• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III : PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH

3.4. Sasaran Dan Indikator Kinerja Sasaran

3.4.10. Tujuan Kesepuluh

“ Terciptanya pegawai yang profesional guna memberikan pelayanan prima kepada masyarakat ”, dengan sasaran :

16. Meningkatkan pegawai yang profesional dengan didukung oleh rencana kerja, penganggaran, sarana dan prasarana yang efektif dan efisien serta memadai, dengan indikator kinerja sasaran

diantaranya:

- Persentase pengelolaan pembayaran gaji PNS tepat jumlah, waktu dan sasaran

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

24

- Persentase pelayanan administrasi kantor secara cepat dan tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku

- Persentase tertatanya administrasi kepegawaian, dengan rincian indikator sebagai berikut :

 Penyelesaian proses kenaikan pangkat  Penyelesaian proses gaji berkala  Penyelesaian proses Cuti PNS

 Penyelesaian proses usul pensiun PNS

 Penyelesaian proses usul penghargaan satya lencana - Persentase sarana dan prasarana gedung yang berfungsi

- Persentase tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana gedung.

- Persentase sarana dan prasarana mobilitas yang berfungsi.

- Persentase tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana mobilitas.

- Persentase sarana dan prasarana alat kantor dan rumah tangga yang berfungsi.

- Persentase tingkat pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana alat kantor dan rumah tangga.

- Persentase tingkat ketertiban dan kedisiplinan PNS

- Persentase peningkatan kapasitas sumber daya aparatur dengan rincian indikator sebagai berikut :

 Persentase tersusunnya Dokumen Analisis jabatan  Persentase tersusunnya Standar Operasional Prosedur

(SOP)

 Persentase tenaga fungsional yang dilakukan penilaian angka kredit jabatan fungsional

 Persentase Fasilitasi pelatihan peningkatan keterampilan dan kemampuan PNS

- Persentase pejabat struktural yang telah mengikuti diklatpim. - Persentase dokumen perencanaan dan anggaran SKPD yang

disusun

- Persentase dokumen laporan kinerja yang disusun

- Persentase laporan keuangan SKPD sesuai Standar Akutansi Pemerintah (SAP) yang disusun

- Persentase laporan inventarisasi aset yang disusun

- Jumlah dokumen perencanaan , anggaran, kebijakan dan evaluasi pembangunan kesehatan yang tersosialisasikan

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

25

- Persentase penyelesaian proses penempatan tenaga kesehatan PTT :

a. Dokter PTT b. Dokter Gigi PTT c. Bidan PTT

- Persentase penyelesaian proses selesai masa bakti tenaga kesehatan PTT:

d. Dokter PTT e. Dokter Gigi PTT

- Persentase Pelaksanaan Penilaian tenaga puskesmas teladan

17. Meningkatkan pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan dan pemakaian kekayaan daerah sesuai dengan ketentuan, dengan

indikator kinerja sasaran diantaranya:

- Persentase tingkat pemakaian kekayaan daerah di Dinkes Prov. Kalbar dan UPT dengan rincian indikator sebagai berikut :

a. Persentase jumlah hari pemanfaatan aula di Dinkes Prov. Kalbar

b. Jumlah pemeriksaan laboratorium kesehatan di Unit laboratorium Kesehatan (Ulabkes) Pontianak

c. Persentase jumlah hari pemanfaatan ruang dan fasilitas lainnya di Unit Pelatihan Kesehatan (Upelkes) Pontianak

2. 2.

- Persentase tingkat pelayanan kesehatan di UP4 Pontianak

- Persentase kunjungan PNSD, Keluarga PNSD dan Pensiunan PNSD di lingkungan Pemprov. Kalbar ke Poliklinik Pemprov - Jumlah calon peserta didik tiap tahunnya di Akper Sintang

- Persentase kontribusi PAD dari pelayanan Dinas Kesehatan Prov. Kalbar dan UPT terhadap PAD Provinsi Kalimantan Barat

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

26

BAB IV

PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Mengacu kepada sistimatika dari uraian Visi, Misi Kalimantan Barat Sehat yang tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Periode 2013 – 2018, pada bab ini akan menyajikan gambaran tentang hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahun 2018 di Provinsi Kalimantan Barat. Uraian pada bab ini meliputi gambaran tentang derajat kesehatan masyarakat, keadaan lingkungan, keadaan perilaku masyarakat dan keadaan pelayanan kesehatan.

4.1. DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

Untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat Provinsi Kalimantan Barat dipergunakan beberapa indikator berdasarkan data-data yang diperoleh dari SDKI, SUSENAS, RISKESDAS, BPS atau data-data terkait lainnya.

Indikator-indikator yang digunakan antara lain meliputi :

4.1.1. MORTALITAS

4.1.1.1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal : adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Dan eksogen atau kematian post neo-natal : adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Angka Kematian Bayi (AKB) di Kalimantan Barat untuk tahun 2012

berdasarkan laporan pendahuluan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 adalah 31 per 1.000 Kelahiran hidup. Sedang untuk Angka Kematian Bayi Nasional adalah 32 per 1.000 Kelahiran Hidup. Hal ini berarti terjadi penurunan angka kematian bayi yang signifikan di provinsi Kalimantan Barat dimana Angka Kematian Bayi di Kalimantan Barat sudah lebih rendah dibandingkan dengan Angka Kematian Bayi Nasional. Berturut-turut AKB di Kalimantan Barat berdasarkan hasil SDKI mulai tahun

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

27

1994 adalah 97 per 1.000 Kelahiran Hidup, Tahun 1997 menjadi 70 per 1.000 KH, Tahun 2002 menjadi 47 per 1.000 KH, turun menjadi 46 per 1.000 kelahiran hidup berdasarkan SDKI Tahun 2007 dan turun menjadi 31 per 1.000 KH berdasarkan laporan pendahuluan SDKI 2012. Sedang untuk hasil sensus pada tahun 2010, angka bayi di Kalimantan Barat adalah 27 per 100.000 KH sedang di tingat nasional adalah sebesar 26 per 100.000 KH.

Gambar 4.1

Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Kalimantan Barat dan Nasional Tahun 1994 – 2012

Sumber : SDKI 1994, 1997, 2002, 2007 dan 2012

Namun demikian jika merujuk pada laporan seksi Kesehatan keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, tercatat kasus kematian bayi yang dilaporkan pada tahun 2018 adalah sebesar 638 kasus dengan 90.913 kelahiran hidup. Sehingga dengan demikan jika dihitung angka kematian bayinya adalah 7 per 1.000 kelahiran hidup (tabel 5 lampiran profil). Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi (tablet Fe) dan suntikan anti tetanus.

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

28

Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.

4.1.1.2. Angka Kematian Ibu (AKI)

Informasi mengenai tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistim rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.

Mengacu hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian ibu periode dua dasawarsa seperti terlihat pada gambar 4.2. dimana angka kematian menunjukan adanya penurunan dari tahun ke tahun, namun tejadi kenaikan kembali pada periode tahun 2007 – 2012.

Gambar 4.2

Angka Kematian Ibu (AKI) Nasional Tahun 1994 - 2015

Sumber : SDKI 1994, 1997, 2002, 2007 , SENSUS 2010, SDKI 2012 dan SUPAS 2015

0 100 200 300 400 1994 1997 2002 2007 2010 2012 2015 390 334 307 228 259 359 305 AKI NASIONAL

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

29

Dilihat dari hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, angka kematian ibu Provinsi Kalimantan Barat adalah sebesar 240 per 100.000 Kelahiran Hidup, sedang untuk nasional sebesar 259 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa angka kematian ibu di Kalimantan Barat telah menunjukan adanya penurunan yang sangat signifikan, dimana dalam dua dasawarsa, pada tahun 2012 angka kematian ibu di Kalimantan Barat berada dibawah angka nasional, baik dibandingkan dengan hasil SDKI maupun hasil Sensus Penduduk.

Sedang, jika dilihat berdasarkan kasus kematian maternal yang terjadi pada tahun 2018 di Provinsi Kalimantan Barat, tercatat sebanyak 86 kasus kematian ibu. Sehingga jika dihitung angka kematian ibu maternal dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 90.913, maka kematian Ibu maternal di provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2018 adalah sebesar 95 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian Ibu Maternal terbesar ada di kabupaten Kubu Raya, yaitu sebesar 158 per 100.000 Kelahiran Hidup dan terkecil ada di kabupaten Kapuas mempawah, yaitu sebesar 44 Per 100.000 Kelahiran Hidup.

Gambar 4.3

Angka Kematian Ibu di Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan Kasus yang tercatat

Tahun 2018

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

30

4.1.1.3. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah Jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). AKABA menggambarkan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.

Gambar 4.4

Angka Kematian Balita Provinsi Kalimantan Barat Tahun 1994 – 2012

Sumber : SDKI 1994; 1997; 2002-2003; 2007; 2012

AKABA Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan hasil SDKI berturut-turut mulai tahun 1994 adalah 93 per 1.000 Kelahiran Hidup, turun menjadi 88,2 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 1997, turun menjadi 63 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2003, turun menjadi 59 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2007, dan menurun kembali menjadi 37 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2012. Angka ini lebih rendah dari rata-rata angka kematian balita secara nasional yaitu 40 per 1.000 Kelahiran Hidup.

Jika dilihat kasus kematian Balita yang terjadi pada tahun 2018 berdasarkan laporan seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, tercatat sebanyak 677 kasus. Sehingga jika dihitung berdasarkan kasus yang terjadi dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 90.913, maka kematian Balita di provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2018 adalah sebesar 7,4 per 1.000 kelahiran hidup.

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

31

4.1.1.4. Angka Harapan Hidup

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan angka harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.

Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka harapan hidup saat lahir adalah rata – rata hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada tahun tertentu.

Gambar 4.5

Angka Harapan Hidup Penduduk Kalimantan Barat Tahun 2014- 2018

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Barat th 2018

Dilihat dari tahun ke tahun, Angka Harapan Hidup di Kalimantan Barat terjadi peningkatan. Angka Harapan Hidup tahun 2014 berdasarkan Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat adalah

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

32

69,76, kemudian meningkat menjadi 69,87 pada tahun 2015, meningkat kembali menjadi 69,90 pada tahun 2016, meningkat menjadi 69,92 pada tahun 2017 dan menjadi 70,18 pada tahun 2018. Sedangkan untuk angka harapan hidup masing-masing kabupaten/kota dapat dilihat pada gambar 4.6.

Gambar 4.6

Angka Harapan Hidup Penduduk Kalimantan Barat Menurut Kabupaten/Kota

Tahun 2018

Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2018

33

4.1.2. MORBIDITAS

Dokumen terkait