Bab III : PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH
3.4. Sasaran Dan Indikator Kinerja Sasaran
4.1.2. MORBIDITAS
Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium. Pada manusia plasmodium terdiri dari empat spesies, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium malariae, dan plasmodium ovale. Plasmodium falciparum merupakan penyebab infeksi berat bahkan dapat menimbulkan kematian. Keempat spesies plasmodium yang terdapat di Indonesia yaitu plasmodium falciparum yang meyebabkan malaria tropika, plasmodium vivax yang menyebabkan malaria tertiana, plasmodium malariae yang menyebabkan malaria kuartana dan plasmodium ovale yang menyebabkan malaria ovale (Soedarmo, dkk., 2008).
Malaria biasanya didapat dari gigitan nyamuk anopheles betina yang sebelumnya terinfeksi. Pada keadaan lain, malaria berkembang pasca-penularan transplasenta atau sesudah transfusi darah yang terinfeksi. Masa inkubasi (antara gigitan nyamuk yang terinfeksi dan adanya parasit dalam darah) bervariasi sesuai dengan spesies; pada P. falciparum masa inkubasinya 10 – 13; pada P.vivaks dan P. ovale, 12 – 16 hari; dan pada P. malariae 27 – 37 hari, tergantung pada ukuran inokulum. Malaria yang ditularkan melalui tranfusi darah yang terinfeksi nampak nyata pada waktu yang lebih pendek (Nelson, 2000).
Penyakit Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan laporan seksi pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 (tabel 22) terdapat 38.160 kasus dengan pemeriksaan sediaan darah, dan terdapat 98 penderita dengan kriteria malaria positif. Bila kita lihat pada gambar 4.7 , dimana jumlah kasus malaria positif dari tahun 2010 sampai tahun 2018 mengalami penurunan cukup signifikan . Dengan bantuan anggaran dari Global Fund pada tahun 2010 , kegiatan penangguangan malaria dilakukan cukup intensif sehingga ada tahun 2012 ada penurunan kasus malaria posistif yang cukup dratis hampir 60 % jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya .
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
34
Gambar. 4.7.
Jumlah Kasus Malaria Positif Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2010 – 2018
Sumber : Seksi pencegahan dan penanggulangan penyakit menular
Dengan demikian, berdasarkan kasus penderita malaria positif, maka angka kesakitan malaria di Kalimantan Barat adalah 0,02 per 1.000 penduduk atau 2 per 100.000 penduduk. Hal ini berarti bahwa dari setiap 100.000 penduduk terdapat 2 orang yang terjangkit penyakit Malaria. Untuk trend angka kesakitan malaria di provinsi Kalimantan Barat, dapat dilihat pada gambar 4.8.
Gambar. 4.8.
Angka Kesakitan (Annual Parasite Incidence) Malaria per 1.000 Pddk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014 – 2018
Sumber : Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Prov. Kalbar T a h u n
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
35
4.1.2.2. TB Paru
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah
Mycobacterium bovis.
Berdasarkan Laporan seksi Pencegahan & Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, tercatat jumlah kasus baru TB BTA + sebanyak 4.444 kasus dengan angka Case Notification Rate (CNR) sebesar 88.85 per 100.000 penduduk (tabel 7). Sedang untuk persentase kesembuhan penderita TB Paru dengan BTA positif di Kalimantan Barat adalah sebesar 69,3%, dengan rincian dari 3.709 penderita yang diobati, sebanyak 3.312 penderita dinyatakan sembuh. (tabel 9). Adapun untuk persentase kesembuhan penderita TB berturut-turut dari tahun 2014 sampai tahun 2018 dapat dilihat pada gambar 4.9.
Gambar. 4.9.
Persentase Kesembuhan Pengobatan TB Paru Tahun 2014 – 2018
Sumber : Laporan Pencegahan & Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Prov. Kalbar
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
36
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mengenai Penyakit Tuberkulosis paru, didapatkan bahwa bahwa untuk tahun 2013, lima provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%), Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%) dan Papua Barat (0.4%). Hasil ini tidak berbeda dengan hasil riskesdas tahun 2007.
Untuk tahun 2018, berdasarkan hasil Riskesdas untuk Penyakit Tuberkulosis paru, lima provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Papua (0.77%), Banten (0.76%), Jawa Barat (0.63%), Papua Barat (0.53%), dan Sumatra Selatan (0.53%).
4.1.2.3. HIV/AIDS (Human Immuno Deficiency Virus Infection / Acquired Immuno Deficiency Syndrome)
Pada tahun 2018, di Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan laporan seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular dinas kesehatan provinsi Kalimantan barat, kasus HIV sebesar 605 kasus, sedang AIDS ada sebesar 610 kasus, dengan jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 7 orang. Distribusi penyebaran kasus HIV AIDS menurut kelompok umur Tahun 2018 di Provinsi Kalimantan Barat dapat dilihat pada gambar 4.10.
Gambar. 4.10.
Distribusi Kasus HIV AIDS Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2018
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
37
4.1.2.4. Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Acute Flaccid Paralysis (AFP) dapat diartikan sebagai lumpuh layuh mendadak yaitu gejala lumpuh yang terjadi secara cepat (mendadak atau akut), dengan sifat kelumpuhannya adalah lemas (layuh atau paralitik yang tidak disebabkan oleh ruda paksa). Sifat akut diartikan dengan lama waktu mulai sakit demam, pilek sampai dengan berlangsung cepat berkisar antara 1-14 hari.
Kejadian AFP diproyeksikan sebagai indikator untuk menilai keberhasilan program Eradikasi Polio (Erapo). Upaya pemantauan terhadap keberhasilan Erapo yaitu dengan melaksanakan kegiatan ” Surveilans Secara Aktif ” untuk menemukan kasus lumpuh layuh mendadak pada usia <15 tahun (AFP) sebagai upaya untuk mendeteksi secara dini munculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat untuk segera dilakukan penanggulangannya.
Gambar. 4.11.
Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) Tahun 2014-2018
Sumber : Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Prov. Kalbar
Tahun 2018, berdasarkan laporan Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (tabel18) terdapat 31 kasus AFP atau sebesar 2,15 per 100.000 penduduk berisiko (usia < 15 tahun). Dibandingkan dengan tahun 2017, dimana angka penemuan kasus AFP nya sebesar 2,09 per 100.000 penduduk usia < 15 tahun, maka pada tahun 2018 di Kalimantan Barat cenderung tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Angka penemuan
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
38
kasus AFP berturut-turut dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 dapat dilihat pada gambar 4.11.
4.1.2.5. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manivestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit DBD ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan mungkin juga Aedes Albopictus.
Gambar 4.12. memperlihatkan bahwa kasus DBD pada tahun 2018 terbanyak ada di Kabupaten Ketapang yaitu sebanyak 808 kasus (25,86%) dari 3.125 total kasus di Kalimantan Barat, kemudian disusul oleh Kabupaten Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak 470 (15,04%) kasus, dan Kabupaten Kubu Raya 376 kasus (12,03%). Sedang untuk Kabupaten/Kota lainnya masih berada di bawah 10% dari total kasus yang ada. Adapun untuk kasus DBD terendah ada di Kabupaten Melawi, yaitu sebesar 57 kasus (1,82%) dari total kasus yang ada.
Gambar 4.12.
Jumlah Kasus DBD Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2018
Sumber : Seksi P3M Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.
Di Provinsi Kalimantan Barat dalam kurun waktu lima tahun terakhir terjadi kasus DBD yang cukup fluktuatif, berturut-turut mulai tahun 2014 ada
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
39
5.049 kasus (CFR : 1,3%), tahun 2015 ada 951 kasus (CFR : 1,6%), tahun 2016 ada 967 kasus (CFR : 1,3%), tahun 2017 ada 3.132 kasus (CFR : 1,1%), dan tahun 2018 ada 3.125 kasus (CFR : 0,9%), Kecenderungan kasus DBD dari tahun ke tahun dapat dilihat pada gambar 4.13.
Gambar 4.13.
Jumlah Kasus DBD di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014 – 2018
Sumber : Seksi Pencegahan & Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Prov. Kalbar