• Tidak ada hasil yang ditemukan

III GENEOLOGI GRAMATIKA BAHASA ARAB

B. MOTIVASI KODIFIKASI NAHWU

Kodifikasi bahasa mengacu pada standardisasi yang nantinya di se pa kati sebagai bahasa yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Standardisasi 15 Asmah Haji Omar, PELBBA 11, (Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya

bahasa Arab16 mengarah kepada banyaknya kesamaan penggunaan se-

buah kata atau kalimat yang jamak dipahami oleh masing-masing kabilah. Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa standardisasi bahasa merupakan hasil evolusi yang berkembang dalam komunitas peng- gunaan bahasa17, sehingga ada proses ambil dan buang; bahasa yang

bisa diterima akan diambil dan dipakai sedangkan bahasa yang tidak layak kemudian tidak terpakai dan akhirnya hilang. Proses inilah yang dalam bahasa Arab melahirkan adanya bahasa fusha, yang membedakan dengan bahasa ‘ammiyah. Bahasa Arab fusha adalah bahasa baku dalam terminology saat ini, yaitu sebagai bahasa standard yang bisa dimengerti oleh masing-masing bangsa dan sebagai bahasa yang banyak digunakan dalam forum resmi, baik untuk bahasa lisan maupun tulisan18. Sedangkan

bahasa ‘ammiyah adalah bahasa percakapan sehari-hari antar suku yang sama, yang dalam terminology saat ini bisa disebut sebagai dialek19.

Namun sebenarnya, ketika bahasa menjadi terkelompokkan dalam ragam bahasa baku, maka bahasa tersebut secara linguistik telah menjadi dialek tersendiri dan secara social memiliki kelas yang tinggi. Dalam hal ini bahasa fusha menjadi baku karena bahasa ini dipakai oleh kelas cerdik pandai, yang dibuktikan dalam keteraturan dan kemampuannya ber- bahasa dengan baik20.

16 Dalam teori standard bahasa, maka yang dimaksud adalah bahasa yang memiliki

standard tinggi atau bermutu, dalam arti bahwa bahasa itu lebih dihargai sebagai bahasa yang baik dan pantas ketika dibandingkan dengan bahasa lain. Penentuan ukuran tinggi dan baik inilah kemudian yang menjadi proyek standardisasi bahasa. Ukuran yang digunakan bisa bermacam-macam, misalnya bahasa baku yang diambil dari dialek sosial, atau suku tertentu. Lihat Sumarsono dan Paina Partana, Sosiolinguistik, h. 27-28. Lihat juga Anton M. Moeliono, Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1985), h.92.

17 Asmar Haji Omar, PELBBA 11, h. 99.

18 Ada beberapa tingkatan dalam standardisasi ini, yaitu qalil, dha’if, nazar dan Syadz.

Kesemuanya diindikasikan sebagai jarang dipakai. Adpun istilah qalil maka pema- kaiannya lebih banyak dari dha’if, begitu pula dha’if masih lebih banyak dari nazar.

Begitu seterusnya. Lihat Muhammad Husain ‘Ali Yasin, Al-Dirâsât Al-Lughawiyyah ‘Inda Al-‘Arab ilâ Nihâyat Al-Qarn Al-Tsâlits, (Beirut: Al-Maktabah Al-hayat, 1980), h. 33.

19 Ferdinand de Saussure membedakan tiga cluster dalam bahasa, yaitu langage (ةغللا),

langue( ةنيعلما ةغللا )dan parole(ملاكلا).

Dalam konteks Arab, bahasa baku ini diambil dari kabilah yang dianggap steril dari kontaminasi dengan budaya luar. Bahasa baku ini bisa berasal dari berbagai kabilah yang berbeda-beda. Dalam membuat standardisasi, para ulama awal mengumpulkan kata-kata yang banyak dipakai oleh orang Arab, baik melalui transmisi oral maupun melalui tulisan-tulisan yang berserak21. Adapun suku-suku yang dianggap bisa

digunakan untuk ukuran standard baku adalah Hijaz, Kinânah, Hudzail, Ghathfân, Hawzân, Salim, Tha`i, Tamim, Asad, dan Qays22. Suku-suku ini dianggap terletak di pusat jazirah Arab, sehingga dianggap steril dari kon taminasi budaya luar23. Berbeda dengan suku di daerah pinggiran

yang berbatasan langsung dengan budaya luar, seperti suku Rabi’ah,

Taghlab yang berdekatan dengan Iraq yang berbahasa Persia. Sedangkan

buku ini diterangkan bahwa bahasa baku di Jawa adalah bahasa yang banyak dipakai oleh kalangan kraton, sebagai pusat kebudayaan.

21 Abdul Karim Muhammad As’ad, Al-Wasith fî târikh Al-Nahwiy Al-‘Arabiy, h.19 22 Dalam sejarahnya, kelompok di Arab dibagi menjadi dua, yaitu; Qahthâniyyahi

dan ‘Adnâniyyah. Orang­orang Qahthan adalah orang­orang Yaman yang dinasabkan

kepada Ya’rib (atau Ya’rab?) bin Qahthan. Sebagian keturunannya menyebar ke wilayah timur dan selatan di jazirah Arab. Kemudian suku-suku ini menetap di daerah Yamamah. Bahrain, Oman, dan Hijaz. Sebagian menetap di Iraq dan Syria (Syam) . Nama-nama suku yang berasal dari Qahthan ini adalah Humair, Ghassan, Lakhm, Azad, Kindah, dan Thaiy.

Adapun kelompok ‘Adnan berasal dari Arab Utara, di daerah Tihamah, Najd, dan Hijaz. Nasab mereka berasal dari ‘Adnan. Suku-suku ini bernama Anmar, Mudhar, Rubay’ah, dan Iyad. Dari suku Mudhar ini lahir pula suku Kinanah dan kelompok kecilnya (ras) bernama Quraisy. Suku lain dari ‘Adnan adalah Tamim, Qays, Asad, Hudzail, Dhabbah dan Mazinah. Lihat Abdul Karim Muhammad Al-As’ad, Al-Washît fî Târikh al-Nahwy,(Riyadh: Dar Al-Syawaf, 1996), h. 20.

23 Kemudian pada masa Nabi Muhammad, suku yan dianggap sebagai paling fashih

adalah Quraisy. Suku Quraisy bukanlah suku yang menyendiri dari kabilah-kabilah yang diterangkan di atas, ia merupakan suku yan mendiami tempat kabilah-kabilah yang fashih bahasanya. Ditambah dengan keterangan bahwa Nabi Muhammad berasal dari suku Quraisy yang konon termasuk fasih, membuat legitimasi Quraisy sebagai yang paling fashih menjadi kuta. Hal ini antara lain karena factor; pertama, adanya bangunan Ka’bah yang dari dahulu telah disucikan sejak sebelum kedatangan Islam. Banyak kabilah yang menunaikan ibadah haji ke Ka’bah. Kedua, adanya pasar ‘Ukaz sebagi tempat berkumpulnya para pujangga dari berbagai kabilah untuk memamerkan karya-karya mereka. Ketiga, tingkat pergaulan antar kabilah yang begitu luas dari suku Quraisy dengan suku lainnya dari berbagai pusat Jazirah. Lihat Abdullah Jâ Al-Karim,

suku­suku yang berada di daerah Syria berbahasa Suryani dan Yunani. Adapun suku­suku di daerah Yaman masih banyak yang berbahasa Habsyi. Demikian pula yang wilayahnya makin keluar dari daerah ini.

Bahasa baku atau fusha menjadi bahasa yang dianggap bernilai tinggi dan luhur, dan banyak digunakan sebagai bahasa sastra dan hikmah, di antaranya sebagai bahasa-bahasa syair, pidato, puisi, dan sebagai- nya dalam wilayah sastra24. Sedangkan bahasa percakapan sehari-hari,

baik untuk keperluan sekedar bercakap-cakap biasa maupun transaksi- transaksi yang dianggap sebagai bahasa kaum awam atau ‘ammiyah adalah bahasa rendah, untuk diperlawankan dengan bahasa tinggi ter- sebut.

Selanjutnya, dalam terminologi yang lain, dari kata fusha ini muncul istilah fashahah, yang berarti penggunaan bahasa yang mudah di pahami, tidak mengandung kata-kata asing, dengan susunan kata yang jelas, runtut, sesuai aturan, dan mudah diucapkan25. Dengan demikian bahasa

yang fashih adalah bahasa yang tidak mengandung pengertian ganda, ber- cabang dan sulit dimengerti.

Mengutip Syaikh Bahauddin, secara garis besar Jalaludin Al-Suyuthi menjelaskan fenomena dalam penggunaan bahasa Arab, yaitu; pertama, bahasa yang banyak dipakai oleh para sastrawan. Kedua, bahasa yang jarang dipakai. Ketiga, kata­kata yang ada secara leksikografis dalam bahasa Arab tetapi jarang digunakan oleh banyak orang. Keempat, kata- kata yang sering diucapkan banyak orang, tetapi menyalahi makna semestinya. Dalam bahasa saat ini mungkin semacam bahasa slang. Dalam kaitannya dengan batasan fusha, hanya yang pertama dan ketiga sajalah yang bisa dianggap fusha.

Setelah adanya standardisasi ini maka muncul istilah lahn, yaitu sikap berbahasa yang salah dan tidak sesuai dengan standard baku yang disepakati. Istilah ini tidak ditemukan pada masa sebelum kadatangan Islam atau bahkan sebelum kodifikasi26. Pada masa sebelum kodifikasi

24 Muhammad Husain ‘Ali Yasin, al-Dirâsât al-Lughawiyyah ‘Inda al-‘Arab ilâ Nihâyat

al-Qarn al-Tsâlits,... h. 31-34.

25 Jalaludin al-Suyuti, al-muzhir fî ‘Ulum al-Lughah, j. 1, h. 112. 26 Lihat George Makdisi, Cita Humanisme Islam, terj. H. 194

yang ada hanyalah istilah bahwa bahasa yang digunakan seseorang itu masih asing atau sulit dimengerti. Dalam hal ini nampaknya hanya istilahnya saja yang berbeda, namun perlakuan terhadap kesalahan ter- sebut sudah muncul sejak awal27.

Dengan demikian, aturan awal dalam penggunaan bahasa baik untuk keperluan yang resmi maupun transaksional keseharian sudah ada, namun belum distandardkan dalam bentuk aturan baku sebagaimana yang kelak terjadi dalam pembakuan bahasa Arab. Aturan baku bisa bersifat peraturan lisan maupun tulisan. Aturan lisan lebih bersifat aturan dari para pejabat ketika menegur atau menyikapi kesalahan yang terjadi. Sedangkan aturan tertulis lebih nampak dalam kodifikasi sesudahnya.

Pertumbuhan dan perkembangan nahwu berlangsung dalam be- berapa tahap sesuai dengan munculnya beberapa persoalan mengenai bahasa Arab itu sendiri28. Sedangkan media yang ada adalah transmisi

secara oral, karena belum ada tradisi penulisan secara umum29. Pewarisan

secara oral ini membawa model tersendiri dalam transmisi keilmuan bahasa kepada generasi-generasi sesudahnya, misalnya tradisi menghafal yang begitu kuat bagi orang Arab. Berbeda dengan tradisi tulisan yang kemudian mendasarkan pada apa yang tertulis.

Motivasi awal lahirnya nahwu, menurut Syauqi Dhaif secara garis besar ada dua hal, yaitu motif agama dan non-agama. Motif agama adalah motif yang mendorong kodifikasi nahwu untuk kepentingan men jaga orisinalitas kitab suci al-Qur’an, baik dari sisi tulisan maupun bacaannya30. Hal ini didasari oleh adanya kesalahan-kesalahan dalam

bacaan al-Qur’an yang mulai tersebar, baik di kalangan orang Arab sendiri maupun orang non-Arab. Sedangkan motif di luar agama adalah motif yang mendorong agar orang Arab sendiri dan orang non-Arab 27 Muhammad Husain ‘Ali Yasin, Al-Dirâsât Al-Lughawiyyah ‘Inda Al-‘Arab ilâ Nihâyat

Al-Qarn Al-Tsâlits, h. 34-35

28 Lihat Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992), cet.

Pertama, h. 23.

29 Abdul Karim Muhammad Al-As’ad, Al-Washît fî Târikh al-Nahwy, h. 17. 30 Clive Hole menyebutnya sebagai fenomena bahasa yang abadi sepanjang zaman.

Lihat Clive Hole, Modern Arabic; Structure, Functions, and Varieties, (London: Longman, 1995), h. 4.

bisa berbahasa Arab dengan aturan yang benar sesuai kesepakatan- kesepakatan ahli bahasa waktu itu. Hal ini didasari oleh berkembang- nya kesalahan berbahasa, baik oleh orang Arab sendiri maupun orang non-Arab31. Orang non-Arab yang dimaksud adalah masyarakat daerah-

daerah taklukan yang mulanya tidak berbahasa Arab.

Faktor non-agama ada dalam berbagai bentuknya, seperti faktor politik, sosial dan ekonomi. Faktor politik didorong oleh kebijakan penguasa yang menggunakan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa nasional yang menyatukan berbagai bahasa yang ada setelah pe- naklukan (lingua franca). Ira M Lapidus mencatat bahwa kltur bahasa Arab merupakan produk dari tiga hal, yaitu produk masyarakat intelektual perkotaan, produk kesukuan bangsa Arab dan produk penguasa yang dalam hal ini adalah istana32. Faktor ini cukup domianan mengingat

peran penguasa sangat dominan dalam perpolitikan yang penuh gejolak waktu itu. Sedangkan faktor sosial adalah adanya kenyataan bahwa bahasa Arab menjadi bahasa tinggi yang banyak dipelajari dan digunakan oleh kaum intelektual. Hingga anak-anak khalifah sendiri harus mem- pelajari langsung dari pengguna yang masih asli, yaitu komunitas (kaum) yang sering disebut kaum badiyah. Selain itu, masyarakat Arab sendiri sangat menjunjung ketinggian dan membanggakan bahasa Arab atas bahasa yang lain. Sifat superioritas atas bahasa Arab ini mengkondisi kan masyarakat untuk terus-menerus menjaga bahasa Arab dari pengaruh luar, maupun kekhawatiran tergesernya bahasa Arab oleh bahasa lain33,

selain rusaknya bahasa Arab itu sendiri.

Faktor ekonomi bisa dirunut dari kebisaaan masyarakat Arab dan sekitarnya dalam menjalankan perekonomian pada saat mereka meng- adakan perjalanan ke Mekkah, baik saat musim haji maupun hanya se kedar berdagang dalam kesehariannya34. Kota Makkah dahulu juga

dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan jauh sebelum Islam datang dengan Ka’bah sebagai sentralnya, sehingga bisa dimaklumi bahwa 31 Syawqy Dhaif, al-Madaris al-Nahwiyah,(Mesir: Dar Al-Ma’arif, 1968), cet.ke-3.h.11. 32 Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj. (Jakarta: Rajawali Press, 1999), h. 138-139. 33 Syauqy Dhaif, al-Madaris al-Nahwiyah, h. 12.

Makkah menjadi salah satu pusat bertemunya berbagai macam bangsa yang ada di sekitar Makkah35. Bahkan masyarakat dari Yaman dan negeri

Syam banyak yang berkunjung ke negeri Makkah, begitu pula sebalik- nya.

Akibat dari penaklukan daerah baru juga membawa konsekuensi lain, yaitu dengan bercampurnya orang-orang Arab dengan daerah taklukan, maka mendorong juga agar kepentingan ekonomi tetap ber- langsung. Masyarakat taklukan mau tidak mau harus bisa berkomuni- kasi dengan pendatang, begitu juga sebaliknya, sementara para pendatang sangat menjaga komunikasi dengan mereka dengan tetap mengguna- kan bahasa asal yang mereka bawa. Dengan demikian transaksi bisa terus berjalan sambil berlahan-lahan para penduduk asli juga belajar bahasa Arab.

Kalau dilihat, hal ini nampaknya saling berkait antara faktor agama dan non-agama. Tingkat kebanggaan masyarakat Arab dalam berbahasa Arab nampaknya juga didorong oleh kenyataan bahwa bahasa Arab juga digunakan dalam kitab suci Islam36. Hal ini menimbulkan perasaan su-

perioritas bahasa Arab atas bahasa daerah taklukannya.

Sebagaimana telah ditulis sebelumnya bahwa hal yang mendasari dari dirumuskannya ilmu nahwu adalah terjadinya kesalahan berbahasa Arab (lahn)37, yang teridentifikasi menjadi empat hal, yaitu; pertama,

lahn dalam tataran lafal atau kata, seperti kesalahan dalam hal I’rab atau penentuan huruf akhir dari setiap kata dalam kalimat. Kedua, lahn dalam tataran frekuensi mematikan (sakinah) huruf akhir sebagai akibat dari penggunaan bahasa lisan terhadap bahasa baku. Ketiga, lahn dalam hal

35 Di semenanjung Arab sendiri konon terdapat 21 bangunan Ka’bah, namun

hanya Ka’bah yang terdapat di Makkah saja yang menjadi pusat peribadatan. Lihat khalil Abdul Karim, Syariah; Sejarah, Perkelahian, Pemaknaan, (Yogyakarta: LKiS, 2003), h. 5­6.

36 Abdullah Jâd AL-Karim, al-Dars al-Nahwi Fî al-Qarn al-‘Isyrîn, h. 23. Lihat juga

‘Abduh Rajihi, Fiqh al-Lugah Fî al-Kutub al-‘Arabiyyah,(Beirut:Dar Al-Ma’rifat, 1998), h. 100-101. Kenyataan ini juga diyakini setelah ada pernyataan tegas dalam kitab suci al- Qur’an mengenai bahasa Arab ini dalam beberapa ayat.

37 Abduh Rajihi, al-Nahwu al-Arabiy Wa al-Dars al-Hadits,(Beirut: Dar Al-Nahdhah,

1986), h. 10. Lihat juga Thalal ‘Allamah, Tathawwur al-Nahwiy al-‘Araby Fî Madrasay al- Bashrah wa al-Kufah,(Beirut: Dar al Fikr al Lubnany, 1993), h.29.

keseringan menyingkat perkataan dalam bahasa baku. Dan keempat adalah karena banyaknya istilah asing yng sulit dimengerti oleh orang Arab sendiri. Untuk membahas lebih jauh, akan kami tuliskan kronologi persebaran bahasa Arab semenjak Nabi Muhammad di Arab hingga masa bani Abbasiyyah awal di Persia sampai terkodifikasikan38.

Pada masa sebelum Islam datang, persoalan mengenai aturan ber- bahasa tidak begitu menonjol, terutama dalam aturan tertulis, karena masing-maing kabilah dari orang Arab tidak terikat oleh konsekuensi tertentu ketika mereka salah dalam berbahasa kecuali tidak dimengertinya bahasa yang dianggap asing sebagaimana penjelasan di atas. Masyarakat Arab waktu itu, berbahasa dengan watak dasar orang Arab sendiri se- cara alami (natural/ salîqah)39. Mereka tidak membutuhkan aturan yang

mengikat secara tertulis sebagaimana masa-masa sesudahnya. Paling jauh adalah penilaian secara etis dan estetis terhadap sebuah karya sastra yang dipamerkan dalam festival. Pengertian etis dan estetis hanya berkaitan dengan layak dan tidaknya sebuah karya dimasukkan dalam kategori sebagai karya yang baik. Dari sini maka masa yang diambil adalah masa ketika Islam datang dengan kitab suci al-Qur’an-nya sebagai icon-nya. Al-Qur’an kelak dianggap menjadi pengikat dan patokan dalam kajian dan penilaian terhadap bahasa40.

38 Metodologi ini mengambil modelnya Abdul Karim Muhammad Al-As’ad dalam

Al-Washît fî Târikh al-Nahwy, h.17. Sebenarnya penelususran mengenai bahasa Arab awal banyak yang merujuk kepada sastra jahili sebagai penelusuran paling jauh, yaitu pada 2 abad sebelum Islam. Namun dalam tulisan ini diawali dari Nabi Muhammad saja. Di samping karena hal itu, pada masa jahiliyah belum ditemukan istilah lahn sebagai kesalahan berbahasa, sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

39 Muhammad Al-Thanthawi, Nasy`at Al-Nahwiy, (Kairo: Dar Al Manar, tt), h. 9. 40 Umat Islam meyakini bahwa tidak akan ada yang bisa menandingi atau membuat

karya sebagaimana Al Qur’an. Hal ini dianggap sebagai bentuk mu’jizat (miracle) Al- Qur’an. Sebagian menganggap bahwa ketidakmampuan manusia membuat karya semisal Al-Qur’an karena memang kemampuan manusia sudah dilemahkan oleh Tuhan sehingga meskipun karya ini dibuat oleh tim yang terdiri dari orang pandai, maka tidak akan pernah menyamainya. Paham inilah yang disebut sebagai paham yang percaya adanya mu’jizat Al-Sharfah. Pandangan dari paham ini adalah, pertama, semangat untuk membuat karya semisal Al-Qur’an sudah dilemahkan, dan kedua, bahwa kemampuan manusia sudah dipalingkan, sebagaimana makna al-Sharfah itu sendiri. Lihat Quraish Shihab dalam Majalah Mata Air, edisi 25 Tahun 2009, h. 11.

Sementara itu kodifikasi nahwu bisa dirunut pada masa Nabi Muhammad. Ini disampaikan untuk merunut kembali metode dan jalur transmisi bahasa Arab hingga keluar wilayah Arab, mengingat pe naklukan wilayah keluar wilayah Arab bertonggak dari semangat misi penyebaran agama Islam. Pada masa menjelang akhir hayat Nabi Muhammad, pengaruh Islam telah meluas tidak saja di Madinah dan Mekkah. Masa Nabi Muhammad diambil sebagai titik awal untuk mem- batasi periodesasi dengan masa sebelumnya hingga masa sesudah Nabi. Hal ini dipandang sinkron dengan penulisan sejarah Arab sendiri yang banyak mengambil titik dari Nabi Muhammad sebagai penanda pe- misahan41, baik pemisah dengan sebelum maupun sesudahnya.

Sebelum Nabi lahir, di jazirah Arab telah berlangsung tradisi unik mengenai sastra, yaitu ketika diadakannya festival sastra setiap tahun di dekat Ka’bah yang bernama pasar ‘Ukaz. Bagi pemenangnya, yaitu yang sastranya mendapat apresiasi karena keindahannya, maka mendapat kehormatan untuk ditempel di dinding Ka’bah. Sastra yang tertempel inilah yang disebut dengan al-Sab’at al-mu’allaqât . Sastra pada masa sebelum Islam telah berkembang sebagai tradisi yang luhur bagi kabilah- kabilah yang ada di Arab terutama kalangan Badui sebagai sentralnya. Sastra jahili berisi mengenai epik, hikmah dan ajaran-ajaran akhlak42.

Salah satu ukuran keindahan bahasa waktu itu adalah manakala bahasa yang digunakan bisa dipahami oleh semua kabilah dan mengandung isi

41 Tidak seperti sejarah Yunani dan Mesir ataupun China, sejarah Arab tidak banyak

ditulis sebelum Islam datang. Kalupun kemudian ditulis nampaknya hanya untuk melengkapi latar belakang budaya yang telah berkembang. Sementara peradabannya tidak banyak dikenal sebelum Islam datang, bahkan bisa dikatakan sangat diabaikan. Setidaknya ada lima model periodesasi, yaitu; 1) periodesasi dengan tonggak pada system politik, 2). Tingkat kemajuan ekonomi, 3).tingkat kemajuan peradaban, 4). tingkat kemajuan kebudayaan, dan 5). masuk dan berkembangnya sebuah agam. Lihat Misri A. Muchsin, Filsafat Sejarah dan Islam, (Yogyakarta: Ar Ruz, 2002), h..40­41.

42 Lihat Muhammad Husain, al-Dirâsât al-Lughawiyyah ‘inda al-Arab ilâ Nihâyat al-

Qarn al-Tsâlits, h.30. Sastra telah berkembang layaknya essay pada masa sekarang yang menggambarkan, baik keindahan alam maupun pemujaan terhadap benda atau orang lain. Selain itu sastra juga berkembang menjadi kritik terhadap sastra yang lain. Lihat dalam Ahmad Muzakki, Kesusastraan Arab; Pengantar Teori dan Terapan,(Yogyakarta: Al­

yang berbobot. Kelak bahasa model inilah yang disebut dengan bahasa fusha (bahasa baku)43.

Pada masa Nabi Muhammad, bahasa Arab mendapat “kehormatan” sebagai bahasa kitab suci al-Qur’an. Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang hingga kini masih dibaca oleh umat Islam. Banyak pakar yang kemudian merumuskan berbagai disiplin ilmu berbasis al-Qur’an, seperti ilmu penulisan bahasa Arab, ilmu cara baca (qiraah), penghafalan kitab suci (tahfidz), ulum al-Qur’an (metode pe mahaman al-Qur’an untuk tujuan pengertian makna, struktur dan pengambilan hukum) hingga tafsir terhadapnya44.

Al-Qur’an juga menandai peradaban baru yang membedakan per adaban sebelumnya. Philip K. Hitti menyebut dengan tahapan model ungkapan seni dan sastra, yaitu bahwa di kalangan orang-orang Yunani digunakan seni patung dan arsitektur, orang­orang Arab meng­ ungkapkannya dalam bentuk syair (Qasidah) dan orang-orang Ibrani dalam bentuk lagu-lagu. Syair atau puisi memiliki akar yang sangat kuat dalam literatur Arab kuno, yang berisi cerita dan ekspresi kehidupan masyarakat Arab pada zaman dahulu45.

Kemudian Nasr Hamid Abu Zayd juga menyebut Islam dengan peradaban teks46. Peradaban yang menjadikan teks kitab suci menjadi

43 Bahasa baku atau fusha adalah satu bahasa yang paling banyak digunakan, dalam

arti banyak kesamaan di antara para kabilah di Arab. lihat Jalaludin al-Suyuthi, al-muzhir fî ‘Ulum al-Lughah, j. 1, h. 112.

44 Kelak dari tafsir ini lahir bebebrapa sub disiplin ilmu terutama menyangkut

rumusan hukum agama Islam. Lihat ‘Abduh Al-Rajihi, Fiqh Al-Lughah Fî Al-kutub Al-