• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUJIZAT TERAKHIR (Oleh: Christian Dan Dadi)

Dia telah mengakhiri retret sabatikal pribadinya yang khusyuk. Permenungan terdalamnya telah tiba pada kesimpulan yang jauh dari kepongahan. Bahwa selama perjalanan imamatnya, kesalehannya terus bertambah lebih cepat dari jumlah uban yang mulai subur. Ajaibnya, kenyataan itu tak hanya memiripkan ciri jasmaniah kepalanya dengan ubun-ubun licin patung santo Antonius dari Padua yang terpancang sepi di pojok kapel biara pertapaan itu saja, tetapi secara rohaniah pun kualitas kesalehan mereka nyaris setara.

***

Terbayang kembali masa belianya. Ketika dia menyadari apa yang dulu digaungkan para pastor bule sebagai panggilan Tuhan sebenarnya sekedar iming-iming ilusif tentang buaian keindahan dan kenyamanan seminari. Dia hampir melarikan diri dari asrama calon imam langsung pada minggu pertama. Kala dia terbentur kenyataan pahit bahwa tempat terbaik untuk menikmati roti dan minum anggur-tak seperti janji para misionaris itu- bukanlah di sana. Kekecewaannya bertambah disebabkan les-les seminari yang semula dikiranya ajaib ternyata membosankan. Tidak sedikit pun menyinggung ketrampilan dasar dari mujizat kitab suci yang selalu menarik hati seperti mengusir roh jahat, membangkitkan orang mati, mencelikkan mata orang buta, dan berbagai keahlian gaib lainnya.

Tetapi kuasa Tuhan berkehendak lain. Tiap lekak-lekuk lorong tempuh kita telah dipetakan-Nya sejak semula. Luput dari krisis minggu pertamanya dia ternyata terus bertahan di sana, tersandera di seminari sebagai orang yang didera kejenuhan karena ritual ketat berulang tanpa henti, dari pagi hingga larut. Sementara itu, sebagian temannya satu persatu terusir keluar dari seminari. Dirinya terjebak di sana, tersembunyi, menyaru di antara kerumunan, sebagai seorang yang tak menonjol tetapi tinggal tetap dalam keajegan. Begitu membosankan hingga pikirnya jika saja wajahnya serupa arca batu tentu telah lama dia termakan lumut di keremangan lembah itu. Dia menyadari bahwa keberuntungannya bukan karena kecerdasan yang mumpuni atau kualitas rohaninya yang terpuji, melainkan kelihaiannya mengikuti arus, serta ketidakberaniannya mengambil keputusan untuk keluar, meninggalkan lembaga itu.

Anehnya di Seminari Tinggi semuanya berubah total. Kecerdasannya tergolong biasa saja, tetapi kualitas rohaninya melejit seperti sepuhan berkilau, sebab di sana dia memenuhi takdirnya menjadi pendoa yang tekun. Berhadapan dengan teologi yang membosankan dan filsafat yang ketinggalan zaman dia mulanya terjebak kejenuhan lagi. Apalagi setelah diketahuinya bahwa buku brevir para imam yang digadang-gadang kaum awam sebagai buku sakti sumber segala mukijat ternyata hanyalah berisi kumpulan mazmur, kutipan kitab suci, dan puji-pujian.

Kekecewaan nyaris meremukkan hatinya. Akan tetapi dia malah menenggelamkan diri dalam doa dan devosi pribadi yang panjang berlarut-larut. Mati raga yang perlahan-lahan membengkakkan lutut dan bagian tubuh lainnya, justru

mencerahkan aura wajahnya. Itulah upaya perdananya meretas jalan sendiri menjadi kudus. Dia mulai mengandalkan kesalehan diri dalam hikmat doa pribadi dan laku asketis mendalam, berlandaskan pada sabda Yesus sendiri tentang kekuatan iman sebesar biji sesawi, yang konon sudah cukup untuk menggeser gunung dan memindahkan bukit sekehendak hati.

***

Pada akhirnya dia sudah dikenal sebagai pendoa yang ulet di kalangannya sendiri bahkan sebelum kepalanya terurapi. Selepas tahbisan dia menolak tegas dikirim belajar spiritualitas ke Roma karena beranggapan itu hanya serupa pelesiran yang memperkaya ilmu tetapi menggersangkan iman. Dia memilih mengabdikan diri di paroki kecil yang terpencil dengan umat sederhana yang masih beriman lugu, tempatnya bisa leluasa menempa kualitas diri menjadi kudus.

Pada waktu luang dia mulai menggali kembali berbagai cerita klasik penuh bumbu dari umat tentang muzijat para imam tua pendahulunya. Mujizat yang kadang keluar dari akal sehat layaknya tukang sulap dan tipuan mata para penjual obat. Kemudian ia mulai menganalisa cara-cara lazim hingga mereka mampu melakukannya. Alhasil kesimpulannya pun mengerucut hanya pada satu kenyataan mutlak nan sederhana yakni keteguhan iman dan kesalehan diri. Itu adalah moment eureka! Ketika dia memutuskan mengikuti jejak mereka tanpa sebersitpun keraguan dengan perlahan memupuk kesalehannya sendiri. Hari demi hari tanpa ragu membesarkan imannya bak balita sumbing belajar menggelembungkan balon.

Kesulitan menyusul yang dialaminya setelah itu adalah kerepotan yang juga dialami banyak pendoa lainnya, yakni bagaimana mengukur tingkat iman dan kesalehannya sendiri. Tak ada jenis takaran valid yang bisa dipergunakan untuk menghitung kualitas abstrak tersebut. Hal itu berlarut-larut mengelisahkannya hingga dia tanpa sengaja menemukan caranya sendiri.

Suatu sore dia dipanggil oleh seorang bidan yang panik dan putus asa untuk turut mendoakan seorang ibu yang sedang kesulitan melahirkan. Dia datang. Tangannya diletakkan di atas perut sang ibu, berdoa sungguh-sungguh seolah sedang menghadapi sebuah ujian akhir kesalehan. Dalam hitungan menit setelah doanya selesai sang ibu melahirkan dengan lancar seorang bayi lelaki sehat berseri yang beberapa hari kemudian-demi rasa syukur- dibabtis seturut namanya. Mulanya dia menganggap kejadian itu sebagai kebetulan belaka, tetapi ketika umat sekitarnya mulai memperbincangkannya sebagai laku mujizat dia mulai memperhitungkan kualitas kesalehannya sendiri hingga pada tingkatan yang mumpuni alias telah teruji. Kemudian mencontohi penulis injil yang menuliskan tentang pengubahan air menjadi anggur di Kana sebagai mujizat Jesus yang pertama. Dia pun lalu mencatat kejadian itu dengan segala detailnya dalam buku catatan hariannya sebagai yang sulung dari tanda-tandanya sendiri.

Sepuluh tahun cukup untuk menjadikan tiap halaman buku tebal itu penuh dengan catatan mujizat, bukti nyata atas kesalehannya sendiri, lengkap dengan lokasi, tanggal, kronologis, dan para saksi mata. Hal itu juga tampak dalam begitu banyaknya anak paroki dan di luar paroki yang dibabtis seturut namanya.

Nama sebagai tanda kagum, hormat, dan terimakasih. Hingga romo paroki lainnya khawatir jika semua anggota umat barunya bernama sedemikian mirip, akan membingungkan ketika permandian. Dikhawatirkan juga bakal membuat iri hati para kudus pemilik nama-nama lainnya di surga yang namanya tak begitu diminati sejuta umat.

Selain buku yang pertama itu, dia telah menyiapkan buku tebal lainnya dan menargetkan akan segera terisi penuh catatan dan kesaksian berbagai mujizat baru dalam tempo yang lebih singkat, lima tahun saja. Dia mulai menginventarisir mujizat apa yang telah dilakukannya lebih dari sekali. Mujizat mana yang efeknya paling spektakuler bagi iman, serta mujizat yang jarang atau sama sekali belum pernah dilakukannya. Dia mulai membongkar-bangkir riwayat para kudus, serta kisah-kisah para nabi untuk menemukan jenis mujizat ilahiah yang masih luput dari pengetahuannya. Kemudian dia membandingkan derajat kesulitan tiap mujizat itu dengan takaran kesalehan pembuatnya dan dengan tingkat kapabilitasnya sendiri. Keakuratan perhitungan itu baginya telah mendekati tingkatan eksak-ilmiah. Bahwasanya dengan takaran komposisi iman dan jenis percobaan mujizat yang tepat serta proporsional, kepastian keberhasilannya nyaris seratus persen dengan margin eror yang lebih tipis dari selembar kertas kitab suci.

***

Sekembali dari pertapaan sekelumit berita berhembus liar tentang kesalehannya yang lama tak diragukan lagi. Hingga dirinya layak dinominasikan menjadi uskup jika saatnya tiba. Tetapi dia

menampik isu tersebut dengan alasan ‘kekuasaan bahkan yang gerejawi pun bisa menghalangi langkah seseorang menjadi kudus.’ Lalu berhembus sejumlah isu anyir-miris di luar nalar lainnya dari para rekan rohaniwan yang tampak dengki pada pertunjukkan kesalehannya. Isu bahwa sang romo kini tak ubahnya merak pongah yang mengarak-arak kemegahannya sendiri, dia hanya bersedia menjadi uskup setelah proses beatifikasi dirinya sendiri lebih dahulu terkabul oleh tahta suci. Dia cuma tersenyum mendengarkan kepicikan isu sampah tersebut. Ia menganggapnya sekedar salakan anjing bulukan yang coba menghalau aliran sungai. Ia kembali tenggelam dalam rutinitas hariannya yang penuh pelayanan, doa, mati raga, serta percobaan-percobaan penciptaan mujizat baru layaknya latihan sulap dan akrobat dari pertunjukkan sirkus keliling di kamar pribadinya di pastoran.

***

Lalu hari kepenuhannya datang juga ketika dirinya bertugas ke sebuah stasi terpencil yang baru dimekarkan. Selepas ibadat, jalan kembalinya ke paroki induk terhalang sungai yang mendadak banjir sebab hujan deras di hulu. Dirinya bersama umat yang menghantarnya sejenak berdiri terpukau di tepian air yang mendompak-dompak liar, menggusur tebing-tebing, meluluhlantakan rombongan semak belukar di atasnya itu. Tak dikira sekelebat ide bak inspirasi roh melintasi benaknya. Agar dapat mempertebal iman umat awam yang baru mekar itu dan sekaligus membungkam para rekan klerus pencemoohnya, ada baiknya dia mempertunjukkan satu mujizat spektakuler yang memamerkan kuatnya kuasa ilahiah dari jenis tersulit yang selama

ini belum pernah dicobanya. Mujizat yang akan menjadi yang pertama secara gemilang terukir dalam buku barunya itu dengan sepuhan tinta emas yakni seperti rasul Petrus dua ribu tahun lampau: berjalan di atas air.

Keputusan bulatnya untuk melanjutkan perjalanan dengan cara ajaib seperti laba-laba air itu tak urung mengagetkan umat yang dengan ngeri berusaha mencegahnya. Akan tetapi dia menenangkan mereka dengan penegasan ilmiah teologis yang masuk akal tentang keteguhan iman, karunia atas mereka yang terurapi ,dan tak terbatasnya daya ilahiah. Dia pun berpamitan di bawah tatapan cemas mereka, mengheningkan cipta sejenak, memanggil segenap kuasa ilahiah yang telah mengurapi kepalanya dengan minyak tahbisan, dan yang telah menggumpalkan imannya hingga nyaris sebesar biji sesawi agar sekali itu tubuhnya bisa seringan sabut kelapa. Lalu demi nama Kristus junjungannya, dengan sebuah tanda salib lebar sebagai pembuka, tanpa ragu dia menjejakkan kakinya ke muka kulit air dan mulai melangkah mantap di atasnya layaknya menapak ke atas tanah kokoh- padat- kering hingga berjarak enam langkah dari tepian.

Melihat keajaiban adianusiawi itu para umat yang terlongo sejenak dari pinggiran sungai mulai riuh bertempik sorak, perhatiannya lalu terbagi antara aplaus meriah mereka dan songsongan pusaran arus deras di bagian palung sungai yang meliuk sempit. Langkahnya sejenak meragu terlebih dengan kemunculan tiba-tiba sepotong kayu gelondong yang terseret arus, mengapung liar dari hulu langsung mengarah ke dirinya. Tanpa disadarinya dalam sepersekian detik kebimbangan itu, landasan di bawah telapak kakinya tiba-tiba melunak. Dia mulai

amblas ditelan air yang menggelegak hingga perlahan tenggelam mulai dari ujung jubahnya, kemudian lututnya. Sebelum sempat pulih dari kepanikannya -karena dia tak pernah sedikit pun belajar berenang- persis seperti sabut kelapa dia telah hanyut terbawa arus dengan cepat sejauh tiga puluh langkah. Ujung jubahnya tersangkut pada akar pepohon yang konon -atas kesaksian umat- terjulur dari tepian dangkal layaknya gapaian tangan Jesus yang dahulu sigap menolong Petrus yang gelagapan ditelan gelombang. Dia pingsan dengan jubah terkoyak, mulut berlumpur, lambung penuh air, dan iman yang mungkin sepersekian detik sempat gamang-terguncang. Namun anehnya para umat melihat keselamatannya dari air bandang itu justru sebagai mujizat tersendiri. Mereka membopongnya dari tepian dalam arak-arakan meriah yang tak hentinya berseru memuliakan Allah di surga-Nya. Tidak lupa umat pun menyerapahi potongan kayu gelondongan sial dari hulu yang menghambat kesempurnaan pertunjukkan mujizat lainnya itu sebagai kiriman laknat para setan-iblis dari neraka .

Malam harinya setelah siuman di pastoran dia merenungkan kembali pengalamannya siang tadi. Dipertimbangkannya lagi dengan standar margin eror sedemikian tipis, takaran kesalehan mana yang telah gagal diperhitungkannya sehingga peristiwa ‘memalukan’ itu bisa terjadi. Mungkinkah itu terjadi karena dirinya memang sepongah sangkaan para rekannya. Ataukah Tuhan sedang bermain-main dengan takdirnya bak kisah Tobit dalam Kitab Perjanjian Lama. Ataukah sumpah serapah para sirik telah memikat iblis untuk mencelakainya? Dia juga kebingungan, apakah dia akan menuliskan kejadian itu dalam

buku barunya sebagai kegagalan perdana dari tanda-tandanya, atau mengabaikannya sebagai secuil kesialan semata dari kekeliruan perhitungan rumit mistis-matematis? Sesaat semua pikiran itu riuh berkecamuk dalam benaknya.

Di sebelah pembaringannya duduk pastor paroki tua menungguinya sambil terkantuk-kantuk. Pastor tua ini sehari- harinya begitu duniawi, hanya sibuk mengurus ternak ayam-babi- bebek di pojok halaman paroki. Ia tidak begitu tekun berdoa. Dielus-elusnya perban yang menutupi luka lecet di dahi lalu dengan suara rendah menasihatinya dengan lembut. “Adikku Romo, sekental apapun kesalehan, tak boleh menafikan akal sehat. Lain kali, kalau hendak mencobanya kembali, terdahulu belajarlah berenang, karena kita…kalau pun kudus, bukanlah kawanan bebek.”

***

Suaranya terdengar begitu sejuk, lembut namun sedemikian menohok. Sang Romo terhenyak dan gelagapan di pembaringannya, seolah kembali tenggelam. Namun kali ini dalam tatap mata teduh bak telaga tenang dari lelaki sepuh seperempat pikun yang selama ini kesalehannya diremehkannya itu. Dia merasa kalau-kalau dalam diri beliau rasul Petrus telah hadir dan membisikkan sendiri hikmat sederhana seorang nelayan Galilea yang gaibnya menghujam langsung ke relung pengap hatinya itu (Maret 2018).

CERITA KEMATIAN