• Tidak ada hasil yang ditemukan

SECANGKIR KOPI DAN PERCAKAPAN HUJAN (Oleh: Veran Making)

Di luar masih hujan. Matamu masih belum terpejam. Sedangkan angin membungkamkan sepi. Tak ada siapa-siapa selain kau dan seuntaian kenangan. Mengingatkan kesendirian adalah seperti tersobeknya beberapa kain usang dan menambal lagi dengan beberapa kain yang baru yang kau temukan di toko - toko pakaian. Atau pun yang dapat kau temui saat perjalanan pulang dari mengusir kesendirian di taman kota yang hanya mengisahkan pertemuan dan perpisahan.

Kesendirian membuat beberapa orang tergila-gila pada dunia khayalannya. Menghubungkan setiap hal, tanpa kau tahu ini sudah kesekian kali kau tak pernah lagi kembali untuk sebuah alasan, yang kau isyaratkan lewat kata kepergian. Itu hal yang sudah biasa katamu, karena kau tak pernah merasakan apa yang kurasakan. Karena kau berjalan dalam waktu yang hanya menyibukkan diri dalam egomu.

Waktu akan terus berputar. Kaulah yang harus menemukan jalan pulang untuk sebuah kebahagiaan. Selagi kau dapat menjahit ingatan untuk tidak terjebak pada arus masa lalu. Cobalah untuk tidak tersandung dan tidak tengelam pada matanya yang hanya memotong-motong tubuhmu di dalam seuntaian puisi saat ia pergi tanpa pernah kembali melepas rindu.

Kau tahu kisah yang kubuat ini, adalah pertemuanku dengannya, yang kunamai “J” tetapi kebiasaannya orang menyebut “Jelita.” Entah namanya diambil dari mana. Tapi

memang kebenarannya demikian. Ia orang yang susah ditebak. Bayangkan saja ketika kau naik bis kota, tentu ia akan menawarkanmu beberapa koran agar kau membelinya. Atau pun ia menjadi penyanyi setia dalam perjalanan pelepas lelahmu. Pernah aku berada di sebuah halte di kotaku ia menjadi lagi seorang penjual kue donat, sambil meneriak-riakkan bu, pak, dek, kak, kuenya manis dan enak. Membuatku teringat bahwa hidup ini terkadang begitu mengembirakan, seperti manisnya dan enaknya kue yang dijual “J” di balik kesuksesan orang-orang yang tak pernah melihat cucuran keringat darinya.

Itulah kepahitan berjalan tanpa pernah ada orang yang datang bertandang dan membuka kedua tangan untuk berbagi kasih. Sepulang dari kerjaannya yang tak pasti, kutemui “J” sibuk membuka lembaran-lembaran koran yang masih tersisa di tangannya. Mungkin ia mencari beberapa lowongan pekerjaan, atau mungkin ia sedang membaca nama-nama orang hilang. Ketika sudah sampai pada bagian ini, ia seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Kabarnya, ibunya telah meninggalkannya beberapa tahun silam. Ayahnya tak ada yang tahu keberadaannya. "J" dititipkan di panti asuhan. Tetapi karena dirinya merasa panti asuhan sama dengan sangkar burung yang mengekang kebebasannya, "J" pergi.

Dunia ibaratnya bola yang bergelinding ditendang- tendang hingga orang akan mencapai gol. Menandakan tujuan apa yang tercapai. Serasa dunia ini penuh dengan mata-mata orang yang hanya mencari untung. Tanpa melihat jeritan-jeritan di balik setiap penungguan yang tak pernah tersentuh tangan yang sedikit memberikan kemanjaan. Orang-orang hanya memikirkan dirinya

sendiri. Yang kaya tak henti-hentinya berlomba-lomba mempertontonkan kemolekan tubuh, harta warisan, bahkan memperlihatkan berbagai merek pakaian yang sesungguhnya hanya sebuah kefanaan yang tidak abadi. Sungguh pun demikian di luar sana jeritan orang-orang yang tertindas terabaikan tanpa ada yang peduli pada nyatanya dunia yang meninggalkan kemunafikan.

Dalam kesendirian, aku masih memikirkan nasib anak- anak negeri ini yang hanya menatap langit, menangisi ibu-bapanya yang tak tahu di mana keberadaannya. Sedangkan mendung semakin memperparah keadaan di luar jendela kamarku, yang tiba-tiba saja hujan semakin deras mengguyur kotaku yang sedari tadi membuat ragaku berkecamuk dengan berbagai protes. Tidak adakah orang-orang melihat penderitaan anak-anak bangsa ini? Ataukah tuan-tuan yang punya kuasa masih tertidur di atas bantal- bantal kesuksesan yang lupa janji? Janji sejahtera? Entahlah. Permenunganku dan hujan, semakin membuatku semakin melaju dalam perjalanan menuntaskan hari yang melelahkan ini.

“J” mengingatkanku pada adikku yang telah lama menghilang. Persis segala tingkahnya. Senyumannya yang selalu ceria dari bibir delimanya. Matanya yang murni dari api yang tak pernah menyurutkan semangat juangnya, di tengah dunia yang semakin sibuk mempertontonkan para lakon yang hanya unjuk kebolehan melakukan pemerasan. Inilah ketidakadilan. Memeras apa yang bukan milik mereka. Ingin rasanya aku menulis surat pada Sang Pemberi kehidupan. Setidaknya memberikan mereka sebuah pelajaran berharga. Untuk menghargai setiap pemberian- Nya yang setidaknya membuatnya sama rata sama rasa.

Aku teringat pada sebuah perjalanan pulang ia lagi asyik menikmati langit yang mendung, dan tersenyum. Rambutnya yang panjang dilepas terurai, diterpah angin yang asyik berkejar-kejaran, dan menjatuhkan setiap dedaunan kering. Ketika aku mendekatinya ia memejamkan mata sejenak, dan membiarkan segalanya berlalu pada angin, rerumputan yang membawa lelahnya pergi jauh-jauh dari kehidupannya.

Matanya begitu polos. Tak ada orang lain selain aku yang melihat anak ini, yang sesungguhnya banyak memikul balok-balok beban yang berat. Tetapi, selalu ceria ketika berhadapan dengan realitas. Kemungkinan besar saat ini, banyak orang yang tak menyadari akan dunia yang penuh kesedihan, seperti yang dialami “J”. Air mata tertumpah di mana-mana. Teriakan-teriakan ketidakadilan bahkan menjadi lagu lama yang tetap tenar. Bayangan orang-orang yang berkuasa mungkin mengidamkan rumah yang besar, punya mobil mewah, bahkan tempat tidur emas. Bebas berenang-renang di atas derita kaum yang mengalami penindasan. Sungguh menjadi sebuah mimpi buruk bagiku berjalan di Negeri yang orang-orangnya sedang bermain dadu. Tersenyum dan tertawa sambil menikmati teh hangat di pagi hari tanpa pedulikan teriakan setiap generasi anak Bangsa.

"J" menarik nafas panjang sambil berharap. Harapan semoga manisnya dunia dapat ia rasakan seperti kehangatan teh pagi yang dinikmati orang-orang yang tak pernah berdiri dari kursi goyangnya. Mungkin tuan-tuan hanya menjadi penonton yang hanya menertawakan kesalahan yang mereka perbuat. Bersembunyi dari setiap kebohongan. Karena itu pernah dalam sebuah kesempatan aku bertemu dengan seorang tuan yang entah

namanya siapa, tetapi katanya ”kesejahteraan rakyat, itulah yang utama, dan jangan jadikan rakyat sebagai pintu untuk meraup keuntungan.” Nyatanya ini hanya sebagai pemanis mulut yang membinarkan mata setiap orang, sedangkan di ujung jalan orang masih ramai dalam tangisan darah, yang tak tahu kapan berakhirnya penderitaan yang tak berujung.

Waktu berlalu dengan senja yang kemuning menutup kotaku dalam sayup-sayup yang terdengar dari kepulangan setiap pekerja untuk kembali ke tengah-tengah keakraban keluaga yang mereka cintai. Cinta dalam kebersamaan, menceritakan setiap guyon yang di lakukan orang-orang saat bekerja. Di tengah jalan bahkan saat sekarang ini menceritakan masa lalu semasa kau melirik beberapa gadis. Namun, hatimu jatuh padanya yang mungil dan polos menyimpan sejuta harap ada yang menyimpan surat kasmaran di buku pelajarannya.

Memang benar ketika cinta itu ada, kau takkan pernah merasa kesepian. Tidak seperti yang dialami “J” seorang anak yang menjadi perajut mimpi di tengah hujan, panas, bahkan sekalipun banjir mengenangi kotaku. “J” bahkan takkan peduli, hanya untuk mencukupi kebutuhannya ia harus bekerja. Cinta baginya ada dalam derita. Mungkin di dalam derita kau bahkan tak bisa bertahan. Tetapi “J” akan bertahan sekali pun kau menganggap itu tak layak baginya. “J” akan bertahan dalam senyumannya, jika ditanya “dek, tidakkah kau merasa lelah dengan semua pekerjaan ini?” Sesekali ia akan menatapmu dan tersenyum, “kak, ini sudah menjadi bagian dari hidupku. Damai yang kurasakan ketika segalanya dapat kuselesaikan dengan

gembira." Tentu ia akan kembali bekerja tanpa peduli keringat sudah membasahi tubuhnya.

Di luar masih hujan. Setengah perjalanan, kukembali mengisahkan kisah ini. Bertemankan secangkir kopi dan ingatan- ingatan masa lalu ketika itu aku masih berstatus seorang mahasiswa di salah satu universitas yang mengajarkanku banyak pengalaman berharga untuk tetap bertahan pada pendirian. Aku mengetahui tentang “J” lantaran setiap kali aku selalu saja berpapasan dengannya, entah itu ke kampus atau pun saat sepulang dari kampus.

Serasa menyejukkan batin ini ketika selalu melihat gadis mungil itu tersenyum. Lantaran kabar yang kuketahui, “J” telah menjadi seorang anak jalanan yang tak pernah diperhatikan setelah ia melarikan diri dari sebuah pantai asuhan. Bahkan orang- orang yang tiap saat lalu lalang bertemu dengannya sekalipun tak pernah menyapanya maupun menanyainya. Namun aku selalu punya simpati buatnya. Walaupun itu sekadar ucapan sebuah salam penyemangat. “Selamat pagi dek, semoga harimu menyenangkan."

”Pagi juga kak, ke kampus ya? Selamat berjuang. Semoga hari kakak menyenangkan." Begitulah tiap kali pertemuan kami terjadi. Dengan sedikit anggukkan dan senyuman manisnya “J” berlalu pergi. Sosoknya melukiskanku pada wejangan orang tuaku, yang selalu ingin melihat anaknya sukses hingga mencapai puncak-puncak tertinggi dunia dengan semangat perjuangan. Perjuangan yang harus terus kukejar hingga pada penghujung langit mungkin akan kutemukan sebuah tulisan “selamat sukses semoga keberhasilanmu menjadi berkah bagi orang lain yang

membutuhkan uluran tangan kasih.” Bila tiap kali kuingat pepatah ini, aku menjadi orang yang tak pernah berhenti berharap, agar setiap jalanku dimudahkan oleh-Nya.

Perjalanan hidup bagiku ada begitu banyak duri. Ketika kau mendaki sebuah bukit maupun pegunungan tentu ada banyak bebatuan tajam, semak berduri, bahkan kau akan temukan binatang-binatang liar. Sama halnya kau berjalan dalam kehidupan yang fana ini, banyak tantangan sekaligus menantangmu menaklukkan dunia ini, dan sedikit memberikan senyuman manis lewat caramu mencintai setiap keseharian. Mungkin dengan itu, kau akan mendapatkan kekuatan tanpa harus pergi jauh-jauh memanjatkan setiap harapan pada kehampaan lewat berbagai kesenangan yang hanya memasukkanmu pada dunia kegelapan.

Gelapnya dunia sama dengan secangkir kopi yang saat ini kunikmati, ketika hujan di luar sana masih menciumi bumi. Mungkin ada percakapan yang kutak mengerti. Sampai akhirnya kudengar berita itu. "J" ditemukan tewas di dekat rumah seorang tuan yang tidak pernah bangun dari kursi goyangnya.

Terdengar hujan semakin lebat dan secangkir kopi yang kunikmati telah dingin dihembus angin malam yang semakin memasukkanku pada keheningan. Kuberdoa semoga “J” Jelita Adraini, menjadi abadi di dalam kenangan dan setiap sajak- sajakku. Di luar masih hujan, dan percakapan takkan pernah usai mengenai setiap kisah yang kau temukan....

CERITA DESA KAMI