• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

Dalam dokumen I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 44-49)

PENGHEMATAN/ EFISIENSI

E. Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

1. Pembinaan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan

Pembinaan penanganan pascapanen merupakan pengarahan dan pembinaan kepada petugas Provinsi/Kabupaten/Kota dan poktan/

gapoktan penerima bantuan sarana pascapanen agar dapat menambah pengetahuan, kapasitas dan kemampuan petugas lapangan di Provinsi/

Kabupaten/Kota ataupun di tingkat poktan/gapoktan.

Pembinaan penanganan pascapanen dilakukan oleh petugas pusat untuk meningkatkan penerapan penanganan pascapanen terutama di wilayah sentra produksi komoditas padi, jagung, kedelai, ubikayu dan ubijalar, meningkatkan pemahaman petugas daerah mengenai kebijakan dan program pemerintah pusat dalam pengembangan penanganan pascapanen sehingga dapat diperoleh kesamaan visi, misi dan strategi penanganan pascapanen.

Kegiatan pembinaan diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada dinas provinsi/ kabupaten/kota dalam melaksanakan program kegiatan penanganan pascapanen sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2014.

Pembinaan penanganan pascapanen meliputi : a. Pembinaan Penanganan Pascapanen Padi.

Pembinaan penanganan pascapanen padi dilaksanakan di 8 (delapan) provinsi yaitu Jawa Barat, Lampung, Jawa Tengah, Banten, Bali, Sulawesi Selatan, DI. Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur.

Hasil pembinaan penanganan pascapanen padi adalah sebagai berikut :

1) Peningkatan produksi padi harus diikuti dengan Penanganan pascapanen yang baik dan benar untuk menyelamatkan hasil, mempertahankan mutu, efisiensi dan memberi nilai tambah serta daya saing bagi petani. Untuk mendukung hal tersebut, maka

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 45

pemerintah pusat memberikan bantuan sarana pascapanen, salah satunya adalah sarana pascapanen padi dan penerima bantuan sarana tersebut harus memanfaatkan secara optimal.

2) Kemampuan pemerintah pusat dalam membantu memfasilitasi petani dalam kegiatan pascapanen sangat terbatas, adanya perhatian pemerintah daerah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan kelompok tani sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.

3) Adanya pendampingan dari seluruh stakeholders terkait dalam kegiatan penanganan pascapanen yang baik dan benar diharapkan dapat membantu petani dalam upaya mempertahankan mutu produk dan menurunkan nilai susut baik 4) Jumlah maupun mutu.

5) Koordinasi yang baik antara petugas provinsi dan dinas kabupaten sangat diperlukan agar program dan kegiatan di bidang penanganan pascapanen dapat berjalan dengan baik, selain itu perlu dorongan yang simultan dan terintegrasi dari para pihak yang ada agar petani menjadi tertarik untuk membudidayakan komoditi kedelai dan aneka kacang.

b. Pembinaan Penanganan Pascapanen Jagung dan Serealia Lain.

Pembinaan pascapanen jagung dan serealia lain dilaksanakan di 6 (enam) Provinsi yaitu Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Maluku.

Kegiatan pembinaan pascapanen jagung dan serealia lain difokuskan pada cara penanganan pascapanen yang baik dan benar agar kegiatan penanganan pascapanen berjalan dengan baik, benar dan lancar sehingga mutu produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan berdaya saing yang nantinya akan memberikan peningkatan pendapatan bagi petani.

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 46

Beberapa hal yang menjadi permasalahan dan harus dijadikan perhatian dalam pembinaan penanganan pascapanen jagung dan serealia di lapangan sebagai berikut :

1) Kurangnya pengetahuan dan keterampilan petugas dan petani dalam penanganan pasapanen jagung, baik dalam penerapan teknologi maupun penggunaan sarana alsintan pascapanen.

2) Masih tingginya susut hasil pada setiap tahapan pascapanen jagung baik kuantitatif maupun kualitatif, disebabkan kurangnya pemahaman pelaku pascapanen dalam penanganan pascapanen jagung yang baik dan benar.

3) Kurangnya permodalan pada gapoktan untuk pembelian jagung, baik jagungtongkolan kering, basah, maupun pipil kering, sehingga hanya dapat menampung sebagian kecildari hasil panen petani dan poktan/gapoktan belum memiliki gudang serta lantai jemur.

4) Fluktuasi harga jagung pipilan kering dipasaran menyebabkan petani sering merugi/keuntungan sedikit, sehingga petani menjadi kurang berminat dalam membudidayakan tanaman jagung.

5) Kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara petugas terkait dan pihak penyedia barang sehingga titik bagi sarana pascapanen tanaman pangan selain mesin pengering (dryer) tidak sampai ke wilayah kerja atau lokasi poktan/gapoktan seperti di provinsi NTT, dan poktan/gapoktan masih harus menyediakan dana anggaran tersendiri untuk pengambilan dan pengangkutan sarana pascapanen ke daerahnya masing-masing.

Sebagai tindak lanjut diarahkan beberapa hal sebagai berikut :

1) Peningkatan SDM petugas/petani maupun kelompoktani dan penerapan teknologi pascapanen melalui sosialisasi penerapan teknologi pascapanen, apresiasi dan penyebarluasan informasi

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 47

penanganan pascapanen, bimbingan teknis serta monitoring evaluasi penanganan pascapanen secara rutin.

2) Koordinasi antar petugas pusat maupun daerah sampai tingkat lapang.

c. Pembinaan Penanganan Pascapanen Kedelai dan Aneka Kacang.

Kegiatan pembinaan penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang dilaksanakan di 3 (tiga) provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat.

Hasil pembinaan penanganan pascapanen Kedelai dan Aneka Kacang sebagai berikut :

1) Pembinaan penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pembinaan kepada petugas dinas pertanian provinsi/kabupaten dan instansi terkait atau kelompok pelaku kegiatan pascapanen agar memahami dan mampu melaksanakan program dan kegiatan di bidang penanganan pascapanen kedelai dan aneka kacang serta dapat mengatasi permasalahan dan mengambil kebijakan pada tahun yang akan datang.

2) Peningkatan produksi kedelai dan aneka kacang harus diikuti dengan Penanganan pascapanen yang baik dan benar perlu diikuti dengan baik guna menyelamatkan hasil, mempertahankan mutu, efisien dan memberi nilai tambah serta daya saing bagi petani. Upaya untuk mendukung hal tersebut, maka pemerintah pusat memberikan bantuan sarana pascapanen, salah satunya yaitu sarana pascapanen kedelai dan penerima bantuan sarana tersebut harus memanfaatkan secara optimal.

3) Kemampuan pemerintah pusat dalam membantu memfasilitasi petani dalam kegiatan pascapanen sangat terbatas, adanya perhatian pemerintah daerah sangat penting dalam memenuhi

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 48

kebutuhan kelompok tani sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.

4) Adanya pendampingan dari seluruh stakeholders terkait dalam kegiatan penanganan pascapanen yang baik dan benar diharapkan dapat membantu petani dalam upaya mempertahankan mutu produk dan menurunkan nilai susut baik jumlah maupun mutu.

5) Koordinasi yang baik antara petugas provinsi dan dinas kabupaten sangat diperlukan agar program dan kegiatan di bidang penanganan pascapanen dapat berjalan dengan baik, selain itu perludorongan yang simultan dan terintegrasi dari para pihak yang ada agar petani menjadi tertarik untuk membudidayakan komoditi kedelai dan aneka kacang.

d. Pembinaan Penanganan Pascapanen Aneka Umbi.

Pembinaan penanganan pascapanen Aneka Umbi dilaksanakan di 7 (tujuh) provinsi yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Banten, DI.Yogyakarta, Jawa Timur, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Barat.

Hasil Pembinaan Penanganan Pascapanen Aneka Umbi sebagai berikut:

1) Pembinaan pascapanen ubikayu diarahkan pada pengembangan wilayah produksi umbi yang dilakukan secara terintegrasi dengan industri pangan dan pasar. Dengan pengembangan sistem manajemen pascapanen di wilayah tersebut diharapkan akan dihasilkan bahan baku yang kontiniu dan berkualitas sehingga dapat dihasilkan produk olahan pangan dengan kualitas yang memenuhi standar.

2) Pentingnya penggunaan sarana pascapanen seperti pengungkit saat panen untuk menghindari umbi yang tertinggal di dalam tanah, penggunaan alat pengupas secara baik agar tidak banyak

Laporan Tahunan Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Tahun 2015

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan | 49

daging umbi yang terbuang, penggunaan alat perajang/penyawut untuk mendapatkan ketebalan yang seragam.

3) Penanganan pascapanen aneka umbi yang tidak dilakukan secara baik akan menyebabkan banyaknya kehilangan hasil (losses). Umumnya petani belum menyadari bahwa kegiatan panen dan pascapanen yang dilakukan akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan. Penanganan Pascapanen yang baik dan benar akan meningkatan hasil yang diperoleh dan pendapatan petani jadi meningkat.

4) Hasil panen disarankan tidak dijual segar akan tetapi perlu dilakukan proses lanjutan agar diperoleh nilai tambah, seperti pembuatan chips/sawut, gaplek, tepung singkong, mocaf, tapioca.

5) Dimintakan kepada poktan/Gapoktan penerima bantuan sarana pascapanen aneka umbi agar bantuan sarana yang telah diterima dimanfaatkan seoptimal mungkin.

6) Perlu perbaikan manajemen pengelolaan pascapanen oleh poktan, pembentukan organisasi secara rapi, pembagian tugas yang jelas serta tertib administrasi.

7) Poktan harus mempunyai buku khusus (log book) untuk mencatat penyewaan setiap alat sehingga dapat diketahui pendapatan dari sewa alat dan penyebaran alat dapat terpantau dengan baik.

Dalam dokumen I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang (Halaman 44-49)