BAB IV HASIL PENELITIAN
4.8. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan
Sebagian besar responden memiliki sikap kategori sedang dan tindakan kategori kurang. Hasil tabulasi silang antara sikap dan tindakan responden terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan terhadap Penggunaan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam Melakukan Persalinan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 42 orang yang memiliki sikap baik, tindakan baik sebesar 50.0, sedang 19.0% dan kurang 31.0%. sedangkan dari 44 responden yang memiliki sikap sedang, tindakan baik sebesar 4.5%, sedang 22.7%, dan kurang 72.7%. Salah satu hal yang membuat beberapa responden memiliki sikap kurang baik terhadap penggunaan program Jampersal dalam
melakukan persalinan masyarakat enggan memanfaatkan Jampersal karena selalu ada persepsi bahwa segala sesuatu yang berbau gratis itu terkesan kualitas pelayananannya relatif kurang baik
PEMBAHASAN
5.1. Program Jampersal di Pemerintah Kabupaten Deliserdang
Pemerintah Kabupaten Deliserdang mulai merealisasikan Program Jaminan Persalinan sejak bulan Juni 2011 setelah sebelumnya sempat tertunda karena ketiadaan anggaran. Dinas Kesehatan Kabupaten Deliserdang berkoordinasi dengan seluruh puskesmas di Kabupaten Deliserdang untuk menjalankan Program Jaminan Persalinan. Saat ini, seluruh puskesmas dan praktek bidan mandiri yang mengikat kerja sama dengan Program Jaminan Persalinan sudah mulai melayani para ibu hamil sesuai yang diatur dalam petunjuk teknis pelaksanaan Program Jaminan Persalinan yang bertujuan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.
Wilayah pelayanan Program Jaminan Persalinan tidak dibatasi hanya pada daerah Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Namun, pasien diwajibkan untuk berobat ke salah satu bidan yang lebih dulu menanganinya. Dari daerah manapun bisa mendapatkan Program Jaminan Persalinan asal ibu tersebut memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Sasaran Program Jaminan Persalinan terutama ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dengan usia maksimal 28 hari. Dengan Program Jaminan Persalinan, para ibu hamil bisa meningkatkan pemeriksaan kehamilan dan mendapatkan pertolongan persalinan. Selain itu, Program Jaminan Persalinan juga meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan.
Warga Pemerintah Kabupaten Deliserdang sebagai pemanfaat Program Jaminan Persalinan tidak perlu khawatir karena biaya pemeriksaan kehamilan, proses melahirkan hingga pascapersalinan digratiskan oleh Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Program Jaminan Persalinan akan meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir. Semua biayanya ditanggung oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Deliserdang. Sebelum Program Jaminan Persalinan direalisasikan, Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Deliserdang sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu, Dinas Kesehatan juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada seluruh bidan yang diikutsertakan dalam program dan mempersiapkan sarana dan prasarana.
5.2. Karakteristik Responden
Dari hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan usia ≥ 29 tahun yaitu sebesar 54,7%. Dilihat dari umur ibu yang menjadi responden pada penelitian ini, sebagian besar berada pada kategori dewasa muda (21-40 tahun). Menurut Gunarsa (1991), dimana usia dapat berpengaruh terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik, karena usia yang semakin tua, maka semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya
Sebagian besar tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden tergolong menengah yaitu tamat SMP dan SMA (74,4%), bahkan masih ada yang
tidak sekolah /tidak tamat SD (19,8%). Sementara Tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi hanya sebesar 5,8%. Menurut Soewondo dan Sadli (1990), pendidikan formal sangat penting karena dapat membentuk pribadi dengan wawasan berfikir yang lebih baik. Dengan demikian semakin tinggi tingkat pendidikan formal seseorang maka ia akan lebih banyak menyerap pengetahuan tentang kesehatan, dan hal ini akan berdampak positif terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Dan sesuai dengan teori Green (1980) dalam Notoatmodjo, (2012) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya perubahan perilaku kesehatan.
5.3. Sumber Informasi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa informasi tentang program jaminan persalinan yang diperoleh responden berasal dari berbagai sumber seperti : media elektronik (TV, radio), media cetak (surat kabar, brosur), dokter, perawat /bidan, kader kesehatan, keluarga, dan tetangga/teman. Namun dari hasil penelitian diperoleh sumber informasi tentang program jaminan persalinan paling banyak diperoleh melalui perawat/bidan. Sementara yang paling sedikit adalah media cetak (surat kabar, brosur) dan tetangga/teman. Data ini menunjukkan bahwa peran perawat/bidan masih sangat besar dalam penyebarluasan informasi tentang program jaminan persalinan.
Notoatmodjo (2012), mengatakan bahwa keberadaan media informasi tentang kesehatan akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang kesehatan. Komunikasi massa adalah penggunaan
media massa untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi kepada khalayak atau masyarakat Penyediaan informasi tentang program jaminan persalinan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, merubah sikap menjadi positif, serta bagaimana promosi memprediksi perilaku.
Notoatmodjo (2012), juga mengatakan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh orang yang didapat secara formal dan informal.
Pengetahuan formal diperoleh dari pendidikan sekolah sedangkan pengetahuan informal diperoleh dari luar sekolah. Selain itu, pengetahuan juga dapat diperoleh dari media informasi yaitu media cetak seperti buku-buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain, juga dari media elektronika seperti televisi, radio, dan internet.
5.4. Perilaku 5.4.1. Pengetahuan
Pengetahuan yaitu hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari pengalaman hidup lainnya.
Pengetahuan yang didapatkan akan menjadi sikap sebagai reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang Program Jampersal berada pada kategori kurang yaitu sebesar 57,0%, sementara pengetahuan kategori baik hanya sebesar 16,3%. Hasil tersebut
senada dengan Rasyid, dkk., (2012), skor pengetahuan responden tentang Jampersal rata-rata 65,21, yang artinya rata-rata responden memiliki tingkat pengetahuan cukup.
Qomariyah (2012), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan baik tentang jaminan persalinan, yaitu sebesar 6,3%, pengetahuan cukup 29,4%, dan pengetahuan kurang 66,3%. Sehingga Qomariyah menyimpulkan bahwa sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan kurang terhadap program jaminan persalinan dan seluruh ibu bersikap menerima program jaminan persalinan. Informasi dan sosialisasi program jaminan persalinan oleh tenaga kesehatan terhadap masyarakat sangatlah penting sehingga masyarakat lebih tahu terhadap program jaminan persalinan. Hasil penelitian tersebut berbeda dengan Febrianti (2012), dimana tingkat pengetahuan masyarakat sebagian besar berada pada kategori tinggi, hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan ibu-ibu tentang pesan dari iklan layanan masyarakat Jampersal sepenuhnya memahami dan mengerti.
Banyaknya responden yang memiliki tingkat pengetahuan kategori kurang dikarenakan sebagian besar pertanyaan tentang Jaminan Persalinan (Jampersal), sasaran dari program jaminan persalinan, jenis pelayanan jaminan persalinan di tingkat pertama (puskesmas), dan jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) tidak ada yang tahu secara lengkap. Hal ini menunjukkan rendahnya pengetahuan responden tentang Program Jampersal, yang bisa terjadi karena kurangnya penyuluhan yang mereka terima, meskipun kebanyakan responden mengaku memperoleh informasi tentang Program Jampersal dari perawat /bidan.
Dari penelitian yang dilakukan sosialisasi pihak Puskesmas dengan masyarakat tidak berjalan dengan baik. Ini dikarenakan tidak adanya pertemuan
formal dan rutin antara pihak Puskesmas dengan masyarakat terkait tentang sosialisasi program Jampersal. Puskesmas sendiri tidak melakukan sosialisasi mengenai program Jampersal langsung kepada masyarakat atau dalam hal ini langsung kepada ibu hamil.
Diterapkannya program Jampersal haruslah memperoleh tanggapan positif dari para pelaksananya. Dibutuhkannya pelaksana yang ramah dan terbuka untuk menyampaikan setiap informasi tentang program Jampersal dan pelayanan yang akan diberikan akan menjamin pelaksanaan program yang berjalan maksimal. Pelaksana program Jampersal dapat mengkreasikan cara mereka untuk melakukan pendekatan dan promosi tentang adanya program Jampersal. Sikap seperti ini sangat diharapkan karena membuktikan komitmen dari aparat Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan di Puskesmas, dan pihak-pihak terkait lainnya bersama-sama berusaha mensukseskan program Jampersal.
Rendahnya tingkat pengetahuan responden tentang Program Jampersal juga dapat dikarenakan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden tergolong rendah yaitu tamat SD dan bahkan masih ada yang tidak sekolah /tidak tamat SD. Pernyataan tersebut senada dengan Notoatmodjo (2012) pengetahuan akan berpengaruh pada perilaku sebagai hasil dari pendidikan. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada diri individu, kelompok, atau masyarakat. Pendidikan akan mempengaruhi pola piker terhadap pelayanan kesehatan, sehingga akan mempengaruhi pemanfaatan fasilitas kesehatan.
5.4.2. Sikap
Sikap merupakan kecenderungan dan kesediaan untuk bertindak dan disertai dengan perasaan-perasaan yang dimiliki oleh individu tersebut. Dengan dasar pengetahuan dan pengalaman masa lalu maka timbul sikap dalam diri manusia dengan perasaan-perasaan tertentu, dalam menanggapi suatu objek yang menggerakkan untuk bertindak. Sikap adalah cara mengkomunikasikan suasana hati dalam diri sendiri kepada orang lain. Bila merasa optimis dan memperkirakan akan berhasil, hal ini menimbulkan sikap positif. Bila merasa pesimis dan menduga hal-hal yang buruk, hal ini bisa menimbulkan sikap negatif (Notoatmodjo, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki sikap kategori sedang yaitu sebesar 51,2%. Dengan sikap sedang tersebut sangat berpengaruh dalam hal tindakan, karena sikap sedang bisa menjadi sikap tertutup dan cenderung tidak bertindak sehingga penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan tidak terlaksana. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan Rasyid, dkk., (2012), bahwa sebanyak 53,1% responden bersikap negatif terhadap Jampersal sedangkan 46,9% responden bersikap positif terhadap Jampersal.
Ajzen (1994), berpendapat bahwa sikap tumbuh karena adanya suatu kecenderungan untuk merespon suka atau tidak suka terhadap suatu obyek, orang lembaga, atau peristiwa tertentu. Mueller (1996), juga mengatakan bahwa sikap ditunjukkan oleh luasnya rasa suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Berkowitz, “sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan
mendukung atau memihak (favorabel) ataupun perasaan tidak mendukung (tak-favorabel) terhadap objek,” (Saifuddin, 1998). Dengan kata lain, sikap dapat bersifat
positif dan negatif.
Agar responden tidak memiliki persepsi salah terhadap program Jampersal, maka program Jampersal harus lebih disosialisaikan lagi. Menurut Edward III dalam Tangilisan (2005), dimensi kemunikasi sangat menentukan dalam berhasilnya suatu program. Oleh karena itu penyampaian pesan merupakan hal yang mutlak harus diperhatikan. Persyaratan utama bagi implementasi yang efektif adalah bahwa para pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan, keputusan kebijakan harus disalurkan. Komunikasi kebijakan memiliki beberapa macam dimensi, antara lain dimensi transformasi, kejelasan, dan konsistensi. Dimensi transformasi menghendaki agar kebijakan dapat ditransformasikan kepada para pelaksana, kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait dengan kebijakan. Dimensi kejelasan menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada para pelaksana, target grup, dan pihak lain yang berkepentingan langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan dapat diterima dengan jelas sehingga diantara mereka mengetahui apa yang menjadi maksud, tujuan, dan sasaran serta substansi dari kebijakan publik tersebut.
Jampersal berlaku untuk semua kalangan, baik kaya maupun miskin. Untuk mendapatkan pelayanan program tersebut cukup gampang, masyarakat cukup memberikan KTP saja dan tidak perlu memberikan keterangan surat kurang mampu, karena program tersebut berlaku untuk semua masyarakat baik kaya maupun miskin.
Menurut responden, seharusnya Jampersal khusus untuk para ibu yang tidak mampu.
Sehingga bagi para ibu yang berkecukupan secara ekonomi, rasanya kurang tepat bila melayani pasien persalinan orang kaya menggunakan Jampersal, apalagi banyak permintaan.
5.4.3. Tindakan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar tindakan responden terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan pada kategori kurang yaitu sebesar 52,3%%, sementara tindakan kategori baik hanya sebesar 26,7%.
Masih banyaknya tindakan responden kategori kurang dikarenakan pada umumnya ibu masih banyak yang belum memanfaatkan pelayanan dari Program Jampersal, yaitu sebanyak 38,4% ibu memeriksakan kehamilan di Puskesmas dan menggunakan Jampersal, 38,4% ibu melakukan persalinan di Puskesmas dan menggunakan Jampersal 38,4% ibu memanfaatkan pelayanan Nifas di Puskesmas dan menggunakan Jampesal, dan sebanyak 36,0% ibu ikut dalam pelayanan KB paska persalinan di Puskesmas dan menggunakan Jampesal. Ibu yang tidak melakukan persalinan dengan menggunakan Jampersal karena masih adanya persepsi bahwa segala sesuatu yang berbau gratis itu terkesan kualitas pelayananannya relatif kurang baik. Sedangkan bagi yang tidak memanfaatkan pelayanan nifas dan KB kemungkinan karena responden tidak mengetahui bahwa kalau Jampersal juga memberikan layanan gratis terhadap pelayanan nifas dan KB bagi masyarakat.
Dengan demikian dibutuhkan sosialisasi mengenai program Jampersal secara rutin dan menyeluruh, sehingga masyarakat dapat memahami seperti apa program
Jampersal tersebut, dengan melibatkan seluruh pihak kelurahan, ketua RT/RW atau kader-kader untuk ikut hadir dalam sosialisasi tersebut.
Dari hasil diketahui bahwa tindakan responden lebih rendah bila dilihat dari sikapnya, dimana hasil tersebut senada dengan Notoatmodjo (2012), bahwa suatu sikap belum otomatis terwujud dalam tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Perubahan perilaku atau tindakan baru itu terjadi melalui tahap-tahap atau proses perubahan yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Namun, beberapa penelitian juga membuktikan bahwa proses tersebut tidak selalu melalui tahap-tahap tersebut, bahkan dalam praktek sehari-hari terjadi sebaliknya, artinya seseorang berperilaku baik meskipun pengetahuan dan sikapnya masih negatif.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Sebagian besar responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan usia ≥ 29 tahun yaitu berjumlah 47 orang (54,7%). Dilihat dari sisi latar belakang pendidikan, bahwa responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan latar belakang pendidikan menengah yaitu sebanyak 64 orang (74,4%).
Berdasarkan jenis pekerjaan, sebanyak 40 orang (46,5%) responden bekerja sebagai petani/buruh tani, dan memiliki penghasilan keluarga kategori tinggi (55,8%).
2. Perilaku terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang yang diukur melalui pengetahun, sikap, dan tindakan. Diperoleh sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori kurang yaitu sebesar 57,0%, sikap kategori sedang yaitu sebesar 51,2%, dan tindakan kategori kurang yaitu sebesar 52,3%.
3. Pengetahuan baik, tetapi tindakan kurang dikarenakan masih banyak ibu yang tinggal atau bertempat tinggal di satu lingkungan dengan orang tua atau mertuanya, sehingga dalam pengambilan keputusan dalam memanfaatkan pelayanan Jampersal masih dipengaruhi oleh anggota keluarga lainnya.
4. Salah satu hal yang membuat beberapa responden memiliki sikap kurang baik terhadap penggunaan program Jampersal dalam melakukan persalinan masyarakat enggan memanfaatkan Jampersal karena selalu ada persepsi bahwa segala sesuatu yang berbau gratis itu terkesan kualitas pelayananannya relatif kurang baik
6.2. Saran
1. Pihak puskesmas dan pemerintah desa perlu memberikan informasi tentang program Jampersal secara rutin dan menyeluruh kepada masyarakat pada saat posyandu atau dipengajian ibu-ibu.
2. Untuk peneliti selanjutnya perlu meneliti aspek lain yang berkaitan dengan program Jampersal melalui pendekatan kualitatif. Melalui pendekatan kualitatif dapat memahami lebih mendalam tentang alasan masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan Jampersal.
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, Icek, 1994. Encyclopedia of psychology. John Wiley dan Sons. New York Arikunto, Suharsimi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, adisi 2, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), 2010. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia 2010.
Badan Pusat Statistik, 2012. Profil Kemiskinan Di Indonesia Maret 2012. No.
45/07/Th. XIV, 1 Juli 2012
Becker MH, Maiman LA. Model-model perilaku kesehatan. Dalam: Muzaham F, penyunting. Memperkenalkan sosiologi kesehatan. Jakarta:UI-Press, 1995. h. 43-92.
Febrianti Ayu Wulan, 2012. Tingkat Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Di Surabaya Tentang Iklan Layanan Masyarakat “Jampersal” Di Televisi (Studi Deskriptif Tingkat Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Di Keluruhan Sawahan Surabaya Tentang Iklan Layanan Masyarakat
“Jampersal” Di Televisi, Skripsi Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi Surabaya
Gunarsa S.,, 1991. Psikologi Praktis. Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta:
Gunung Agung
Green, LW .1980. Health Education Planning : a diagnosis approach (1st edition).
California. Mayfield Publishing Company
Ilyas, Yaslis, 2003. Mengenal Asuransi Kesehatan: Review Utilisasi, Manajemen Klaim, dan Fraud (Kecurangan Asuransi Kesehatan), Depok:
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Lemeshow, Stanley. 1997. Besar Sampel Pada Penelitian Kesehatan. UGM press, Yogyakarta
Mueller, Daniel. 1992. Mengukur sikap sosial: Pegangan untuk peneliti dan praktisi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (Edisi Revisi 2012). Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/MENKES/
PER/XII/2011. Tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.
Rasyid AL Harun, Diadjeng Setya Wardanai, Ayu Solehati Agustina. 2012. Sikap Ibu Hamil Terhadap Jampersal Di Wilayah Kerja Puskesmas Kendal Kerep Kota Malang. Skripsi Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2010. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010.
Saifuddin Azwar, 1998. Sikap Manusia: teori dan Pengukurannya. Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Sarlito Wirawan Sarwono, 1998. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan.
Pedoman Ilmu Jaya. Jakarta.
Siregar, Henny Sahriani, 2012. Pengaruh Faktor Psikologis dan Organisasi terhadap Kinerja Bidan dalam Pelaksanaan Program Jaminan Persalinan di Kota Padangsidimpuan. Tesis program studi S2 IKM FKM USU Medan.
Qomariyah, 2012. Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Terhadap Program Jampersal (Jaminan Persalinan) Di Dusun Kedung Desa Leran Gresik Karya Tulis Ilmiah Kebidanan STIKES YARSIS
http://share.stikesyarsis.ac.id/elib/main/dok/00800/gambaran- pengetahuan-dan-sikap-ibu-terhadap-program-jampersal-jaminan-persalinan-di-dusun-kedung-desa-leran-gresik
Tangilisan H. 2005. Implementasi Kebijakan Publik. YPAPI. Yogyakarta.
Thabrany H, ed. 2005. Dasar-dasar Asuransi Kesehatan Bagian A. Persatuan Ahli Manajemen Pembiayaan Kesehatan (Pemjaki), Jakarta.
KUESIONER
GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN PROGRAM JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) DALAM
MELAKUKAN PERSALINAN DI PUSKESMAS 4. Pekerjaan : a. Berdagang/wiraswasta
b. Petani/Buruh tani c. Ibu Rumah Tangga
5. Penghasilan : Rp. ...
Sumber Informasi
Dari mana Ibu mendapatkan informasi tentang Program Jampersal (jawaban boleh lebih dari satu)?
a. Media Elektronik (TV, radio) b. Media Cetak (surat kabat, brosur) c. Dokter
d. Perawat/bidan e. Kader kesehatan f. Keluarga
g. Tetangga/teman
PENGETAHUAN
PENGETAHUAN
1. Pilihlah jawaban “Ya” atau “Tidak” pada pernyataan di bawah ini tentang Jaminan Persalinan (Jampersal) ?
a. Jampersal merupakan program pemerintah sebagai jaminan persalinan bagi ibu bersalin Ya (1) Tidak (0)
b. Jaminan persalinan hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang miskin Ya (0) Tidak (1)
c. Jampersal merupakan program kesehatan dari puskesmas dan Rumah Sakit Ya (0) Tidak (1)
d. Jampersal bertujuan untuk meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
Ya (1) Tidak (0)
2. Pilihlah jawaban “Ya” atau “Tidak” pada pernyataan di bawah ini tentang sasaran dari Program Jaminan Persalinan
e. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu Hamil Ya (1) Tidak (0)
f. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu Bersalin Ya (1) Tidak (0)
g. Sasaran dari Program Jampersal adalah seluruh masyarakat umum Ya (0) Tidak (1)
h. Sasaran dari Program Jampersal adalah seluruh ibu yang memiliki penyakit-penyakit tertentu
Ya (0 Tidak (1)
i. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu nifas Ya (1) Tidak (0)
j. Sasaran dari Program Jampersal adalah bayi baru lahir Ya (1) Tidak (0)
3. Pilihlah jawaban “Ya” atau “Tidak” pada pernyataan di bawah ini tentang Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama (puskesmas)
k. Pelayanan pemeriksaan kehamilan (ANC) Ya (1) Tidak (0)
l. Tempat melakukan deteksi dini ada tidaknya komplikasi Ya (1) Tidak (0)
m. Pertolongan persalinan dengan operasi atau cesar Ya (0) Tidak (1)
n. Pertolongan persalinan dengan komplikasi Ya (1) Tidak (0)
o. Pelayanan Nifas (PNC)
Ya (1) Tidak (0)
p. Pelayanan KB paska persalinan Ya (1) Tidak (0)
q. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis Ya (1) Tidak (0)
4. Pilihlah jawaban “Ya” atau “Tidak” pada pernyataan di bawah ini tentang Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit)
r. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi Ya (1) Tidak (0)
s. Pertolongan persalinan yang tidak mampu dilakukan di Puskesmas.
Ya (1) Tidak (0)
t. Penanganan komplikasi
Ya (1) Tidak (0)
u. Pemeriksaan paska persalinan dengan risiko tinggi.
Ya (1) Tidak (0)
v. Penatalaksanaan KB paska persalinan dengan metode kontrasepsi jangka panjang Ya (1) Tidak (0)
S I K A P
SS = Sangat Setuju; S = Setuju ; TS = Tidak Setuju; STS = Sangat Tidak Setuju
Jawaban
No. Pernyataan
SS S TS STS 1. Bagaimana menurut Anda dengan diberlakukannya kebijakan
program Jampersal (Jaminan Persalinan)
2. Bagaimana menurut Anda agar setiap Ibu tidak hanya memanfaatkan program Jampersal hanya pada saat persalinan tetapi dimanfaatkan juga untuk pelayanan kehamilan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan
3. Bagaimana menurut Anda dengan Program Jampersal yang diberlakukan bagi seluruh ibu yang membutuhkan pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan tanpa membedakan status sosial ekonomi mereka 4. Bagaimana menurut Anda agar bidan di Puskesmas menarik
biaya tambahan kepada pengguna program Jampersal di luar tarif yang ditentukan dengan alasan tertentu.
5. Bagaimana menurut Anda agar bidan di Puskesmas diberi sanksi apabila bidan tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan sesuai yang berlaku
6. Bagaimana menurut Anda agar bidan diberi sanksi apabila bidan tidak melakukan prosedur pelayanan sesuai petunjuk teknis Jampersal
7. Program Jampersal, tidak akan dapat menanggulangi pelayanan kesehatan Ibu terutama pertolongan persalinan di Puskesmas
8. Petugas kesehatan terutama bidan membeda-bedakan pasien pengguna Jampersal dengan pasien umum
9. Bidan dan tenaga kesehatan lainnya di puskesmas, sudah
9. Bidan dan tenaga kesehatan lainnya di puskesmas, sudah