• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi Islam Muhammadiyah yang kini lebih dikenal dengan sebutan Persyarikatan Muhammadiyah, didirikan oleh Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan di

Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912. Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan -amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist.

Pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan (1912-1922), daerah pengaruh Muhammadiyah masih terbatas di karesidenan Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.

KH. A. Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934. Rapat Tahunan itu sendiri

kemudian berubah menjadi Kongres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini menjadi Muktamar 5 tahunan. (Yusron Asrofie, KH. Ahmad Dahlan:

Pemikiran dan Kepemimpinannya, 2005:31-46)

Muhammadiyah juga mendirikan organisasi Otonom untuk kaum perempuan dengan Nama ‘Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan, yakani Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya.

Daftar Pimpinan Muhammadiyah Indonesia sejak berdirinya sampai sekarang, yang dapat penulis susun adalah sebagai berikut :

1. KH Ahmad Dahlan 1912-1922 2. KH Ibrahim 1923-1934

3. KH Hisyam 1935-1936 4. KH Mas Mansur 1937-1941 5. Ki Bagus Hadikusuma 1942-1953 6. Buya AR Sutan Mansur 1956 7. H.M. Yunus Anis 1959

8. KH. Ahmad Badawi 1962-1965 9. KH. Faqih Usman 1968

10. KH. AR Fachruddin 1971-1985 11. KHA. Azhar Basyir, M.A. 1990 12. Prof. Dr. H. M. Amien Rais 1995

13. Prof. Dr. H.A. Syafii Ma’arif 1998-2005 14. Prof. Dr. HM Din Syamsuddin 2005-2010 15. Prof. Dr. HM Din Syamsuddin 2010-2015

Sebagaimana disebutkan pada bagian pendahuluan di atas bahwa persyarikatan Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki cita-cita ideal yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal itu sesuai dengan apa yang termaktub dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, Pasal 6 Maksud dan Tujuan: “Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu, Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya (yakni dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatannya).

Untuk mencapai maksud dan tujuan itu, Muhammadiyah melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan . Agar dalam pelaksanannya tidak terjadi gesekan dan benturan yang dapat mengancam kesatuan umat, walaupun gesekan dan benturan pasti ada, namun diupayakan untuk diminimalisir. Maka diperlukan adanya pemikiran-pemikiran yang komprehensif di kalangan cendekiawan Muslim Muhammadiyah dan gerakan-gerakan yang nyata amaliyahnya.Namun dalam perjalanannya terjadi banyak varian pemikiran. Konteks sosial diklaim menjadi penyebab munculnya varian pemikiran dalam Muhammadiyah.

Ini terjadi dikarenakan Muhammadiyah memang banyak bergerak dalam bidang sosial; baik pendidikan, kesehatan, panti sosial yatim piatu, dll.

Dalam Muhammadiyah, seperti dalam pengantar Muhajir Effendy dan Din Syamsuddin pada acara Kolokium Nasional Kaum Muda Muhammadiyah pada tanggal 11-13 Februari 2008 di Universitas Muhammadiyah Malang, dinyatakan bahwa pemikiran-pemikiran dalam Muhammadiyah itu sangat variatif; ada yang sekte ulama, sekte cendekiawan, sekte pelayan, dan sekte penggembira. Keempat-empat berkembang dan ada pengikutnya masing-masing. Oleh sebab itu melihat Muhammadiyah hanya satu sekte saja sebenarnya agak kurang proporsional.

Melihat Muhammadiyah, karena itu, mestinya menyeluruh keempat sekte tersebut, sekalipun dikatakan paling banyak sebenarnya sekte penggembira dan pelayan, bukan ulama maupun cendekiawan.

Hal yang paling penting untuk kasus ini adalah bahwa semua varian pemikiran Islam itu merupakan proses pembaharuan (Tajdid) dan akan menjadi bahan pembaharuan di masa datang yang memang dihormati dalam khazanah persyarikatan Muhammadiyah.

Suandi Hamid (2003:97-107), mensinyalir bahwa pembaruan pemikiran modern Islam abad ke-20 adalah :

sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gerakan pembaruan abad sebelumnya. Sebagian besar berkonsentrasi pada seruan untuk kembali pada alquran dan sunnah (hadits), ketaatan pada syariah. Jika bisa dikategorikan dalam tipologi maka ada pemikiran pra-modern,

modernisme, puritanisme, neo-tradisionalisme, sufisme, neo-sufirmse, fundamentalisme dan isme-isme yang lainnya.

Gerakan pembaruan sebelum abad ke-20 juga mengambil tipologi yang hampir sama, yakni ada neo-sufisme, radikalisme (seperti Kaum Padri) dan puritanisme.

Muhammad Azhar, (2005: 153). Adalah bahwa :

Pemikiran-pemikiran itu dibenarkan sepanjang dimaksudkan untuk menegakkan syariah Islamiyah, memperkokoh ukhuwah, menyempurnakan aqidah, meningkatkan semangat sosial, dan memperbaiki metodologi pelanyanan umat dan amal usaha Muhammadiyah, baik bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Kini Muhammadiyah makin dewasa dan arif dalam menyikapi tuntutan umat. Itulah sebabnya mengapa setiap lima tahun sekali diadakan muktamar Muhammadiyah sebagai wahana mempertemukan dan mempersatukan pemikiran-pemikiran yang berkembang di masyarakat terutama warga Muhammadiyah.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, oleh Haedar Nasir (1994:125-127) mengatakan :

sebagai organisasi yang demikian hidmat dalam masalah amal (perbuatan nyata) seperti membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, sehingga agak kurang memberikan perhatian serius pada pembaruan pemikiran, sebagai sebuah konsekuensi dari organisasi yang berusaha menterjemahkan tesis-tesis pembaruan pemikiran yang telah mendahuluinya.

Dari sana Muhammadiyah akhirnya terpusat perhatiannya pada amal dakwah, sehingga kurang perhatiannya pada perkembangan pemikiran, yang berakibat pada munculnya kegersangan intelektual, sebagai refleksi atas

tesis-tesis pembaruan pemikiran yang pernah muncul atau sebagai evaluasi terhadap amal dakwah yang diselenggarakan, hal ini berakibat pula pada membawa amal dakwah Muhammadiyah berlangsung dalam rutinitas dan berada di luar ide dasar penyelenggaraan, hal ini berakibat pula pada kurang efektifnya Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi Islam.

Mobilisasi yang relatif besar dari Muhammadiyah untuk menyelenggarakan berbagai bentuk amal usaha dakwah dewasa ini agak kurang memiliki signifikansi bagi tuntutan terjadinya rekulturisasi” Islam Indonesia.

Padahal, jika amal usaha dakwah Muhammadiyah dibarengi dengan penguatan pembaruan pemikiran dalam Muhammadiyah, sungguh akan lain dampaknya. Inilah yang sebenarnya menjadi bagian penting dari masa depan Muhammadiyah yang memiliki banyak amal usaha dakwah dan jamaah yang relatif besar dibanding dengan ormas Islam lainnya.

Tentu, Muhammadiyah tidak boleh mengabaikan peran-peran dari kelompok (organisasi Islam) lainnya, tetapi Muhammadiyah juga tidak boleh berhenti dengan menyatakan organisasi Islam lain lebih maju atau kurang berperan di tanah air.

Dokumen terkait