V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Habitat
5.3.3 Natalitas dan Mortalitas
Natalitas merupakan perbandingan antara jumlah bayi dengan jumah betina produktif yaitu betina pada kelas umur muda dan dewasa. Pada penelitian ini yang dihitung adalah laju natalitas kasar. Hal ini disebabkan karena 1) umur setiap individu monyet ekor panjang di alam tidak dapat diketahui secara pasti, 2) pengelompokkan umur berdasarkan ciri-ciri kualitatif dan 3) selang waktu antar kelas umur tidak sama (Priyono 1998). Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, maka penentuan laju natalitas didasarkan pada hasil pengamatan tiap kelompok monyet ekor panjang yang memiliki struktur umur yang lengkap yang mencakup bayi, anak, muda dan dewasa. Natalitas masing-masing kelompok monyet ekor panjang di SM Paliyan dan Kaliurang dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Natalitas masing-masing kelompok monyet ekor panjang
Berdasarkan tabel 8, natalitas semua kelompok baik di SM Paliyan maupun hutan Kaliurang memiliki nilai yang hampir sama yaitu antara 0.44-0.67. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata setengah dari betina produktif mampu menghasilkan anak dengan asumsi jumlah perkelahiran 1 ekor, sebagaimana menurut Lavieren (1982) bahwa monyet ekor panjang melahirkan anak satu ekor dan jarang sekali dua ekor. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) termasuk dalam a birth flow model yaitu golongan yang dapat menghasilkan individu-individu baru dengan kecepatan yang tetap sepanjang tahun. Monyet ekor panjang tidak mengenal musim kawin, satwa ini melakukan perkawinan hampir sepanjang tahun.
Natalitas mempengaruhi pertumbuhan populasi sehingga disebut sebagai populasi perkembangbiakan. Natalitas sangat ditentukan oleh seks rasio, jumlah populasi, maximum breeding age, minimum breeding age, serta jumlah anak
Lokasi Kelompok Bayi Betina produktif Natalitas
SM Paliyan 1 12 27 0.44 2 10 22 0.45 3 9 16 0.56 Hutan Kaliurang 1 6 14 0.43 2 9 16 0.56 3 5 11 0.45 4 4 6 0.67
44 pertahun. Hubungan antara seks rasio dengan natalitas di kedua tipe habitat dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9 Hubungan antara natalitas dengan seks rasio
Kelompok Jumlah induk Seks Jumlah Natalitas
Betina Jantan Rasio anak
1. 27 11 1: 2.45 12 0.44 2. 22 11 1: 2.00 10 0.45 3. 16 10 1 : 1.60 9 0.56 4. 14 8 1 : 1.75 6 0.43 5. 16 9 1 : 1.78 9 0.56 6. 11 7 1 : 1.57 5 0.45 7. 6 4 1 : 1.50 4 0.67
Dengan menggunakan SPSS 16.0 didapatkan hubungan antara natalitas dan seks rasio induk betina reproduktif di SM Paliyan dan Kaliurang memiliki persamaan sebagai berikut :
Y = - 4,35 X3 – 3.03 X2 + 0.66 dengan R2 = 46,7 % Keterangan :
Y = natalitas X = seks rasio
R2 = koefisien determinasi
Dari persamaan di atas, maka hubungan antara seks rasio dengan natalitas bernilai negatif. Hal ini sebagaimana penelitian di pulau Tinjil yang menyatakan natalitas populasi monyet ekor panjang di alam akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya proporsi induk betina terhadap jantan (Priyono 1998).
Mortalitas atau tingkat kematian merupakan faktor penentu kelestarian satwa liar. Mortalitas tidak hanya disebabkan oleh alam, tetapi dapat juga berasal dari campur tangan manusia. Mortalitas yang tinggi akan mengancam kelestarian satwa liar. Pendugaan laju kematian populasi monyet ekor panjang di alam didasarkan pada pendekatan peluang hidup setiap kelas umur. Mortalitas masing-masing kelompok monyet ekor panjang di SM Paliyan dan Kaliurang dapat dilihat pada Tabel 10.
45 Tabel 10 Mortalitas perkelas umur kelompok monyet ekor panjang
Mxb_a = mortalitasdari kelas umur bayi ke kelas umur anak; Mxa_m = mortalitasdari kelas umur
anak ke kelas umur muda; Mxm_d = mortalitas
Hasil analisa pertumbuhan populasi dengan Powersim 2.0 menunjukkan pada masing-masing kelompok monyet ekor panjang mengalami peningkatan rata-rata sebesar 20-30 % setiap tahun. Kelompok satu di SM Paliyan dengan jumlah awal 68 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 89 ekor dan tahun
dari kelas umur muda ke kelas umur dewasa
Dari ketiga kelompok yang ada di SM Paliyan mortalitas kelas umur bayi ke kelas umur anak bernilai kecil yaitu antara 0.10- 0.16. Pada kelas umur anak ke kelas umur muda, nilai mortalitas naik kecuali kelompok dua yang justru mengalami penurunan, sedangkan dari kelas umur muda ke kelas umur dewasa nilai mortalitas bernilai tinggi hingga mencapai 0.87 pada kelompok 2. Mortalitas di Kaliurang memiliki nilai yang hampir sama dengan di SM Paliyan.
Secara umum laju mortalitas tertinggi terdapat pada kelas umur muda ke dewasa. Hal ini diduga disebabkan adanya persaingan dalam kelompok dalam memperebutkan status sosial. Perkelahian individu dalam kelompok sebagian besar dilakukan oleh individu jantan, yang menyebabkan keluarnya individu jantan dewasa sehingga jumlah jantan dewasa semakin sedikit. Kematian pada kelas umur bayi umumnya disebabkan oleh kecelakaan atau dimangsa oleh predator (Priyono 1998). Pada umumnya kematian monyet ekor panjang yang disebabkan karena faktor alami sangat jarang terjadi. Kematian satwa ini di alam lebih banyak dikarenakan adanya perburuan dan penangkapan untuk memenuhi kuota dan dibunuh oleh masyarakat karena merusak tanaman pertanian dan perkebunan.
5.4 Pertumbuhan Populasi
Lokasi Kelompok Bayi Anak Muda Dewasa Mxb_a Mxa_m Mxm_d
SM Paliyan 1 12 18 24 14 0.10 0.33 0.76 2 10 14 25 8 0.16 0.11 0.87 3 9 13 15 11 0.13 0.42 0.69 Ht. Kaliurang 1 6 8 14 8 0.20 0.13 0.76 2 9 11 14 11 0.27 0.36 0.67 3 5 7 11 7 0.16 0.21 0.73 4 4 6 5 5 0.10 0.58 0.58
46 ke-2 menjadi 108 ekor; kelompok dua dengan jumlah awal 57 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 71 ekor dan tahun ke-2 menjadi 89 ekor; kelompok tiga dengan jumlah awal 48 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 72 ekor dan tahun ke-2 menjadi 69 ekor. Pertumbuhan populasi di hutan Kaliurang meliputi : kelompok satu dengan jumlah awal 36 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 44 ekor dan tahun ke-2 menjadi 53 ekor; kelompok dua dengan jumlah awal 45 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 57 ekor dan tahun ke-2 menjadi 69 ekor; kelompok tiga dengan jumlah awal 30 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 36 ekor dan tahun ke-2 menjadi 44 ekor; kelompok empat dengan jumlah awal 20 ekor, pada tahun ke-1 telah bertambah menjadi 23 ekor dan tahun ke-2 menjadi 29 ekor. Simulasi pertumbuhan populasi dengan menggunakan Powersim 2.0 selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
5.5 Minimum Viable Population (MVP)
Hasil perhitungan menunjukkan nilai MVP pada setiap kelompok monyet ekor panjang bervariasi. MVP tertinggi terdapat pada kelompok satu di SM Paliyan yaitu sebesar 86 ekor dengan perincian 10 bayi jantan, 19 bayi betina, tujuh anak jantan, 14 anak betina, lima jantan muda dan 10 betina muda, tujuh jantan dewasa, dan 14 betina dewasa. MVP terendah terdapat pada kelompok tiga di Kaliurang yaitu 37 ekor dengan perincian tiga bayi jantan, enam bayi betina, dua anak jantan, empat anak betina, tiga jantan muda, lima betina muda, lima jantan dewasa, dan sembilan betina dewasa (Tabel 11). Perhitungan nilai MVP untuk masing-masing kelompok baik di SM Paliyan maupun hutan Kaliurang disajikan di Lampiran 4.
Tabel 11 Nilai MVP masing-masing kelompok monyet ekor panjang
Kelompok Bayi Anak Muda Dewasa Jumlah
Jantan Betina Jantan betina Jantan betina Jantan Betina
SM Paliyan 1. 10 19 7 14 5 10 7 14 86 2. 7 14 9 17 3 5 6 12 73 3. 8 3 3 6 16 6 6 11 59 Kaliurang 1. 4 8 5 9 2 4 4 7 43 2. 5 10 4 8 4 8 5 10 54 3. 3 6 2 4 3 5 5 9 37 4. 6 6 4 4 5 5 9 9 48
47
5.6 Nilai Kuota Panen
Berdasarkan ukuran MVP (Tabel 11) dan ukuran populasi pengamatan (Tabel 5) dapat dilihat bahwa semua kelompok baik di SM Paliyan maupun hutan Kaliurang belum mencapai MVP sehingga belum ada satu kelompok pun yang dapat dipanen. Nilai kuota panen selanjutnya didapatkan dari hasil simulasi pertumbuhan populasi dengan menggunakan Powersim 2.0.
Dari hasil simulasi (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa MVP pada tiap kelompok baru tercapai pada tahun kesatu kecuali kelompok 4 (Kaliurang) yang tercapai pada tahun ketiga. Selanjutnya pemanenan baru dapat dilakukan pada tahun kedua, sedangkan untuk kelompok 4 (Kaliurang), pemanenan mulai dilakukan mulai tahun keempat. Nilai kuota panen dihitung untuk setiap kelas umur dan jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya eksploitasi pada jenis kelamin dan kelas umur tertentu sehingga kelestarian kelompok akan terancam.
Hasil penelitian menunjukkan pemanenan pada kelas umur muda, kelompok dua di SM paliyan yang memiliki nilai tertinggi yaitu sembilan jantan muda dan 18 betina muda, sedangkan nilai terendah pada kelompok empat di hutan Kaliurang yaitu hanya satu ekor betina muda saja. Untuk kelas umur bayi nilai kuota panen terbesar pada kelompok dua di hutan Kaliurang, sedangkan pemanenan pada kelas umur anak terbesar di kelompok tiga SM Paliyan. Untuk kelas umur dewasa hingga tahun kedua belum ada yang bisa dipanen (Tabel 12). Rata-rata kuota panen ketujuh kelompok pada tahun kedua adalah dua ekor bayi jantan, tiga ekor bayi betina, dua ekor anak jantan, empat ekor anak betina, empat ekor muda jantan, dan delapan ekor muda betina.
Tabel 12 Kuota panen monyet ekor panjang tiap kelompok perjenis kelamin dan kelas umur pada tahun kedua
Kelompok Bayi Anak Muda Dewasa
Jantan Betina Jantan betina Jantan betina Jantan Betina
SM Paliyan 1.
Ukuran 11 22 9 18 11 21 6 11
MVP 10 19 7 14 5 10 7 14
48 Tabel 12 lanjutan Ukuran 10 19 6 12 12 23 3 5 MVP 7 14 9 17 3 5 6 12 Kuota 3 5 0 0 9 18 0 0 3. Ukuran 7 13 8 15 6 12 4 7 MVP 8 16 3 6 3 6 6 11 Kuota 0 0 5 9 3 6 0 0 Hutan Kaliurang 1. Ukuran 6 11 4 7 6 12 3 5 MVP 4 8 5 9 2 4 4 7 Kuota 2 3 0 0 4 8 0 0 2. Ukuran 8 16 6 12 6 12 4 7 MVP 5 10 4 8 4 8 5 10 Kuota 3 6 2 4 2 4 0 0 3. Ukuran 4 7 4 8 5 9 2 4 MVP 3 6 2 4 3 5 5 9 Kuota 1 1 2 4 2 7 0 0 4. Ukuran 4 8 6 11 3 6 2 3 MVP 6 6 4 4 5 5 9 9 Kuota 0 2 2 7 0 1 0 0 Rata-rata 2 3 2 4 4 8 0 0
Berdasarkan perhitungan hingga tahun ke-11, kuota panen pada setiap kelas dan jenis kelamin mengalami kenaikan setiap tahun dengan rata-rata sebesar 20% pertahun. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan data pertumbuhan populasi dengan asumsi tanpa adanya pemanenan awal. Gambar 9 menunjukkan simulasi jumlah kuota panen yang dapat dilakukan hingga tahun ke-11 pada kelas umur bayi dengan jenis kelamin betina. Dengan semakin meningkatnya jumlah ukuran kelompok, maka kuota panen juga meningkat, sehingga dimungkinkan kelompok dalam keadaan lestari. Pemanenan juga merupakan salah satu strategi dalam mempertahankan keseimbangan di alam. Menurut Bailey (1984) populasi yang tidak dipanen jarang sekali mengalami peningkatan populasi, sehingga dengan pemanenan justru meningkatkan pertumbuhan populasi.
49 0 10 20 30 40