• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANJANG YANG TERBELAH (Oleh: Fian Watu)

Halaman koran di matamu memuat berita kasus kekerasan seksual terhadap seorang perempuan. Kasus itu sudah terungkap. Kau ikut bahagia. Paling tidak surga yang sudah di telapak kaki tidak diinjak oleh kaum seperti suamimu. Kau bahagia. Paling tidak, ada kaummu yang membuka bibir untuk kasus semacam itu. Laki laki selalu ingin perempuan cepat membuka bibir saat berciuman namun cepat membungkam mulut perempuan yang bicara soal kesetaraan gender. Kau diam-diam memaki kaum laki-laki.

Suamimu adalah pahlawanmu. Dia berbeda dengan laki- laki lain. Pagi ini kau tersenyum karena nama suamimu terpajang jelas di koran sebagai seorang pembela kaum perempuan. Ya, suamimu, ketua aktivis yang melawan kekerasan terhadap perempuan. Kau bangga pada suamimu. Dia terpilih sebagai ketua sebulan lalu sejak lima tahun bergabung di komunitas itu. Baru sebulan dilantik, suamimu telah membongkar kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di akar rumput. Lagi-lagi kau tersenyum pada suamimu.

“Ibu, Ayah masuk TV lagi.” “Ayahmu hebat, kan?” “Iya. Ayah hebat.”

Suamimu selalu membuatmu bangga. Sejak masa SMA kau memang sudah menyukainya. Hanya kau tahu diri. Seorang perempuan harus menunggu seperti rumput tertanam di tanah

sambil terus mendandani diri dan menunggu kuda datang. Rumput yang harus menunggu kuda datang bukan rumput yang pergi mencari kuda. Akan sangat memalukan. Saat waktu itu tiba, kau sungguh menerima kedatangannya.

Kau diam-diam tergila-gila padanya saat dia menjadi ketua perhimpunan mahasiswa di kampus. Kegilaan itu berubah cinta. Tapi kau sadar, kau tak boleh melangkah melewati garis yang entah dibuat siapa; perempuan harus menunggu. Kau dengan sadar dan motivasi cinta masuk perhimpunan itu. Mencintai pria yang terkenal membuat kau ikut terkenal, pikirmu. Tapi kau mencintaimya diam-diam dan memang dia tak pernah tahu. Kau menyalahkan pelita namun kau menutupnya dengan ember.

Dia, suamimu sekarang, dulunya tidak terlalu sibuk dengan perempuan atau mencintai perempuan. Baginya, yang terpenting ialah berorganisasi. Banyak perempuan di perhimpunan yang tergila-gila padanya. Ada perempuan yang kelihatan berdandan menjadi seperti rumput hijau padahal sudah seperti rumput kering yang lebih layak dibakar. Ada juga yang menciptakan signal-signal tertentu agar diperhatian. Tak sadar kalau yang diberi signal tak bisa melihat karena baterainya mati. Ada juga yang diam-diam, tak banyak gerak, mengagumi dalam diam, dan mencintai tanpa menciptakan signal. Kau.

Diammu itu memenangkanmu. Ternyata, dia juga diam- diam mencintaimu. Kau tahu itu saat dia berbicara sendiri padamu. Kau terlalu bercahaya dalam ember sehingga kau tidak sadar ada orang yang membutuhkan cahayamu di luar sana. Saat dia membuka diammu itu, kau tak menolaknya. Penantianmu

selesai. Kemenangan yang adil: dia memenangkan hatimu, kau memenangkan hatinya.

Kau dapat semua yang kau inginkan; cinta, penantian panjang, dan ketenaran. Sejak itu kau selalu bersamanya di setiap kegiatan perhimpunan mahasiswa. Kalian turun ke jalan membela ketidakadilan. Namun, sejak membagi ruang dan waktu bersamamu, dia lebih fokus pada yang dia bela sampai sekarang: perempuan.

Dua tahun setelah kalian meraih sarjana, dia membawamu ke depan altar. Kau menikah dengannya, memberi sisi ranjangmu padanya, menjadikan dua tungku rumah jadi satu tungku dan tinggal di bawah satu atap yang sama. Sejak saat itu kau tahu arti kehadirannya sebagai suamimu.

Menikah tidak membuat kalian berubah. Kalian tetap sepasang sahabat yang terjun ke dunia aktivis. Setiap hari kau dan suamimu terjun ke lapangan untuk menyelamatkan kaum perempuan yang tertindas. Kalian tidak hanya membentuk keluarga di rumah tetapi di perhimpunan juga. Kalian sering dijuluki pasangan pembela perempuan. Sudah banyak keluarga dan perempuan yang kalian bantu dan bela. Kalian memberi bantuan dan mereka memberi kalian ketenaran. Hampir setiap kasus yang berkaitan dengan perempuan, wajahmu dan suamimu muncul di surat kabar dan televisi.

Suamimu sedikit menarik diri dari perhimpunan saat tahu kau hamil setahun setelah pernikahan. Dia menghabiskan waktu di rumah bersamamu sampai kau melahirkan anak pertamamu. Kelahiran anak membuat tugasmu beralih. Kau tidak lagi terjun ke perhimpunan. Kau di rumah. Bergaul dengan popok penuh

kotoran anakmu. Belum lagi kau harus menyiapkan makanan untukmu, anak, dan suamimu. Sebelum ini, kau dan suamimu lebih memilih makan di luar dan di perhimpunan. Lebih banyak diberi makan oleh keluarga korban yang kalian belah.

Suamimu selalu pulang subuh. Kau maklum karena itu pekerjaannya. Paling tidak anakmu adalah teman bagimu saat suamimu pergi. Hampir empat tahun kau menjalani aktivitasmu itu. Kadang rasa bosan hinggap di kepalamu. Kau usir dengan bermain bersama anakmu.

Anakmu bangga pada ayahnya. Kau lebih bangga lagi. Anakmu selalu membicarakan ayahnya saat bermain dengan kawan sebaya. Kadang kau senyum sendiri saat anakmu katakan kalau ayahnya superman. Suamimu dikenal banyak orang. Pengenalan itu menyebar padamu dan anakmu. Namamu juga terangkat. Kau tenar di antara kelompok arisan ibu-ibu.

Kau memang punya suami yang hebat. Tapi, kau cemas akhir-akhir ini. Kemarin suamimu pulang dalam amarah. Dia mulai membanting pintu dan peralatan makan. Kau heran. Kau sudah coba bicara padanya. Dia hanya bilang itu masalah pekerjaan. Kau hanya bisa diam dan memeluknya dalam; itu cara terbaik membuatnya tenang.

Telingamu merah dan terbuka lebar mendengar kabar burung ini: suamimu selingkuh dengan salah satu perempuan yang dia bela. Memang, akhir-akhir ini suamimu sibuk. Hampir banyak waktu dihabiskan di luar rumah. Pulang saat kau dan anakmu sudah terlelap dan bangun pagi dengan terburu-buru. Kau tenang saja. Kabar burung seperti itu sudah menjadi makanan pembuka bagimu. Kau maklum. Suamimu memang

bergerak di bidang itu: bisa dekat dengan perempuan manapun. Itu hanya pekerjaannya. Kadang suamimu seperti itu, lebih mementingkan pembelaan kaum perempuan ketimbang dirimu sendiri. Kau justru bangga karena ada laki-laki yang rela habiskan banyak waktu untuk membela kaummu.

Sekali kau pernah mencoba bertanya tentang kabar burung itu. Air muka suamimu berubah keruh. Kau memilih diam. Kau takut bergerak lebih ke dalam masalah itu. Kau takut itu langkah yang salah untuk membuat tangga rumahmu patah. Kau memeluknya lagi berharap ini kali terakhir kau bertanya demikian. Kau percaya, musuh sedang menabur ilalang di tanah subur keluargamu. Kau tersenyum sinis.

Di suatu pagi yang biasa, kau kedatangan tamu. Seperti kedatangan gempa, tamu laki-laki itu memberikan beberapa lembar foto. Kau kejatuhan tembok. Kau ditindih beban berat. Suamimu dan seorang perempuan bukan dirimu berciuman di foto itu. Tamu itu pergi dan kau menangis di tempat tidurmu.

Suamimu belum sepenuhnya membuka pintu rumah saat kau buang makian itu ke wajahnya.

“Itu gadis yang aku bela kasusnya.”

“Ha ha ha. Kau bela sampai menciumnya?” “Ada yang ingin hancurkan keluarga kita.” “Lucu. Kau yang menghancurkannya.” “Itu lebih kepada rasa kasihan.”

“Kau bilang rasa kasihan? Lalu kau tidak kasihan padaku. Aku menunggumu sampai tertidur. Aku masak makanan kesukaaanmu dan berharap kau ada bersama kami di meja makan. Kau mengurangi satu piring dan sendok dari meja makan kita.”

“Itu hanya hubungan biasa.”

“Tidak. Kau mencium bukan aku. Kau membuat ranjang baru di luar sana.”

“Aku membantu menyembuhkan luka batinnya. Kau tahu itu tugasku.”

“Kau ingin menyembuhkan luka di hati lain tapi kau membuat luka baru di sini. Di hatiku sendiri.”

Suamimu mati kutu. Seperti kehilangan kekuatan. Diam berarti menegaskan hal itu. Itu benar. Malam itu kalian tidur beda ranjang, tidak seperti malam-malam kemarin.

Kau sebenarnya masih mencintai suamimu. Kau ingin memaafkannya. Barangkali patah pada tangga rumahmu bisa disambung lagi. Namun, dua bulan setelah percekokan dengan suamimu, seorang gadis datang ke rumahmu. Gadis yang akrab sekali dengan matamu. Gadis yang layak dipanggil adik itu menangis di pelukanmu sambil memegang perutnya. Gadis itu hamil.

Setelah hari berat itu, kau dan anakmu pergi dari

rumahmu, ke rumah orang tuamu. Kau tinggalkan suamimu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Suamimu, seorang pembela yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri. Laki-laki yang bisa membela perempuan lain tetapi istrinya sendiri tidak. Suamimu yang menyambung tangga di rumah orang lain tapi mematahkan tangga di rumahnya sendiri. Kau sedih dan terpukul. Anakmu hanya bisa diam, tidak tahu apa-apa. Kau tak bisa menolak saat suatu pagi satu kabar perceraian muncul di halaman pertama koran yang kau baca: kabar perceraianmu sendiri. Kabar itu setenar kabar kepahlawananmu dan suamimu.

“Ayah dan Ibu masuk koran ya? Ayah dan Ibu hebat.” Anakmu melihat fotomu dan ayahnya di halaman koran itu. Kau tersenyum dan berbalik. Pelecehan hati lebih sakit dari pelehan fisik. Air matamu jatuh. Kau pun jatuh.

ADA DAMAI SETELAH KEMARAU