• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program dan Kegiatan Pengembangan Sapi Potong d

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Strategi Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten Lima

4.4.7. Program dan Kegiatan Pengembangan Sapi Potong d

Untuk memperoleh rumusan program dan kegiatan yang tepat dilakukan metode Focus Group Discussion (FGD). FGD merupakan wawancara kelompok dari sejumlah individu dengan status sosial yang relatif sama, yang memfokuskan interaksi dalam kelompok berdasarkan topik yang akan dibicarakan. Dari hasil diskusi diperoleh rumusan program pengembangan usaha sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota sebagai berikut :

a. Pada prioritas strategi peningkatan modal usaha, dirumuskan program : (1) penguatan modal usaha, (2) menjalin kemitraan dengan instansi terkait, dan (3) penguatan lembaga keuangan mikro (LKM).

b. Pada prioritas strategi penerapan teknologi tepat guna berbasis petani-ternak dirumuskan program peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Program ini selama lima tahun kedepan diharapkan dapat menghasilkan 450 orang petani-ternak yang handal dan 50 orang petugas peternakan yang profesional.

c. Pada prioritas strategi pengembangan kawasan sentra pembibitan sapi potong dirumuskan program : (1) penataan kawasan sentra pembibitan, (2) penyedia- an bibit sapi potong yang baik, (3) pengembangan teknologi pakan, dan (3) pengendalian penyakit reproduksi dan kesehatan ternak.

d. Pada prioritas strategi meningkatkan efisiensi usaha, dirumuskan program : (1) optimalisai penggunaan sumberdaya, (2) peningkatan sarana dan prasarana pendukung.

e. Pada prioritas strategi optimalisasi fungsi kelompok dirumuskan program pembinaan kelompok yang berusaha dibidang peternakan.

Dari hasil diskusi dalam FGD, diperoleh rumusan program dan kegiatan pengembangan sapi potong di kabupaten Lima Puluh Kota dan dengan memperhati- kan kriteria SMART (Specific, Measurable, Aggressive but attainable, Result oriented, Time bound) dapat dirumuskan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1. Penguatan modal usaha dengan tiga kegiatan :

a. Monitoring dan evaluasi program bantuan yang sudah ada atau sedang ber- jalan. Monitoring dilakukan secara berkala setiap 6 bulan dan dievaluasi se- tiap tahun. Dari hasil monitoring dan evaluasi akan dapat diketahui kemajuan dan hambatan dalam implementasi program serta perbaikannya dimasa datang.

b. Optimalisasi bantuan yang sudah ada model kerjasama dengan perguruan ting- gi. Diharapkan dengan model ini akan terjadi transfer IPTEK dan perbaikan sumberdaya manusia dari perguruan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan selama lima tahun anggaran.

c. Perencanaan penguatan modal usaha kelompok kedepan. Kegiatan ini dila- kukan untuk mencari dan meningkatkan bantuan penguatan modal dari

program lain, sasarannya adalah untuk meningkatkan populasi ternak sapi potong dan kesejahteraan peternak.

2. Menjalin kemitraan dengan pihak luar, dengan satu kegiatan yakni pengembangan kemitraan dengan mitra lain dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama diberbagai bidang kegiatan usaha sapi potong. Kegiatan ini dapat dilakukan lima kali selama lima tahun anggaran dengan mitra dari luar wilayah kabupaten Lima Puluh Kota.

3. Pengembangan lembaga keuangan mikro (LKM), dengan satu kegiatan yaitu menumbuhkan dan mengembangkan lembaga keuangan mikro. Salah satu sasaran dari program BPLM adalah tumbuhnya lembaga keuangan mikro ditingkat kelompok tani-ternak, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan lembaga keuangan masyarakat dalam mengakses modal usaha. Kegiatan ini dilakukan selama lima tahun anggaran.

4. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) dengan tiga kegiatan sebagai berikut :

a. Inventarisasi sumberdaya petani-ternak yang ada, kebutuhan pendidikan dan pelatihan (Diklat) teknis untuk petani-ternak dan petugas pelatihan. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan Diklat sesuai dengan harapan dan manfaatnya. Kegiatan ini dapat dilakukan satu kali dalam satu tahun anggaran di wilayah kabupaten Lima Puluh Kota.

b. Penyusunan model pendidikan dan pelatihan, yang diharapkan agar kgiatan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Kegiatan ini dapat dilakukan satu kali dalam satu tahun anggaran.

c. Pembinaan petani-ternak dan petugas teknis, kegiatan ini dilakukan selama lima tahun anggaran dan ditujukan kepada 500 orang yang telah terlatih agar dapat mentranfer ilmu yang didapat kepada petani-ternak lain yang berada disekitar lokasi.

5. Penataan kawasan sentra pembibitan, dengan lima kegiatan sebagai berikut : a. Inventarisasi sumberdaya yang ada dan yang akan digunakan untuk pemba-

ngunan kawasan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan selama satu tahun anggaran dan dilaksanakan di kecamatan Luhak, Lareh Sago Halaban, Situjuah Limo Nagari, dan kecamatan Bukit Barisan.

b. Penyusunan model kawasan usaha, kegiatan ini dapat dilaksanakan satu kali dalam satu tahun anggaran.

c. Pembangunan fasilitas kawasan usaha, selama lima tahun anggaran diharap- kan dapat dibangun sebanyak 4 unit kawasan agribisnis, dan dilaksanakan di kecamatan Luhak, Lareh Sago Halaban, Situjuh Limo Nagari, dan kecamatan Bukit Barisan.

d. Penetapan standar mutu produk yang akan dihasilkan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi potong, terutama dalam sub-sistem pema- saran komoditi ternak. Kegiatan ini dapat dilaksanakan satu kali selama satu tahun anggaran.

e. Promosi produk yang dihasilkan, dengan tujuan untuk memperluas permintaan pasar. Kegiatan ini dapat dilaksanakan lima kali selama lima tahun anggaran dan dilaksanakan di dalam maupun di luar wilayah kabupaten Lima Puluh Kota.

6. Pengembangan kualitas bibit dengan satu kegiatan yakni peningkatan mutu gene- tik sapi lokal melalui bioteknologi, IB dan embrio transfer. Kegiatan ini dapat dilakukan selama satu tahun anggaran dan dilakukan di kecamatan Luhak, Lareh Sago Halaban, dan kecamatan Situjuh Limo Nagari.

7. Pengembangan pakan ternak sapi potong dengan tiga kegiatan sebagai berikut: a. Menjalin kemitraan dengan feed lotter seperti yang dikembangkan di daerah

Lampung dan Probolinggo. Terjalinnya hubungan antara peternak dengan feed lotter dalam penyediaan pakan dan pengolahan limbah industri. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun anggaran.

b. Pengembangan Complete feed berbasis bahan baku lokal. Bahan baku pakan lokal dapat dikembangkan sebagai sumber pakan ternak terutama untuk me- menuhi kebutuhan pakan dimusim kemarau. Kegiatan ini dapat dilakukan satu kali dalam satu tahun anggaran.

c. Pengembangan pola integrasi tanaman-ternak (ILS). Dengan pengembangan pola integrasi tanaman-ternak, limbah usahatani tanaman dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dengan menggunakan teknologi pengolahan pakan sehing- ga ketersediaan pakan dimusim kemarau lebih terjamin. Kegiatan ini dapat dilakukan satu kali dalam satu tahun anggaran.

8. Pengendalian penyakit reproduksi dan kesehatan hewan dengan kegiatan sebagai berikut :

a. Melakukan pengawasan secara rutin terhadap kesehatan dan melakukan vaksi- nasi secara teratur. Dengan melakukan pengawasan dan vaksinasi secara ter- atur penyakit yang akan timbul dapat dipantau lebih awal.

b. Karantina yang ketat sebelum ternak sapi dari luar atau impor disebar kema- syarakat. Kegiatan ini dapat dilakukan setiap tahun anggaran.

9. Optimalisasi penggunaan sumberdaya yang ada dengan kegiatan sebagai berikut : a. Optimalisasi penggunaan sumberdaya di tingkat peternak dengan mengguna- kan teknologi dan manajemen usaha. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun anggaran.

b. Optimalisasi penggunaan sumberdaya dengan metode integrasi tanaman-ternak Biaya pakan untuk ternak sapi potong dapat ditekan dengan memanfaatkan limbah hasil samping usahatani tanaman. Pola ini menerapkan pendekatan Low Eksternal Input Sustainable Agriculture (LEISA), dimana biaya pakan bahkan mendekati zero cost. Kegiatan ini dilakukan di setiap tahun anggaran. 10. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung, dengan tiga kegiatan sebagai ber-

ikut :

a. Inventarisasi sarana dan prasarana yang ada, dan tambahan sarana yang di- butuhkan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan satu kali dalam satu tahun ang- garan di kecamatan Luhak, Lareh Sago Halaban, Situjuh Limo Nagari, dan kecamatan Bukit Barisan.

b. Pembangunan sarana dan prasarana yang masih kurang dan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada, seperti Poskeswan, Pos IB, Pasar ternak. c. Pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana yang telah ada 11. Pembinaan kelembagaan kelompok, dengan dua kegiatan sebagai berikut :

a. Pembinaan kelembagaan yang bertujuan untuk memperkuat/mendukung ke- giatan pengembangan usaha sapi potong dengan upaya penumbuhan dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan jalinan kerjasama antar anggota dan antar kelompok, dan dapat dilaksanakan selama lima tahun anggaran.

b. Pengembangan kemitraan, dengan tujuan untuk meningkatkan volume usaha dan kerjasama diberbagai kegiatan dalam rangka menigkatkan efisiensi dan

efektifitas. Kegiatan ini dapat dilakukan lima kali selama lima tahun ang- garan, dengan lokasi di dalam maupun diluar wilayah kabupaten Lima Puluh Kota.

4.4.8 Implementasi Program dan Kegiatan Pengembangan Sapi Potong di