• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Penutup, yang berisikan Kesimpulan dan Saran penelitian

TINJAUAN UMUM TENTANG TEORI KONSTITUSI, DEMOKRASI DAN NEGARA HUKUM

C. NEGARA HUKUM

3. Negara Hukum Formal dan Negara Hukum Materiil

Kajian tentang negara hukum dari segi perkembangan juga di bagi menjadi dua, yaitu konsep negara hukum formal dan konsep negara hukum

materil yang masing-masing mempunyai ke khasannya. Rechtstaat sebagai gagasan

pemikiran yang berkembangan dikawasan Eropa dengan tradisi hukum civil law system. Pada konteks tersebut perkembangan hukum di Eropa tidak terlepas dari pengaruh budaya dan sains yang mulai berkembang di Barat sekitar abad XVI dan ditandai dengan masa Renaissance.357 Pada masa Republik Weimar, konsep Formal Rechtsstaat ini berkembang menjadi totalitarian yang hanya menekankan pada prinsip legalitas dan karenanya menolak adanya pengujian atas Undang-Undang (Gesetz). Setelah Perang Dunia II muncul kesadaran baru ke arah Rechtstaat yang lebih substantif sekalipun tetap mempertahankan aspek formalnya yang kemudian melahirkan konsep Sozialen

Rechtsstaat (Negara Hukum Sosial). Konsep Sozialen Rechtsstaat diterima pada Pasal 28

ayat (1) Hukum Dasar Jerman Barat 1949 yang berbunyi: “Die verfassungsmäßige

Ordnung in den Ländern muß den Grundsätzen des republikanischen, demokratischen und sozialen Rechtsstaates im Sinne dieses Grundgesetzes entsprechen.” Konsep terakhir

ini memadukan antara perlindungan hak-hak fundamental dan peran negara yang secara aktif mempromosikan kesejahteraan warga negara.358

357 Nur Rachmi, Humanisme Renaissance, Makalah diunduh dari http://www.rumahkiri.org, diakses pada tanggal 12 April 2012. 2005 h 1-3

358 Caldwell, (1997); Schmitt, (2008); Hayek, (2011), dalam Aidul Fitriciada Azhari, Pancasila dan Arsitektur Negara Hukum Indonesia: Upaya Dekolonisasi dan Rekonstruksi Tradisi, Disajikan dalam Konferensi dan Dialog Nasional Negara Hukum 2012 pada tanggal 9-10 Oktober 2012 di Hotel Bidakara Jakarta. hlm 5.

a. Negara Hukum Formil

Semula dalam konspsi legal state terdapat prinsip staatsonthounding atau pembatasan peranan negara dan pemerintahan. Pembatasan pembatasan tersebut meliputi bidang politik dengan adagiumnya yang popular yaitu the least government is the best government dan terdapat prinsip laissez fare, laissez aller.359 Dalam bidang ekonomi negara dilarang untuk mencampuri

urusan perekonomian masyarakat (staatsbemoeienis).360 Konsep negara jaga

malam ini di sokong oleh dua pemikir besar, yaitu Imanuel Kant dan Fichte, yang menyatakan larangan keras bagi negara untuk ikut campur dalam dalam rusan sosial dan ekonomi. Konsep Kant tersebut dituangkan dalam Methaphysiche Ansfangsgrunde der Rechtslehre yang di motori oleh kaum borjuis liberal agar hak-hak kebebasan pribadi tidak terganggu, tidak di rugikan dan kaum borjuis liberal menginginkan agar adanya kebebasan dalam

mengurus ekonomi dan negara jangan ikut campur.361 Kehendak para borjuis

liberal agak negara tidak ikut campur hanya menyangkut Wohlfart Polizei,

sedangkan Secherheit Polizei tetap di laksanakan oleh negara.362 Demikian

Kant mulanya menolak Polizei Staat, namun masih kompromistis sejauh

polisi tersebut di dasarkan atas hukum363 dan mereka mempertahankan

359 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, Cetakan Ke-6 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), hlm 14.

360

Ridwan HR, Hukum Administrasi … Ibid, hlm 14.

361 Azhary, Negara Hukum Indonesia, Analisis Yuridis Normatif Tentang Unsur-Unsurnya (Jakarta: UP Press, 1995), 45.

362 Azhary, Negara Hukum … Ibid, hlm 45.

363

sepenuhnya pemisahan antara negara dan masyarakat. Utrech berkomentar bahwa dalam negara (rechtsstaat in enere zin) seperti itu, tugas negara hanya membuat dan mempertahankan hukum, atau dengan kata lain hanya menjaga

keamanan dalam arti sempit (keamanan senjata).364 Atas

pembatasan-pembatasan ini akhirnya pemerintah menjadi pasif dan karenanya disebut sebagai negara penjaga malam (nachtwakerstaat/etat gendarme).

Akibat dari negara yang pasif akhirnya melahirkan kesenjangan sosial, disparitas ekonomi kelas atas dan kelas bawah yang puncaknya melahirkan krisis sosial dan kegagalan bagi perkembangan negara pejaga malam (nachtwakerstaat). Mencemati situasi dan kelemahan-kelemahan sistem ini, pemikir Jerman lain yaitu Julius Stahl mengajukan perbaikan-perbaikan atas pandangan-pandangan Kant. Melalui tulisannya yang diberi judul Philosophie Des Rechts (1878) Stahl mengemukakan prinsip-prinsip negara hukum, meskipun demikian Stahl juga tidak menyentuh aspek yang lebih subtantif atau material. Stahl hanya focus pada hal-hal formil, seperti Wetmatig Bestuur dan peradilan administrasi sebagai kontrol terhadap

tindakan pemerintahan.365

b. Negara Hukum Materiil

Kegagalan negara jaga malam pada akhirnya melahirkan kontra pemikiran atas prinsip-prinsip yang dianut oleh negara penjaga malam.

364 Utrech, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1986), hlm 26.

365

Apabila dalam konsep negara jaga malam, posisi pemerintah atau negara pasif, maka dalam konsepsi baru selanjutnya, masyarakat menghendaki agar negara ikut terlibat dalam urusan kesejahteraan sosial di samping tugas untuk menjaga ketertiban. Konsep ini selanjutnya dikenal dengan konsep negara kesejahteraan atau welfare state atau negara hukum materil. Ajaran welfare state lahir di eropa barat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dalam gagasan welfare state ini lapangan pekerjaan pemerintah menjadi sangatlah

luas366 dan praktis juga berimplikasi pada authority yang dipegang oleh

pemerintah menjadi sangat besar, sehingga pada bidang Hukum Administrasi Negara, melahirkan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AAUPB) sebagai alat control bagi tindakan pemerintahan. Di negeri Belada Scheltema merupakan salah satu tokoh pelopor dalam perkembangan negara hukum materiil ini. Dalam kongres yang di lasakanakan di Fakultas Hukum Rijksuniversiteit di Groningen Scheltema telah menguraikan panjang lebar mengenai pandangannya tentang negara hukum, yang unsur-unsurnya utamanya telah di kemukakan diatas, singkatnya Scheltema mengemukakan karena perkembangan masyarakat sudah sedemikian jauh, maka tidak cukup

lagi jika hanya diatur secara formil dengan asas legalitas.367 Struycken

mengemukakan bahwa pada abad ke XX timpilan negara telah berubah,

366 Utrech, Pengantar Hukum Administrasi … op. cit hlm 27.

367

dimana negara aktif membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyatnya.368 Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat, maka pemerintah di berikan freies ermessen untuk mewujudkan kesejahteraan.369 Atas dasar itu maka di mulailah pergeseran dari wetmatigheid van het bestuur ke rechtmatigheid van het bestuur. Pada tahap ini justice pun mulai di suarakan, dan memaksa pemerintah membedakan perlakuan terhadap masyarakat kelompok tertentu, yaitu yang berpenghasilan tinggi untu tidak lagi memperoleh subsidi. Pergerseran konsep dari pemerintahan menurut undang-undang ke pemerintahan menurut hukum sekaligus menandai pola hubungan antara masyarakat dengan pemerintah seperti nampak di awal-awal lahirnya negara hukum dengan spirit membatasi absolutism kekuasaan ke arah partnership antara pemerintah dan rakyat.370 Konsep ini oleh Lemaire di sebut dengan bestuurszorg atau penyelenggara kesejahteraan umum yang dilakukan pemerintah, dan itu meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang oleh

negara di anggap perlu untuk terlibat.371