi Penyusunan Instrumen Minat Belajar Matematika (Uji Valititas) ... 114
Lampiran 9 Instrumen Angket Minat Belajar Matematika Siswa (Uji Validitas) ... 115
Lampiran 10 Lembar Validasi Instrumen Angket Minat Belajar Matematika Siswa (Validator Pertama) ... 121
Lampiran 11 Lembar Validasi Instrumen Angket Minat Belajar Matematika Siswa (Validator Kedua) ... 123
Lampiran 12 Kisi-kisi Penyusunan Instrumen Minat Belajar Matematika (Uji Coba) ... 125
Lampiran 13 Instrumen Angket Minat Belajar Matematika Siswa (Uji Coba) ... 126
Lampiran 14 Perhitungan Konsistensi Internal dan Reliabilitas Angket Minat Belajar Matematika Siswa ... 132
Lampiran 15 Data Minat Belajar Awal ... 133
Lampiran 16 Uji Normalitas Multivariat Awal Populasi ... 134 Lampiran 17 Uji Normalitas Multivariat Awal Kelompok I (Model ARCS) .. 139 commit to user
xiv
Lampiran 18 Uji Normalitas Multivariat Awal Kelompok I (Model
ARIAS) ... 142
Lampiran 19 Uji Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi Awal ... 145
Lampiran 20 Uji Keseimbangan Rata-rata ... 147
Lampiran 21 Kisi-kisi Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa (Uji Validitas ) ... 148
Lampiran 22 Instrumen Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa (Uji Validitas) ... 149
Lampiran 23 Lembar Validasi Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa (Validator Pertama) ... 154
Lampiran 24 Lembar Validasi Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa (Validator Kedua) ... 156
Lampiran 25 Kisi-kisi Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa (Uji Coba ) ... 158
Lampiran 26 Instrumen Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa Uji Coba (Uji Coba) ... 159
Lampiran 27 Perhitungan Konsistensi Internal dan Reliabilitas Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa ... 163
Lampiran 28 Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Validitas) ... 164
Lampiran 29 Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Validitas) ... 165
Lampiran 30 Lembar Validasi Tes Prestasi Belajar Matematika Siswa (Validaor Pertama) ... 171
Lampiran 31 Lembar Validasi Tes Prestasi Belajar Matematika Siswa (Validator kedua) ... 173
Lampiran 32 Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Coba) ... 175
Lampiran 33 Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Coba) ... 177
Lampiran 34 Kunci Jawaban Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Coba) ... 182
Lampiran 35 Lembar Jawab Tes Prestasi Belajar Siswa (Uji Coba) ... 183
Lampiran 36 Perhitungan Tingkat Kesukaran, Daya Beda, dan Reliabilitas Tes Prestasi Belajar Matematika Siswa ... 184 Lampiran 37 Soal Tes Prestasi Belajar Matematika ... 185 commit to user
xv
Lampiran 38 Kunci Jawab Tes Prestasi Belajar Matematika ... 189
Lampiran 39 Lembar Jawab Tes Prestasi Belajar Matematika ... 190
Lampiran 40 Angket Minat Belajar Matematika Siswa ... 191
Lampiran 41 Lembar Jawab Angket Minat Belajar Siswa ... 196
Lampiran 42 Instrumen Skala Likert Kecerdasan Emosional Siswa ... 197
Lampiran 43 Lembar Jawab Instrumen Skala Likert Kecerdasan Emosional ... 199
Lampiran 44 Data Induk Penelitian ... 200
Lampiran 45 Uji Normalitas Multivariat Populasi ... 201
Lampiran 46 Uji Normalitas Multivariat Model ARCS ... 205
Lampiran 47 Uji Normalitas Multivariat Model ARIAS ... 208
Lampiran 48 Uji Normalitas Multivariat Kecerdasan Emosional Tinggi ... 211
Lampiran 49 Uji Normalitas Multivariat Kecerdasan Emosional Sedang ... 213
Lampiran 50 Uji Normalitas Multivariat Kecerdasan Emosional Rendah ... 215
Lampiran 51 Uji Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi Model Pembelajaran ... 217
Lampiran 52 Uji Homogenitas Matriks Variansi-Kovariansi Kecerdasan Emosional ... 218
Lampiran 53 Analisis Multivariat ... 219
Lampiran 54 Analisis Univariat ... 222
Lampiran 55 Uji Komparasi Prestasi Belajar Matematika Antar Kolom Kecerdasan Emosional ... 225
Lampiran 56 Uji Komparasi Minat Belajar Matematika Antar Kolom Kecerdasan Emosional ... 228
Lampiran 57 Uji Komparasi Minat Belajar Matematika Antar Sel Model Pembelajaran Pada Kolom Kecerdasan Emosional .. 231
Lampiran 58 Tabel Distribusi Normal Baku ... 232
Lampiran 59 Tabel Nilai tα;v ... 233
Lampiran 60 Tabel Nilai ... 234
Lampiran 61 Tabel F0,05;v1;v2 ... 235 Lampiran 62 Tabel F0,05;v1;v2 (lanjutan) ... 236 commit to user
xvi
Lampiran 63 Tabel Nilai Kritik Uji Lilliefors ... 237 Lampiran 64 Perijinan ... 238 Lampiran 65 Surat Keterangan Penelitian ... 239
commit to user
xvii
NUQTHY FAIZIYAH. S851102031. Eksperimentasi Pembelajaran Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) terhadap prestasi dan Minat Belajar Matematika Ditinjau dari Kecerdasan Emosional Siswa.
Pembimbing I: Prof. Dr. Budiyono, M.Sc. Pembimbing II: Dr. Suyono, M.Si.
Tesis: Surakarta, Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, 2012.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction). (2) Manakah yang menghasilkan minat belajar matematika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction). (3) Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik antara siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah. (4) Manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, antara siswa- siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah. (5) Pada masing-masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction). (6) Pada masing- masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction).
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan populasi semua siswa SMP di kabupaten Sragen pada tahun ajaran 2011/2012.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling, diperoleh sampel berjumlah 144 siswa, dengan rincian 72 siswa pada kelompok eksperimen satu dan 72 siswa pada kelompok eksperimen dua. Instrumen penelitian ini adalah tes kemampuan awal siswa, tes prestasi belajar matematika, angket minat belajar matematika siswa dan instrumen skala Likert kecerdasan emosional siswa. Uji instrumen tes meliputi validitas isi kemudian diuji cobakan untuk dianalisis tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitasnya. Uji instrumen angket dan skala Likert meliputi validitas isi kemudian diuji cobakan untuk dianalisis konsistensi internal dan reliabilitasnya. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi dengan uji Lilliefors, uji homogenitas dengan uji Bartlett serta uji keseimbangan dengan uji t. Pengujian hipotesis menggunakan MANOVA (mutivariate analysis of variance) dua jalan.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh kesimpulan bahwa:
(1) Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) commit to user
xviii
menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). (2) Model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) menghasilkan minat belajar matematika lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). (3) Siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dan rendah dan siswa- siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah. (4) Siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai minat belajar matematika lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dan rendah dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang mempunyai minat belajar matematika lebih baik dari pada siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah. (5) Tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional pada prestasi belajar matematika. Pada siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, sedang, maupun rendah, model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). (6) Ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan emosional pada minat belajar matematika.
Pada kategori kecerdasan emosional sedang model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) memberikan minat lebih baik dari pada model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction). Sedangkan pada kategori kecerdasan emosional tinggi dan rendah, kedua model memberikan minat yang sama.
Kata kunci : ARCS, ARIAS, Kecerdasan Emosional
commit to user
xix
NUQTHY FAIZIYAH. S851102031. Learning Model Experimentation of ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) Model and ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) Model on Mathematics Achievement and Learning Interest viewed from Emotional Intelligence. Advisor I: Prof. Dr. Budiyono, M.Sc. Advisor II: Dr. Suyono, M.Si.
Thesis: Surakarta, Mathematics Educatioan of Postgraduate Program, Sebelas Maret University, 2012.
ABSTRACT
The aims of the research are to determine: (1) Which learning model gives better mathematics achievement between ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model and ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model. (2) Which learning model gives better learning interest between ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model and ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model. (3) Who have better mathematics achievement among high emotional intelligence students, middle emotional intellegence students and low emotional intellegence students. (4) Who have better learning interest among high emotional intelligence students, middle emotional intellegence students and low emotional intellegence students. (5) On each of emotional intellegence, which learning model gives better mathematics achievement, ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model or ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model. (6) On each of emotional intellegence, which learning model gives better learning interest, ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model or ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model.
The research is a quasi-experimental research. The population is the students of junor high school in Sragen regency on academic year 2011/2012. The sampling technique is stratified cluster random sampling. The sample obtained a sum of 144 students with details the 72 students are in the first experimental group and 72 students are in the second experimental group. The intruments are a student proficiency tests, a mathematics achievment test, a questionare, and a Likert scale intrument. The test instrument analize are content validity then level of difficulty, distinguisting features and reliability after instument trial. The questionare and Likert scale instrument analize are content validity then internal consistency and reliability after instument trial. The test requirements include normality test of Lilliefors, homogenity test of Bartlett, and Balancing test of t.
The hypothesis test is two way MANOVA (mutivariate analysis of variance).
Based on the results of hypothesis test, it can be conclude that: (1) ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model gives better mathematics achievement than ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model. (2) ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model gives better learning interest than ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model. (3) The high emotional intelligence students have better mathematics achievement than the middle and low emotional intelligence students and the middle emotional intelligence commit to user
xx
students have better mathematics achievement than the low emotional intelligence students. (4) The high emotional intelligence students have better learning interest than the middle and low emotional intelligence students and the middle emotional intelligence students have better learning interest than the low emotional intelligence students (5) There is no interaction between learning model and emotional intelligence to mathematics achievement. For all type of emotional intelligence students, ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) model is better than ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model. (6) There is an interaction between learning model and emotional intelligence to learning interest. For middle emotional intelligence students, ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction) gives better learning interest than ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) model. For high and low emotional intelligence students, both learning model are the same.
Kata kunci : ARCS, ARIAS, Emosional Intelligence.
commit to user
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas suatu bangsa. Pendidikan yang terselenggara dengan baik pada suatu negara akan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Apabila sumber daya manusia memiliki kualitas unggul, maka akan dapat mengolah sumber daya alam sehingga dapat memberikan manfaat bagi bangsa tersebut.
Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal tersebut tertuang dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tahun 2003.
Pencapaian tujuan itu merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan seluruh masyarakat.
Pendidikan matematika dikenalkan sejak anak usia dini sampai perguruan tinggi. Hal ini karena matematika berkaitan erat dengan kehidupan manusia.
Dalam kehidupannya, manusia memerlukan matematika. Matematika digunakan dalam berbagai bidang termasuk bidang sosial serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan data PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2009, dari 65 negara peringkat Indonesia adalah sebagai berikut.
Tabel 1.1 Peringkat PISA
No Kategori Peringkat ke- Keterangan 1. Reading 57 10 negara terbawah 2. Mathematics 61 10 negara terbawah 3. Science 60 10 negara terbawah
Database PISA 2009
Dari data tersebut, terlihat bahwa matematika menempati posisi paling bawah dibandingkan dengan reading dan science.
1
commit to user
Di dalam pembelajaran di sekolah, matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) pada berbagai jenjang pendidikan, termasuk pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nilai rata-rata hasil UN pada mata pelajaran matematika di kabupaten Sragen tahun 2010/2011 adalah 6,98 dengan nilai terendah 1,60. Hasil ini lebih rendah dari nilai rata-rata Bahasa Inggris 7,14; nilai rata-rata Bahasa Indonesia sebesar 7,15; dan nilai rata-rata Ilmu Pengetahuan Alam sebesar 7,67.
Beberapa hal dalam pembelajaran perlu dievaluasi dalam rangka peningkatan prestasi belajar matematika baik sarana dan prasarana, lingkungan belajar, ataupun manusia sebagai pelaku dalam pembelajaran. Penggunaan alat peraga yang tepat dalam pembelajaran perlu dicermati. Alat peraga merupakan hal penting dalam pembelajaran. Kebutuhannya tergantung pada materi yang diajarkan. Pemilihan alat peraga yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan akan membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran.
Pemanfaatan media pembelajaran tepat dapat membatu siswa dan guru dalam pembelajaran. Pemilihan, pembuatan, dan pengembangan media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan teknologi yang sedang berkembang.
Pemanfaatannya juga perlu disesuaikan dengan materi pembelajaran yang diajarkan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan model pembelajaran.
Matematika yang memiliki objek yang abstrak, menuntut guru untuk dapat membelajarkannya dengan model tertentu agar dapat dipahami dengan mudah.
Untuk dapat memilih model yang tepat, guru hendaknya mempelajari dan memahami serta mengimplementasikan teori-teori belajar.
Karakteristik siswa ada bermacam-macam, diantaranya adalah kecerdasan intelektual, gaya belajar, motivasi, minat, pola asuh, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan tipe kecerdasan. Beberapa macam karakteristik tersebut dimungkinkan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa termasuk kecerdasan emosional. Dalam pembelajaran matematika, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa sehingga dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. commit to user
Dengan demikian, daya serap siswa tinggi yang selanjutnya prestasi belajar akan meningkat.
Hasil belajar siswa tidak hanya pada aspek kognitif tetapi juga aspek afektif. Beberapa karakteristik ranah afektif diantaranya sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Minat belajar siswa sangatlah penting sehingga dalam pembelajaran guru hendaknya memperhatikan aspek tersebut.
Salah satu materi pokok pada mata pelajaran matematika yang diajarkan di SMP adalah materi pokok geometri. Berikut ini adalah beberapa standar kompetensi lulusan dan daya serapnya terkait materi pokok geometri berdasarkan laporan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional.
Tabel 1.2 Daya Serap Siswa pada Pelajaran Matematika Standar kompetensi
Daya Serap tingkat Nasional
Daya serap tingkat Provinsi
Daya serap tingkat Kabupaten Menentukan unsur-unsur pada kubus
dan balok 59,78 55,50 62,38
Menentukan Volume bangun ruang
sisi datar dan sisi lengkung 64,58 50,54 62,71
Menghitung luas permukaan bangun
ruang sisi datar dan sisi lengkung 34,58 31,98 38,93 Dengan data tersebut dapat dinilai bahwa materi geometri memiliki daya serap yang rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembaharuan dalam pembelajaran untuk mengatasi permasalah tersebut khususnya dan pada umumnya permasalahan dalam pembelajaran matematika.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut.
1. Pembaharuan dalam pendidikan, dewasa ini telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah banyak ditawarkannya model pembelajaran yang menarik yang lebih mengutamakan keaktifan siswa. Telah banyak dilakukan penelitian tentang efektifitas model-model pembelajaran tersebut. Kebanyakan commit to user
penelitian menyimpulkan bahwa model pembelajaran yang menarik dan mengaktifkan siswa lebih efektif daripada model pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar siswa. Namun, menurut peneliti, model-model pembelajaran tersebut tidak digunakan oleh kebanyakan guru. Hal ini, salah satunya disebabkan oleh waktu yang diperlukan. Model pembelajaran yang mengaktifkan siswa memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan pendekatan pembelajaran konvensional. Terkait dengan hal tersebut, dapat dilakukan penelitian untuk mengembangkan model pembelajaran yang menghasilkan suatu model pembelajaran yang mengaktifkan siswa tetapi tidak memerlukan waktu efektif yang lama. Dalam konteks ini, dapat juga diteliti apakah pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Perkembangan teknologi semakin pesat, terutama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan ini diikuti dengan beberapa perkembangan dalam bidang pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Namun, menurut peneliti, perkembangan teknologi tersebut belum memicu kreativitas dan inovasi guru dalam menggunakan atau bahkan menciptakan media pembelajaran. Kebanyakan guru masih menggunakan media pembelajaran yang kurang menarik. Terkait dengan hal ini, dapat dilakukan penelitian yang mengembangkan media pembelajaran yang menarik dengan memanfaatkan teknologi. Dalam konteks ini, dapat juga dilakukan penelitian apakah media pembelajaran yang dikembangkan dapat menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.
3. Menurut peneliti, kebanyakan guru tidak menggunakan alat peraga yang menarik. Guru mengajar hanya dengan papan tulis hitam dengan kapur tulis atau papan tulis putih dengan spidol hitam atau kadang menggunakan spidol berwarna warni. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan geometri disebabkan oleh penggunaan alat yang tidak memadai. Terkait dengan ini, dapat dilakukan penelitian apabila guru menggunakan alat peraga yang menarik, prestasi siswa pada pokok bahasan commit to user
geometri akan lebih baik. Penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan penggunaan alat peraga yang menarik menggunakan gambar-gambar dengan penggunaan alat peraga hanya dengan papan tulis dan kapur/spidol. Dalam konteks ini, dapat juga dilakukan penelitian apakah efektivitas penggunaan berbagai jenis alat peraga tergantung kepada karakteristik siswa.
4. Ada kemungkinan rendahnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan geometri disebabkan oleh metode pembelajaran yang dipilih oleh guru tidak tepat. Menurut peneliti, kebanyakan guru masih melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah atau ekspositori. Dalam pembelajaran dengan metode tersebut, guru cenderung lebih aktif daripada siswa. Terkait dengan ini, muncu pertanyaan apakah apabila metode pembelajaran diubah, prestasi belajar siswa menjadi lebih baik. Untuk menjawab hal ini, dapat dilakukan penelitian yang membandingkan suatu metode pembelajaran tertentu yang mengaktifkan siswa dengan metode ceramah atau ekspositori.
Dapat juga dilakukan penelitian yang membandingkan suatu metode pembelajaran tertentu dengan metode pembelajaran yang lain. Apabila ternyata prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode tertentu yang mengaktifkan siswa tersebut dan prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode ceramah atau ekspositori sama atau dua metode yang dibandingkan menghasilkan prestasi belajar siswa yang sama, berarti rendahnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan geometri bukan disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru.
5. Hasil belajar siswa tidak hanya kecakapan kognitif, melainkan juga kecakapan afektif dan psikomotor. Salah satu kecakapa afektif adalah minat. Pemilihan strategi pembelajaran, baik metode, maupun media pembelajaran dan alat peraga termasuk pemilihan model pembelajaran hendaknya mempertimbangkan minat siswa. Apakah model pembelajaran yang dipilih dapat meningkatkan minat belajar siswa atau tidak. Menurut peneliti, guru kurang mempertimbangkan aspek minat dalam pemilihan model pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai efektifitas model pembelajaran tertentu terhadap minat belajar siswa. commit to user
C. Pemilihan Masalah
Adalah tidak mungkin melakukan penelitian dengan berbagai macam masalah penelitian pada waktu yang sama. Oleh karena itu, dari beberapa identifikasi masalah di atas, peneliti memilih masalah penelitian yang pertama, yaitu yang terkait dengan model pembelajaran. Masalah dalam penelitian ini juga terkait dengan kecakapan minat siswa. Alasan dipilihnya masalah tersebut adalah paradigma pembelajaran dalam kurikulum yang sekarang berlaku, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) bahwa pembelajaran berpusat pada peserta didik bukan pada guru.
D. Batasan Masalah
Untuk dapat melakukan penelitian dengan baik, dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut.
1. Model pembelajaran yang dibandingkan dalam penelitian ini adalah Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction). Variabel ini dipilih karena kedua model tersebut tersebut lebih menekankan pada motivasi siswa dalam pembelajaran.
2. Karakteristik siswa yang dipilih adalah kecerdasan emosional siswa. Variabel ini dipilih karena merupakan salah satu faktor yang membentuk karakter siswa termasuk karakteristik dalam belajar. Pada penelitian ini, kecerdasan emosional siswa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah.
3. Materi pokok yang diambil dalam penelitian ini adalah materi pokok geometri di SMP. Materi pokok ini dipilih karena daya serap siswa pada materi ini rendah.
4. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah kecakapan kognitif yaitu prestasi belajar matematika siswa dan kecakapan afektif yaitu minat belajar matematika siswa.
commit to user
E. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, pemilihan masalah, dan batasan masalah di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction)?
2. Manakah yang menghasilkan minat belajar matematika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction)?
3. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik antara siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah?
4. Manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, antara siswa- siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah?
5. Pada masing-masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction)?
6. Pada masing-masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction)?
F. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang diuraikan, penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and commit to user
Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction).
2. Untuk mengetahui manakah yang menghasilkan minat belajar matemtika lebih baik antara model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) dan model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction).
3. Untuk mengatahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik antara siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.
4. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, antara siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, siswa- siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang, dan siswa-siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.
5. Untuk mengetahui pada masing-masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction).
6. Untuk mengetahui pada masing-masing kategori kecerdasan emosional, manakah yang mempunyai minat belajar matematika lebih baik, model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) ataukah model ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assesment, and Satisfaction).
G. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.
1. Memberikan masukan kepada guru maupun calon guru matematika dalam menentukan model pembelajaran yang tepat yang dapat digunakan sebagai alternatif selain model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika.
commit to user
2. Memberikan informasi kepada guru maupun calon guru untuk lebih memperhatikan karakteristik siswa sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan lebih baik.
3. Sebagai masukan dan referensi ilmiah bagi penelitian sejenis.
commit to user
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Belajar Matematika a. Hakekat Matematika
Matematika merupakan ilmu yang sangat penting. Baik dalam pembelajaran di sekolah maupun dalam penerapan kehidupan nyata. Erman Suherman (2003: 16) berpendapat bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar dan lebih menekankan pada aktivitas penalaran.
Sumenda (2010: 25) mengemukakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep yang mengungkapkan sesuatu melalui bukti, fakta, keterampilan, prinsip, dan penalarannya secara induktif-deduktif.
Purwoto (2003: 12) mengatakan bahwa matematika merupakan pengetahuan tentang pola keteraturan pengetahuan struktur yang terorganisasikan mulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil.
Soedjadi (2000) menyatakan beberapa definisi matematika, yaitu : 1). Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir
secara sistematik.
2). Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3). Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4). Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5). Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
6). Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik yang diperoleh dengan penalaran.
b. Pengertian Belajar
Belajar merupakan aktifitas manusia, baik di dalam maupun di luar kelas. Terdapat beberapa pengertian belajar dari berbagai pandangan.
10 commit to user
Menurut Mulyasa (2005: 189), belajar pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (Muhibbin Syah, 2003: 63).
Haris Mudjiman (2006: 25) menyatakan bahwa menurut paradigma konstruktivisme, belajar adalah proses menginternalisasi, membentuk kembali atau membentuk baru pengetahuan. Pembentukan pengetahuan baru ini dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki.
Menurut Paul Suparno (1997: 61), proses belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Belajar berarti membentuk makna.
2. Konstruksi arti itu adalah proses yang terus menerus.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih pada suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses menginternalisasi, membentuk kembali atau membentuk pengetahuan baru oleh seorang individu dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
2. Model Pembelajaran
Dalam pembelajaran, diperlukan pola dan strategi agar pembelajaran dapat mencapai tujuan. Pola dan strategi tersebut termuat dalam suatu model pembelajaran. Trianto (2010: 53) mengatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
commit to user
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, dan pengelolaan kelas (Arends, 1997: 7).
Menurut Joice dkk dalam Trianto (2010: 52), model pembelajaran adalah suatu perecanaan atau pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas atau mengatur tutorial, dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film-film, tipe-tipe, program-program media komputer, dan kurikulum.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan pengertian model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
a. Model ARCS
Model ARCS dikembangkan oleh Keller dan Kopp pada tahun 1982.
Model ini berdasar pada teori desain motivasi (Motivational Design Theory).
Menurut Keller dalam Shellnut (1996: 5) model ARCS adalah sebuah model untuk meningkatkan motivasi dalam materi pembelajaran.
Menurut Keller (1983: 395), terdapat empat komponen. Komponen- komponen Model ARCS yaitu: Interest, Relevance, Expectancy, dan satisfactian. Intersest merujuk pada apakah rasa ingin tahu siswa meningkat dan apakah peningkatan tersebut bertahan sampai pembelajaran selesai.
Relevance merujuk pada persepsi siswa terhadap kebutuhan kepuasan siswa pada hubungannya dengan pembelajaran, atau apakah tujuan yang hendak dicapai sejalan dengan aktivitas pembelajaran. Expectancy merujuk pada kesadaran akan kemungkinan keberhasilan dan tingkat keberhasilan mana yang dapat dicapai oleh siswa. Satisfaction merujuk pada penghargaan ekstinsik dan motivasi intrinsik dan apakah hal tersebut sesuai dengan harapan siswa.
commit to user
Dalam Shellnut (1996: 5) untuk mendapatkan akronim yang sesuai maka beberapa istilah diubah, Interest menjadi Attention, dan Expectancy menjadi Confidence, sehingga diperoleh Model ARCS.
Strategi-strategi pada tiap komponen model ARCS adalah sebagai berikut (Keller, 1987: 2-6).
1) Attention (Perhatian)
b) Menciptakan rasa ingin tahu dan penasaran dengan menggunakan pendekatan novel, memberikan materi bersifat personal dan emosional.
c) Meningkatkan rasa ingin tahu dengan memberikan pertanyaan, menyajikan hal-hal yang bersifat paradoksal, membangkitkan penemuan, meningkatkan pemikiran akan tantangan.
d) Mempertahankan perhatian dengan gaya presentasi yang bervariasi, membuat analogi yang kongkrit, memberikan contoh yang menarik dengan menyebutkan nama orang atau kejadian yang tak terduga.
2) Relevance (keterkaitan)
a) Memberikan penyataan atau memberi contoh kegunaan pembelajaran, dan menyatakan tujuan pembelajaran, atau meminta siswa menyatakan kegunaan atau tujuan pembelajaran.
b) Menyajikan pembelajaran yang responsif terhadap siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa akan pencapaian diri, aktivitas- aktivitas kooperatif, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan aturan-aturan yang positif.
c) Membuat materi dan konsep menjadi akrab dengan siswa dengan membuat contoh konkret dan analogi yang berhubungan dengan pekerjaan siswa.
3) Confidence (percaya diri)
a) Membangun kepercayaan dan harapan positif dengan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian keberhasilan dan kriteria-kriteria yang evaluatif.
commit to user
b) Meningkatkan keyakinan akan kompetensi dengan memberikan pengalaman yang banyak, bervariasi, dan menantang yang dapat meningkatkan keberhasilan siswa.
c) Menggunakan teknik menawarkan kontrol diri dan memberikan umpan balik yang mendukung keberhasilan usaha.
4) Satisfaction (kepuasan)
a. Memberikan permasalahan, stimulasi, atau contoh-contoh pekerjaan yang memperlihatkan kepada siswa bahwa mereka telah dapat menyelesaikan masalah “dunia nyata”.
b. Menggunakan penghargaan verbal, hadiah nyata maupun simbolik, dan imbalan, atau mempersilakan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya (menunjukkan dan menceritakan) sebagai imbalan atas keberhasilan.
c. Membuat kriteria-kriteria yang konsisten dengan harapan yang telah dinyatakan, dan membuat standar pengukuran yang konsisten.
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran dengan model ARCS adalah sebagai berikut.
(1) Kegiatan Awal
(a) Memberitahukan tujuan pembelajaran dan menjelaskan relevansinya dengan kehidupan nyata, atau meminta siswa menyatakan kegunaan pembelajaran. (Relevance)
(b) Memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. (Confidence)
(c) Membuat kriteria standar pencapaian pencapaian tujuan pembelajaran yang konsisten. (Satisfaction)
(2) Kegiatan Inti
(a) Memberikan pernyataan untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang materi pembelajaran. (Attention)
(b) Menyajikan materi dan konsep secara akrab terhadap siswa dengan membuat contoh konkret atau analogi yang berhubungan dengan kegiatan siswa. (Relevance) commit to user
(c) Menggunakan pembelajaran yang bervariasi. (Attention)
(d) Memberikan soal-soal latihan yang cukup banyak dan menantang.
(Confidence)
(e) Memberikan umpan balik terhadap hasil usaha siswa.
(Confidence)
(f) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa. (Satisfication) (g) Memberikan permasalahan yang memperlihatkan bahwa siswa
dapat menyelesaikan masalaha “dunia nyata”. (Satisfaction) (3) Kegiatan Akhir
Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa. (Satisfication)
b. Model ARIAS
Model ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ini mengandung lima komponen yaitu Assurance, Relevance, Interest, Assesment, dan Satisfaction (Dimyati dan Erwin, 2009: 219). Modifikasi ARCS menjadi ARIAS dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self- confidence (Morris dalam Dimyati dan Erwin, 2009: 219). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata Attention menjadi interest (minat), karena pada kata interest sudah terkandung pengertian attention. Pembelajaran tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Selanjutnya, diadakan Assesment (penilaian).
Menurut Ormrod (2002: 267), assesmen adalah proses mengamati sebuah sampel dari perilaku seorang siswa dan mengambil kesimpulan tentang pengetahuan dan kemampuan siswa tersebut. Webber (1999: 7) menyatakan bahwa:
commit to user
Assesment refers to the process of observing learning, collaborating to interpret data and create standards, describing progress, collecting results, recording reflections, scoring performances, and mirroring students’ strengths to help them improve weakness.
Bahwa penilaian mengacu pada proses pengamatan belajar, mengkolaborasikan antara interpretasi data dan menentukan standar, mendeskripsikan kemajuan, mengumpulkan hasil, mencatat refleksi, memberikan skor pada unjuk kerja, dan mengetahui kelebihan siswa untuk membantu mereka meningkatkan kelemahan.
Mimin Haryati (2007: 15) menyatakan, penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat untuk memperoleh berbagai ragam informasi tentang sejauh mana hasi belajar peserta didik atau informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik.
Bell dan Cowie (2000: 538) mengatakan bahwa asesmen mempunyai beberapa tujuan. Pertama, memonitor perkembangan atau peningkatan pendidikan. Kedua, memberikan feedback. Ketiga, memberikan dorongan pada praktek dan pada kebijakan untuk mencapai tujuan yang diingainkan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen/penilaian adalah proses pengamatan kepada siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Dalam Dogan (2011: 420-421) dijelaskan terdapat dua jenis asesmen.
dan masing-masing memiliki metode dalam pelaksanaannya, yaitu:
1). Asesmen tradisional, dengan metode:
a). Tes Pen-and-paper b). Tes pilihan ganda c). Tes benar-salah d). Isian singkat
2). Asesmen alternatif, dengan metode:
a). Tugas oral, dimana siswa memberikan jawaban pendek, proyek atau seminar, dan debat
b). Tugas praktek, siswa menggunakan instrument tertentu untuk mengaplikasikan prinsip matematika commit to user
c). Asesmen autentik.
d). Guru mengobservasi siswa dalam kegiatan yang terstruktur maupun tak terstruktur dan mengevaluasi tugas siswa.
e). Jurnal siswa
f). Self-assessmen siswa
g). Asesmen yang melibatkan orang tua siswa.
Dalam penelitian ini, asesmen dilakukan adalah formative assessment (asesmen formatif).
Dalam Peterson (2008: 1), Shute (2008) menyatakan: “Formative assessment is defined as information communicated to the learner that is intended to modify his or her thinking or behavior for the purpose of improving learning” (Asesmen formatif didefinisikan sebagai informasi yang dikomunikasikan kepada siswa yang dimaksudkan untuk memodifikasi pemikiran atau sikap mereka dalam tujuan meningkatkan pembelajaran).
Popham (2008) dalam Castro et al (2009: 3) mengatakan: “Formative assessment is a process used by the teachers and students during instruction that provides feedback to adjust ongoing teaching and learning to improve students’ achievement of intended instructional outcomes” (Asesmen formatif adalah sebuah proses yang dilakukan oleh guru dan siswa selama pembelajaran yang menyediakan umpan balik untuk menyesuaikan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung untuk meningkatkan pencapaian siswa sebagai hasil pembelajaran yang direncanakan).
Bell dan Cowie (1998:1) memberikan pengertian tentang asesmen formatif, yaitu: “the process used by teachers and students to recognize and respond to student learning in order to enhance that learning, during the learning” (sebuah proses yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mengenali dan menanggapi pembelajaran siswa agar meningkatkan pembelajaran tersebut, selama pembelajaran).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian formatif adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa selama
commit to user
pembelajaran dengan memberikan umpan balik untuk meningkatkan pembelajaran.
Peterson (2008: 2-7) mengatakan bahwa inti dari asesmen formatif adalah feedback (umpan balik). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan asesmen adalah sebagai berikut.
1) Menentukan kriteria atau standar kinerja tentang kemajuan siswa yang dinilai.
2) Mengkomunikasikan kriteria atau standar kinerja kepada siswa sebelum memberikan tugas/penilaian.
3) Memberikan feedback (umpan balik) yang spesifik berdasarkan criteria atau standar kinerja.
Cara membuat umpan balik yang efektif adalah sebagai berikut.
1) Menentukan topik.
2) Menentukan jawaban.
3) Mendiskusikan kesalahan-kesalahan tertentu.
4) Memberikan contoh yang tepat.
5) Memberikan bimbingan yang hangat.
Alat yang dapat digunakan dalam asesmen formatif adalah:
1) Pre-Reading Quiz
Siswa diberikan kuis, kemudian jawabannya digunakan untuk memberikan umpan balik yang spesifik kepada siswa untuk meningkatkan belajar siswa atau membantu siswa mengidentifikasi tujuan belajar mereka.
2) The one minutes paper
Teknik ini efektif untuk mengecek kemajuan siswa baik dalam pemahaman maupun pencapain materi pembelajaran. Teknik ini dilakukan dengan memberikan siswa untuk menjawab pertanyaan dalam selembar kertas kemudian meminta siswa untk memberikan jawabannya dalam satu menit.
commit to user
3) Think-pair-share
Teknik ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangku kemudian berdiskusi dalam satu kelompok.
4) Practice quiz
Siswa diberikan sebuah tes setelah pembelajaran berakhir. Tes ini mengarah pada pembelajaran selanjutnya.
5) Case-based learning
Guru memberikan model penyelesaian masalah. Kemudian, siswa dalam suatu kelompok atau secara individu mengevaluasi dan memberikan jawaban dengan cara mereka sendiri.
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran dengan model ARIAS adalah sebagai berikut.
(1) Kegiatan Awal
(a) Memberitahukan tujuan pembelajaran dan menjelaskan relevansinya dengan kehidupan nyata, atau meminta siswa menyatakan kegunaan pembelajaran. (Relevance)
(b) Memberikan penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. (Assurance)
(c) Membuat kriteria standar pencapaian pencapaian tujuan pembelajaran yang konsisten. (Satisfaction)
(2) Kegiatan Inti
(a) Memberikan pernyataan untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang materi pembelajaran. (Interest)
(b) Menyajikan materi dan konsep secara akrab terhadap siswa dengan membuat contoh konkret atau analogi yang berhubungan dengan kegiatan siswa. (Relevance)
(c) Menggunakan pembelajaran yang bervariasi. (Interest)
(d) Memberikan soal-soal latihan yang cukup banyak dan menantang.
(Asssurance)
(e) Memberikan umpan balik terhadap hasil usaha siswa. (Assurance) commit to user
(f) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa (Satisfication) (g) Memberikan permasalahan yang memperlihatkan bahwa siswa
dapat menyelesaikan masalaha “dunia nyata” (Satisfaction) (3) Kegiatan Akhir
(a) Memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa (Satisfication) (b) Memberikan asesmen (Assesment).
c. Persamaan dan perbedaan model ARCS dengan model ARIAS
Model ARCS dan ARIAS mempunyai persamaan. Diantaranya adalah kedua model mempunyai komponen yang sama. Model ARCS memiliki 4 komponen yaitu Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction, sedangkan model ARIAS memiliki lima komponen yang empat diantaranya mirip dengan komponen pada model ARCS, yaitu Assurance, Relevance, Interest, dan Satisfaction.
Adapun perbedaan model ARCS dengan model ARIAS adalah pada model ARIAS terdapat satu komponen yang tidak terdapat pada model ARCS.
Komponen tersebut adalah Assesment. Dalam penelitian ini, asesmen yang digunakan adalah formative assesment (asesmen formatif). Asesmen formative merupakan asesmen yang berfungsi sebagai wahana untuk memberikan balikan (feed-back) kepada siswa secepat mungkin. Asesmen ini dilakukan pada setiap akhir pembelajaran.
3. Kecakapan Kognitif, Kecakapan Afektif, dan Minat
Bloom, Krathwohl, dan Simpson merupakan beberapa ahli yang melakukan penelitian dan menyusun penggolongan jenis perilaku hasil belajar. Penggolongan atau tingkat jenis perilaku belajar tersebut terdiri dari tiga ranah atau kawasan, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik (Aunurrahman, 2009 : 48-49). Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotor, dan afektif (Mimin haryati, 2007: 22).
commit to user
a. Kecakapan Kognitif
Menurut Mimin Haryati (2007: 22), aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir. Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu:
1) Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini siswa dituntut untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminologi strategi problem solving dan lain sebagainya.
2) Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.
Peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebut kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
3) Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta berbagai permasalahan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
4) Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini, peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan diantara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.
5) Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan hubungan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga membentuk pola baru yang lebih menyeluruh.
6) Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapakan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan
commit to user
tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.
Dalam penelitian ini, kecakapan kognitif mengacu pada prestasi belajar siswa. Menurut Sohardjono dalam Muhammad Hanif (2004: 188), prestasi adalah kemampuan yang menggambarkan tingkat kepahaman subyek didik yang dievaluasi berdasarkan jumlah nilai skor atau persentase jumlah jawaban benar dari soal tes perolehan belajar setelah mendapatkan proses pembelajaran.
Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2003: 159), prestasi adalah hasil yang merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa.
Dari beberapa definisi di atas, prestasi belajar adalah hasil pengukuran serta penilaian usaha belajar yang menggambarkan tingkat kepahaman siswa.
b. Kecakapan Afektif
Kecakapan afektif merupakan salah satu aspek hasil belajar. Menurut Krathwohl dalam Mimin Haryati (2007: 36-37) ada 5 tingkatan dalam aspek afektif , yaitu:
1) Receiving/attending (penerimaan), yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesedian memperhatikan hal tersebut. Peserta didik memiliki memiliki keinginan untuk memperhatikan suatu fenomena khusus, sehingga guru dapat mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif
2) Responding (tanggapan), yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi aktif dalam suatu kegiatan. Peserta didik tidak hanya memperhatikan fenomena khusus tetapi juga beraksi terhadap fenomena yang ada. Hasil belajar pada tingkat ini adalah diperolehnya respon, keinginan memberikan respon atau kepuasan memberikan respon.
Tingkatan tertinggi pada responding adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencapaian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus, commit to user