II. TINJAUAN PUSTAKA
5.3 Mutu CPO PT. AMP Plantation
Mutu suatu produk adalah keadaan fungsi, fisik dan sifat suatu produk yang bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen yang memuaskan sesuai dengan nilai uang yang dikeluarkan (Julia, 2009). Mutu minyak kelapa sawit dapat dilihat dari nilai FFA (free fatty acid), Moisture (kadar air) dan dobi.
Mutu minyak kelapa sawit pada tahun 2014 di PT. AMP Plantation dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Mutu CPO berdasarkan FFA, moisture, DOBI dan dirt di PT.AMP Plantation pada tahun 2014
Indikator Standar maksimal Realisasi
FFA 5% 4,11%
Moisture 0,20% 0,16%
DOBI >2,50% 2,24%
Dirt 0,02% 0,18%
Sumber: Pabrik kelapa sawit PT. AMP Plantation
Adapun indikator dari mutu CPO di PT. AMP plantation adalah sebagai berikut:
1. FFA (free fatty acid)
Tabel 16 diatas maka dapat dilihat rata- rata kandungan asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak kelapa sawit pada tahun 2014 di PT. AMP plantation. Rata- rata asam lemak bebas pada tahun 2014 adalah 4,11% sedangkan standar maksimal kandungan asam lemak adalah 5%. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan kand\ungan asam lemak bebas dalam CPO cukup tinggi karena sudah mendekati standar maksimal ALB. Tingginya ALB mengakibatkan rendemen minyak turun (Tim Penulis PS, 1993). Kenaikan kadar ALB ini ditentukan mulai dari saat tandan dipanen sampai tandan diolah di pabrik.
Tingginya kandungan asam lemak bebas dalam minyak kelapa sawit disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pemenenan buah sawit yang tidak tepat waktu, keterlambatan dalam pengumpulan dan pegangkutan buah, pemupukan buah yang terlalu lama dan proses hidrolisa selama pemprosesan di pabrik.
a. Pemanenan buah sawit yang tidak tepat waktu
Hal ini berkaitan dengan tingkat kematangan buah yang dipanen. Hal ini sesuai dengan teori Pardamean (2012), jika panen dilakukan pada keadaan buah lewat matang, kandungan asam lemak yang terdapat pada minyak akan meningkat. Sementara jika panen dilakukan pada buah yang masih mentah akan menurunkan kandungan minyak dari buah. Kandungan asam lemak bebas di PT.
AMP Plantation tahun 2014 adalah 4,11%. Menurut Mangoensoekarjo dan Semangun (2003) cit. Julia (2009) TBS yang diharapkan adalah fraksi 2 dan 3 yaitu rendemennya tinggi sedangkan ALBnya cukup rendah.
b. Keterlambatan pengangkutan buah
Keterlambatan pengangkutan buah ke lapangan dapat mengakibatkan buah restant. Batas buah diangkut ke pabrik setelah pemanenan adalah 24 jam, jika lebih dari 24 jam maka akan mengakibatkan buah tersebut restant dan akan berdampak sehingga bisa meningkatkan kadar asam lemak bebas minyak kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan pendapat Pardamean (2012), kandungan ALB akan meningkat sebesar 0,9-1,0% setiap 24 jam. Dengan demikan apabila semakin cepat buah diangkut ke pabrik maka akan semakin baik.
Asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak kelapa sawit di PT.
AMP plantation adalah 4,11% sedangkan standar nasional untuk batasan
maksimal asam lemak dalam minyak kelapa sawit adalah 5%. Hal ini menandakan bahwa mutu minyak kelapa sawit di PT. AMP plantation telah memenuhi standar mutu minyak kelapa sawit secara nasional.
c. Banyaknya buah yang luka selama proses pegangkutan
Luka pada buah diusahakan seminimal mungkin, baik waktu memotong, membawa ke tempat pengumpulan hasil (TPH) atau mengangkut ke truk. Buah juga harus dijaga agar tidak terlalu kotor terkena tanah atau debu. Tandan kosong yang buahnya telah rontok sebaiknya ditinggalkan di TPH. Luka pada buah akan mempercepat peningkatan asam lemak bebas. Kandungan ALB pada buah yang belum dipotong sebesar 0,2-0,7% dan ketika jatuh ke tahan kandungan ALB akan meningkat (Pardamean, 2012).
d. Proses hidrolisa selama pemprosesan di pabrik
Menurut Tim Penulis PS (1993), peningkatan kadar ALB juga dapat terjadi pada proses hidrolisa di pabrik. Pada proses tersebut terjadi penguraian kimiawi dibantu oleh air dan berlangsung pada kondisi suhu tertentu. Air panas dan uap air pada suhu tertentu merupakan bahan pembantu dalam proses pengolahan.
Akan tetapi, proses pengolahan yang kurang cermat mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, mutu minyak menurun sebab air pada kondisi suhu tertentu bukan membantu proses pengolahan tetapi malah menurunkan mutu minyak.
2. Moisture (kadar air)
Rata- rata mutu berdasarkan kadar air 0,16% sedangkan standar kadar air dari perusahaan adalah 0,20%. Kandungan air dalam minyak sawit merupakan salah faktor yang mempengaruhi kualitas minyak kelapa sawit (CPO). Menurut
Aziz (2009), minyak kelapa sawit yang memiliki mutu (< 0,15%) akan memberikan kerugian pada mutu minyak, dimana pada tingkat kadar air yang demikian kecil akan sangat memudahkan terjadinya proses oksidasi minyak itu sendiri. Proses oksidasi ini dapat terjadi dengan adanya oksigen atau udara, baik pada suhu kamar dan proses pengolahan dengan suhu tinggi akan menyebabkan rasa dan bau tidak enak (tengik) akibatnya mutu minyak menjadi turun. Dan jika kadar air dalam minyak sawit tinggi (>0,15%) maka akan terjadi hidrolisa lemak, dimana hidrolisa dari minyak sawit ini akan menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas.
Kadar air yang terealisasi di PT. AMP Plantation adalah 0,16% sedangkan standar nasional CPO untuk kadar air batasannya adalah 0,50% hal ini menandakan bahwa kadar air yang terkandung dalam minyak kelapa sawit di PT.
AMP plantation sudah memenuhi kriteria nasional untuk memenuhi kriteria mutu kelapa sawit secara nasional.
3. Dirt (kadar kotoran)
Kualitas minyak sawit harus dijaga dengan memperhatikan kadar kotoran.
Kadar kotoran yang tinggi dalam minyak CPO dapat berasal dari sisa- sisa pemprosesan buah. kadar kotoran yang tinggi sangat merugikan dalam perdagangan karena konsumen tidak menyukai minyak yang kotor. Menurut Tim Penulis PS (1993) kadar kotoran minyak 0,0005% dalam kondisi ini minyak sawit sudah dianggap mempunyai daya tahan mantap. Kadar kotoran minyak kelapa sawit di PT. AMP plantation adalah 0,18% sedangkan standar nasional untuk batasan kotoran dalam minyak kelapa sawit adalah 0,50%. Hal ini menandakan
bahwa mutu minyak kelapa sawit di PT. AMP Plantation sudah memnuhi kriteria mutu minyak kelapa sawit secara nasional.
4. DOBI (deteration of bleachability index)
DOBI merupakan index derajat kepucatan minyak mentah. DOBI itu merupakan angka perbandingan serapan atom terhadap asam lemak bebas (Afriani, 2009). Analisa dari asam lemak bebas, kelembaban dan kotoran sendiri tidak mencukupi untuk mengidentifikasi CPO yang baik sedangkan analisis DOBI dapat memberikan indikasi yang lebih baik serta memberikan dalam pengolahan CPO. Menurut PORIM dalam penelitian Afriani (2009), hubungan DOBI dengan kualitas minyak kelap sawit ada 5 kriteria yaitu:
- CPO dengan angka DOBI <1,68 termasuk dalam CPO yang memiliki kualitas buruk
- CPO dengan angka DOBI 1,78- 2,30 memiliki mutu kurang baik
- CPO dengan angka 2,30- 2,92 mengindikasikan bahwa CPO ini memiliki mutu cukup baik
- CPO dengan angka 2,93- 3,23 memperlihatkan CPO dengan indikasi mutu baik
- CPO dengan angka DOBI diatas 3,24 merupakan mutu CPO yang terbaik.
Angka DOBI di PT. AMP plantation adalah 2,24 maka berdasarkan kriteria DOBI diatas maka mutu minyak kelapa sawit pada perusahaan ini adalah cukup baik. Menurut Afriani (2009), penyebab angka DOBI rendah adalah persentase buah yang berwarna hitam lebih banyak (belum masak), penundaan pengolahan karena hari hujan, kontaminasi CPO dengan kondensasi Sterilizer, sterilizer yang terlalu lama dari tandan buah dan pemanasan (>550C) dalam tangki penyimpanan.
6.1 kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah didapatkan maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Efisiensi produksi CPO di PT. AMP Plantation dilihat dari produktivitas penggunaan bahan baku, tahun 2012 belum efisien dan tahun 2013 dan 2014 produktivitas penggunaan bahan baku sudah efisien. Efektivitas bagian produksi belum tercapai dari tahun 2012 sampai 2014 dan kapasitas olah pabrik belum terpenuhi oleh pasokan bahan tandan buah segar.
2. Jumlah bahan baku yang digunakan memiliki hubungan yang signifikan terhadap volume produksi yang dihasilkan dengan hasil analisis korelasi antara bahan baku dan produksi adalah 98%.
3. Mutu CPO di PT. AMP Plantation terdiri dari empat indikator yaitu FFA, moisture, dirt dan DOBI. Kadar FFA CPO adalah 4,11%, moisture adalah 0,16%, dirt adalah 0,18% dan DOBI adalah 2,24%. Berdasarkan rata- rata indikator mutu tersebut PT. AMP Plantation sudah memenuhi standar nasional mutu yang telah ditetapkan.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut maka penulis memberi saran kepada perusahaan supaya lebih menfisienkan penggunaan bahan baku supaya mendapatkan produksi yang maksimal dengan memperhatikan kualitas bahan baku tandan buah segar yang masuk ke pabrik . Mutu kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku yang digunakan dengan demikian untuk mempertahankan mutu yang baik dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka sebaiknya perusahaan lebih mengawasi bagian sortasi tandan buah segar saat buah tiba di pabrik.
Saran penulis kepada peneliti selanjutnya yang memgambil judul penelitian mengenai efisiensi produksi untuk dapat mengamati efisiensi produksi dari segi biaya produksi.
Adi, P. 2012. Kaya dengan bertani kelapa sawit. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
146 hal.
Afriani, M. 2009. Hubungan analisa DOBI (Deteration of bleanchability index) dan β-karoten dalam CPO (crude palm oil) dengan menggunakan
spekrofotometri uv-visible. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789 /13943/1/09E00382.pdf. (29 Mei 2015).
Assauri, S. 1999. Manajemen produksi dan operasi. Fakultas ekonomi universitas Indonesia. Jakarta. 264 hal. (CPO) dengan metode statistical process control. Jurnal ilmiah Teknik Industri. Vol 3 (01). https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle /11617/4849/JITI-13-01-04%20-%20Vera%20Devani%20-OK.pdf
?sequence=1. (1 Juli 2015).
Dirjen perkebunan. 2015. http://ditjenbun.pertanian.go.id/. (29 Mei 2015).
Fauzi, Yustina dan Rudi. 2014. Budidaya, pemamfaatan hasil limbah dan analisa usaha dan pemasaran kelapa sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 235 Hal.
Herawati, E. 2008. Analisis pengaruh faktor produksi modal, bahan baku, tenaga kerja dan mesin terhadap produksi glycine pada PT. Flora Sawita Chemindo. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/4259/1/067 01904 4.pdf. (28 Mei 2015).
Hijayati, Moch dan Achmad. 2014. Analisis audit operasional dalam upaya meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan ekonomisasi bagian produksi (studi pada pt. Semen gresik (persero). Vol 12 (01) http://administrasi .studentjournal.ub.ac.id/index.php/jab/article/view/496. (26 Juni 2015).
Indah, V., M., Melinda, N., Widia, F. dan Trimei, R. 2009. Strategi perencanaan produksi dan pengendalian bahan baku pada pabrik kelapa sawit (PKS) PTP Nusantara VI Rimbo Dua Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. http://
frepository.unand.ac.idartikel_DIPA_VONNY_INDAH_M_2009.doc/ -.
(28 Mei 2015).
Mei 2015).
Pardamean, M. 2012. Sukses membuka kebun dan pabrik kelapa sawit. Penebar Swadaya. Bogor. 300 hal.
Purba, D.,K. 2013. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi crude palm oil (cpo) Unit Adolina PT. Perkebunan Nusantara IV Sumatera Utara.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/63850/h13dkp.pdf?s equence=1. (3 Juni 2015).
Sahara, Nengah dan Nila. 2015. Analisis audit operasional untuk menilai efisiensi dan efektivitas produksi. Jurnal administrasi bisnis. Vol 20 (01).
http://administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jab/article/viewFi le/827/1012. (1 Juli 2015).
Setyamidjaja, D. 1991. Budidaya kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta.
Sondang, Y, Alfikri, Wiwik, H. 2012. Buku praktek kerja mahasiswa statistic.
Politenik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Sugiyono. 2008. Statistika untuk penelitian. Alfabeta. Bandung. 390 hal.
Suryani, Moch dan Achmad. 2015. Analisis audit operasional dalam upaya meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan ekonomisasi bagian produksi (studi pada PT. Sindu Amritha Pasuruan). Vol 19 (01).
http://administrasi.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jab/article/view/827.
(26 Juni 2015).
Tahura, L.,C. 2013. Analisis pengaruh faktor produksi terhadap produksi CPO pada perseroan perkebunan Nusantara (PTPN) III kebun Sei Daun Labuhan Batu. http . Jurnal E maksi vol.1 (1). http://ojs-stie.harapan.ac.id/index.php /e-maksi/article/view/120/88. (29 Mei 2015).
Tim Penulis PS. 1993. Kelapa sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 218 hal.
Tohir, A. 2011. Analisis peramalan penjualan minyak sawit kasar atau CPO pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) Nusantara di Jakarta.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1485/1/AKHMAT
%20TOHIR-FST.PDF. (4 Juli 2015).
United Stated Of Agribisnis. 2015. http://www.stcresources.com/wp-content/uploads/2010/11/r-0279-panduansawit.pdf. (29 Mei 2015).
%20Utami%20%2807914014%29.pdf.(28 mei 2015).
Tabel 16. Perhitungan korelasi dengan menggunakan SPSS 20 Correlations
Produksi Bahan baku Produksi
Pearson Correlation 1 .982**
Sig. (2-tailed) .000
N 12 12
bahan baku
Pearson Correlation .982** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 12 12
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Tabel 17. Perhitungan proyeksi tandan buah segar untuk tahun 2015 sampai 2016
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat hal-hal sebagai berikut : ΣY = 359.821 ton
ΣXY = 20.079 ton ΣX² = 572
Data ini dapat digunakan untuk menghitung nilai-nilai variabel a dan variabel b.
Maka :
Persamaan regresi linear sederhana untuk penggunaan bahan baku untuk tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 adalah Y = 29.985 + 35 X.
(ton) (ton)
Gambar 1. Stasiun loading Ramp Gambar 2. Stasiun sterilizer
Gambar 3. Stasiun press Gambar 4. Lori
Gambar 5. Oil tank Gambar 6. Stasiun perontokkan
Gambar 1. Pemberian tandan kosong untuk TBM
Gambar 2. Panen
Gambar 3. Loading buah di TPH Gambar 4. Tanaman penutup tanah