Bab III : PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH
3.4. Sasaran Dan Indikator Kinerja Sasaran
4.1.3. STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, diantaranya adalah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Status gizi balita, status gizi wanita usia subur Kurang Energi Kronis (KEK).
4.1.3.1. Gizi Buruk
Status Gizi merupakan suatu indikator yang sangat penting untuk menilai status indikator derajat Kesehatan Masyarakat. Gizi buruk adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Anak balita sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umurnya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau kwashiorkor. Sementara itu, pengertian di masyarakat tentang ”Busung Lapar” adalah tidak tepat. Sebutan ”Busung
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
40
Lapar” yang sebenarnya adalah keadaan yang terjadi akibat kekurangan pangan dalam kurun waktu tertentu pada satu wilayah, sehingga mengakibatkan kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan, yang pada akhirnya berdampak pada kondisi status gizi menjadi kurang atau buruk dan keadaan ini terjadi pada semua golongan umur. Tanda-tanda klinis pada ”Busung Lapar” pada umumnya sama dengan tanda-tanda pada marasmus dan kwashiorkor. Anak kurang gizi pada tingkat ringan dan atau sedang tidak selalu diikuti dengan gejala sakit. Dia seperti anak-anak lain, masih bermain dan sebagainya, tetapi bila diamati dengan seksama badannya mulai kurus.
Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U memberikan indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis ataupun akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan. Indikator BB/U yang rendah dapat disebabkan karena pendek (masalah gizi kronis) atau sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain (masalah gizi akut).
Indikator status gizi berdasarkan indeks TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan asupan makanan kurang dalam jangka waktu lama sejak usia bayi sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek.
Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Masalah kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit degeneratif pada saat dewasa (Teori Barker). Masalah gizi akut-kronis adalah masalah gizi yang memiliki sifat masalah gizi akut dan kronis. Sebagai contoh adalah anak yang kurus dan pendek.
Berdasarkan hasil laporan program gizi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018, dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada terdapat kasus gizi buruk sebanyak 397 kasus (table 48). Angka tersebut didapatkan dari laporan kasus dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis kasus gizi buruk.
Gambar 4.14. merupakan gambaran penyebaran kasus gizi buruk di Kalimantan Barat tahun 2018, kasus gizi buruk terbanyak ada di Kabupaten Kapuas Hulu yaitu sebanyak 103 kasus, diikuti oleh Kabupaten Sanggau sebanyak 69 kasus dan Kabupaten Ketapang 58 kasus. Kabupaten dengan
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
41
kasus gizi buruk terendah adalah kabupaten Melawi dan Kayong Utara, Masing-masing sebanyak 1 orang. Dilihat dari gizi buruk yang mendapat perawatan, seluruh balita gizi buruk mendapat perawatan sesuai prosedur tatalaksana gizi buruk (100%).
Gambar 4.14.
Kasus Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Prov. Kalbar
Hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi buruk-kurang (underweight) secara nasional adalah 17,7 persen, terdiri dari 3,9 persen gizi buruk dan 13,8 persen gizi kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2013 berdasarkan hasil riskesdas tahun 2013 (19,6 %) terlihat adanya penurunan prevalensi gizi buruk di Indonesia. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,7 persen tahun 2013, menjadi 3,9 persen pada tahun 2017. Sedangkan untuk status gizi kurang, berdasarkan hasil riskesdas tahun 2018 hanya terjadi penurunan sekitar 0,1 dari hasil riskesdas tahun 2013.
4.1.3.2. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas, artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. "Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti
Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018
42
adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang." (Pringgardani, SpA).
Berat Badan Lahir Rendah (< 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan nenonatal. Barker dkk dalam Hardiansyah dkk (2000) mengungkapkan bahwa BBLR mempunyai dampak yang kompleks sampai usia dewasa antara lain meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, gangguan metabolik dan kekebalan tubuh serta katahanan fisik yang resultantenya adalah beban ekonomi individu dan masyarakat.
Gambar 4.15.
Persentase Bayi dan BBLR
Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014 – 2018
Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Prov. Kalbar
Di Kalimantan Barat, kecenderungan persentase kasus BBLR sejak tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan. Kecenderungan persentase kasus BBLR di Provini Kalimantan Barat 5 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar 4.15.
Secara nasional, berdasarkan hasil Riskesdas menunjukan prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berkurang dari 11,1% persen tahun 2010 menjadi 10,2 persen tahun 2013, dan turun kembali menjadi 6,2% pada tahun 2018 (riskesdas 2018). Pada tahun 2018, variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di provinsi Jambi (2,26%) sampai yang tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (8,9%). Menurut kelompok umur, persentase BBLR tidak menunjukkan pola kecenderungan yang jelas. Menurut jenis kelamin, persentase BBLR pada perempuan (6,7%) lebih tinggi