MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn
2.2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn di Kelas Tinggi
Model pembelajaran di kelas tinggi merupakan model pembelajaran yang gunakan dalam proses pembelajaran kelas IV sampai dengan VI. Model ini dimaksudkan agar peserta didik dapat menyerap materi pembelajaran, baik ranah kognitif, psikomotor, dan afektif secara optimal, sebab siswa kelas tinggi pada dasarnya sudah pandai berkomunikasi baik melalui membaca, menulis, maupun berdiskusi. Model pembelajaran PKn yang demokratis pada siswa kelas tinggi menekankan pendekatan berdiskusi menggunakan strategi cooperative learning tipe think-pair-share.
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 26 2.2.2.1 Model Pembelajaran Cooperative Learning: Think-Pair-Share
Pendekatan pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh Lyman (1981) dari Universitas Maryland, Amerika Serikat. Pembelajaran Cooperative Learning:
Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran dengan cara siswa dikelompokkan menjadi beberapa grup diskusi dalam kelas. Pembentukan ini berujuan untuk meningkatkan partisipasi aktip siswa dalam mengekspresikan berbagai gagasan, curahan pendapat; menerima masukan yang imergen; dan menciptakan suasana saling menghargai.
Shepardson (1996) dan Kagan (1994) menyatakan bahwa aktivitas belajar kooperatip bertujuan untuk membangun akuntabilitas individu dalam masing-masing kelompok. Diskusi dalam cooperative learning: think-pair-share bertujuan memberikan kesempatan atau waktu berpikir (think time) kepada masing-masing anggota kelompok mengekspresikan berbagai gagasan dan curahan pendapatnya.
Hasssil diskusi kelompok kemudian disampaikan dalam diskusi antarkelompok (pair), sehingga siswa dapat membandingkan antara gagasan kelompok satu dan lainnya. Dengan demikian siswa dapat merasakan situasi diskusi dan menilai pendapat kelompok dari beberapa sudut pandang, serta dapat menemukan beberapa alternatif pemikiran. Perbedaan pendapat dalam proses diskusi juga dapat merangsang tumbuhnya gagasan dan pemikiran-pemikira kritis peserta. Proses diskusi memerlukan ketrampilan mendengarkan dan mengekspresikan gagasan, kritik dan menghormati harga diri atau martabat manusia (Shepardson 1996).
Sebagai aktifitas akhir dari pendekatan ini adalah berbagi (share) hasil diskusi dari masing-masing kelompok kelas. Berikut ini adalah langkah-langkah strategi cooperative learning: think-pair-share:
1) Guru membagi kelas ke dalam 4-6 kelompok kecil, disesuaikan dengan rasio kelas.
2) Guru memberitahu nama Team pada masing-masing kelompok, misalnya Team Mawar, Team Melati, Team Kenanga, Team Kamboja. Masing-masing kelompok bersifat heterogen yang akan terlibat aktip mendiskusikan suatu topik atau tema pelajaran terkait dengan kompetensi dasar.
3) Guru memberi arahan kepada masing-masing kelompok agar memilih salah satu siswa sebagai ketua Team sekaligus sebagai moderator dan bertanggung jawab atas kelompoknya.
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 27 4) Guru memberitahu masing-masing kelompok supaya memilih salah satu siswa sebagai notulis yang bertanggung jawab mencatat jawaban anggota dari masing-masing kelompok.
5) Guru memberitahu bahwa tiap-tiap anggota Team setidak-tidaknya harus memberi kontribusi satu ide berdasarkan pertanyaan yang diberikan guru.
6) Guru memberitahu siswa bahwa melalui diskusi kelompok kecil siswa akan membandingkan pandangan atau gagasan dengan kelompok lain (pair).
7) Guru memberitahu untuk berbagi hasil diskusi keseluruh kelas (share) melalui notulis yang sudah dipilih masing-masing kelompok.
8) Selama proses diskusi guru membimbing siswa tentang pentingnya memelihara kerja sama, konsep pemimpin, serta pentingnya peran serta akuntabilitas individu atas keberhasilan kelompoknya.
Gambar berikut merupakan contoh model pembelajaran cooperative learning: think-pair-share yang diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast Asia: Community Legal Advisor Educator Manual, oleh Lasky, Otto, dan Morrish (editor). 2002. Open Society Institute.
Gambar diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast Asia
Cooperative Learning disebut juga berlajar dari kerjasama, yaitu pembelajaran dengan bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan seperangkat intruksiatau perintah-perintah pada kelompok kecil, sehingga siswa dapat menjalin kerjasama untuk memaksimalkan kerja setiap kelompok. Prinsip model pembelajaran ini untuk menciptakan saling ketergantungan positif antarsiswa untuk mencapai tujuan dengan berpedoman bahwa tujuan akan tercapai jika keberhasilan diraih oleh setiap.
Kerja sama (cooperative learning), sebagai Strategi Pembelajaran yang menekankan pada bentuk pendekatan proses kerja sama dalam suatu kelompok
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 28 yang terdiri atas 3-5 siswa untuk mempelajari suatu materi pembelajaran tertentu atau khusus hingga tuntas. Peserta didik didorong untuk bekerja sama secara maksimal sesuai dengan keadaan heterogenitas kelompoknya. Bagi siswa yang cepat belajarnya membantu temannya lambat belajarnya, karena dalam pendekatan ini keberhasilan individu menjadi keberhasilan kelompok, atau sebaliknya, kegagalan individu merupakan kegagalan kelompoknya juga. Model kerja sama dapat berbentuk mengerjakan tugas-tugas dari guru, sekolah atau memberikan motivasi. Menurut Slavin (dalam Abrani dan Chamber, 1996), kerja sama meliputi tiga perspektif, sebagai berikut.
1) Perspektif motivasi, yaitu penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu.
2) Perspektif sosial, artinya melalui kerja sama setiap siswa akan saling membantu dalam belajar, karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerjasecara tim dengan mengevaluasi kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan sendiri oleh kelompok merupakan iklim yang baik, karena setiap kelompok ingin semuanya berhasil.
3) Perspektif perkembangan kognitif, artinya dengan adanya interaksi antaranggota kelompok mendorong setiap peserta didik bersaha memahami dan mencari informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya dalam kelas dan kelompoknya. Siswa yang cerdas dan kurang cerdas dicampur secara seimbang dalam suatu kelompok, sehingga keberhasilan individu akan ditentukan oleh kelompoknya atas dasar saling merima dan memberi, membantu dan mengisi (elaborasi kognitif).
Pendekatan lain yang dapat diterapkan di kelas tinggi adalah Praktik Belajar PKn Berbasis Portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya seorang siswa. Sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasinya; perkembangan siswa dalam kemampuan berfikir; pemahaman siswa atas materi pokok; kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan dan sikap siswa terhadap mata pelajaran tertentu; dan laporan singkat yang dibuat seorang siswa setelaah melaksanakan kegiatan.
Portofolio dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
1) Portofolio kerja: berupa hasil proses kerja mandiri atau sekelompok siswa dimulai dari draf, pekerjaan yang belum selesai, pekerjaan terbaik. Hasil karya
Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 29 menjadi bahan diskusi antara peserta didik dan guru untuk mengetaui kemajuan dan membantu siswa merefleksi kemajuan belajar diri sendiri atau kelompok.
2) Portofolio dokumen: berupa koleksi hasil dan proses kerja peserta didik yang