BAB I PENDAHULUAN
E. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
5. Model Penelitian Pengembangan
perangkat gadget, maka selama itu pula ia tidak bisa diakses oleh siapapun.
2) Mengabaikan aspek afektif. Jika pembelajaran fiqih terdiri dari tiga aspek, maka pembelajaran dengan blog, hanya akan maksimal untuk meningkatkan kompetensi kognitif. Kompetensi lain seperti afektif sulit ditingkatkan dengan hanya mengandalkan blog sebagai media dan sumber belajar siswa.
3) Bertambahnya beban tugas guru. Konsekuensi lain yang harus ditanggung oleh guru yang memanfaatkan ICT, khususnya blog, yakni beban dan tugas menjadi bertambah. Jika biasanya, setelah jam pulang sekolah guru tidak lagi disibukkan dengan urusan pembelajaran siswa, maka guru yang memanfaatkan blog sebagai media dan sumber belajar mesti aktif mengelola dan mengontrol blog nya.
4) Kesalahpahaman dalam menerima informasi. Belajar mandiri memang dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami informasi.
Lebih-lebih informasi yang ada internet begitu bejibun, dan siswa setingkat MTs akan kesulitan untuk membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. (M. Yusuf Amin Nugroho, 2018: 25)
yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk tertentu. Serta mengetahui keefektifan produk yang dihasilkan tersebut. (Sugiyono, 2006)
Menurut Gall dalam Emzir dalam penelitian pengembangan ini dalam pendidikan didasrakan pada temuan penelitian dalam merancang suatu produk dan prosedur baru. Dalam penelitian produk dan prosedur diuji keefektifannya di lapangan secara sistematis, dievaluasi, diperbaiki hingga diperoleh kriteria khusus tentang kualitas dari produk dan prosedur tersebut. Tujuan utama penelitian pengembangan dalam bidang pendidikan bukan untuk merumuskan atau mengoji teori, melainkan untuk mengembangkan produk yang efektif agar bisa digunakan di sekolah. Produk yang dihasilkan melalui penelitian pengembanagan diantaranya materi pelatihan guru, materi ajar, seperangkat tujuan perilaku, materi media, dan sistem-sistem manajemen. (Emzir, 2014) Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat di atas bahwa
penelitian pengembangan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut.
Dalam bidang pendidikan penelitian pengembangan sangat diperlukan karne dengan penelitian tersebut diperoleh suatu materi ajar, media pembelajaran, perangkat pembelajaran, sistem manajemen yeng terbarukan, dan efektif terhadap pelaksanaan pendidikan.
a. Dick & Carey
Model penelitian pengembangan Dick & Carey memiliki 10 langkah sebagai berikut:
1) Identifikasi tujuan (program pembelajaran atau produk) ditandai dengan analisis kebutuhan.
2) Analisis instruksional untuk mengidentifikasi aspek yang dilibatkan dalam mencapai tujuan. Aspek bisa berupa keterampilan khusus, prosedur, tugas-tugas belajar.
3) Identifikasi input sikap siswa, lataar belakang, karakteristik pembelajaran.
4) Penerjemah kebutuhan dan tujuan pembelajaran ke dalam tujuan perilaku spesifik.
5) Pengembangan instrumen penilaian.
6) Pengembangan strategi (pembelajaran) khusus.
7) Pengembangan materi pembelajaran dapat mencakup buku teks atau media.
8) Mendesain evaluasi formatif, evaluasi formatif sebagai dasar pengambilan keputusan.
9) Revisi.
10) Mendesain evaluasi sumatif untuk menguji keefektifan produk.
b. Model Jolly & Bolitho
Berikut tahapan penelitian pengembangan model Jolly & Bolitho : 1) Identifikasi Masalah
Identifikasi oleh guru atau siswa tentang masalah yang akan dipecahkan melalui pengembangan produk.
2) Eksplorasi
Eksplorasi terhadap masalah, bahasa, makna, fungsi, keterampilan.
3) Realisai Kontekstual
Menyusun material/instrumen baru melalui penemuan gagasan yang kontekstual.
4) Realisasi Pedagogi
Penyusunan pedoman (instrumen) mareri/produk yang akan dikembangkan
5) Produksi Fisik
Pembuatan produk dengan memperhatikan bahan, tampilan, bentuk, ukuran.
6) Penggunaan
Pembuatan produk oleh siswa (uji coba produk) 7) Evaluasi
Evaluasi produk.
c. Model 4-D
Model pengembangan 4-D terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu :
1) Define (Pendefinisian) Tahap ini merupakan tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis), analisis
konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).
2) Design (Perancangan) Bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih.
3) Develop (Pengembangan) Tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan dengan dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing).
4) Disseminate (Penyebaran) Tahap akhir pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan supaya dapat diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran dapat juga dilakukan melalui sebuah proses penularan kepada para praktisi pembelajaran terkait dalam suatu forum tertentu.
d. Borg & Gall
Tahap-tahap penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg &
Gall ada 10 sebagai berikut:
1) Research and Information Collection
Tahap ini digunakan oleh peneliti untuk menganalisis kebutuhan, mereview literatur, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menimbulkan permasalahan sehingga perlu ada pengembangan model baru.
2) Planning
Peneliti mulai menetapkan rancangan model untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada tahap pertama. Hal- hal yang direncanakan antara lain menetapkan model, merumuskan tujuan secara bertahap.
3) Develop Preliminary Form of Product
Pada tahap ini mulai disusun bentuk awal model dan perangkat yang diperlukan. Produk awal dapat berbentuk buku panduan penerapan model, perangkat model seperti media dan alat bantu model. Proses penelitian pada tahap ini dilakukan dengan melakukan validasi rancangan model oleh pakar yang ahli dalam bidangnya.
4) Preliminary Field Testing
Setelah model dan perangkatnya siap untuk digunakan, kegiatan selanjutnya adalah melakukan uji coba rancangan model. Uji coba ini melibatkan sekitar 6-12 responden.
5) Main Product Revision
Revisi produk utama dilakukan berdasarkan hasil uji coba tahap pertama.
6) Main Field Testing
Pengujian produk di lapangan disarankan mengambil sampel sebanyak antara 30-100 orang responden. Pada saat uji lapangan ini, pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif mulai dilakukan.
7) Operasional Product Revision
Revisi produk selalu dilakukan setelah produk tersebut diterapkan atau diujicobakan. Hal ini dilakukan apabila ada kendala-kendala baru yang belum terpikirkan pada saat perancangan.
8) Operational Field Testing
Setelah melalui pengujian dua kali dan revisi sebanyak dua kali, implementasi model bisa dilakukan pada wilayah lebih luas dalam kondisi yang senyatanya. Implementasi model disarankan mengambil sampel sebanyak 40-200 orang responden.
9) Final Product Revision
Sebelum model dipublikasikan kesasaran pengguna yang lebih luas maka diperlukan revisi terakhir untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang baik.
10) Dissemination and Implementation
Tahap terakhir dari penelitian dan pengembangan adalah melaporkan hasil dalam forum ilmiah melalui seminar dan mempublikasikannya dalam jurnal ilmiah.(Emzir, 2014: 22)