• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SD"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN AJAR CETAK ISBN:

SUPLEMEN

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN SD

Yayuk Mardiati Imam Muchtar Sumarjono Arief Rijadi Ign.Suhanto

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2010

(2)

i

KATA PENGANTAR

M

ata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKn) mempunyai fungsi sebagai sarana untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, berkomitmen setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan diri sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan berkharakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan mata Pelajaran PKn antara lain, agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu–isu kewarganegaraan.

2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan kepribadian bangsa Indonesia agar dapat hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi ditengah-tengah arus globalisasi.

Suplemen pengembangan PKn SD ini dimaksudkan untuk melengkapi bahan ajar cetak yang sudah ada. Di dalam suplemen ini dikembangkan model-model, strategi, metode-metode dan pendekatan-pendekatan dalam rangka pembelajaran PKn SD yang akan membantu guru dalam menuangkan kreativitasnya di depan kelas sebagai fasilitator.

Pengembangan suplemen PKn SD ini didasarkan atas prinsip-prinsip Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Prinsip-prinsip ini diharapkan dapat mempermudah daya serap materi mata pelajaran PKn terutama dalam penilaian ranah afektif, kognitif dan psikomotor secara simultan, terutama peserta didik pada kelas rendah yang baru belajar membaca dan menulis. Pada kelas tinggi kreativitas dalam pembelajaran lebih ditingkatkan lagi. Namun konsekuensinya guru sebagai motivator dan fasilitator harus kreatif, inisiatif, dan konsen terhadap peserta didik. Tanpa hal ini pembelajaran PKn yang kita inginkan tidak akan tercapai secara optimal.

Jember, Juli 2010 Tim Penulis

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………. i

DAFTAR ISI ……….. ii

TINJAUAN UMUM SUPLEMEN.……….. iv

UNIT 1 : PARADIGMA BARU PKn ………..……… 1

1.1 Pendahuluan ……….. 1

1.2 Pemikiran Rasional ……… 3

1.3 Lingkungan Kelas Demokratis (Democratic Classroom) …….……… 6

1.4 Karakteristik PKn ………..……… 9

1.5 Struktur Keilmuan PKn SD/MI .……… 10

1.6 Pengembangan Pembelajaran PKn yang Demokratis Melalui Media Audiovisual ……….…... 11

Latihan ……….……….. 13

Rangkuman ………..……….. 14

Tes formatif 1 ……….…………... 15

Daftar Pustaka ………..………. 17

Glosarium ………. 18

UNIT 2 : MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PKn …... 21

2.1 Pendahuluan ………..……… 21

2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn ..……….…. 22

2.2.1 Model Pembelajaran PKn SD di Kelas Rendah ………. 22

2.2.1.1 Model Pembelajaran PAIKEM PKn SD ………. 23

2.2.1.2 Model Pembelajaran Talking Stick ……….….…… 24

2.2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn di Kelas Tinggi…………. 25

2.2.2.1 Model Pembelajaran Cooperative Learning: Think-Pair-Share ….. 26

2.2.2.2 Model Pembelajaran Berbasis Portofolio ………. 29

Latihan ………..……… 32

Rangkuman ……….……….. 33

Tes formatif 2 ……….………... 34

Daftar Pustaka ………... 37

Glosarium ………... 38

(4)

iii

UNIT 3 : PENGEMBANGAN PERANGKAT PENILAIAN MATA PELAJARAN

PKn ………... 41

3.1 Pendahuluan ………..……… 41

3.2 Prinsip-prinsip Penilaian PKn ………..……….………. 43

3.3 Teknik Penilaian Afekif untuk PKn………..……….……… 44

3.4 Penilaian Portofolio ………..….………. 49

3.5 Pengembangan Penilaian Ranah Tiga Domain ... 51

Latihan ………... 59

Rangkuman ……… 60

Tes formatif 3 ………. 61

Daftar Pustaka ……… 63

Glosarium ……….. 64

UNIT 4 : PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP SERTA PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN PKn SD ………. 67

4.1 Pendahuluan ………... 67

4.2 Komponen-Komponen RPP ……….... 67

4.3 Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP ………..………... 68

4.4 Pelaksanaan Pembelajaran ………..………... 69

4.5 Latihan ………... 78

4.6 Rangkuman ………... 79

4.7 Tes formatif 4 ………... 80

4.8 Daftar Pustaka ………... 82

4.9 Glosarium ………... 83

(5)

iv

TINJAUAN UMUM SUPLEMEN Suplemen buku Pengembangaan Pembelajaan PKn SD terdiri dari 4 Unit, yaitu membahas Paradigma baru PKn SD, model–model pembelajaran PKn pada kelas rendah dan kelas tinggi, pengembangan perangkat penilaian serta pengembangan silabus dan RPP sesuai dalam KTSP.

Unit 1 membahas paradigma buru, tugas, dan tujuan pembelajaran PKn terkait dengan suasana era globalisasi. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sebagai bangsa tentunya kita menjadi bagian dari bangsa-bangsa lain di dunia, sehingga harus dapat hidup berdampingan secara damai dengan berlandaskan budaya Indonesia. Unit ini juga membahas pemikiran rasional yang harus kita miliki dan dipakai sebagai pedoman pengembangan pembelajaran PKn serta bagaimana kita menemukan konsep-konsep kelas demokratis. Mengingat kharakteristik dan struktur keilmuan PKn berbeda dengan mata pelajaran yang lain, maka dalam suplemen ini diuraikan juga pengelolaan instrument pengukuran ranah afektif, serta bagaimana mengembangkan pembelajaran PKn SD kelas tinggi yang demokratis berbantuan media audio visual.

Unit 2 menjelaskan model-model pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran SD kelas rendah dan kelas tinggi agar materi pembelajaran dapat diterima secara optimal dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Pembelajaran PKn SD dengan pendekatan tematik (pada kelas rengah) dengan model atau pendekatan tongkat bergilir/berbicara (talking stick), permainan (games), model pembelajaran cooperatif learning dengan Pendekatan Think-Pair-Share, model pembelajaran dengan pendekatan analisis nilai dan model pembelajaran berbasis portofolio.

Unit 3, merupakan bagian dari perangkat penilaian pelajaran PKn, terutama dalam pengembangan penilaian afektif dan penilaian berbasis tiga domain. Penilaian ranah afektif ini terdiri atas lima instrumen yang diukur dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, agama dan estetika yaitu 1.Sikap 2. minat 3. Konsep diri 4. Nilai dan 5. Moral. Ketiga instrumen yang terakhir inilah yang membedakan dengan mata pelajaran lain.

Unit 4, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran terutama dalam hubungannya dengan interaksi antara guru dan peserta didik, yaitu pengembangan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Di dalam unit ini juga dijelaskan contoh pengembangan silabus dan RPP PKn SD kelas rendah dan kelas tinggi dengan pengembangan model, pendekatan yang berbeda-beda agar pelaksanaan pembelajaran dapat diserap oleh peserta didik secara maksimal.

(6)

Paradigma Baru PKn-SD 1

Unit 1

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Sumarjono Imam Muchtar 1.1 Pendahuluan

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan bidang studi yang bersifat multifaset dengan konteks lintas bidang keilmuan. Secara filsafat keilmuan PKn memiliki ontology pokok ilmu politik khususnya konsep political democracy untuk aspek duties and rights of citizen (Chreshore:1886). Dari ontologi pokok inilah kemudian berkembang konsep Civics yang secara harafiah (dalam bahasa Latin) adalah civicus yang artinya warga negara pada zaman Yunani kuno. Berawal dari pengertian itulah kemudian berkembang dan secara akademis diakui sebagai embrionya civic education. Di Indonesia civic education ini diadaptasi menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara epistemologis, PKn sebagai suatu bidang keilmuan merupakan pengembangan dari salah satu dari lima tradisi social studies yakni citizenship transmission (Barr, Barrt, dan Shermis:1978). Tradisi social studies mengalami perkembangan pesat sehingga kini telah menjadi suatu body of knowledge yang memiliki paradigma sistemik berisi tiga domain citizenship education yaitu:

domain akademis, kurikuler, dan sosial kultural (Winataputra:2001)

PKn secara pragmatik memiliki visi socio-pedagogis untuk mendidik warganegara yang demokratis dalam konteks yang lebih luas, antara lain mencakup konteks pendidikan formal dan non-formal. Sedangkan secara umum PKn memiliki visi formal-pedagogis untuk mendidik warganegara yang demokratis dalam konteks pendidikan formal. Di Indonesia PKn memiliki visi formal-pedagogis, yakni sebagai mata pelajaran sosial dalam dunia persekolahan dan perguruan tinggi yang berfungsi sebagai wahana untuk mendidik warganegara Indonesia yang Pancasilais.

Seiring dengan perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia, yaitu lahirnya masa reformasi, para pemikir kurikulum di Indonesia, khususnya ahli-ahli PKn mengadakan pembaharuan terhadap muatan dan substansi kurikulum PKn.

Pengkajian para prkar PKn berhasil merumuskan suatu kesepakatan yang kemudian terkenal dengan istilah paradigma baru PKn. Dalam paradigma baru PKn dijelaskan,

(7)

Paradigma Baru PKn-SD 2 bahwa PKn merupakan bidang kajian ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan diterima sebagai wahana utama esensial pendidikan demokrasi di Indonesia yang dilaksanakan melalui:

1) Civic Intelligence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik dalam dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial;

2) Civic Responsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab; dan

3) Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas dasar tanggungjawabnya, baik secara individual, sosial, maupun sebagai pemimpin hari depan.

Muatan-muatan materi PKn dengan paradigma baru tersebut kemudian dijabarkan ke dalam berbagai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai bagian dari Standar Isi PKn yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.

Secara garis besar, dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) yang tercakup dalam mata pelajaran PKn meliputi politik, hukum dan moral. Dengan demikian, mata pelajaran PKn merupakan bidang kajian disiplin. Secara lebih rinci, materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang hak dan tanggung jawab negara, hak asasi manusia, perinsip-perinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintahan dan non-pemerintah, identitas nasional, pemerintahan berdasar hukum (rule of law) dan peradilan yang bebas dan tidak memihak, serta nilai-nilai dan norma- norma dalam masyarakat.

Keterampilan kewarganegaraan (civic skills) meliputi keterampilan intelektual (intelectual skills) dan keterampilan berpartisipasi (participatory skills) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Contoh keterampilan intelektual misalnya keterampilan dalam merespon berbagai persoalan politik, seperti perlu atau tidaknya kampanye secara masal. Contoh keterampilan berpartisipasi misalnya keterampilan menggunakan hak dan kewajibannya di bidang hukum, seperti perlu atau tidaknya melapor kepada polisi jika mengetahui tindak kejahatan di masyarakat.

Watak /karakter kewarganegaraan (civic despositions) sesungguhnya merupakan dimensi yang paling substantif dan esensial dalam mata pelajaran PKn.

Dimensi watak/karakter kewarganegaraan dapat dipandang sebagai ”muara” dari kedua dimensi sebelumnya dengan memperhatikan visi, misi, tujuan, dan karakteristik mata pelajaran PKn. Ciri khas PKn ditandai dengan pemberian penekanan pada

(8)

Paradigma Baru PKn-SD 3 dimensi watak, karakter, sikap, dan hal-hal lain yang bersifat afektif. Jadi pembelajaran PKn diharapkan mampu memberi pengetahuan kepada warganegara bidang politik, hukum, dan moral sebagai bekal dalam kehidupan bermasyaarakat, berbangsa, dan bernegara. Selanjutnya warga negara di harapkan memiliki keterampilan secara intelektual dan partisipatif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pada akhirnya, pengetahuan dan keterampilan itu akan membentuk suatu watak atau karakter yang mapan, sehingga menjadi sikap dan kebiasaan hidup sehari-hari. Watak, karakter, dan sikap atau kebiasaan hidup sehari- hari yang mencerminkan warga negara yang baik itu misalnya sikap religius, toleran, jujur, adil, demoktaris, menghargai perbedaan, menghormati hukum, menghormati hak orang lain, memiliki kebangsaan yang kuat, memiliki rasa kesetiakawanan sosial dan lain-lain.

1.2 Pemikiran Rasional

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006 mengakomodir kecenderungan globalisasi dalam tujuan mata pelajaran PKn yaitu mengembangkan kemampuan: 1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi; 3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain di dunia; 4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam proses pembelajaran, PKn hendaknya menjadi

“subjek pembelajaran yang kuat” (powerful learning area) yang ditandai oleh pengalaman belajar kontekstual dengan ciri-ciri: bermakna (meaningful), terintegrasi (integrated), berbasis nilai (value-based), menantang (challenging), dan mengaktifkan (activating) (Budimansyah, 2008b:182).

Konsep paradigma baru PKn muncul setelah era reformasi di mana masyarakat Indonesia tidak hanya memerlukan teori tentang konsep demokrasi, tetapi menghendaki institusi yang mampu memelihara proses demokrasi. Paradigma baru berasal dari bahasa Inggris new paradigm yang secara harafiah berarti pola atau model baru. Menurut Udin, dkk.. interpretasi paradigma baru dalam konteks PKn berarti suatu model atau kerangka berfikir yang digunakan dalam proses kewarganegaraan di

(9)

Paradigma Baru PKn-SD 4 Indonesia. Selanjutnya dinyatakan bahwa untuk mengembangkan karakter warga Negara yang demokratis PKn dengan paradigma baru mempunyai tiga tugas pokok, yaitu: 1) mengembangkan kecerdasan warga Negara (civic intelligence); 2) membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility); dan 3) mendorong partisipasi warga Negara (civic participation)

Perlu kita ketahui bahwa ketiga konsep tugas pokok PKn tersebut diadopsi dari Amerika yang sudah mapan demokrasinya. Proses adopsi tersebut disebut making connection, yaitu kemampuan berfikir yang secara simultan mengubah pola pikir menjadi lebih baik dengan tetap memelihara identitas termasuk budaya sndiri (Mardiati, 2007). Oleh karena itu, dalam implementasinya tetap harus kita sesuaikan dengan konteks Indonesia. Contoh proses making connection yang berhasil adalah Jepang. Bangsa Jepang memiliki kemampuan menggunakan kesempatan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi barat tanpa menghilangkan identitas budaya sendiri.

Indonesia sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) perlu mendukung pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs), khususnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk pendidikan yang demokratis (democratic citizenship education). Nilai-nilai demokrasi dalam paradigma baru dalam PKn merupakan konsep yang abstrak. Karena demokrasi bersifat abstrak, maka para siswa SD sering kesulitan memahami dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian timbul pertanyaan, bagaimana guru dapat mengimplementaskan teori demokrasi dan menggabungkan ketrampilannya demokrasi ke dalam praktek? Dalam suplemen bahan ajar Paradigma baru PKn SD Anda akan dikenalkan model pembelajaran “menciptakan suasana kelas demokratis “ (creating democratic classroom environment).

Landasan pemikiran rasional pentingnya PKn dipersekolahan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi mata pelajaran PKn tahun 2006 adalah sbb:

1. Pendidikan Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan NKRI sebagai negara kebangsaan yang modern yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan dalam kebinekaan (risalah Sidang BPUPKI dan PPKI 29 Mei s.d 19 Agustus 1945, Sekretariat Negara, 1992).

(10)

Paradigma Baru PKn-SD 5 2. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945

3. Negara Kesatuan republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila seperti yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV

4. Pancasila dan UUD 1945 perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa, mengingat sejarah telah membuktikan berbagai peristiwa telah mengancam persatuan dan kesatuan.

5. Pada masa depan tidak terulang lagi adanya sistem pemerintahan otoriter yang mengekang HAM warga negara untuk menjalankan demokrasi dengan kebebasan yang bertanggung jawab. Kehidupan ini dapat dimulai di keluarga, sekolah dan masyarakat untuk membentuk masa depan yang cerah (diolah dari Puskur, Balitbang Depdiknas, 2003)

Terkait dengan pemikiran rasional tersebut, maka mata pelajaran PKn di sekolah memiliki peran dan tanggung jawab yang sentral. Paradigma baru PKn memuat aspek-aspek materi pembelajaran sebagaimana tercantum dalam Standar Isi tahun 2006 sbb:

1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap negara kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan

2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma- norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistim hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional

3. Hak asasi manusia meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM

4. Kebutuhan warga negara meliputi: hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara

(11)

Paradigma Baru PKn-SD 6 5. konstitusi negara meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi

6. Kekuasan dan Politik, meliputi: pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi

7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka

8. Globalisasi meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

1.3 Lingkungan Kelas Demokratis (Democratic Classroom)

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa, pembelajaran PKn di Indonesia hingga saat ini masih didominasi sistem konvensional, sehingga penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konsep “contextualized multiple intelligence”

masih jauh dari harapan. Masalah serius yang kita hadapi adalah, sebagian besar siswa

“tidak dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan aplikasi pengetahuan dalam kehidupannya saat ini dan di kemudian hari”. Artinya pembelajaran tidak memberikan makna bagi siswa dalam memecahkan permasalahan kewarganegaraan yang terjadi dalam kehidupannya. Pembelajaran belum mampu mengembangkan civic knowledge, civic skills dan civic desposition secara komprehensif. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran PKn belum mengkaitkan materi dengan realita kehidupan siswa, tidak kontekstual, lebih banyak memberikan kemampuan untuk menghapal, bukan untuk berpikir kreatif, kritis, dan analitis, bahkan menimbulkan sikap apatis siswa dan menganggap remeh serta kurang menarik (Surachmad dalam Kompas, 2003).

Setiap aspek proses pembelajaran PKn di Indonesia masih banyak kelemahan, bahkan secara agregat menjadi kontraproduktif terhadap pengembangan diri dan kemampuan intelektual siswa. Suryadi (2006:27) mengidentifikasi ciri-ciri sistem belajar konvensional meliputi adanya kelas yang tertutup dalam sekolah dab lingkungannya, seting ruangan yang statis dan penuh formalitas, guru menjadi satu-

(12)

Paradigma Baru PKn-SD 7 satunya sumber ilmu dan papan tulis sebagai sarana utama dalam proses transfer of knowledge, situasi dan suasana belajar yang diupayakan hening untuk mendapatkan konsentrasi belajar maksimal, menggunakan buku wajib yang cenderung menjadi satu- satunya yang syah sebagai referensi di kelas, dan adanya model ujian dengan soal-soal pilihan ganda (multiple choice) yang hasilnya digunakan untuk ukuran kemampuan siswa.

Somantri (2001:245) mempertegas bahwa kurang bermaknanya PKn bagi siswa dikarenakan masih dominannya penerapan metode pembelajaran konvensional seperti ground covering technique, indoktrinasi, dan narrative technique dalam pembelajaran PKn sehari-hari. Sementara itu, Budimansyah (2008:18) menyoroti penyebab masalah tersebut secara lebih luas meliputi: pertama, proses pembelajaran dan penilaian PKn lebih menekankan pada dampak instruksional (instructional effects) yang terbatas pada penguasaan materi (content mastery) atau hanya menekankan pada dimensi kognitifnya saja. Pengembangan dimensi-dimensi lainnya (afektif dan psikomotorik) dan pemerolehan dampak pengiring (nurturant effects) sebagai “hidden curriculum” belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Kedua, Pengelolaan kelas belum mampu menciptakan suasana kondusif dan produktif untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa melalui pelibatannya secara proaktif dan interaktif, baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas (intra dan ekstra kurikuler). Hal ini berakibat pada miskinnya pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning) untuk mengembangkan kehidupan dan perilaku siswa.

Ketiga, penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam Struktur Kurikulum Pendidikan dijabarkan secara kaku dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka terjadwal sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan cara tatap muka di kelas menjadi sangat dominan. Hal itu mengakibatkan guru tidak dapat berimprovisasi secara kreatif untuk melakukan aktivitas lainnya selain dari pembelajaran rutin tatap muka yang terjadwal dengan ketat.

Keempat, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana sosio-pedagogis untuk mendapatkan “hands-on experience” juga belum memberikan kontribusi yang signifikan untuk menyeimbangkan antara penguasaan teori dan praktek pembiasaan perilaku dan keterampilan dalam berkehidupan yang demokratis dan sadar hukum.

Pemecahan masalah kekurangbermaknaan PKn tersebut pelu merubah materi pembelajaran PKn tidak hanya berisi hapalan saja, tetapi harus dipadukan dengan

(13)

Paradigma Baru PKn-SD 8 kehidupan nyata dalam masyarakat dengan ditopang oleh proses pembelajaran yang dapat mengembangkan contextualized multiple intelligence. Hal ini senada dengan pendapat Somantri (2001:313) bahwa PKn akan lebih bermakna apabila pengetahuan fungsional (functional knowledge) dan masalah-masalah kemasyarakatan memperkaya konsep-konsep dasar PKn, dan dikembangkan dialog kreatif dalam pembelajaran.

Dengan demikian pembelajaran PKn dapat mengembangkan seluruh potensi siswa.

Menurut Djahiri (dalam Budimansyah dan Syaifullah, 2006:3), potensi diri yang harus dikembangkan ini meliputi potensi daya pikir/intelektual, daya afektual dan psikomotor yang terkait dengan konteks life cycles manusia, aspek kehidupannya, dan sumber norma acuannya yang berlaku di masyarakat.

Proses pembelajaran PKn di persekolahan diperlukan guru inkuiri. Guru inkuiri menurut A. Kosasih Djahiri (1985: 7-8) mempunyai ciri-ciri sebagai perencana, pelaksana pengajaran, fasilitator, administrator, evaluator, rewarder, manajer, pengarah dan pemberi keputusan. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa guru yang baik adalah guru yang mau melihat dan menyerap perasaan peserta didiknya, mempunyai pengertian tinggi atas hal tersebut, percaya peserta didik memiliki kemampuan, mampu berperan sebagai fasilitator (pemberi kemudahan, kelancaran-keberhasilan) dan mampu melaksanakan peran sebagai guru inkuiri.

Di dalam kelas guru bisa menciptakan suasana demokratis karena secara alami siswa kooperatip, selalu ingin tahu, dan berkemauan belajar serta mempunyai hak untuk membuat keputusan sendiri tentang belajar mereka. Disamping itu, siswa mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi di dunia sekitarnya. Siwa bisa belajar pelajaran yang bernilai baik ketrampilan hidup maupun akademis melalui partisipasi demokratis. Menurut Emma E. Holmes (1991) kelas demokratis mencerminkan nilai-nilai sebagai layaknya masyarakat demokratis yaitu; hak-hak (rights), tanggung jawab (responsibilities), serta menghargai diri sendiri dan orang lain(self-respect dan respect for others).

Di dalam lingkungan kelas demokratis, siswa mempunyai hak untuk dididik atau diberi pengajaran dengan baik dan meraih kesuksesan. Dalam hal ini siswa menggunakan kesempatan untuk berpartisipasi dalam hidup kelompok dan berkomunikasi dengan yang lainnya. Disamping itu, guru diharapkan bisa menciptakan situasi yang memenuhi hak-hak siswa seperti merasa aman disekolah, dihargai, didengar, diberi privacy, dilibatkan dalam membuat keputusan menurut tingkatannya, dan diperlakukan dengan adil (Apple dan Beane 1995).

(14)

Paradigma Baru PKn-SD 9 Larson (1999) secara implisit berpendapat bahwa komunitas kelas demokratis ditandai dengan sifat-sifat seperti saling percaya dan saling menghargai satu sama, secara pribadi merasa aman, dan mempunyai tujuan yang sama untuk menggali isu secara bersama. Dalam suasana saling percaya dan saling menghargai inilah, siswa yang terlibat dalam suatu diskusi kelompok, misalnya, akan mempunyai perasaan yang baik terhadap siswa lainnya dan berkemauan mengikuti peraturan berdiskusi, seperti mendengarkan, menghargai hak-hak teman dalam berbagai gagasan dan pendapat.

Menciptakan suatu kelas yang aman dan menghargai berbagi pendapat dan gagasan baru sangat penting, sehingga siswa merasa yakin bahwa komentar-komentar yang disampaikan selama diskusi dihargai dan tidak akan digunakan untuk memusuhinya di luar kelas. Dewey (1948) menekankan bahwa dalam kelas demokratis perkembangan setiap siswa dihargai dan dibantu untuk merealisasikan baik potensi intelektual, artistik, maupun pribadinya.

Selain hak-hak tersebut di atas, siswa akan belajar bahwa mereka mempunyai tanggung jawab (responsibilities) yang harus mereka kerjakan dalam kehidupan sekolah, seperti mengerjakan tugas proyek ataupun tugas lainnya. Dalam kelas demokratis, konsep kebebasan (freedom) siswa akan mengutarakan pendapatnya sesuai dengan peraturan yang sudah dibuat dalam diskusi kelompok sangat penting, karena siswa harus mengekspresikan pendapatnya. Begitu pula dengan penanaman konsep persamaan (equality) yang merupakan aspek atau nilai penting dalam kelas demokratis, sebab setiap siswa adalah unik tetapi sama haknya, sehingga harus diberi kesempatan belajar maksimal dan sama, termasuk memperoleh semua akses berbagai program di sekolahnya. Selain itu, siswa diberi kesempatan untuk dilibatkan dalam membuat keputusan (decision making). Hal ini bisa dilakukan misalnya guru mengkaji materi dan membantu siswa dalam memutuskan aspek yang mana yang paling berguna bagi pengorganisasian karyanya.

1.4 Karakteristik PKn

PKn mengalami perubahan dari waktu ke waktu mulai dari Civics yang materinya menuju kepada warga negara yang baik saja, Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) yang materinya berupa nila-nilai dari sila-sila Pancasila dan Eka Prasetia Panca Karsa. Pada era reformasi diubah menjadi PKn yang ruang lingkup muatannya berisi tentang kebebasan bertanggung jawab, tata negara, persatuan dan kesatuan bangsa, hak asasi manusia,

(15)

Paradigma Baru PKn-SD 10 norma dan peraturan, konstitusi negara, kebutuhan warga negara, kekuasaan dan politik, Pancasila sebagai idiologi terbuka, dan globalisasi. Guru PKn diwajibkan memiliki kompetensi guru mata pelajaran PKn sebagai berikut: memahami materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran PKn. Guru harus memahami subtansi PKn yang meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), nilai dan sikap kewargagenaraan (civic desposition), dan ketrampilan kewarganegaraan (civic skill); serta mampu menunjukkan manfaat mata pelajaran PKn (Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 16 tahun 2007).

1.5 Struktur Keilmuan PKn SD /MI

PKn sebagai salah satu mata pelajaran yang ada dalam standar isi tahun 2006 diberikan mulai dari TK sampai Sekolah Menengah Atas Umum dan kejuruan. Hal ini tertuang secara jelas dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang standar Isi.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis Pendidikan Umum, kejuruan dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: 1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

2. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

3. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi 4. kelompok mata pelajaran estetika;

5. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan

Kurikulum SD/MI memuat delapan mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.

Substansi mata mata pelajaran IPA dan IPS SD/MI merupakan IPA terpadu dan IPS terpadu, pembelajaran pada kelas rendah dilaksanakan melalui pendekatan tematik termasuk PKn, sedangkan kelas tinggi dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Alokasi waktu satu jam pembelajaran 35 menit.

Cakupan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian adalah: peningkatan kesadaran, dan wawasan peserta didik akan status hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Kesadaran dan wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme, bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa,

(16)

Paradigma Baru PKn-SD 11 pelestarian lingkungan hidup, gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Struktur kurikulum SD /MI dapat dijelaskan pada table berikut:

Komponen Kelas dan Alokasi Waktu

A. Mata Pelajaran I II III IV, V, dan VI

1. Pendidikan Agama T

E M A T I K

3

2. Pendidikan Kewarganegaraan 2

3. Bahasa Indonesia 5

4. Matematika 5

5. Ilmu pengetahuan Alam 4

6. Ilmu Pengetahuan Sosial 3

7. Seni Budaya dan Ke-trampilan 4

8. Pendidikan Jasmani, Olah raga dan Kesehatan 4

B. Muatan Lokal 2

C. Pengembangan diri 2*)

Jumlah 26 27 28 32

*) ekuivalen 2 jam pembelajaran

1.6 Pengembangan Pembelajaran PKn yang Demokratis Melalui Media Audio Visual

Media pembelajaran. Merupakan media perpaduan antara software dan hardware (Sadiman dkk, 1986 6-7). Media ini menurut Anderson (1987) dibagi atas dua kategori, yaitu: 1) Alat bantu pembelajaran (instruktional media) adalah perlengkapan atau alat untuk membantu guru dalam memperjelas materi (pesan) yang akan disampaikan yang disebut juga alat bantu mengajar (teaching aids), misalnya OHP, slide, peta, gambar, poster, model, grafik, flip chard, lingkungan dan benda- benda sebenarnya; 2) Media pembelajaran, yaitu media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seorang pengembang mata pelajaran (program pembelajaran) dengan peserta didik Contoh: televisi, film, CAI, modul, dan program audio. Gagne dan Briggs (1975) mengatakan, bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri

(17)

Paradigma Baru PKn-SD 12 dari buku, tape recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Sedangkan Kempt & Dalton (1985) mengelompokkan media menjadi delapan jenis, yaitu: 1) media cetakan; 2) media panjang; 3) overhead transparancies; 4) rekaman audiotape; 5) seri slide dan filmtrips; 6) penyajian multi – image; 7) rekaman video dan film hidup, dan 8) komputer,

Media Teknologi Mutakhir. Merupakan media yang menggunakan teknologi mutakhir dan berbasis telekomunikasi seperti: telekonferen dan kuliah jarak jauh dan berbasis mikroprosesor (Computer assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia dan compact (video) disc.

Media Audio. Merupakan media yang menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga. Media audio dibedakan menjadi Media audio bukan elektronik (yang tidak menggunakan tenaga listrik, misalnya peralatan musik akuistik seperti gitar, gamelan dalam seni musik) dan media audio elektronik yang menggunakan alat-alat listrik, misalnya amplifier, radio, tape recorder, CD player).

Media Audio visual. Media yang menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata, gambar diam tetap maupun bergerak, seperti slide proyektor yang dipadukan dengan tape recorder, televisi, film strip proyektor, video player, DVD player, dan computer.

Materi-materi PKn di SD pada ddasarnya bersifat abstrak, seperti hal-hal yang berkenaan dengan nilai-nilai demokrasi, Hak Asasi Manusia, globalisasi, norma, hukum, dan sebagainya. Mengingat materi-materinya bersifat abstrak, maka proses pembelajaran PKn dengan cara mendemonstrasikan nilai-nilai demokrasi, seperti kebebasan (freedom), hak-hak (rights), persamaan (equality), tanggung jawab (responsibility), dan menghargai (respect) melalui suara dan penglihatan (audio visual) sangat penting.

Penggunaan media pembelajaran yang baik, tidak hanya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan berpikir siswa tetapi juga bagaimana media pembelajaran dapat menstimulasi intelektual dan sikap siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (1993) dalam teori belajar multiple intellegent yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dalam tingkat perkembangan tertentu, termasuk ditingkat spatial atau visual tetap bersatu dalam suatu susunan yang utuh. Untuk itu intelegensi bisa dilatih dan dikembangkan dengan mempelajari banyak hal melalui cara yang sesuai.

(18)

Paradigma Baru PKn-SD 13 Pembelajaran PKn SD yang demokratis akan menggunakan media audio visual. Tujuan penggunaan media audio visual untuk membantu siswa SD memahami konsep dan nilai-nilai PKn yang abstrak secara visual, karena tingkat perkembangan baik ranah kognitif dan ranah afeksi (cognitive and affective domains) anak SD, utamanya di kelas rendah belum bisa dijelaskan melalui bahasa tulis secara baik.

Latihan:

1. Apakah yang dimaksud dengan paradigma baru PKn?

2. Mengapa paradigma baru muncul setelah ada era reformasi?

3. Mengapa Jepang dapat mempertahankan budayanya di tengah-tengah globalisasi?

4. Bagaimanakah cara mempertahankan budaya kita pada saat kita mendapat tekanan pengaruh globalisasasi?

5. Apakah yang dimaksud dengan pemikiran rasional dalam pembelajaran PKn? berikan contohnya!

6. Apakah ciri-ciri negara demokrasi? Bagaimana tentang Indonesia!

7. Bagaimanakah langkah-langkah cara menerapkan kelas demokratis itu?

8. Apakah ciri-ciri pembeelajaran PKn SD?

9. Mengapa pendekatan tematik diterapkan di kelas rendah?

10. Berikan alasan pentingnya media visual dan audio visual dalam pembelajaran di tingkat SD?

(19)

Paradigma Baru PKn-SD 14 Rangkuman

1. Paradigma baru PKn merupakan dinamika pemikiran perkembangan PKn dikarenakan oleh perubahan di segala bidang akibat cepatnya perkembangan Iptek dan Globalisasi. Paradigma baru PKn muncul setelah adanya era reformasi, sehingga diperlukan model baru dalam kerangka berfikir untuk mengembangkan karakter warga negara yang demokratis meliputi civic intelligence, civic responsibility dan civic participation yang diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi kepribadian Indonesia sebagai making connection.

2. Pemikiran rasional pentingnya PKn dengan harapan:

 Pendidikan Indonesia memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan NKRI dan nasionalisme

 Konsisten terhadap Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV dan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 Demokrasi yang bertanggung jawab

3. Guru diharapkan dapat menerapkan kelas demokratis (democratic classroom).

4. Karakteristik PKn berisi materi kebebasan bertanggung jawab, tatanegara, persatuan dan kesatuan bangsa, HAM, norma dan peraturan, konstitusi negara, kebutuhan warga negara, kekuasaan dan politik, Pancasila sebagai idiologi terbuka, serta globalisasi sehingga guru harus memahami materi, struktur, konsep dan pola keilmuan PKn

5. Struktur keilmuan PKn pada pendidikan dasar dan menengah merupakan salah satu bagian dari 5 (lima) kelompok mata pelajaran.

6. PKn SD dilaksanakan melalui pendekatan tematik untuk kelas rendah dan pendekatan mata pelajaran untuk kelas tinggi. PKn mencakup peningkatan kesadaran, dan wawasan peserta didik akan status hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

7. Struktur Kompetensi PKn meliputi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang suudah ditentukan dalam kurikulum sedangkan indicator-indikatornya perlu dikembangkan oleh guru sendiri

(20)

Paradigma Baru PKn-SD 15 Tes Formatif 1.

Pilihlah satu jawaban yang Anda anggap paling tepat dengan memberi tanda (X) ! 1. Civic responsibility dalam pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan yang nyata

dalam kehidupan sehari-hari adalah hal berikut …

a. Meningkatkan kecerdasan warga negara khususnya generasi mudanya

b. Mendidik kesadaran warga negara akan hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya sebagai warga negara

c. Memberikan bekal agar nantinya ia akan aktif berpartisipasi sebagai warga negara dalam kehidupan politik

d. Keaktifan warga negara secara dalam mengemban masa depan secara individu e. Memberikan jiwa dan semangat nasionalisme warga negara

2. Dalam negara hukum seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka salah satunya adalah adanya Keadilan, perlindungan HAM, kejujuran, kebebasan, tangung jawab yang merupakan …

a. Nilai nilai demokrasi b. Bentuk – bentuk demokrasi c. Macam – macam demokrasi d. Ciri – ciri demokrasi

e. Isi demokrasi

3. Pancasila dan UUD 1945 perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia khususnya generasi muda harapan bangsa. Ungkapan ini merupakan salah satu dari…

a. Pemikiran rasional

b. Tujuan pendidikan Kewarganegaraan c. Cita–cita bangsa Indonesia

d. Tujuan bangsa Indonesia e. Makna pembangunan nasiional 4. Perhatikan hal-hal berikut:

1. Era reformasi memberikan harapan yang akan dapat memelihara demokrasi

2. Untuk mengembangkan tugas civic intelligence, civic responsibility dan civic participation

3. Proses making connection yang berhasil seperti di Jepang yang dapat mengimplementasikan pengetahuan barat tanpa menghilangkan budayanya

(21)

Paradigma Baru PKn-SD 16 4. Indonesia mendukung PBB dalam millennium Goals (MDGs)

5. Perkembangan kelompok-kelompok ekonomi yang berdasar pada kepentingan masing- masing regional.

Pernyataan tersebut diatas yang memberikan semangat munculnya paradigma baru dalam pembelajaran PKn adalah nomor:

a. 1, 2, dan 5 b. 1, 3 dan 5 c. 2, 3 dan 5 d. 3, 4 dan 5 e. 1, 2, 3, dan 4

5. Perhatikan hal-hal tentan pernyataan berikut:

1. Inisiator pembelajaran yang aktif

2. Perencana pembelajaran dan pelaksana pengajaran 3. Fasilitator, administrator, evaluator

4. Rewarder dan pemberi arahan termasuk keputusan 5. Dominan dalam mengejar target kurikulum

Seorang guru dalam melakukan pembelajaran pada kelas yang demokratis menurut A. Kosasih Djahiri (1985) seharusnya melakukan hal-hal pada nomor…

a. 1, 2 dan 3 b. 1, 3 dan 4 c. 1, 3 dan 5 d. 2, 3 dan 4 e. 2, 3 dan 5

(22)

Paradigma Baru PKn-SD 17 Daftar Pustaka

Apple, Michael W. dan Beane, James. (1995). Democratic Schools. U.S.A. Association for Supervision and Curriculum Development.

Arcaro, Jerome S. (Terj. 2005) . Pendidikan berbasis Mutu, Prinsip – Prinsip Perumusan dan tata Langkah Penerapan, (Quality in Education: An Implementation Handbook) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Asmstrong, Thomas. (2000). Multiple Intelligence in the Classroom, (terj.) Sekolah Para Juara, menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan (2004),, Bandung:

Kaifa .

Dewey, John. (1948). Reconstruction in Philosophy. Boston. Beacon Press.

Gardner, Howard. (1983). Frames of Mind: Theory of Multiple Intelligences. New York:Basic Books.

Ginting, Abdorrakhman (2008), Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran, Bandung, Humaniora

Holmes, Emma E. (1991). Democracy in Elementary School Classes. Social Education Research.

Larson, Bruce. (1999). Influences on Social Studies Teachers’ Use of Classroom Discussion. The Social Studies (May/June).

Mardiati, Yayuk. (2008). Integrating Indonesian Literature Into Social Studies Teaching and Learning. International and Cultural Conference of Aceh 2008. The University of Hawaii at Manoa. U.S.A.

Muchtar, Imam; Suhanto, Ign; Djoko Lesmono, A (2010). Kamus menjadi Guru Profesional, FKIP- Universitas Jember.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan Pendidikan dasar dan menengah, PT. Binatama Raya, Jakarta

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan Pendidikan Dasar dab menengah, PT.

Binatama Raya, Jakarta

Sekretariat Jenderal MPR RI (2006), Panduan Pemasyarakatan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Sekjen MPR-RI, Jakarta

Sekretariat Negara Republik Indonesia (1992), Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI 29 Mei UU No 12 tahun 2006 (2006) tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Pustaka

Yustisia, Yogyakarta.

(23)

Paradigma Baru PKn-SD 18 Glosarium

Globalisasi: Keadaan yang menggambarkan bahwa kita tidak bisa mengisolasi diri terhadap apa yang sedang terjadi di tempat lain di dunia (Joseph Stiglitz);

penguatan hubungan seluruh dunia yang jauh dari lingkungan sebagaimana jalan yang bercabang dibentuk dari peristiwa yang menjadi beberapa mil jauhnya, dan sebaliknya (Anthony Giddens).

Kelas demokratis: kelas yang mencerminkan nilai-nilai sebagai layaknya masyarakat demokratis yaitu; hak-hak (rights), tanggung jawab (responsibilities), serta menghargai diri sendiri dan orang lain (self-respect dan respect for others,. Emma E. Holmes (1991).

Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan minimum yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa untuk standar kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran ; penjabaran standar kompetensi peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding dengan standar peserta didik; merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi, dan materi pokok.

Standar kompetensi: kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki peserta didik; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran; kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester; standar kompetensi terdiri atas sejumlah kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara nasional.

Pemikiran rasional: pemikiran yang berdasarkan pada akal sehat

Pendidikan: Proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik me-nyangkut daya pikir, atau daya intelektual, maupun daya emosional atau perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya (John Dewey).

Media Audio visual: media yang menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata manusia, gambar juga dapat tetap maupun bergerak, seperti slide proyektor yang dipadukan dengan tape recorder, televisi, film strip proyektor, video player, DVD player dan computer.

Warga negara: warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang – undangan (UU No 12 tahun 2006)

Kewarganegaraan: segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara (UU No 12 tahun 2006)

(24)

Paradigma Baru PKn-SD 19 Umpan Balik :

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian akhir materi unit ini. Bandingkan jawaban Anda dengan Kunci jawaban yang tersedia untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi subunit ini. Interpretasi tingkat penguasaan yang Anda capai adalah dengan rumus:

Jumlah soal benar

________________ X 100%

Jumlah soal

Jawaban Anda 90 % - 100 % sesuai dengan kunci jawaban = baik sekali Jawaban Anda 80 % - 89 % sesuai dengan kunci jawaban = baik Jawaban Anda 70 % - 79 % sesuai dengan kunci jawaban = cukup Jawaban Anda < 70 % yang sesuai dengan kunci jawaban = kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, berarti Anda telah mencapai kompetensi yang diharapkan pada subunit ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan materi subunit selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap materi ini masih di bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi subunit ini, terutama bagian yang belum Anda kuasai

(25)

Paradigma Baru PKn-SD 20 Kunci Jawaban Tes Formatif 1:

1. b 2. a 3. a 4. e 5. d

(26)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 21

Unit 2

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Yayuk Mardiati Ign. Suhanto 2.1 Pendahuluan

Para mahasiswa BPJJ yang kami banggakan pada Unit 2 ini Anda akan diajak membahas tentang pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran PKn, terutama yang terkait dengan penggunaan metode/pendekatan, media, dan penilaian menarik untuk didiskusikan. Pada kesempatan ini Anda diajak mencermati, mengkritisi dan mendiskusikan dengan teman, tutor atau siapapun yang berkepentingan untuk upaya peningkatan kualitas pembelajaran PKn.

Setelah selesai mencermati, mengkritisi dan mendiskusikan baagian ini, diharapkan Anda dapat menguasai model-model pembelajaran PKn. Secara khusus, diharpkan mampu:

1 Menjelaskan konsep model pembelajaran PKn

2 Menguraikan model pembelajaran PKn di kelas rendah

3 Mencermati contoh-contoh model pembelajaran PKn di kelas rendah 4 Mengembangkan model pembelajaran PKn di kelas tinggi

5 Menerapkan model pembelajaran PKn di kelas tinggi

Modul ini membahas kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut: 1) Model Pembelajaran PKn di Kelas Rendah; 2) Model Pembelajaran PKn di kelas tinggi.

Untuk membantu Anda menguasai sekaligus mempraktekkan materi sebagaimana tercantum dalam tujuan di atas, maka dalam bahan ajar ini uraikan materi sesuai dengan topik dalam kegiatan belajar.

Selain itu, diberikan soal-soal latihan dan tugas-tugas yang harus Anda kerjakan; Rangkuman materi dan soal-soal formatif. Sedangkan untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar dan penguasaan materi modul ini, Anda diajak mengerjakan soal-soal formatif.

(27)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 22 Agar Anda dapat berhasil dengan baik dalam mempelajari bahan ajar ini bacalah dan ikuti petunjuk di bawah ini secara seksama:

a. Bacalah secara kritis bagian pendahuluan modul ini agar Anda benar-benar memahami apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari bahan ajar ini,

b. Cermati uraian materi ddan temukan kata-kata kunci yang Anda anggap penting, bila perlu Anda cari arti dan maknanya dalam kamus atau glosarium dalam vahan ajar ini,

c. Pahami setiap pengertian yang terdapat dalam bahan ajar ini sesuai dengan kemampuan sendiri dan diskusi dengan sesama mahasiswa, guru, dan orang lain yang mempunyai perhatian terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn.

d. Mantapkan penguasaan Anda melalui kegiatan simulasi dengan mengaplikasikan materi yang dibahas dalam bahan ajar ini.

2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn

Istilah atau konsep tentang model tentunya tidak asing baggi kita. Model sering diartikan sebagai pola, contoh, acuan, atau ragam dari sesuatu pruduk tertentu.

Sedangkan yang kaitan dengan pembelajaran, istilah model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual suatu tipe atau desain yang digunakan pedoman untuk melakukan kegiatan pembelajaran; deskripsi atau analogi yang berguna bagi proses visualisasi yang tidak dapat diamati; sistem asumsi-asumsi, data-data dan referensi- referensi yang digunakan menggambarkan obyek peristiwa secara sistematik; desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, realitas yang disederhanakan; deskripsi dari sistem yang mungkin/imajiner dan penyajian yang diperkecil dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat-sifat aslinya.

2.2.1 Model Pembelajaran PKn SD di Kelas Rendah

Berkenaan dengan pelaksanaan model pembelajaran di persekolahan, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses telah mengubah paradigma proses pendidikan, yaitu dari pengajaran (teaching) ke pembelajaran (learning). Perubahan menggambarkan proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar lebih menekankan pada pemberdayaan peserta didik. Upaya memberdayakan siswa pada jenjang pendidikan dasar, khususnya kelas rendah, baik yang menyangkut ranah kognisi, afeksi, dan

(28)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 23 psikomotor memerlukan model pembelajaran Aktif, Inspiratif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).

2.2.1.1 Model Pembelajaran PAIKEM PKn SD

Sesuai dengan karakter siswa kelas rendah (yaitu kelas 1, 2, dan 3), penerapan model pendekatan pembelajaran PAIKEM dipandang lebih tepat. Penerapan model pendekatan PAIKEM diharapkan dapat mendukung penyajian materi-materi ajar yang bersifat tematik, yaitu bagaimana guru mengkaitkan materi PKn dengan materi- materi lain yang mempunyai tema sama, sehingga lebih menarik perhatian siswa.

Berdasarkan uraian tersebut, timbul pertanyaan mengapa pendekatan tematik dipandang sesuai dengan siswa kelas rendah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sejumlah alasan yang dapat dikemukakan, yaitu di lihat dari perkembangan psikologis sebagaimana dikemukakan oleh Piaget, bahwa siswa SD ada dalam rentang usia 6 s.d 12 tahun. Pada rentang usia ini anak berada pada tingkat “operasi konkrit” (concrete operation) dan awal dari “operasi formal” (formal operation) yang ditandai dengan mulai berkembangnya abstraksi dalam pemikiran.

Dilihat dari lingkungan kehidupannya, seorang anak SD kelas rendah masih dominan berada dalam lingkungan rumah dan lingkungan sekitar termasuk sekolah.

Berdasarkan alasan-alasan itulah, maka Hanna berpendapat atau berteori bahwa pendekatan ini dkatakan sebagai expanding environment.

Salah satu teknik dalam mengimplementasikan pendekatan tematik pada pembelajaran PKn dapat menggunakan model jaringan tema (webbing). Gambar berikut merupakan contoh “Pohon Keluarga” sebagai tema sentral materi PKn.

PKn: Pohon Keluarga

voices.mysanantonio.com

Bahasa Indonesia: Menulis cerita tentang kegiatan keluarga.

Membaca cerita tentang sebuah keluarga.

Matematika: Menyebutkan berapa orang yang tinggal dalam keluarga.

Menyebutkan menyebutkan jumlah anggota keluarga misalnya saudara

kandung/angkat/tiri dalam keluarga.

Penjas: Pentingnya

kegiatan olah

raga/menari/main catur bersama keluarga untuk kesehatan phisik dan mental.

IPA: Membandingkan jumlah antara keluarga siswa satu dengan keluarga siswa lainnya.

(29)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 24 Pada praktiknya teknik webbing dapat dikembangkan menjadi dua model, yaitu:

1) Web relationship, yaitu terjadi keterkaitan saling berhubungan dalam jaringan yang komplek (Web relationship):

Contoh:

Standar kompetensi : Menampilkan nilai-nilai Pancasila

Kompetensi dasar : -Mengenal nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari -Melaksanakan perilaku jujur dalam kegiatan sehari–hari Kelas : II (Dua)

Semester : 2 (dua) Jenjang pendidikan : SD

Tema kejujuran sebagai tema sentral ini berhubungan dengan nilai–nilai dalam sila–sila Pancasila yang lain (double) seperti ketaatan, kesetiaan, keadilan, kemanusiaan, kesetiakawanan sosial dan lain-lain. Misalnya, dalam “koperasi Kejujuran “ yang dibuka untuk peserta didik sebagai pembelinya, koperasi tersebut menjual alat-alat keperluan peserta didik seperti buku, pensil, bolpoin, penggaris, tip-ex, buku gambar dan lain-lain. Dalam koperasi tidak ada yang menjaga atau sebagai penjualnya. Bagi pembeli yang masuk koperasi harap absen sebagai pengunjung. Barang-barang yang sudah diberi label harga dapat dibeli dengan uang pas yang dimasukkan dalam kaleng. Dari hasil penjualan dan absen pengunjung yang masuk guru PKn dapat mengetahui nilai-nilai kejujuran, ketaatan, kesetiaan, keadilan, kemanusiaan, kesetiakawanan sosial.

2) Web connected, yaitu model keterhubungan, dimana materi yang ada dalam mata pelajaran PKn temannya dijumpai dalam mata pelajaran lain.

2.2.1.2 Model Pembelajaran Talking Stick

Selain pendekatan tematik, pendekatan lain yang dapat digunakan di kelas rendah adalah pendekatan permainan tongkat berbicara/bergilir (talking stick).

Model pembelajaran talking stick ini diadopsi dari tradisi orang Indian (native American) yaitu menggunakan tongkat untuk berceritera atau mengijinkan setiap peserta berbicara pada pertemuan antarsuku (Locust, 1998). Strategi ini kemudian

(30)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 25 dipakai guru untuk pendekatan dalam proses belajar mengajar pada hampir semua pelajaran termasuk IPS dan PKn.

Tujuan pendekatan model talking stick, selain menciptakan PAIKEM, juga mendidik siswa untuk berlatih berdemokrasi dalam suasana kelas yang demokratis.

Saat pembelajaran berlangsung, siswa dilatih menghargai nilai-nilai persamaan hak (equality), misalnya ketika seorang siswa memegang tongkat, maka ia akan diberi kesempatan (opportunity) untuk berbicara mengeluarkan pendapat. Selain itu siswa juga dilatih untuk bisa berbuat adil, yaitu dengan cara bergantian (take turn) dalam menjawab pertanyaan. Semua nilai tersebut merupakan bagian dari nilai-nilai dan semangat demokrasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat Indonesia.

Langkah-langkah aplikasi pembelajaran PKn dengan model talking stick dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Sebelum memulai pelaksanaan proses pembelajaran, guru terlebih dahulu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar yang akan diajarkan.

2) Guru menayangkan atau membacakan cerita rakyat (folklore) atau membacakan/mempelajari tema-tema, misalnya tema lingkungan rumah dan lingkungan sekolah sesuai kompetensi dasar yang akan diberikan.

3) Guru menyediakan sebuah tongkat sebagai alat untuk menunjuk siswa, yaitu ketika tongkat diedarkan secara estafet hingga ada tanda berhenti, bagi siswa yang memegang atau membawa tongkat, maka yang bersangkutan harus menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

2.2.2 Model Pengembangan Pembelajaran PKn di Kelas Tinggi

Model pembelajaran di kelas tinggi merupakan model pembelajaran yang gunakan dalam proses pembelajaran kelas IV sampai dengan VI. Model ini dimaksudkan agar peserta didik dapat menyerap materi pembelajaran, baik ranah kognitif, psikomotor, dan afektif secara optimal, sebab siswa kelas tinggi pada dasarnya sudah pandai berkomunikasi baik melalui membaca, menulis, maupun berdiskusi. Model pembelajaran PKn yang demokratis pada siswa kelas tinggi menekankan pendekatan berdiskusi menggunakan strategi cooperative learning tipe think-pair-share.

(31)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 26 2.2.2.1 Model Pembelajaran Cooperative Learning: Think-Pair-Share

Pendekatan pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh Lyman (1981) dari Universitas Maryland, Amerika Serikat. Pembelajaran Cooperative Learning:

Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran dengan cara siswa dikelompokkan menjadi beberapa grup diskusi dalam kelas. Pembentukan ini berujuan untuk meningkatkan partisipasi aktip siswa dalam mengekspresikan berbagai gagasan, curahan pendapat; menerima masukan yang imergen; dan menciptakan suasana saling menghargai.

Shepardson (1996) dan Kagan (1994) menyatakan bahwa aktivitas belajar kooperatip bertujuan untuk membangun akuntabilitas individu dalam masing- masing kelompok. Diskusi dalam cooperative learning: think-pair-share bertujuan memberikan kesempatan atau waktu berpikir (think time) kepada masing-masing anggota kelompok mengekspresikan berbagai gagasan dan curahan pendapatnya.

Hasssil diskusi kelompok kemudian disampaikan dalam diskusi antarkelompok (pair), sehingga siswa dapat membandingkan antara gagasan kelompok satu dan lainnya. Dengan demikian siswa dapat merasakan situasi diskusi dan menilai pendapat kelompok dari beberapa sudut pandang, serta dapat menemukan beberapa alternatif pemikiran. Perbedaan pendapat dalam proses diskusi juga dapat merangsang tumbuhnya gagasan dan pemikiran-pemikira kritis peserta. Proses diskusi memerlukan ketrampilan mendengarkan dan mengekspresikan gagasan, kritik dan menghormati harga diri atau martabat manusia (Shepardson 1996).

Sebagai aktifitas akhir dari pendekatan ini adalah berbagi (share) hasil diskusi dari masing-masing kelompok kelas. Berikut ini adalah langkah-langkah strategi cooperative learning: think-pair-share:

1) Guru membagi kelas ke dalam 4-6 kelompok kecil, disesuaikan dengan rasio kelas.

2) Guru memberitahu nama Team pada masing-masing kelompok, misalnya Team Mawar, Team Melati, Team Kenanga, Team Kamboja. Masing-masing kelompok bersifat heterogen yang akan terlibat aktip mendiskusikan suatu topik atau tema pelajaran terkait dengan kompetensi dasar.

3) Guru memberi arahan kepada masing-masing kelompok agar memilih salah satu siswa sebagai ketua Team sekaligus sebagai moderator dan bertanggung jawab atas kelompoknya.

(32)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 27 4) Guru memberitahu masing-masing kelompok supaya memilih salah satu siswa sebagai notulis yang bertanggung jawab mencatat jawaban anggota dari masing-masing kelompok.

5) Guru memberitahu bahwa tiap-tiap anggota Team setidak-tidaknya harus memberi kontribusi satu ide berdasarkan pertanyaan yang diberikan guru.

6) Guru memberitahu siswa bahwa melalui diskusi kelompok kecil siswa akan membandingkan pandangan atau gagasan dengan kelompok lain (pair).

7) Guru memberitahu untuk berbagi hasil diskusi keseluruh kelas (share) melalui notulis yang sudah dipilih masing-masing kelompok.

8) Selama proses diskusi guru membimbing siswa tentang pentingnya memelihara kerja sama, konsep pemimpin, serta pentingnya peran serta akuntabilitas individu atas keberhasilan kelompoknya.

Gambar berikut merupakan contoh model pembelajaran cooperative learning: think-pair-share yang diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast Asia: Community Legal Advisor Educator Manual, oleh Lasky, Otto, dan Morrish (editor). 2002. Open Society Institute.

Gambar diadopsi dari Bridges Across Borders Southeast Asia

Cooperative Learning disebut juga berlajar dari kerjasama, yaitu pembelajaran dengan bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan seperangkat intruksiatau perintah-perintah pada kelompok kecil, sehingga siswa dapat menjalin kerjasama untuk memaksimalkan kerja setiap kelompok. Prinsip model pembelajaran ini untuk menciptakan saling ketergantungan positif antarsiswa untuk mencapai tujuan dengan berpedoman bahwa tujuan akan tercapai jika keberhasilan diraih oleh setiap.

Kerja sama (cooperative learning), sebagai Strategi Pembelajaran yang menekankan pada bentuk pendekatan proses kerja sama dalam suatu kelompok

(33)

Model-model Pengembangan Pembelajaran PKn-SD 28 yang terdiri atas 3-5 siswa untuk mempelajari suatu materi pembelajaran tertentu atau khusus hingga tuntas. Peserta didik didorong untuk bekerja sama secara maksimal sesuai dengan keadaan heterogenitas kelompoknya. Bagi siswa yang cepat belajarnya membantu temannya lambat belajarnya, karena dalam pendekatan ini keberhasilan individu menjadi keberhasilan kelompok, atau sebaliknya, kegagalan individu merupakan kegagalan kelompoknya juga. Model kerja sama dapat berbentuk mengerjakan tugas-tugas dari guru, sekolah atau memberikan motivasi. Menurut Slavin (dalam Abrani dan Chamber, 1996), kerja sama meliputi tiga perspektif, sebagai berikut.

1) Perspektif motivasi, yaitu penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu.

2) Perspektif sosial, artinya melalui kerja sama setiap siswa akan saling membantu dalam belajar, karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerjasecara tim dengan mengevaluasi kekurangan- kekurangan dan kelebihan-kelebihan sendiri oleh kelompok merupakan iklim yang baik, karena setiap kelompok ingin semuanya berhasil.

3) Perspektif perkembangan kognitif, artinya dengan adanya interaksi antaranggota kelompok mendorong setiap peserta didik bersaha memahami dan mencari informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya dalam kelas dan kelompoknya. Siswa yang cerdas dan kurang cerdas dicampur secara seimbang dalam suatu kelompok, sehingga keberhasilan individu akan ditentukan oleh kelompoknya atas dasar saling merima dan memberi, membantu dan mengisi (elaborasi kognitif).

Pendekatan lain yang dapat diterapkan di kelas tinggi adalah Praktik Belajar PKn Berbasis Portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya seorang siswa. Sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasinya; perkembangan siswa dalam kemampuan berfikir; pemahaman siswa atas materi pokok; kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan dan sikap siswa terhadap mata pelajaran tertentu; dan laporan singkat yang dibuat seorang siswa setelaah melaksanakan kegiatan.

Portofolio dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

1) Portofolio kerja: berupa hasil proses kerja mandiri atau sekelompok siswa dimulai dari draf, pekerjaan yang belum selesai, pekerjaan terbaik. Hasil karya

Gambar

Gambar  berikut  merupakan  contoh  model  pembelajaran  cooperative  learning:  think-pair-share  yang  diadopsi  dari  Bridges  Across  Borders  Southeast  Asia: Community Legal Advisor Educator Manual, oleh Lasky, Otto, dan Morrish  (editor)

Referensi

Dokumen terkait

Pendahuluan Dosen memberikan gambaran umum bab yang akan dipelajari Diskusi, Informasi, tanya jawab Power Poin/buku teks 10 menit. Penyajian 1.Mengkaji berbagai inovasi

Pengantar Berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan buku ajar matematika tentang materi pecahan untuk SD/MI dengan menggunakan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

Desain model pembelajaran reflektif melalui buku siswa untuk pemahaman konsep demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang disampaikan dalam buku siswa

Perkembangan teknologi yang menimbulkan kegoncangan para remaja yang memiliki mental untuk menerima perubahan baru. Media massa seperti film dan buku bacaan yang

Berkaitan dengan nilai-nilai sosial budaya atau adat istiadat masyarakat Kuta baik dalam bentuk buku pelajaran sejarah budaya Indonesia, kajian, artikel ilmiah,

Dalam penerimaan teman sebayanya anak harus mampu menerima persamaan usia, menunjukkan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain dari kelompok yang lain, dapat

Selain koherensi internal, kurikulum untuk program studi/ jurusan kependidikan harus memperhatikan pula keterkaitan kontennya baik pedagogi umum, pedagogi khusus maupun konten

menyampaikan pendapat. Penilaian pembelajaran dilakukan juga melalui penugasan. Penugasan menjadi stimulus bagi para siswa dalam penanaman nilai-nilai kedisiplinan, ketertiban