Defisit neraca jasa pada 2007 mencapai USD11,1 miliar sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar defisit USD9,9 miliar. Peningkatan defisit tersebut terutama didorong oleh meningkatnya pengeluaran devisa dari jasa angkutan barang (freight) terkait dengan peningkatan impor selama tahun 2007. Namun demikian, kenaikan defisit tersebut relatif terbatas karena kenaikan transaksi jasa
outflows masih dapat diimbangi dengan kenaikan inflows yang utamanya berasal dari
jumlah wisman yang meningkat dari tahun sebelumnya khususnya pada semester II 2007 terkait dengan banyaknya event internasional di Bali.
Defisit jasa transportasi
meningkat
Defisit jasa transportasi
juga disebabkan pengenaan biaya tambahan bahan bakar
Grafik 35
Neraca Jasa, Pendapatan dan Transfer Berjalan
-7,000 -6,000 -5,000 -4,000 -3,000 -2,000 -1,000 0 1,000 2,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007*
Services, Net Income, Net Current Transfer, Net Total Services, Net Juta USD
Jasa transportasi pada 2007 mengalami peningkatan defisit sekitar 19,6% dari USD6,1 miliar menjadi USD7,3 miliar. Peningkatan defisit tersebut terutama karena naiknya defisit jasa angkutan barang, khususnya nonmigas, dari USD5,1 miliar menjadi USD5,8 miliar, sejalan dengan meningkatnya biaya angkut yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan volume impor. Sementara itu, defisit jasa angkutan barang migas sedikit meningkat dari USD1,4 miliar menjadi USD1,6 miliar, sejalan dengan kenaikan volume impor minyak. Tingginya defisit jasa transportasi tersebut terkait dengan penggunaan armada asing untuk mengangkut impor barang. Sementara itu, implementasi kebijakan pemerintah untuk mendorong armada domestik masih terbatas. Hal ini terlihat dari belum efektifnya kebijakan pemerintah dalam Inpres No.5/2005 (azas cabotage) yang mewajibkan semua pengiriman komoditas nasional harus diangkut menggunakan kapal nasional. Namun kenyataannya perusahaan pelayaran asing masih mendominasi sekitar 95% jasa pengiriman internasional, dan juga 65% untuk pelayaran antar pulau. Perusahaan pelayaran nasional lebih banyak melayani jasa angkutan pengumpan (feeder) terutama dari dan ke Singapura.
Peningkatan defisit jasa transportasi juga disebabkan oleh adanya pengenaan biaya tambahan bahan bakar (fuel surchage) rata-rata sekitar 15% yang dibebankan kepada konsumen saat kontrak pengangkutan pelayaran domestik dan internasional sejak November 2007. Biaya tambahan tersebut dihitung berdasarkan bunker adjustment
factor (BAF) yang akan berpengaruh pada biaya variabel lain, seperti terminal handling charges (THC) dan clearance freight. Sementara itu, biaya BBM kapal yang masih
merupakan komponen biaya terbesar (30-40% dari total biaya operasional) mengalami kenaikan. Sejak 1 November 2007, Pertamina telah menaikkan harga bahan bakar kapal sekitar 5% per liter, sehingga biaya angkut importasi bahan baku yang tercermin pada tarif angkut kontainer pengiriman komoditas bahan baku meningkat sekitar USD40-100/ton. Sementara itu, maskapai penerbangan juga telah menaikkan biaya penerbangan domestik sebesar 20% merespon kenaikan harga minyak internasional.
Jumlah kunjungan turis
selama 2007 meningkat
Pencapaian kinerja pariwisata 2007 tertinggi
selama 4 tahun ke belakang
Grafik 36
Jasa Transportasi dan Pariwisata
-4,000 -3,500 -3,000 -2,500 -2,000 -1,500 -1,000 -500 0 500 1,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007*
Transportasi Travel Jasa Lainnya Jasa, net Juta USD
Di sektor pariwisata, selama tahun 2007 terjadi surplus sebesar USD900 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar surplus USD400 juta. Kenaikan surplus tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia (inbond) dari 4,9 juta orang pada tahun sebelumnya menjadi 5,5 juta orang (meningkat 13%) sehingga penerimaan devisa naik dari USD4,4 miliar menjadi USD5,3 miliar. Kenaikan penerimaan devisa tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya jumlah pengeluaran wisman hasil PES (Passanger Exit Survey) 2007 menjadi USD971 per kunjungan per orang dari USD913 pada tahun 2006. Sedangkan, jumlah WNI yang berpergian ke luar negeri (outbond) selama tahun 2007 mencapai 5,2 juta orang (termasuk jamaah Haji 209 ribu orang), meningkat 3,8% dari 5,0 juta orang (termasuk jamaah Haji 207 ribu orang) pada 2006. Peningkatan jumlah kunjungan WNI ke luar negeri tersebut telah mendorong peningkatan pengeluaran devisa menjadi sebesar USD4,4 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD4,0 miliar.
Grafik 37
Perkembangan Jasa Travel
-500 -400 -300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600 700 2005 2006 2007
Jumlah Inbo und (ribu o rang) Jumlah Outbo und (ribu o rang) excl. Hajj Inbo und-Outbo und (ribu o rang) B o m B ali II Okt 2005 Gempa Jo gja Gn. M erapi M ay 2006 Tsunami P angandaran Juli 2006 Ribu Orang
Secara umum perkembangan kedatangan wisman selama 2007 mencatat kemajuan meskipun masih diberlakukannya travel warning dari beberapa negara, khususnya Amerika Serikat dan Australia. Pencapaian kunjungan wisman pada 2007 adalah pencapaian tertinggi dalam kurun waktu empat tahun ke belakang. Kemajuan tersebut didukung oleh sektor pariwisata nasional yang tumbuh 13% lebih tinggi
Puncak kunjungan wisman pada Tw. IV-2007
karena faktor musiman dan adanya event internasional
Bali masih menjadi tujuan
utama wisman
Defisit jasa lainnya lebih
tinggi dibandingkan tahun sebelumnya
daripada pariwisata dunia dan kawasan Asia Pasific yang masing-masing hanya tumbuh sekitar 6% dan 10%. Beberapa upaya telah dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan
inbond wisman, antara lain dengan membuka perwakilan pemasaran di negara utama
asal turis (Singapura, Frankfurt, Jepang, dan lain-lain) dan kerjasama pemasaran internasional di tingkat regional, serta pengembangan jaringan aksesibilitas udara ke pasar potensial di Asia Pasifik dan Eropa. Upaya peningkatan jumlah kedatangan wisman juga didukung dengan penambahan 11 negara yang mendapatkan VKSK (Visa Kunjungan Saat Kedatangan)/VoA pada bulan Mei 2007, sehingga jumlahnya menjadi 63 negara.
Puncak kunjungan turis mancanegara (peak season) terjadi pada triwulan IV karena faktor musiman sehubungan dengan masa liburan panjang, ditambah dengan adanya beberapa event internasional, seperti Asean Tourism Investment Forum (ATIF) dan Pacific
Asia Travel Association (PATA) Travel Mart pada akhir September 2007. Namun
demikian, Desember 2007 menjadi bulan terbanyak kunjungan wisata turis mancanegara terkait dengan musim liburan akhir tahun dan penyelenggaraan KTT tentang Perubahan Iklim (Global Change Climate Conference) oleh United Nations
Framework Convention on Climate Change/ UNFCC di Bali. Negara asal wisman yang
datang ke Indonesia masih didominasi oleh Singapura (pangsa 20,3%), Malaysia (12,8%), Jepang (10,4%), Korea Selatan (6,0%) dan Australia (5,8%). Sedangkan negara yang menjadi tujuan utama kunjungan wisata adalah Singapura (pangsa 43,9%), Malaysia (25,4%), Australia (5,5%), Amerika (4,3%) dan Thailand (3,9%).
Sementara itu, Bali masih tetap menjadi tujuan wisata utama wisman selama tahun 2007 (pangsa 31,6%), diikuti Jakarta (20,9%) dan Batam (19,6%). Dengan adanya beberapa kegiatan meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) berskala internasional, pariwisata Bali sepanjang tahun 2007 tumbuh sekitar 31,1%. Negara asal wisman terbanyak yang berkunjung ke Bali adalah Jepang (pangsa 20,2%), Australia (11,7%) dan Taiwan (8%). Meskipun jumlahnya relatif masih sedikit, China dan India adalah dua negara asal wisman ke Bali yang cukup tinggi pertumbuhannya masing-masing sekitar 150,2% dan 86,5%. Sedangkan wisman ke Bali yang berasal dari negara Eropa (Inggris, Jerman dan Belanda) rata-rata pertumbuhannya lebih dari 10%, menandakan larangan terbang Komisi Uni Eropa terhadap maskapai penerbangan nasional tidak berdampak pada minat wisman Eropa untuk datang ke Indonesia, khususnya wisata ke pulau dewata.
Jasa lainnya pada 2007 mencatat defisit USD3,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar defisit USD2,5 miliar. Jasa lainnya terdiri dari jasa perdagangan (merchanting), jasa sewa (oeprational leasing) dan berbagai jasa keahlian (profesional) seperti jasa konsultan hukum, jasa akuntansi, jasa arsitektur, rekayasa dan teknik, jasa riset dan pengembangan, dan lainnya. Negara berkembang, termasuk
Defisit neraca pendapatan relatif
meningkat dari tahun sebelumnya
Defisit pendapatan investasi portofolio
meningkat
Defisit pendapatan investasi lainnya relatif
konstan
Indonesia pada umumnya lebih banyak menggunakan jasa lainnya dari bukan penduduk (non resident) sehingga nilainya selalu defisit. Berlawanan dengan sebagian besar komponen jasa lainnya yang defisit, terdapat dua jenis jasa lainnya yang mencatat surplus, yaitu jasa komunikasi dan jasa pemerintah. Sampai saat ini transaksi incoming jasa komunikasi yang mencakup jasa telekomunikasi dan pos & kurir masih lebih besar daripada transaksi outgoing. Selama tahun 2007, jasa komunikasi mencatat surplus neto sebesar USD703 juta, meningkat dari USD531 juta pada 2006. Demikian juga penerimaan devisa dari pembelanjaan kedutaan/perwakilan negara asing berupa belanja pegawai, barang, pemeliharaan, dan belanja perjalanan, masih lebih besar dibandingkan pembiayaan kedutaan/perwakilan Indonesia di luar negeri, sehingga pada 2007 nilai jasa pemerintah mencapai neto surplus USD160 juta, nilainya relatif lebih kecil dari USD208 juta pada tahun sebelumnya.