• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Strategi Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten Lima

4.4.3. Model Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten

pengembangan usaha sapi potong dalam rangka menunjang swasembada daging sapi potong maka disusun model pengembangan sapi potong di Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai berikut :

4.4.3.1 Pemberdayaan melalui Kelompok

Konsep ini dirancang untuk percepatan swasembada daging sapi melalui pemberdayaan kelompok (kelompok perbibitan sapi potong), setiap kelompok beranggotakan 20-25 orang, dengan populasi awal 40-50 ekor induk bunting atau siap bunting. Ternak sapi dipelihara dalam suatu kandang kelompok (corporate farming) dalam satu kawasan (model pengembangan kawasan) agar memudahkan pengawasan, pembinaan, dan pelayanan IB/keswan. Kelompok didampingi seorang pendamping (manejer) dari sarjana peternakan atau kedokteran hewan yang tugas dan fungsinya adalah; (1) melakukan pendampingan kelompok dalam pengembangan sapi potong, (2) melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anggota kelompok dan masyarakat sekitarnya, (3) melakukan pelatihan pada anggota kelompok tani- ternak baik dalam aspek teknis, kewirausahaan, perencanaan usaha, dinamika kelompok, pemasaran dan pengolahan hasil, (4) membimbing dan membina petani- ternak dalam usaha kelompok untuk dapat mengidentifikasi dan mengatasi perma- salahan yang dihadapi, (5) menumbuhkan jiwa kewirausahaan kelompok tani-ternak dalam pengembangan usaha, (6) melakukan seleksi terhadap ternak sapi potong

bersama dengan anggota kelompok, dan (7) bersama dengan anggota kelompok ikut melakukan kegiatan budidaya ternak sapi potong. Pendamping bekerja secara professional, untuk tahun pertama mendapat honor dari pemerintah dan tahun berikutnya dari perkembangan usaha yang dijalankan.

4.4.3.2 Pemodalan Usaha

Sumber pemodalan berasal dari pemerintah melalui dana penguatan kelom- pok, untuk tahun 2009 disediakan sebanyak 220 paket pengembangan sapi potong masing-masingnya sebesar Rp 325 juta per paket. Seleksi terhadap kelompok yang akan menerima bantuan, kelompok pendamping, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh team yang terdiri dari Perguruan Tinggi, Ditjen Peternakan dan Dinas Peternak- an Propinsi/Kabupaten/Kota. Pengembalian cicilan dan bunga dilakukan lewat Bank yang ditunjuk berkoordinasi dengan pengurus kelompok dan digunakan untuk membentuk kelompok perbibitan sapi potong yang baru (sub-kelompok inti). Dari cicilan bunga 40% digunakan untuk perkembangan kelompok usaha sapi potong, 40% digunakan untuk koperasi kelompok, dan 20% digunakan untuk dana operasional usaha. Keuntungan usaha perbibitan dihitung setiap tahun, 40% dari keuntungan usaha diberikan pada pengelola, 40% dibagikan pada anggota kelompok dan 10% untuk dana operasional kelompok, dan 10% untuk kas koperasi kelompok. 4.4.3 Kelembagaan Agribisnis Kelompok

Kelembagaan agribisnis kelompok dibedakan atas kelembagaan agribisnis hulu, usaha budidaya, hilir, dan jasa penunjang. Kelembagaan agribisnis secara rinci disajikan pada Tabel 39.

4.4.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Usaha Sapi Potong Berdasarkan hasil penelitian tahap satu, dua, tiga dan wawancara dengan responden penelitian tahap empat, diperoleh beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan usaha sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota. Faktor- faktor tersebut terdiri dari : 1) faktor internal yang meliputi strengths (kekuatan),dan weaknessis (kelemahan), 2) faktor eksternal yang meliputi treaths (peluang) dan opportunities (ancaman).

4.4.4.1 Faktor Internal

Beberapa faktor internal yang berpengaruh terhadap pengembangan usaha sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari kekuatan (strengths) dan

Tabel 39 Kelembagaan agribisnis kelompok usaha perbibitan

Kegiatan Uraian

1. Agribisnis Hulu a. Bibit

- Sumber bibit dari anggota dan dari luar kelompok yang dibeli (koordinasi antara pengurus, pendamping/instansi terkait

b.Sarana produksi dan obat-obatan

- Sarana produksi dikelola kelompok melalui unit koperasi kelompok

- Sumber penyediaan obat-obatan kordinasi dengan petugas keswan dan koperasi kelompok

2. Usaha Budidaya a. Lahan

- Lahan disediakan oleh kelompok

- Luas kandang dan lahan kebun rumput disesuaikan dengan kebutuhan

b.Skala Usaha disesuaikan dengan perkembangan usaha, tahap awal 40-50 ekor induk betina

c. Perbibitan

- Seleksi selalu dilakukan untuk replacement stock - Culling terhadap induk yang tidak produktif - Recording dilakukan secara teratur

d.Pembuatan kandang

- Lokasi aman dari banjir, longsor, maling

- Pemilihan bahan kandang kuat, murah, dan tersedia dilokasi

- Biaya pembuatan kandang dari bantuan pemerintah dan swadaya anggota

e. Pakan

- Lahan hijauan ditanami dengan hijauan unggul

- Limbah tanaman berupa jerami diolah (fermentasi) dan disimpan sebelum digunakan

f. Penyakit

- Penanganan penyakit dan vaksinasi kordinasi dengan petugas kesehatan hewan

g.Inseminasi Buatan

- Pelaksanaan IB kordinasi dengan petugas IB swasta atau mandiri atau anggota kelompok yang sudah dilatih

3. Agribisnis Hilir a. Panen dan Pasca panen

- Penjualan ternak berupa bakalan, ternak siap potong - Pengolahan limbah ternak dilakukan oleh kelompok usaha

dan tambahan hasil yang diperoleh menjadi tambahan pendapatan kelompok usaha

b.Pemasaran, dilakukan oleh kelompok

4. Jaringan Kelembagaan Kerjasama kelompok berupa kemitraan dengan Swasta Perguruan Tinggi dan lembaga/instansi lain

Sumber : Hasil pengolahan data primer (2009)

kelemahan (weaknessis). Faktor kekuatan meliputi : 1) daya dukung lahan, 2) letak geografis, 3) wilayah basis sapi potong, 4) ternak sapi dipelihara bersama usahatani lainnya (IFS), 5) motivasi peternak untuk memelihara sapi potong, dan 6) adanya

kelompok tani-ternak sapi pembibitan. Faktor kelemahan meliputi : 1) keterbatasan modal usaha, 2) beternak sebagai usaha sambilan, 3) rendahnya pengetahuan dan keterampilan peternak, 4) penggunaan faktor produksi belum optimal, 5) adopsi teknologi rendah, dan 6) sistem pemasaran yang belum memadai.

4.4.4.2 Faktor Eksternal

Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan usaha sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari peluang (treaths)dan ancaman (opportunities). Faktor peluang meliputi : 1) permintaan pasar, 2) otonomi daerah, 3) perkembangan IPTEK, 4) berfungsinya Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIB-D) Limbukan kabupaten Lima Puluh Kota, 5) harga produk yang relitif stabil, dan 6) dukungan pemerintah. Faktor ancaman meliputi : 1) produk luar/impor, 2) alih fungsi lahan pertanian, 3) persaingan antar daerah dalam menghasilkan sapi potong, 4) gangguan reproduksi dan kesehatan ternak, 5) stabilitas penyediaan bibit/layanan IB, dan 6) tingginya pemotongan ternak betina produktif.

4.4.4.3 Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal

Evaluasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha sapi potong (Lampiran 4), diperoleh hasil evaluasi yang terdiri dari Internal Faktor Evaluation (IFE) dan External Faktor Evaluation (EFE).

Matrik evaluasi faktor internal pengembangan sapi potong di kabupaten Lima Puluh kota disajikan pada Tabel 40.

Tabel 40 Matrik Evaluasi Faktor Internal Pengembangan Sapi Potong di kabupaten Lima Puluh Kota

Faktor Internal Bobot Ranking Skor

Kekuatan Daya dukung lahan 0,071 4 0,284

Letak geografis 0,077 3 0,231

Adanya wilayah basis sapi potong 0,098 3 0,294 Ternak sapi dipelihara bersama usahatani lainnya (IFS) 0,094 3 0,282 Tingginya motivasi peternak memelihara sapi potong 0,094 3 0,282 Adanya kelompok tani-ternak sapi pembibitan 0,099 2 0,198

Sub Total 1,571

Kelemahan Keterbatasan modal usaha 0,068 3 0,204 Beternak sebagai usaha sambilan 0,071 3 0,213 Rendahnya pengetahuan dan keterampilan peternak 0,074 2 0,148 Penggunaan faktor produksi belum optimal 0,085 2 0,170 Adopsi teknologi rendah 0,074 2 0,148 Sistem pemasaran belum memadai 0,095 3 0,285

Sub Total 1,168

Total 1,000 2,739

Hasil analisis faktor internal menunjukkan nilai positif, hal ini berarti wilayah kabupaten Lima Puluh kota mempunyai kekuatan yang lebih menonjol dari pada kelemahan, dengan kekuatan terbesar terletak pada adanya wilayah basis sapi potong dan daya dukung lahan untuk pengembangan usaha sapi potong. Kelemahan berupa bargaining positon peternak rendah, dan beternak sebagai usaha sambilan.

Hasil analisis faktor eksternal (Tabel 41) menunjukkan nilai positif, dan peluang lebih besar dari ancaman. Peluang terbesar diperoleh karena adanya Balai Tabel 41 Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Pengembangan Sapi Potong di

kabupaten Lima Puluh Kota

Faktor Eksternal Bobot Ranking Skor

Peluang Permintaan pasar 0,099 3 0,297

Otonomi daerah 0,068 3 0,204

Perkembangan IPTEK 0,074 3 0,222

Berfungsinya BIB limbukan kabupaten Lima Puluh Kota 0,089 4 0,356 Harga produk yang relatif stabil 0,094 3 0,282

Dukungan pemerintah 0,076 4 0,304

Sub Total 1,655

Ancaman Produk luar/impor 0,091 3 0,273

Alih fungsi lahan 0.055 3 0,165

Persaingan antar daerah dalam menghasilkan sapi potong 0,097 2 0,194 Gangguan reproduksi dan kesehatan ternak 0,101 3 0,303 Stabilitas penyediaan bibit dan layanan IB 0,064 2 0,128 Tingginya pemotongan ternak betina produktif 0,092 3 0,276

Sub Total 1,339

Total 1,000 3,004

Sumber : Hasil pengolahan data primer (2009)

Inseminasi Buatan Daerah (BIB-D) Limbukan kabupaten Lima Puluh Kota dalam menghasilkan bibit, dan dukungan pemerintah. Terdapat beberapa ancaman yang perlu diperhatikan yakni gangguan reproduksi dan kesehatan ternak, serta pemo- tongan ternak betina produktif.

4.4.5 Alternatif Strategi Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Lima Puluh