BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Aspek Pengukuran
Variabel umur dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori, yaitu:
< rata-rata
≥ rata-rata 2. Pendidikan
Variabel pendidikan dibedakan atas 2 kategori, yaitu:
a. Rendah, bila pendidikan terakhir adalah: tidak sekolah atau SD b. Menengah, bila pendidikan terakhir adalah: SMP atau SMA c. Tinggi, bila pendidikan terakhir adalah: DIII atau Peguruan Tinggi 3. Pekerjaan
Untuk pekerjaan responden dibagi atas:
a. Berdagang/wiraswasta b. Petani/Buruh tani c. Ibu Rumah Tangga d. Penghasilan
Tingkat penghasilan per bulan dikategorikan berdasarkan upah minimum regional (UMR) Propinsi Sumatera Utara tahun 2013.
Tinggi, bila penghasilan Rp 1.305.000,-/bulan
Rendah, bila penghasilan < Rp 1.305.000,-/bulan e. Pengetahuan
Pengetahuan responden diukur melalui 22 pernyataan. Bila responden menjawab benar diberi nilai 1, dan jika jawaban yang salah diberi nilai 0.
Berdasarkan jumlah nilai tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 22.
Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu (Arikunto, S, 2009) :
Baik : Jika > 75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 17 – 22.
Sedang : Jika 45-75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 10 –16
Kurang : Jika < 45 % dijawab dengan benar dengan total nilai 0 – 9 f. Sikap
Pengukuran sikap dengan menggunakan skala likert, yaitu dengan 10 pernyataan. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau ketidaksetujuan terhadap suatu kejadian. Pada pernyataan nomor 1, 2, 3, 5, 6, dan 9, maka diberi nilai 3 jika responden menjawab sangat setuju, nilai 2 jawaban setuju, nilai 1 jawaban tidak setuju, dan nilai 0 jika menjawab sangat tidak setuju.
Sementara pernyataan nomor 4, 7, 8, dan 10 akan diberi nilai 0 jika responden menjawab sangat setuju, nilai 1 jawaban setuju, nilai 2 jawaban tidak setuju, dan nilai 3 jika menjawab sangat tidak setuju. Berdasarkan jumlah nilai tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 40. Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu (Arikunto, S, 2009) :
Baik : Jika > 75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 23 – 30
Sedang : Jika 45-75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 13 – 22
Kurang : Jika < 45 % dijawab dengan benar dengan total nilai 0 – 12 g. Tindakan
Tindakan diukur melalui 10 pertanyaan. Bila responden menjawab sangat
”Ya” diberi nilai 1 dan jika menjawab ”Tidak” diberi nilai 0. Jumlah nilai tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 10 dan yang terendah 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori (Arikunto, S, 2009) :
Baik : Jika > 75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 8 – 10.
Sedang : Jika 45-75 % dijawab dengan benar dengan total nilai 5 – 7.
Kurang : Jika < 45 % dijawab dengan benar dengan total nilai 0 – 4.
3.8 Pengolahan dan Analisis Data 3.8.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Editing
Untuk melakukan pengecekan isi kuesioner apakah kuesioner sudah diisi dengan lengkap jelas jawaban dari responden dan relevan dengan pertanyaan.
b. Coding
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka.
Gunanya untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga entri data.
c. Processing
Setelah data dikoding maka selanjutnya melakukan entry data dari kuesioner ke dalam program komputer.
d. Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak.
e. Tabulating adalah penyusunan data agar dengan mudah untuk dijumlahkan, disusun, ditata dan dianalisis.
3.8.2 Analisis Data
Data yang dikumpulkan diperoleh dengan menggunakan kuesioner kemudian data tersebut dianalisa secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Keadaan Geografis
Kecamatan Namorambe merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Deliserdang yang memiliki luas wilayah 62 km2. Secara administratif Kecamatan Namorambe berbatasan dengan Kecamatan Sibolangit di sebelah Barat, Kecamatan Medan Johor (Kota Medan) di sebelah Utara, Kecamatan Sibiru-Biru dan Kecamatan Deli Tua di sebelah Timur, dan Kecamatan Pancur Batu di sebelah Selatan.
Keadaan alam/topografi di Kecamatan Namorambe adalah daerah landai yang tingginya 51-499 meter di atas permukaan laut yang dapat dirinci sebagai berikut : a) Tanah usaha yang dapat dikelola untuk lahan pertanian tanaman pangan dan lainnya antara 51-400 Ha atau 92,24% dari luas wilayah kecamatan; dan b) Tanah usaha yang dapat dikelola untuk lahan perkebunan rakyat/tanaman keras antara 401-499 m di atas permukaan laut, yang luasnya 483 Ha atau sekitar 7,76% dari luas wilayah kecamatan.
Jumlah rumah tangga yang ada di Kecamatan Namorambe tahun 2012 sebanyak 9.055 KK, dengan jumlah penduduk 36.651 jiwa (18.143 jiwa laki-laki dan 18.508 jiwa perempuan). Kepadatan penduduk Kecamatan Namorambe meningkat dari 458,79 jiwa/km2 tahun 2011 menjadi 591,81 jiwa/km2 di tahun 2012.
4.1.2. Sarana Pendidikan
Penyebaran sarana pendidikan di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel 4.1. di bawah ini.
Tabel 4.1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang
No. Jenis Pendidikan Jumlah
1. Sekolah Dasar 24
2. Sekolah Tingkat Pertama 6
3. Sekolah Tingkat Atas 5
Total 35
Sumber : Kab. Deli Serdang dalam Angka, 2011
Ketersediaan jumlah sarana pendidikan di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang dapat dibedakan dari Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama.
Jumlah fasilitas pendidikan umum di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2011 terdapat sekitar 35 Sekolah yang terdiri dari 24 unit Sekolah Dasar, 6 unit SLTP, dan 5 unit SMU.
Jumlah fasilitas pendidikan Agama di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2011 terdapat sekitar 14 unit sekolah yang terdiri dari 4 unit Sekolah TK/RA, 5 unit Sekolah MDA, 2 unit Sekolah MI, 2 unit Sekolah MTs dan sebanyak 1 unit Sekolah MA
4.1.3. Sarana Kesehatan
Jumlah sarana kesehatan yang diperoleh dari hasil penelitian sebanyak 11 unit, yang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.2. di bawah ini.
Tabel 4.2. Jenis Sarana Kesehatan di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli
Sumber : Kab. Deli Serdang dalam Angka, 2011
Jumlah sarana kesehatan yang terdapat di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2011 terdapat sekitar 15 Unit, yang terdiri 1 Unit Pukesmas Rawat Jalan, 5 Unit Puskesmas Pembantu, 4 Unit Rumah Bersalin, 3 Unit Balai Pengobatan Umum (BPU) dan 2 Unit Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).
4.2. Karakteristik Responden
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka data hasil penelitian ini akan diuraikan gambaran data demografi terhadap 86 responden yang terdiri dari usia, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
No. Karakteristik Frekuensi Persentase
Umur :
Tabel 4.3. (Lanjutan)
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa usia responden yang paling tinggi adalah usia 35 tahun, dan yang paling rendah berada pada usia 21 tahun.
Setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh rata-rata umur responden adalah 29 tahun. Diketahui bahwa usia responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan usia ≥ 29 tahun yaitu berjumlah 47 orang (54,7%). Dilihat dari sisi latar belakang pendidikan, bahwa responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan latar belakang pendidikan menengah yaitu sebanyak 64 orang (74,4%). Berdasarkan jenis pekerjaan, sebanyak 40 orang (46,5%) responden bekerja sebagai petani/buruh tani, dan memiliki penghasilan keluarga kategori tinggi (55,8%).
4.3. Sumber Informasi Tentang Program Jaminan Persalinan
Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Tentang Program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
Dari tabel 4.4. diketahui bahwa informasi tentang program jaminan persalinan yang diperoleh responden berasal dari berbagai sumber seperti : media elektronik (TV, radio), media cetak (surat kabar, brosur), dokter, perawat /bidan, kader kesehatan, keluarga, dan tetangga/teman. Namun dari hasil penelitian diperoleh sumber informasi tentang program jaminan persalinan paling banyak diperoleh melalui perawat/bidan. Sementara yang paling sedikit adalah media cetak (surat kabar, brosur) dan tetangga/teman.
4.4. Pengetahuan
Pengetahuan yang diukur berkenaan dengan segala sesuatu yang diketahui oleh responden mengenai program jaminan persalinan (Jampersal). Pengkategorikan pengetahuan responden dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
No. Pengetahuan Frekuensi Persentase
1. Baik 14 16,3
2. Sedang 23 26,7
3. Kurang 49 57,0
Jumlah 86 100,0
Pada Tabel 4.5. diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori kurang yaitu sebanyak 49 orang (57,0%).
Rincian jawaban responden dalam mengukur pengetahuan tentang program jaminan persalinan dapat diuraikan sebagai berikut.
Tabel 4.6. Distribusi Jawaban Responden untuk Setiap Pertanyaan tentang Program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
a. Jampersal merupakan program pemerintah sebagai
jaminan persalinan bagi ibu bersalin 45 52,3 41 47,7 86 100,0 b. Jaminan persalinan hanya diperuntukkan bagi
masyarakat yang miskin 45 52,3 41 47,7 86 100,0
c. Jampersal merupakan program kesehatan dari
puskesmas dan Rumah Sakit 34 39,5 52 60,5 86 100,0 1.
d. Jampersal bertujuan untuk meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
45 52,3 41 47,7 86 100,0
Tentang sasaran dari Program Jaminan Persalinan
a. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu Hamil 46 53,5 40 46,5 86 100,0 b. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu Bersalin 48 55,8 38 44,2 86 100,0 c. Sasaran dari Program Jampersal adalah seluruh
masyarakat umum 43 50,0 43 50,0 86 100,0
d. Sasaran dari Program Jampersal adalah seluruh ibu
yang memiliki penyakit-penyakit tertentu 37 43,0 49 57,0 86 100,0 e. Sasaran dari Program Jampersal adalah Ibu nifas 39 45,3 47 54,7 86 100,0 2.
f. Sasaran dari Program Jampersal adalah bayi baru
lahir 43 50,0 43 50,0 86 100,0
Tentang Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama (puskesmas) Tentang Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat
lanjutan (Rumah Sakit)
a. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi 20 23,3 66 76,7 86 100,0 4.
b. Pertolongan persalinan yang tidak mampu
dilakukan di Puskesmas 49 57,0 37 43,0 86 100,0
Tabel 4.6. (Lanjutan)
c. Penanganan komplikasi 41 47,7 45 52,3 86 100,0
d. Pemeriksaan paska persalinan dengan risiko tinggi 44 51,2 42 48,8 86 100,0 e. Penatalaksanaan KB paska persalinan dengan
metode kontrasepsi jangka panjang 29 33,7 57 66,3 86 100,0
Dari Tabel 4.6 diketahui bahwa pada umumnya responden (52,3%) mengatakan bahwa Program Jaminan Persalinan merupakan program pemerintah sebagai jaminan persalinan bagi ibu bersalin, hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang miskin, dan bertujuan untuk meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Selain itu, sebagian besar responden juga mengatakan bahwa sasaran dari Program Jaminan Persalinan adalah ibu hamil (53,5%), dan ibu bersalin (55,8%).
Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui pada umumnya responden mengatakan bahwa jenis pelayanan jaminan persalinan ditingkat pertama (puskesmas) adalah tempat melakukan deteksi dini ada tidaknya komplikasi (53,5%), dan pertolongan persalinan dengan operasi atau cesar (57,0%). Dari hasil juga diketahui sebagian besar responden mengatakan bahwa jenis pelayanan jaminan persalinan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) adalah pertolongan persalinan yang tidak mampu dilakukan di Puskesmas (57,0%), dan tempat pemeriksaan paska persalinan dengan risiko tinggi (51,2%).
4.5. Sikap
Pengkategorikan sikap responden terhadap sesuatu yang diketahuinya tentang program jaminan persalinan (Jampersal) dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini.
Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap terhadap Program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
Dari Tabel 4.7 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki sikap kategori sedang yaitu sebanyak 44 orang (51,2%).
Rincian jawaban responden tentang sikap terhadap program jaminan persalinan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4.8. Distribusi Jawaban Responden untuk Setiap Indikator Pertanyaan tentang Sikap terhadap Program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang persalinan tetapi dimanfaatkan juga untuk pelayanan kehamilan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan
46 53.5 12 14.0 23 26.7 5 5.8 86 100,0
`3. Bagaimana menurut Anda dengan Program Jampersal yang diberlakukan bagi seluruh ibu yang membutuhkan pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan tanpa membedakan status sosial ekonomi mereka
29 33.7 33 38.4 24 27.9 0 0.0 86 100,0
4. Bagaimana menurut Anda agar bidan di Puskesmas menarik biaya tambahan kepada pengguna program Jampersal di luar tarif yang ditentukan dengan alasan tertentu.
0 0,0 0 0,0 50 58,1 36 41,9 86 100,0
Tabel 4.8. (Lanjutan)
5. Bagaimana menurut Anda agar bidan di Puskesmas diberi sanksi apabila bidan tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan sesuai yang berlaku
26 30.2 28 32.6 32 37.2 0 0.0 86 100,0
6. Bagaimana menurut Anda agar bidan diberi sanksi apabila bidan tidak melakukan prosedur pelayanan sesuai petunjuk teknis Jampersal
28 32.6 58 67.4 0 0.0 0 0.0 86 100,0
7. Program Jampersal, tidak akan dapat menanggulangi pelayanan kesehatan Ibu terutama pertolongan persalinan di Puskesmas
10 11,6 31 36,0 34 39,5 11 12,8 86 100,0
8. Petugas kesehatan terutama bidan membeda-bedakan pasien pengguna Jampersal dengan pasien umum
5 5,8 37 43,0 26 30,2 18 20,9 86 100,0 9. Bidan dan tenaga kesehatan lainnya
di puskesmas, sudah melakukan tugas dengan baik dan berbicara dengan sopan
26 30.2 28 32.6 32 37.2 0 0.0 86 100,0
10. Menurut Ibu, fasilitas yang diberikan melalui program Jampersal belum sesuai dengan kondisi kesehatan Ibu saat menggunakan kartu Jampersal
0 0.0 0 0.0 23 26.7 63 73.3 86 100,0
Berdasarkan Tabel 4.8. dapat dilihat bahwa pada umumnya responden mengatakan sangat setuju dengan diberlakukannya kebijakan program Jampersal (51,2%), dan memanfaatkan program Jampersal tidak hanya pada saat persalinan tetapi juga untuk pelayanan kehamilan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan (53,5%). Namun dari hasil penelitian juga diketahui bahwa sebesar 27,9% tidak setuju jika Jampersal diberlakukan untuk setiap ibu tanpa membedakan status sosial ekonomi mereka.
Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa tidak ada responden yang mengatakan setuju agar bidan di Puskesmas menarik biaya tambahan kepada
pengguna program Jampersal di luar tarif yang ditentukan. Hanya 37,2% responden mengatakan tidak setuju agar bidan di Puskesmas diberi sanksi apabila bidan tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan sesuai yang berlaku, dan 37,2% tidak setuju bila bidan dan tenaga kesehatan lainnya di puskesmas sudah melakukan tugas dengan baik dan berbicara dengan sopan.
4.6. Tindakan
Pengkategorikan tindakan responden terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan dapat dilihat pada tabel 4.9 di bawah ini.
Tabel 4.9. Distribusi Responden Berdasarkan tindakan terhadap Penggunaan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam Melakukan Persalinan di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
No. Tindakan Frekuensi Persentase
1. Baik 23 26,7
2. Sedang 18 21,0
3. Kurang 45 52,3
Jumlah 86 100,0
Dari Tabel 4.9 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tindakan kategori kurang yaitu sebanyak 45 orang (52,3%).
Rincian jawaban responden tentang tindakan terhadap program Jaminan Persalinan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4.10. Distribusi Jawaban Responden untuk Setiap Indikator Pertanyaan tentang Tindakan terhadap Penggunaan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam Melakukan Persalinan di Puskesmas Namorambe Kabupaten Deliserdang
keluarga lainnya agar melakukan persalinan di puskesmas dengan menggunakan Jampersal.
46 53,5 40 46,5 86 100,0 4. Apakah Ibu meminta rujukan ke rumah sakit apabila ada
hal yang menghawatirkan pada ibu. 37 43,0 49 57,0 86 100,0 5. Apakah Ibu meminta rujukan ke rumah sakit apabila ada
hal yang menghawatirkan pada Janin 56 65,1 30 34,9 86 100,0 6. Apakah Ibu memeriksakan kehamilan di Puskesmas dan
menggunakan Jampersal 33 38,4 53 61,6 86 100,0
7. Apakah Ibu melakukan persalinan di Puskesmas dan
menggunakan Jampersal ? 64 74,4 22 25,6 86 100,0
8. Apakah Ibu memanfaatkan pelayanan Nifas di
Puskesmas dan menggunakan Jampesal. 33 38,4 53 61,6 86 100,0 9. Apakah Ibu ikut dalam pelayanan KB paska persalinan
di Puskesmas dan Menggunakan Jampesal ? 31 36,0 55 64,0 86 100,0 10. Apakah Ibu memeriksakan kehamilan di Rumah Sakit
dengan alasan bahwa Ibu mengalami risiko tinggi dengan menggunakan Jampersal
35 40,7 51 59,3 86 100,0
Berdasarkan Tabel 4.10. dapat dilihat bahwa pada umumnya responden tidak mengajak ibu yang lain untuk ikut serta dalam pelaksanaan program Jampersal (54,7%), tidak ikut dalam sosialisasi program Jampersal (61,6%), melakukan rujukan ke rumah sakit meskipun tidak ada hal yang menghawatirkan (57,0%). Dari hasil juga diketahui sebesar 61,6% tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, tidak memanfaatkan pelayanan nifas (61,6%), tidak ikut dalam pelayanan KB paska
persalinan (64,0%), dan tidak melakukan pemeriksaan kehamilan di Rumah Sakit (59,3%).
Berdasarkan hasil penelitian juga dapat dilihat 53,5% responden memberitahukan suami atau anggota keluarga lainnya agar melakukan persalinan di puskesmas dengan menggunakan Jampersal, 65,1% hanya melakukan rujukan ke rumah sakit apabila ada hal yang menghawatirkan pada Janin, dan 74,4% melakukan persalinan di Puskesmas dan menggunakan Jampersal.
4.7. Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Tindakan
Sebagian besar responden memiliki pengetahuan dan tindakan kategori kurang. Hasil tabulasi silang antara pengetahuan dan tindakan responden terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11. Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Tindakan terhadap Penggunaan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam Melakukan Persalinan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 14 orang yang memiliki pengetahuan baik, tindakan baik sebesar 57.1%, sedang 14,3%, dan kurang 28,6%.
Dari 23 responden yang memiliki pengetahuan sedang, tindakan baik sebesar 30,4%, sedang 13,0%, dan kurang 56,5%. Sedangkan dari 49 responden yang pengetahuannya kurang, tindakan baik sebesar 16,3%, sedang 26,5%, dan kurang
sebesar 57,1%. Berasarkan hasil penelitian terlihat bahwa masih banyak responden yang memiliki pengetahuan baik, tetapi tindakan kurang. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan masih banyaknya responden yang tinggal atau bertempat tinggal di satu lingkungan dengan orang tua atau mertuanya, sehingga dalam pengambilan keputusan dalam memanfaatkan pelayanan Jampersal masih dipengaruhi oleh anggota keluarga lainnya. Sementara responden yang memiliki pengetahuan kurang, namun tindakannya baik dikarenakan masyarakat hanya mendapat himbauan untuk ikut Jampersal dari berbagai sumber, seperti media televisi.
4.8. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan
Sebagian besar responden memiliki sikap kategori sedang dan tindakan kategori kurang. Hasil tabulasi silang antara sikap dan tindakan responden terhadap penggunaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam melakukan persalinan dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12. Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan terhadap Penggunaan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) dalam Melakukan Persalinan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 42 orang yang memiliki sikap baik, tindakan baik sebesar 50.0, sedang 19.0% dan kurang 31.0%. sedangkan dari 44 responden yang memiliki sikap sedang, tindakan baik sebesar 4.5%, sedang 22.7%, dan kurang 72.7%. Salah satu hal yang membuat beberapa responden memiliki sikap kurang baik terhadap penggunaan program Jampersal dalam
melakukan persalinan masyarakat enggan memanfaatkan Jampersal karena selalu ada persepsi bahwa segala sesuatu yang berbau gratis itu terkesan kualitas pelayananannya relatif kurang baik
PEMBAHASAN
5.1. Program Jampersal di Pemerintah Kabupaten Deliserdang
Pemerintah Kabupaten Deliserdang mulai merealisasikan Program Jaminan Persalinan sejak bulan Juni 2011 setelah sebelumnya sempat tertunda karena ketiadaan anggaran. Dinas Kesehatan Kabupaten Deliserdang berkoordinasi dengan seluruh puskesmas di Kabupaten Deliserdang untuk menjalankan Program Jaminan Persalinan. Saat ini, seluruh puskesmas dan praktek bidan mandiri yang mengikat kerja sama dengan Program Jaminan Persalinan sudah mulai melayani para ibu hamil sesuai yang diatur dalam petunjuk teknis pelaksanaan Program Jaminan Persalinan yang bertujuan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.
Wilayah pelayanan Program Jaminan Persalinan tidak dibatasi hanya pada daerah Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Namun, pasien diwajibkan untuk berobat ke salah satu bidan yang lebih dulu menanganinya. Dari daerah manapun bisa mendapatkan Program Jaminan Persalinan asal ibu tersebut memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Sasaran Program Jaminan Persalinan terutama ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dengan usia maksimal 28 hari. Dengan Program Jaminan Persalinan, para ibu hamil bisa meningkatkan pemeriksaan kehamilan dan mendapatkan pertolongan persalinan. Selain itu, Program Jaminan Persalinan juga meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan.
Warga Pemerintah Kabupaten Deliserdang sebagai pemanfaat Program Jaminan Persalinan tidak perlu khawatir karena biaya pemeriksaan kehamilan, proses melahirkan hingga pascapersalinan digratiskan oleh Pemerintah Kabupaten Deliserdang. Program Jaminan Persalinan akan meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir. Semua biayanya ditanggung oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Deliserdang. Sebelum Program Jaminan Persalinan direalisasikan, Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Deliserdang sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu, Dinas Kesehatan juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada seluruh bidan yang diikutsertakan dalam program dan mempersiapkan sarana dan prasarana.
5.2. Karakteristik Responden
Dari hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden dengan usia ≥ 29 tahun yaitu sebesar 54,7%. Dilihat dari umur ibu yang menjadi responden pada penelitian ini, sebagian besar berada pada kategori dewasa muda (21-40 tahun). Menurut Gunarsa (1991), dimana usia dapat berpengaruh terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik, karena usia yang semakin tua, maka semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya
Sebagian besar tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden tergolong menengah yaitu tamat SMP dan SMA (74,4%), bahkan masih ada yang
tidak sekolah /tidak tamat SD (19,8%). Sementara Tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi hanya sebesar 5,8%. Menurut Soewondo dan Sadli (1990), pendidikan formal sangat penting karena dapat membentuk pribadi dengan wawasan berfikir yang lebih baik. Dengan demikian semakin tinggi tingkat pendidikan formal seseorang maka ia akan lebih banyak menyerap pengetahuan tentang kesehatan, dan hal ini akan berdampak positif terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Dan sesuai dengan teori Green (1980) dalam Notoatmodjo, (2012) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya perubahan perilaku kesehatan.
5.3. Sumber Informasi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa informasi tentang program jaminan persalinan yang diperoleh responden berasal dari berbagai sumber seperti : media elektronik (TV, radio), media cetak (surat kabar, brosur), dokter, perawat /bidan, kader kesehatan, keluarga, dan tetangga/teman. Namun dari hasil penelitian diperoleh sumber informasi tentang program jaminan persalinan paling banyak diperoleh melalui perawat/bidan. Sementara yang paling sedikit adalah media cetak (surat kabar, brosur) dan tetangga/teman. Data ini menunjukkan bahwa peran perawat/bidan masih sangat besar dalam penyebarluasan informasi tentang program jaminan persalinan.
Notoatmodjo (2012), mengatakan bahwa keberadaan media informasi tentang kesehatan akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang kesehatan. Komunikasi massa adalah penggunaan
media massa untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi kepada khalayak atau masyarakat Penyediaan informasi tentang program jaminan persalinan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, merubah sikap menjadi positif, serta bagaimana promosi memprediksi perilaku.
Notoatmodjo (2012), juga mengatakan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh orang yang didapat secara formal dan informal.
Pengetahuan formal diperoleh dari pendidikan sekolah sedangkan pengetahuan informal diperoleh dari luar sekolah. Selain itu, pengetahuan juga dapat diperoleh dari media informasi yaitu media cetak seperti buku-buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain, juga dari media elektronika seperti televisi, radio, dan internet.
5.4. Perilaku 5.4.1. Pengetahuan
Pengetahuan yaitu hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari pengalaman hidup lainnya.
Pengetahuan yang didapatkan akan menjadi sikap sebagai reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan yang didapatkan akan menjadi sikap sebagai reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012).