B. METABOLIT SEKUNDER TUMBUHAN
32. MORACEAE
32.1. Artocarpus altilis
Nama ilmiah — Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg, J. Wash. Acad. Sci. 31:
95 (1941).
Nama lokal — S: Sukun Deskripsi
Berupa pohon dengan tinggi dapat mencapai 35 atau terkadang 40 m, berupa tumbuhan yang selalu hijau atau pun menggugurkan daun. Batang di pangkal biasanya dengan banir. Tanaman dengan getah warna putih yang melimpah saat dilukai. Ranting berdaun biasanya tebal dengan diameter berkisar antara 5 hingga 22 mm. Daun penumpu menutupi seluruh kuncup daun muda dengan panjang pada umumnya 10−25 cm dan biasanya cenderung cepat gugur. Daun tunggal dan tersusun spiral, helaian berbentuk jorong atau hampir belah ketupat hingga bundar telur sungsang, biasanya bertoreh menyirip 1−5 atau jarang lebih hingga setengah dari lebar, umumnya berukuran 20−80 × 15−50 cm, jarang lebih besar, ujung meruncing atau runcing dengan pangkal membaji atau membundar dan terkadang menjantung, berciri khas pertulangan tersier pada sisi abaksial daun jelas dan timbul. Bunga berkelamin tunggal dan masing-masing terdapat dalam satu perbungaan, satu tumbuhan dengan dua macam bunga. Perbungaan jantan muncul dari ketiak daun, soliter, panjang tangkai 1−6 mm, dengan tongkol bunga berbentuk silindris, clavatus atau menyerupai bulir, umumnya 5−30 × 1−3 cm, biasanya dengan banyak rambut. Perbungaan betina muncul juga dari ketiak daun, soliter, bertangkai 2−14 cm, dengan bongkol bervariasi dari bulat telur sungsang, jorong, hampir membulat atau silindris. Perbuahan jorong hingga hampir membulat, bulat telur sungsang hingga silindris, dengan dua ukuran utama yaitu lebih kurang 5−10 cm panjang dan lebarnya serta 15−30 × 10−30 cm. Permukaan dengan berbagai bentuk tonjolan berukuran 2 hingga 15 mm. Biji berbentuk jorong dengan ukuran 1−1.2 cm atau 2−2.5 cm bersesuaian urutan dengan ukuran buah.
Persebaran Geografis
Jenis ini tersebar mulai dari kawasan Filipina, Sulawesi, Flores, Niugini, Melanesia, Mikronesia dan Polinesia. Jenis ini telah banyak ditanam di seluruh dunia khususnya kawasan tropis. Pada kultivar yang berbiji, individu hasil naturalisasi telah ditemukan.
Habitat dan Ekologi
173
Status Konservasi
Belum dievaluasi (NE). Pemanfaatan Tradisional
Perbuahan dapat dikonsumsi dengan cara menggorengnya terlebih dahulu. Jenis ini juga tampaknya berpotensi sebagai tanaman hias.
Metabolit Sekunder dan Bioaktivitas
Berbagai senyawa yang telah diisolasi antara lain antrakuinon, glikosida, steroid, fenol, tanin, fitosterol, terpenoid, diterpen, dan resin. Salah satu bioaktivitas yang telah diketahui adalah antibakteri.
Keluwih dan Sukun
Dua nama lokal di atas sering merujuk pada masing-masing jenis dengan nama ilmiah yang berlainan, yaitu A. altilis untuk keluwih dan A. camansi Blanco untuk nama kedua. Beberapa peneliti, misalnya Zerega et al. (2004), menempatkan kedua jenis tersebut secara terpisah, berbeda dengan Berg et al. (2006) yang menyatukan dua jenis tersebut, ditambah dengan A. mariannensis
Trécul,sehingga konsep jenis menjadi lebih luas dan diikuti dalam tulisan ini. Kategori kultivar nampaknya akan lebih sesuai untuk jenis yang telah lama mendapat perlakuan budidaya ini.
Referensi
Berg CC, Corner EJH, Jarret FM. 2006. Moraceae - Genera other than Ficus. Fl Malesiana I 17(1): 1-152.
Mohanty M, Pradhan C. 2014. Phytoconstituent analysis dan comparative bioefficacy assessment of breadfruit leaf dan fruit extracts for antipathogenic potentiality. Amer J Phytomed Clinic Therapeut2(1): 77-87.
Sivagnanasurandam P, Karunanayake KOLC. 2015. Phytochemical screening dan antimicrobial activity of Artocarpus heterophyllus dan Artocarpus altilis leaf dan stem bark extracts. OUSL J 9: 1-17.
Zerega NJC, Ragone D, Motley TJ. 2004. Complex origin of breadfruit (Artocarpus altilis, Moraceae): implications for human migrations in Oceania. Amer J Bot. 91: 760-766.
32.2. Artocarpus elasticus
Nama ilmiah—Artocarpus elasticus Reinw. ex [Blume, Cat.: 101 (1823), nomen]
Blume, Bijdr.: 481 (1825).
Nama lokal—S: torop.
Deskripsi
Jenis ini berupa pohon yang umumnya berukuran besar, tinggi seringkali mencapai 45 m dan terkadang mencapai 65 meter. Batang biasanya dengan akar papan yang berkembang, meski tidak terlalu melebar jelas. Daun tunggal yang tersusun spiral, saat masih muda terbungkus oleh daun penumpu sepanjang 4−20
174
cm dan berrambut coklat panjang, helaian berbentuk jorong dengan ukuran 13−40 × 6−20 cm, jarang lebih besar, saat masih muda biasanya dengan lekukan sebanyak 3 atau empat pasang, saat sudah dewasa daun tidak berlekuk sama sekali. Perbungaan terpisah antara jantan dan betina. Perbungaan jantan berbentuk silindris dengan lekukan-lekukan, panjang 6−15 cm dan lebar 1−2.5 cm. Perbungan betina berbentuk jorong hingga silindris dengan tangkai sepanjang 4.5−12 cm. Perbuahan berbentuk jorong hingga silindris atau jarang hampir membulat, umumnya berukuran 8−12 × 5.5 cm, jarang lebih kecil atau besar, ujung perhiasan bunga berbentuk bantalan hingga seperti piramida atau silindris, panjangnya 1−4 mm. Biji berbentuk jorong dengan panjang 0.8−1 cm.
Persebaran Geografis
Myanmar, Thailand, Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, Jawa, Filipina (Palawan), Nusa Tenggara (Bali, Lombok dan Sumbawa).
Habitat dan Ekologi
Merupakan salah satu karakteristik hutan dataran rendah, dan dapat tumbuh hingga ketinggian 1500 m.
Status Konservasi
Belum dievaluasi (NE). Pemanfaatan Tradisional
Kulit kayu digunakan untuk pakaian tradisional. Biji yang digoreng dapat dikonsumsi. Luwak (Paradoxorus sp.) seringkali memakan buah ini dan biji kemudian disekresikan kembali seperti proses yang terjadi pada kopi luwak dan konon memiliki rasa yang cukup enak apabila digoreng.
S: Kulit kayu digunakan untuk mengobati diare, gangguan saluran pencernaan, diabetes mellitus, dan juga untuk luka.
Metabolit Sekunder dan Bioaktivitas
Beberapa senyawa metabolit sekunder yang telah diisolasi antara lain elasticalchone A1 dan B2, artelasticinol, cycloartelastoxanthone, artelastoxanthone dan cycloartelastocaxanthediol. Khasiat yang ada dari tanaman ini antara lain sebagai antioksidan serta untuk antikanker.
Referensi
Berg CC, Corner EJH, Jarret FM. 2006. Moraceae - Genera other than Ficus. Fl Malesiana I 17(1): 1-152.
Ko HH, Lu YH, Yang SZ, Won SJ, Lin CN. 2005. Cytotoxic prenylflavonoids from Artocarpus elasticus. J Nat Prod 68: 1692-1695.doi: 10.1021/np050287j.
Ramli F, Rahmani M, Kassim NK, Hashim NM, Sukari MA, Akim AM, Go R. 2013. New diprenylated dihydrochalcones from leaves of Artocarpus elasticus. Phytochem Lett 6: 582-585. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.phytol.2013.07.009
175
Habitus Artocarpus elasticus. Daun Artocarpus elasticus.
32.3. Artocarpus heterophyllus
Nama ilmiah — Artocarpus heterophyllus Lam., Encycl. 3: 210 (1789).
Nama lokal — K: nangka. P: nangka. S: pinasa. Deskripsi
Berupa pohon dengan tinggi umumnya mencapai 10 meter dan terkadang mencapai 30 m. Ranting saat masih muda dengan rambut yang pendek berwarna keputih-putihan dan teksturnya halus. Daun tunggal dan tersusun spiral dengan bentuk helaian saat masih muda berlekuk 3, saat dewasa tidak berbagi dan berbentuk jorong, bundar telur sungsang atau mendekati, 4−15 × 2−8 cm dengan pangkal membaji hingga membulat dan ujung meruncing pendek hingga tumpul. Perbungaan jantan dan betina terpisah dalam satu pohon. Perbungaan jantan dari cabang berdaun atau cabang lateral pendek pada batang, soliter, rangkaian berbentuk silindris, membulir atau hingga sedikit jorong dengan panjang 2.5−7 cm. Perbungaan betina muncul pada cabang, biasanya bagian yang sudah menggugurkan daun dan lebih umum dari batang, rangkaian bunga berbentuk jorong hingga silindris. Perbuahan berbentuk relatif bervariasi, mulai dari jorong hingga jorong ramping, terkadang berbentuk seperti pir, ukuran juga bervariasi dari 30 hingga 100 cm panjangnya dan lebar 25 hingga 50 cm. Tonjolan permukaan berbentuk piramida hingga kerucut. Biji berbentuk jorong meski sering tidak teratur dan panjang lebih kurang 3 cm.
176
Persebaran Geografis
Jenis ini diduga kuat memiliki sebaran asli dari India. Di Indonesia sendiri, jenis ini seringkali ditanam dan terkadang tumbuh meliar.
Habitat dan Ekologi
Mampu tumbuh pada berbagai kisaran ketinggian dan iklim dari basah hingga agak kering, misalnya di kawasan Jawa bagian timur.
Status Konservasi
Belum dievaluasi (NE). Pemanfaatan Tradisional
Pemanfaatan dapat berasal dari kayu yang dapat digunakan untuk meubel. Kayu dari jenis ini memiliki warna kuning sehingga tampilannya menarik. Kayu juga digunakan untuk konstruksi.Buah, yang sejatinya berasal dari perhiasan bunga yang mendaging, berwarna kuning dan berasa manis. Nangka merupakan salah satu buah yang sedikit banyak memiliki nilai ekonomi. Selain itu, biji juga dapat dikonsumsi setelah direbus atau digoreng. Berbagai penyakit juga dapat disembuhkan, antara lain demam, luka, penyakit kulit, diuretik, antidiabetes, disopia, faringitis, ulcers, bahan racikan untuk gigitan ular, asma, diare dan antiinflamasi.
K: Buah muda untuk sayur dan saat masak dikonsumsi langsung, serta buah dapat digunakan untuk mengobati gastritis.
P: Daun untuk mengobati sakit perut.
S: Buah digunakan untuk mengobati gangguan saluran pencernaan. Metabolit Sekunder dan Bioaktivitas
Berbagai senyawa metabolit sekunder yang telah diisolasi antara lain adalah morin, dihidromorin, sinomakurin, artocarpin, isoartokarpin, sikloartokarpin, artokarpesin, oksidihidroartokarpesin, artokarpetin, norartokarpetin, sikloartinon, artokarpanon, asam elaggat, asam betulat, sikloheterofilin, sikloartenil asetat, sikloartenon, heterofilol, ß-sitosterol, artostenon, tannin, asam ursolat, asam betulinat, jacalin, heteroflavanon A dan B, ß-karoten, α-karoten, ß-zeakaroten, α-zeakaroten dan crocetin. Berbagai bioaktivitas yang telah diketahui antara lain antiinflamasi, antioksidan, antijamur, imunomonulator, mencegah diabetes, menekan pertumbuhan bakteri dan anthelmintic.
Referensi
Berg CC, Corner EJH, Jarret FM. 2006. Moraceae - genera other than Ficus. Fl Malesiana I 17(1): 1-152.
Prakash O, Kumar R, Mishra A, Gupta R. 2009. Artocarpus heterophyllus (Jackfruit): an overview. Pharmacogn Rev 3(6): 353-358.
177
Daun Artocarpus heterophyllus. Perbuahan Artocarpus heterophyllus.
32.4. Ficus deltoidea
Nama ilmiah — Ficus deltoidea Jack, Mal. Misc. 2: 71 (1822).
Nama lokal — S: si raja landong. Deskripsi
Jenis ini merupakan semak dengan tinggi dapat mencapai 3 m, saat terestrial terkadang dapat mencapai tinggi 7 atau 10 m. Jenis ini umumnya hidup epifitik atau pada permukaan bebatuan. Tanaman ini memiliki getah warna putih yang sangat melimpah. Daun muda tertutupi oleh daun penumpu. Daun tunggal dan tersusun spiral, helaian bervariasi antara menyerupai sendok, menyegitiga terbalik, lonjong, jorong, linear hingga hampir berbentuk lingkaran, berukuran 1−8 × 0.5−8 cm dan terkadang membesar hingga 25 × 14 cm, biasanya lebih kurang tebal mendaging, pangkal runcing, tepi rata dan ujung bervariasi dari dari meruncing hingga menjantung, ibu tulang daun terkadang bercabang dua pada varietas tipikal dan tidak bercabang pada var. mottleyana (Miq.) C.C. Berg. Perbungaan berupa periuk dengan bukaan di ujungnya, muncul secara soliter atau berpasangan, dengan dasar bunga (periuk) berbentuk bulat, jorong, hampir atau bulat telur, lonjong, gasing, atau hampir silindris, dengan diameter 4−8 mm, saat masak berwarna kuning hingga jingga atau merah hingga ungu gelap terkadang hingga hitam. Bagian dalam dari periuk gundul atau berambut. Bunga terpisah antara jantan dan betina dan seluruhnya terdapat dalam periuk, bunga betina dengan perhiasan yang mendaging.
178
Persebaran Geografis
Terdiri atas dua subjenis, yaitu (1) subsp. deltoidea yang tersebar di Semenanjung Thailand, Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa bagian Barat, Borneo dan Kepulauan Maluku dan (2) subsp. mottleyana yang ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatra termasuk Belitung (Biliton), Jawa, Borneo dan Sulawesi.
Habitat dan Ekologi
Jenis ini mampu tumbuh pada kisaran ketinggian dari dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dan terkadang hingga 2500 m dan untuk subsp. mottleyana hingga 1100 m. Umumnya, jenis ini akan tumbuh terestrial pada semak belukar dataran tinggi dan seringkali epifitik pada dataran rendah. Keberadaan serasah tampaknya menjadi faktor penting untuk keberadaan jenis ini. Subsp. mottleyana tumbuh pada habitat berupa bebatuan, hutan kerangas berpasir, hutan rawa gambut dan pada ketinggian hingga 1100 m. Subjenis kedua ini tampaknya tidak atau jika pun ada sangat jarang tumbuh sebagai epifit. Status Konservasi
Belum dievaluasi (NE). Pemanfaatan Tradisional
Leukorea diobati dengan jenis ini. Manfaat lainnya adalah tanaman hias, racun ikan dan juga sebagai afrodisiak.
179
Ficus deltoidea, daun dan periuk yang diperbesar.
S: Daun digunakan untuk mengobati asma dan juga sebagai bahan pembuatan tinuktuk tawar.
Metabolit Sekunder dan Bioaktivitas
Zat penggumpal darah diperoleh dengan penggunaan ekstrak biji. Referensi
Berg CC, Corner EJH. 2005. Moraceae: Ficeae. Fl Malesiana I 17(2): 1-702.
Rojo JP, Pitargue FC, Sosef MSM. 1999. Ficus. Dalam: de Padua LS, Bunyapraphatsara N, Lemmens RHMJ (eds). Plant Resources of South-East Asia 12(1): Medicinal dan Poisonous Plants 1. Leiden: Backhuys Pub. pp 277-289.