serikat2 sekerdja, jang segera dapat dirangkuhnja
ke-haribaan.
Tak lam a sesudah Tan Malaka dibuang, kembalilah
Semaoen ke Indonesia, jaitu tanggal 24 Mei 1922, sedang
Darsono menjusul pulang didalam bulan Pebruari tahun
1923.
Sesudah itu diadakan kongres
P.K.I.di
Bandungtang
gal
4 Maret 1923dan dua hari sesudah itu di Sukabumi.
Jangdatang ialah
wakil2 dari
„S.I. Merah” .Diputuskan
didalam kongres itu untuk tetap memerangi segala
ben-„F em erin tah bertan ja dalam hatinja, adakah perkara m endengarkan k ata oran g dengan njata2 dan perkara m em batja tulisan dengan sungguh2, mendj.&di sifat2 ja n g n ja ta pada tuan B e rg m e y e r?"
D jaw a b Pem erintah ja n g dibatjakan oleh Mr. J. J- Schrieke, adalah penuh dengan kata2 lantjang, t j o n g k a k dan tjem ooh ja n g sem atjam itu, disertai pula oleh gerak- g e rik a n g g o ta tubuh sipesuruh, ja n g bersifat menghina sem ata-m ata, sedang seluruh tutur itu ham pa belaka. D em ikian pula keadaannja dengan so’al pertahanan negeri. D ari pihak Pem erintah hanjalah terdengar djaw ab sebagai beriku t a tas segala pertanjaan2 para a nggota ja n g ahli :
„L e b ih dari ja n g sudah2 so’al pertahanan itu didjadikan ora n g s o ’al dunia seluruhnja. Berhubung dengan itulah, m a k a b a gi Pem erintah tidak ada kem ungkinan hendak m engindahkannja.
tuk kapitalisme, djuga kapitalisme nasional. Tjabang
2
„S.I. Merah” itu diubah mendjadi „Sarekat Rakjat”, dan didjadikan tingkatan bawah (dasar) dari P.K.I.
Gerakan itu segera meluas. Setelah mengadakan rapat di Bandung dalam bulan April 1924, maka dibukalah kongres P.K.I. di Djakarta dari 7 sampai 10 Djuli, di hadiri oleh tidak kurang dari 32 tjabang. Diantara jang datang mendjadi utusan adalah orang
2
dari Padang, Ma kasar, Ternate dan lain2.Semaoen ditangkap tanggal
8
Mei 1923. Sesudah di internir, iapun diberi kesempatan keluar meninggalkan Indonesia. Pimpinan P.K.I. adalah ditangan Aliarcham dan Darsono.Maka disusunlah anggaran dasar, dan bersamaan de ngan itu disiapkan pula strijd-program (anggaran per- djuangan). Didalam anggaran perdjuangan itu dituntut berdirinja Dewan
2
Perwakilan Rakjat, berdasar kepada organisasi2nja Sovjet, jaitu: Sovjet Desa, Sovjet Paberik, Sovjet Propinsi dan Sovjet Pulau. Diatas segala Sovjet itu, dibangunkan Sovjet Central. Kedudukan putjuk pim pinan dipindahkan ke Djakarta.Dengan perantaraan Sarekat Rakjat itu putjuk pim pinan mengharap akan mendapat perhubungan jang rapat dengan rakjat. Dimana-mana dibuat propaganda, Seko lah
2
Rakjat didirikan diantero tempat.Tapi lambat laun pimpinan P.K.I. merasa kurang puas dengan tindakan
2
Sarekat Rakjat itu. Diseluruh gerakan masih banjak timbul perselisihan2, jang menundjukkan sempitnja pendirian S.R. Dalam suatu kongres, jang di adakan dikota Gedeh dari 17 sampai 20 Desember 1924, iapun diganti mendjadi Sarekat2
Buruh dan Tani. Salah satunja dari organisasi baru itu ialah „Sarekat Buruh Gula” .* * *
Didalam pergaulan kaum buruh telah timbul kegeli sahan dan pergolakan, jang mengantjam. Dari segala pihak keluar tuntutan tambahan gadji dan perubahan nasib, terutama jang berhubung dengan perdjandjian
2
perburuhan. Sewaktu-waktu dapat dipastikan akan tim bul pemogokan.
Jang ditakutkan itu datanglah. Tanggal
9
Mei 1923 pegawai2
kereta api telah melakukan pemogokan jang memang telah lama disangka akan terdjadi. Berbulan- bulan lamanja pegawai telah berkeluh kesah, karena gadjinja djauh lebih rendah dari pada gadji pegawai dilain-lain d jawatan. Lain dari pada itu, tambahan ke mahalan diturunkan pula untuk pegawai rendah dari 40 sampai 6 0 % , sedang potongan2
jang hendak menjusul, telah dibajang-bajangkan pula.Pada permulaan bulan Mei, Semaoen telah mengeluar kan perintah, supaja seluruh pegawai kereta api mogok, djika ada salah seorang diantara pemimpin
2
V.S.T.P. jang ditangkap. Seketika itu djuga ia sendiri telah ditangkap, katanja berhubung dengan spreekdelict, jang dilakukan- nja tanggal 1 April, dan pada awalnja berupa tidak hen dak diambil pusing.Sehari sesudah ia ditangkap, tanggal 9 Mei, pemogokan itupun petjah. Tapi penangkapan Semaoen itu harus dipandang sebagai titik penghabisan, jang melimpahkan
isi piala. Rasa dendam telah lama dikandung, dan telah
mendalam. Tapi oleh karena pemogok menuntut pembe
basan Semaoen, maka Pemerintah mendapat djalan buat menuduh, bahwa pemogokan itu „djelas bersifat revolu sioner, karena ia terdjadi, setelah Pemerintah menguat kan kehendak hukum Pidana atas diri seseorang jang
melakukan pelanggaran” . Tuduhan itu telah diutjapkan
oleh G.G. dimuka sidang Volksraad tanggal 13 Mei 1923. Pemerintah telah lama mengetahui, bahwa pegawai
2
kereta api tidak bersenang hati. Berhubung dengan itu, rupa
2
pendjagaan telah disediakan, untuk mengatasi se- s-ala kemungkinan. Tanggal 10 Mei telah ditambahkan nasal 161 bis kedalam Undang2
Hukum Pidana. Maksud nasal itu ialah hendak mendjaga, supaja tak mungkin laei diadakan pemogokan. Pasal itu membuktikan salan „„tu dari pada tindakan sewenang-wenang, jang senan tiasa dilakukan oleh Algemene Seeretaris Ch. J. M. -U Wplter, dan merupakan suatu Undang2
jang seburuk-bu- ruknia jang pernah dilahirkan oleh Pemerintah. Susunan k a t a i j a sangat kabur, tidak tepat. Bagi Hakim sangat lah sulit hendak memperbuatnja mendjadi tempat ber pegang. Tapi rupanja memang itulah jang dikehendaki oleh pengarangnja, karena didalam hal jang serupmungkinlah ia dipergunakan sebagai persediaan, guna menindas segala pemogokan sebelum ia lahir.
Tuduhan, bahwa pemogokan kereta api itu bersifat „revolusioner”, digunakan oleh Pemerintah buat men- djadi alasan dari pada segala tindakannja jang kedjam2, dalam perkara menindasnja. Beratus-ratus pegawai ke reta api telah dikeluarkan dari djabatan negeri. Lumajan — dengan djalan itu bukankah dapat pula negeri meng hematkan ongkos atas belandja personeel, jang memang sedang dirantjang-rantjang! „Keuntungan luar biasa jang telah diperoleh dengan tidak disangka-sangka” ...
Dari pihak S.I. tidak tampak perhatian akan pemo gokan itu, jang diperlihatkan dengan sesuatu perbuatan jang langsung. Dwidjosewojo mentjelanja didalam sidang Volksraad, karena pemogokan dilakukan didalam suatu perusahaan penting (vitaal bedrijf). Tapi iapun turut mengatakan, bahwa jang nomor satu berkesalahan di dalam bentjana itu, ialah Pemerintah sendiri.
Kejakinan, bahwa tiap
2
pemogokan bertjap „komunis”, adalah mendjadi hukum sjari’at (geloofsartikel) bagi Pemerintah dan orang2
Belanda. Seluruh pesurat kabaran mereka, ketjuali „Indische Courant”, telah mentjertja orang2
komunis, jang disebutkan „penghasut dan penga- tjau”. Pemogokan disuatu kantor tjetak di Semarang dan jang dilakukan oleh djurumudi2
pada Semarangse Stoomboot- en Prauwenveer, dikatakan pula „bertjap ko munis” , meskipun jang dikemukakan oleh pemogok, se mata-mata soal ekonomi belaka.Dibulan Nopember 1925 telah petjah pemogokan di Surabaja, didalam kalangan Machine Fabrieken dan Droogdok Maatschappij. Dari pemogokan itu njata pula, bahwa pasal 161 bis dari Undang
2
Hukum Pidana, dapat benar dipergunakan untuk menindas segala gerak-gerik, jang dilakukan untuk menimbulkan pemogokan, guna minta tambah upah atau perubahan nasib.Pemogokan di Surabaja itu semata-mata telah dilaku kan untuk memperbaiki nasib pekerdja dan sebagai protes terhadap madjikan, jang tidak berkeputusan menurun- nurunkan upah, sedang keadaan perumahan pegawaipun sangat pula berkesukaran.
Residen Surabaja, Jordaan, mengetahui bahwa pemo gokan itu terdjadi, karena pihak buruh tidak bersenang
^ L _ o o f . uPah dan sebagainja itu. Oleh karena itu ia tak suka mengambil tindakan terhadap
pemogoKan, malah sebaliknja ia telah memberi nasihat
diepaaa para rnadjikan, supaja lebih dahulu mereka hen-
aaKian memperbaiki keadaan perburuhan pada umumnja. Nasihat Residen itu tidak menjenangkan hati para madjiKan. Pemimpin Maehine Fabrieken menjuruh. suatu deputasi ke Djakarta, jang harus menerangkan kepada G.G., bahwa, „jang ada dibelakang pemogokan itu ialah orang
2
komunis pula” . Pada hal semua orang harus mak lum, bahwa sesudah terdjadi pemogokan itu, dengansendirinja orang
2
komunis tentulah akan datang men- tjampurinja, karena pemogokan itu memang terdjadiatas tuntutan
2
ekonomi. G.G. Fock sangat pertjaja akan tjerita deputasi jang datang dari Surabaja itu. Hoofd- commisaris Djakarta, seorang bekas B.B., disuruh ke Surabaja, bersama-sama dengan seorang Residen, jang sedang diperbantukan kepada Gubernur Djawa Barat. Mereka membawa mandat blanko, artinja boleh bertindak setjara jang ditimbangnja perlu, dengan tak usah me nantikan perintah lebih dahulu.Sedatangnja ke Surabaja, mereka telah menangkap
seratus lima puluh orang, jang ada atau mungkin ada hubungannja dengan pimpinan pemogokan. Penangkapan
itu didasarkan kepada pasal 161 bis dari Hukum
Pidana.
Oleh karena pemogokan kehilangan seluruh pemimpin- nja, maka padamlah ia, setelah berlaku beberapa han lamanja. Sesudah itu dilepaskanlah sekalian tahanan, ketjuali sebelas orang. Sepuluh bulan lamanja orang jang sebelas itu dipendjara, tapi dimuka pengadilan me reka dimerdekakan, karena Hakim berpendapat, bahwa sesuatu pasal didalam Undang2
Hukum Pidana, jang tidak djelas maksudnja, tidak dapat didjadikan dasar untuk menghukum orang.Perkara di Surabaja itu memberi gambaran jang njata, setjara apa Pemerintah dan orang