• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

Dalam dokumen I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 56-68)

PENGHEMATAN/ EFISIENSI

E. Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

3. Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

Kegiatan monitoring dan evaluasi program pascapanen tanaman pangan dilaksanakan secara berkesinambungan dalam rangka mengamati perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran pascapanen tanaman pangan, agar berhasil dan berjalan dengan baik.

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dengan pasti pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan program dan kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan tahun 2014 serta perkembangan bantuan sarana pascapanen agar dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana program dan penyempurnaan kebijakan di tahun berikutnya.

Monitoring dan evaluasi penanganan pascapanen tanaman pangan dilaksanakan melalui surat, telephon, email, diskusi, kunjungan lapang ke beberapa provinsi/kabupaten/ hingga kunjungan ke gapoktan/poktan.

Indikator keberhasilan pelaksanaan monitoring dan evaluasi adalah : a) Terlaksananya kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan b) Termanfaatkannya bantuan sarana pascapanen tanaman pangan

tahun 2011 – 2014

c) Adanya nilai tambah pendapatkan kelompok tani penerima bantuan alat pascapanen

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 57

Monitoring dan evaluasi penanganan pascapanen tanaman pangan meliputi :

a. Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Padi.

Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Padi dilaksanakan di 8 (delapan) Provinsi yaitu Provinsi Riau, Jawa Timur, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, kalimantan Selatan, Bengkulu, Jambi.

Hasil Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Padi, diperoleh hasil sebagai berikut :

1) Hasil Monitoring Bantuan sarana Tahun 2011-2014 penerima bantuan paket pilihan sarana pascapanen padi, bahwa Gapoktan/poktan penerima sudah membeli sarana pascapanen tersebut dengan memprioritaskan kebutuhan dalam menekan susut hasil padi. Sebagian besar sarana yang diterima sudah dimanfaatkan oleh petani penerima.

2) Kegiatan Fasilitasi Bantuan Sarana Pascapanen Padi dari Kegiatan APBN Kontigensi Tahun 2012 berupa bantuan Combine Harvester sebanyak 25 unit ; Flat Bed Dryer kapasitas 3 – 3,5 ton sebanyak 80 unit ; Vertical Dryer kapasitas 3,5 – 6 ton sebanyak 70 unit ; Vertical Dryer kapasitas 9 – 10 ton sebanyak 22 unit.

Kegiatan APBN-P Bantuan sarana pascapanen Tahun 2012 berupa Combine Harvester sejumlah 330 unit, Power Thresher Padi sejumlah 300 unit, sebagian besar sudah dimanfaatkan dengan baik kecuali Flat Bed Dryer pemakaiannya masih belum optimal karena hanya dipakai pada saat musim hujan dan biaya operasionalnya lebih tinggi jika dibandingan dengan lantai jemur.

Bantuan sarana Vertical Dryer sebagian besar sudah dimanfaatkan namun masih ada beberapa kelompok tani yang hanya memanfaatkan jika panen dimusim penghujan saja.

Bantuan combine harvester sebagian besar sudah dimanfaatkan secara optimal dan ada beberapa kelompok tani yang sudah

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 58

memanfaatkan hasil dari sewa jasa alsin tersebut untuk dibelikan sarana pascapanen yang sama atau sarana penunjang yang lain seperti traktor, transplanter dan sarana angkut.

3) Perkembangan pemanfaatan bantuan Paket Model/ Percontohan Sarana Pascapanen Padi Tahun 2013, bahwa dari 19 Gapoktan penerima model paket padi, 8 Gapoktan termasuk dalam kategori baik, 10 gapoktan termasuk dalam kategori sedang dan 1 gapoktan termasuk dalam kategori kurang baik.

Gapoktan dalam Kategori baik apabila adanya pendampingan dari petugas berjalan dengan baik, sarana tersebut optimal dioperasionalkan, sudah terorganisir dan semua sarana sudah dimanfaatkan dengan baik.

Kategori sedang apabila pendampingan kurang berjalan dengan baik, sarana kurang optimal dioperasionalkan, hanya sebagian sarana yang dimanfaatkan dengan optimal, kurang terorganisir.

Kategori kurang baik apabila pendampingan tidak ada, belum dioperasionalkan, tidak terorganisir

4) Berkaitan dengan kategori kurang baik pada Gapoktan Mekartani Desa Lulang, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat Direktur Pascapanen Tanaman Pangan sudah menurunkan tim untuk melakukan monitoring evaluasi dan pembinaan. Sesuai dengan kesepakatan tentang kesanggupan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang pada Tahun 2014 tentang penyediaan dana sharing dari APBD Tahun 2015 untuk pembangunan dinding bangunan sarana, ternyata tidak dialokasikan dana tersebut. Sebagai tindak lanjut, maka Direktur Pascapanen Tanaman Pangan membuat teguran kepada Dinas Pertanian provinsi Kalimantan Barat untuk menindaklanjuti hasil kunjungan monev tersebut.

5) Dengan adanya bantuan fasilitasi sarana pascapanen padi mulai dari tahun 2011-2014 dapat memberikan kontribusi penyelamatan

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 59

hasil. Bantuan sarana APBN dan APBNP Tahun 2011 memberikan kontribusi penyelamatan hasil 125,922 ton. Bantuan sarana APBN , Kontegensi dan APBNP memberikan kontribusi penyelamatan hasil 117,112 ton. Bantuan sarana APBN Model dan APBN Reguler Tahun 2013 memberikan kontribusi penyelamatan hasil 263,716 ton. Bantuan sarana APBN 2014 memberikan kontribusi penyelamatan hasil 42,220 ton.

6) Untuk bansos Dukungan sarana pascapanen padi APBN-P Tahun 2015 ada beberapa Provinsi yang melakukan revisi POK antara lain : a) Provinsi Jawa Tengah merevisi 1 paket dryer padi

dan bangunan menjadi 7 unit Combine Harvester Kecil, b) Provinsi Sumatera Selatan merevisi 5 Vertical Dryer Padi dan

bangunan, serta 2 paket Vertical Dryer jagung dan bangunan menjadi 6 unit Corn Combine Harvester, 98 unit Combine Harvester Besar, 81 unit Combine Harvester Kecil, 90 unit Power Thresher Multiguna dan 118 Corn Sheller, c) Provinsi Jambi mendapatkan alokasi revisi anggaran 11 unit Combine Harvester Kecil, d) Provinsi Papua untuk mendukung cetak sawah mendapatkan alokasi revisi anggaran 200 unit Combine Harvester Kecil, 6 paket Flat Bed Dryer dan bangunan serta 22 unit Combine Harvester Besar.

Sehubungan dengan adanya Revisi DIPA PSP, maka jumlah bantuan Combine Harvester Kecil semula 2.790 unit menjadi 3.060 unit, Vertical Dryer Padi yang semula 170 unit dan bangunan/rehab bangunan 170 paket menjadi 166 unit dan bangunan/rehab bangunan 166 paket.

b. Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Jagung dan Serealia Lain.

Kegiatan monitoring dan evaluasi Penanganan Pascapanen Jagung dan Serealia Lain dilaksanakan secara berkesinambungan pada

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 60

kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang menerima bantuan sarana pascapanen jagung tahun 2015.

Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Jagung dan Serealia Lain dilaksanakan ke 10 (sepuluh) provinsi yaitu Gorontalo, Lampung, D.I. Yogyakarta, Banten, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur.

Hasil Monitoring Dan Evaluasi Kegiatan Penangananan Pascapanen Jagung dan Serealia lain, maka diidentifikasikan permasalahan yang terjadi di tingkat Dinas Pertanian Provinsi maupun tingkat Gapoktan/Poktan sebagai berikut :

1) Permasalahan Fasilitasi Sarana

a) Lambatnya pengusulan CPCL dari beberapa Kabupaten sehingga Provinsi lambat untuk pengajuan CPCL Ke Pusat.

Hal ini memperlambat proses pengadaan bantuan sarana pascapanen jagung

b) Koordinasi yang kurang antara petugas pada satker bidang PSP dengan petugas penanganan pascapanen di daerah, sehingga menyebabkan lambatnya realisasi keuangan di daerah.Hal ini disebabkan karena bantuan APBN-P merupakan fasilitasi bantuan DIPA PSP dimana pembinaan masih dilakukan oleh Tanaman pangan.

c) Petugas tidak sepenuhnya memahami isi pedoman teknis, sehingga masih ada CPCL penerima bantuan yang tidak sesuai dengan pedoman teknis.

d) Sebagian besar bangunan Dryer terlambat realisasi karena banyaknya proses yang harus dilalui mulai dari surat hibah lahan hingga proses pengerjaan bangunan yang sangat lambat.

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 61

e) Beberapa provinsi belum mengetahui sosialisasi penggunaan aplikasi e-factur pajak dalam proses pembayaran barang.

f) Proses pencairan uang dari BASTB menjadi SP2D memerlukan waktu lama (kurang lebih 2 minggu-1 bulan).

g) Kurangnya petugas yang dapat bekerja dilapangan.

h) Bantuan sampai ke poktan/gapoktan pada saat telah selesai panen, sehingga pemanfaatan alat tidak optimal.

i) Kurangnya tenaga provesional yang dapat mengoperasikan alat bantuan sarana pascapanen jagung.

j) Administrasi yang belum tersusun baik di beberapa kelompok tani.

k) Beberapa alat bermasalah dan tidak sesuai dengan spesifik lokasi. Permasalahan tersebut tidak di laporkan kepusat sehingga pusat menjadi sulit mengidentifikasi setiap permasalahan di daerah.

2) Permasalahan penangan pascapanen jagung

a) Masih kurangnya pengetahuan petani saat melakukan penanganan pascapanen jagung, seperti pentingnya penangan pascapanen jagung yang tepat untuk dapat meminimalkan kehilangan hasil jagung ditingkat petani.

b) Kurang pedulinya petani dengan pengaruh kadar air terhadap keamanan simpan jagung. Dimana petani tidak terlalu memperhatikan kadar air (13%-14%) jagung yang tepat untuk penyimpanan jagung.

c) Kurangnya pengetahuan petani untuk dapat mengadopsi peralatan terbaru untuk penanganan pascapanen yang lebih baik.

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 62

Upaya penanganan masalah sebagai berikut : 1) Permasalahan Fasilitasi Sarana

a) Pengajuan CPCL hendaknya lebih dipercepat dan akan lebih baik bila telah memiliki database untuk CPCL ditahun berikut berdasarkan pengajuan proposal dari kelompok tani.

b) Koordinasi yang baik antara petugas pascapanen dengan petugas satker yang bertugas sehingga dapat mempercepat proses realisasi alat.

c) Pedoman teknis harus lebih disosialisasikan petugas Provinsi ke petugas Kabupaten agar tidak terjadi kesalahan dalam verifikasi kelompok penerima bantuan sarana pascapanen jagung

d) Dinas membuat jadwal palang penyelesaian banguanan.

e) Adanya sosialisasi e-factur kepada petugas di daerah

f) Koordinasi yang baik antara petugas daerah dengan penyelia barang

g) Penambahan petugas lapang di daerah

h) Pengaturan jadwal palang yang tepat agar alat sampai ke poktan/gapoktan saat panen atau menjelang panen di petani.

i) Pelatihan untuk petani yang ditunjuk sebagai operator sehingga dapat menggunakan alat dengan benar, bila perlu dapat pelatihan khusus dari teknisi alat.

j) Sosialisasi ke daerah dan petugas lapang untuk membantu poktan/gapoktan menyusun administrasi yang baik sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

k) Peninjauan yang lebih baik dari petugas daerah agar alat yang diberikan spesifik lokasi.

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 63

2) Permasalahan penangan pascapanen jagung

a). Sosialisasi ditingkatkan dari daerah ke petani tentang penerapan teknologi terbaru untuk penanganan pascapanen tanaman pangan, khususnya jagung.

b). Pelatihan dan pemberian informasi yang tepat ke petani tentang kadar air yang tepat untuk penyimpanan jagung.

c). Sosialisasi dari daerah cara penggunaan alat yang tepat.

c. Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Kedelai dan Aneka Kacang.

Monitoring dan evaluasi penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang dilaksanakan di 10 (sepuluh) Provinsi penerima bantuan Paket Reguler yaitu Provinsi Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Jambi, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua Barat ; serta 5 (lima) Provinsi penerima Paket Model yaitu Provinsi Jawa Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur.

Hasil Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Kedelai dan Aneka Kacang, diperoleh hasil sebagai berikut :

1) Bantuan dalam bentuk Unit

a) Bantuan sarana pascapanen kedelai tahun 2012- 2014 sudah seluruhnya diterima oleh poktan/gapoktan sesuai Surat Keputusan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) yang sudah diterbitkan.

b) Dari beberapa CPCL yang ada masih terdapat ketidak tepatan dalam pemilihan CPCL, sehingga sarana yang di berikan tidak termanfaatkan dengan baik

c) Kemampuan petani dalam penguasaan teknologi sarana pascapanen masih rendah. Petani masih kurang terampildalam penerapan operasional alat dan mesin

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 64

perontok, sehingga pemanfaatan paket bantuan sarana penanganan pascapanen belum optimal.

2) Bantuan dalam bentuk BLM

a) Pelaksanaan pembelian bantuan sarana pascapanen kedelai di beberapa kabupaten masih dijumpai adanya kesalahan dalam realisasi pembelian paket bantuan, dimana alat yang dibeli oleh poktan/gapoktan penerima bantuan tidak sesuai dengan paket yang telah ditentukan.

b) Berdasarkan realisasi pembelian paket sarana penanganan pascapanen kedelai dibeberapa daerah, poktan/gapoktan penerima bantuan lebih berminat untuk membeli sarana perontok berupa Power Thresher dan Pedal Thresher.

3) Bantuan dalam bentuk Paket Model

a) Bantuan sarana pengering kedelai (Dryer) masih kurang dimanfaatkan petani untuk melakukan pengeringan kedelai.

Hal ini disebabkan waktu panen kedelai umumnya pada musim kemarau sehingga petani lebih memilih menggunakan sinar matahari dalam proses pengeringan.

Pada beberapa Kelompok Tani alat tersebut sudah dimanfaatkan untuk melakukan pengeringan padi dan sampai saat ini dryer masih beroperasi dengan baik.

b) Bantuan sarana perontok Power Threser masih ada yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ukuran threser yang besar dan bobot yang berat menyulitkan petani untuk membawa threser ke lahan. Petani menginginkan bantuan sarana sesuai dengan keadaan lokasi (spesifik lokasi).

4) Sumber Daya Petani dan Dukungan

a) Petani masih kurang dalam memanfaatkan sarana pascapanen yang ada, karena kemampuan petani untuk mengakses teknologi sarana pascapanen masih terbatas.

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 65

Sementara tuntutan penggunaan alsintan juga dibutuhkan ditengah kurangnya tenaga kerja pedesaan.

b) Petani masih sulit mengadopsi teknologi penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang yang tepat dan benar. Umumnya dalam penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang masih dilakukan secara tradisional sehingga susut hasil yang terjadi selama proses penanganan pascapanen masih tinggi dan mutunya juga masih rendah.

c) Manajemen administrasi poktan/gapoktan masih sangat lemah sehingga pengelolaan pemanfaatan sarana pascapanen melalui sistem penyewaan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

d. Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Aneka Umbi.

Monitoring dan evaluasi penanganan pascapanen aneka Umbi dilaksanakan di 9 (sembilan) Provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat.

Hasil Monitoring dan Evaluasi Penanganan Pascapanen Aneka Umbi, diperoleh hasil sebagai berikut :

1) Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui kunjungan lapang dan wawancara menggunakan kuesioner. selain itu, karena keterbatasan waktu dan anggaran, pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara menggunakan telepon dan email untuk memonitor perkembangan pemanfaatan bantuan.

Hasil pengumpulan data yang telah dilakukan baik melalui kunjungan langsung, via telepon/email/surat diperoleh hasil sebagai berikut :

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 66

a) Evaluasi Kontribusi Bantuan Sarana Pascapanen Aneka Umbi Tahun 2012, 2013 dan 2014

Pengelolaan bantuan sarana pascapanen ubikayu dan ubijalar pada tahun 2012, 2013 di 22 poktan/ gapoktan tetap dikelola dengan baik dan memberikan nilai tambah melalui menurunnya nilai susut sedangkan bantuan sarana pascapanen ubikayu tahun 2914 di Kabupaten Cianjur sudah mulai digunakan untuk memproduksi chips.

b) Monitoring dan Evaluasi Kontribusi Bantuan Sarana Pascapanen di Daerah.

Pada tahun 2014, kegiatan fasilitasi sarana pascapanen aneka umbi dialokasikan sebesar Rp 600 juta di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat untuk mendukung kegiatan Pilot Project Strategi Induk Pembangunan Pertanian Tahun 2015 – 2045. sedangkan untuk daerah lain tidak ada bantuan sarana pascapanen.

2) Menghadiri Rapat/Koordinasi dengan Instansi Terkait

Dalam rangka mendukung kegiatan monitoring dan evaluasi, dan untuk meningkatkan koordinasi, integrasi, sinergi dan pemahaman petugas pusat dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan, dilakukan kegiatan menghadiri rapat/koordinasi ke instansi terkait. Rapat/Koordinasi tersebut antara lain :

a) Pertemuan Koordinasi Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015 di kantor BB Pascapanen di Karawang, Jawa Barat.

b) Rapat Koordinasi tentang Teknologi Produksi Chips ke kampus IPB di Bogor, Jawa Barat.

c) Rapat Koordinasi (Sistem Pengendalian Intern) Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015 Cipayung, Bogor

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 67

3) Perjalanan Dalam Rangka Mendukung Kegiatan Tanaman Pangan

Perjalanan dalam rangka mendukung kegiatan tanaman pangan dilaksanakan ke Provinsi Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan dalam rangka mendukung kegiatan tanaman pangan dilakukan sebagai bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi karena penanganan pascapanen terkait dengan pengamanan produksi dari kehilangan hasil (susut hasil) yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi tanaman pangan khususnya aneka umbi, Hasil Monitoring dan Evaluasi penanganan pascapanen dapat digunakan sebagai bahan kebijakan tanaman pangan untuk tahun berikutnya

Hasil Monitoring dan Evaluasi bersama tim provinsi dan kabupaten sebagai berikut :

a) Bantuan sarana pascapanen yang dialokasikan pada tahun 2012 dan 2013 di provinsi/kabupaten rata-rata masih digunakan dengan baik.

b) Penggunaan teknologi pascapanen sudah berjalan dengan baik, di antaranya penggunaan mesin perajang dan alat pengering berupa oven.

c) Contoh penggunaan bantuan sarana pascapanen ubijalar yang diterima oleh Poktan Baddoka berupa alat panen dan kupas, perajang, penyawut, pengepres, pengering, dan pengangkut, dan saat dilakukan kegiatan monitoring menunjukkan bahwa pemanfaatan alat belum dipergunakan secara maksimal. Alat perajang dan penyawut terlihat sama sekali belum dimanfaatkan dan hanya disimpan dalam gudang ketua poktan.

d. Pemanenan ubikayu dengan cara manual masih dilakukan didaerah yang mempunyai sifat tanah gembur, yaitu

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 68

mencabut dengan tangan. Pertanaman ubikayu dilakukan dengan cara digulud sehingga mudah untuk dicabut. Setelah pemanenan, umbi diangkut ke lokasi pengupasan, perendaman, perajangan, pengeringan dan penepungan.

e. Umumnya limbah dari umbi khususnya ubikayu dan ubi jalar dijadikan pakan ternak dengan melakukan pengeringan.

Untuk mengatasi harga jatuh umumnya petani melakukan tunda jual dengan pembuatan gaplek agar dapat disimpan dalam waktu tertentu.

f. Di beberapa provinsi sudah melakukan penanganan pascapanen ubikayu menjadi tepung tepung mocaf, gaplek (makanan), gaplek sebagai pakan ternak, opak, condok, keripik. Khusus keripik pemasaran sampai Korea (ekspor Korea). (di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara).

Dalam dokumen I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 56-68)