• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neraca Perdagangan Nonmigas

Dalam dokumen Realisasi 2007 Proyeksi 2008 Februari 2008 (Halaman 12-35)

Transaksi berjalan pada 2007 mencatat surplus sebesar USD11,0 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD10,8 miliar. Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ekspor barang khususnya nonmigas yang tumbuh lebih tinggi dibanding impor nonmigas meskipun relatif lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan impor mengalami peningkatan cukup signifikan sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Grafik 1 Transaksi Berjalan -7,000 -5,000 -3,000 -1,000 1,000 3,000 5,000 7,000 9,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007* juta USD

Services Inco me Trade B alance

Current Trans. Current A cco unt

Sementara itu, neraca jasa dan neraca pendapatan pada 2007 mengalami kenaikan defisit masing-masing menjadi sebesar USD11,1 miliar dan USD15,9 miliar dari tahun sebelumnya (USD9,9 miliar dan USD13,8 miliar). Defisit pada neraca jasa terutama disumbangkan dari jasa tranportasi dan jasa lainnya. Sedangkan defisit neraca pendapatan meningkat terutama akibat bertambahnya repatriasi keuntungan perusahaan yang melakukan penanaman modal asing di Indonesia. Adapun transfer berjalan pada 2007 masih mengalami surplus sebesar USD4,9 miliar, relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya terutama disumbangkan dari pengiriman gaji TKI kepada keluarganya di tanah air (WR-TKI).

1. Neraca Perdagangan Nonmigas

Neraca perdagangan nonmigas tahun 2007 mengalami surplus sebesar USD27,0 miliar, lebih tinggi dari USD22,9 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan surplus tersebut disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor nonmigas (15,6%) yang tumbuh lebih tinggi dari nilai impor nonmigas (14,5%). Surplus neraca perdagangan non migas terutama terjadi pada Tw. IV-2007 sejalan dgn meningkatnya ekspor pada triwulan tsb.

TRANSAKSI BERJALAN

Ekspor nonmigas 2007

tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya

Separuh dari total ekspor

nonmigas ditujukan ke lima negara

Grafik 2

Neraca Perdagangan Nonmigas

500 3,000 5,500 8,000 10,500 13,000 15,500 18,000 20,500 23,000 25,500 28,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007* juta USD

Ekspor Impor Neraca Perdagangan Nonmigas

1.1. Ekspor Nonmigas

Total nilai ekspor nonmigas 2007 sebesar USD93,1 milyar, tumbuh 15,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penyumbang utama pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya ekspor pada sektor pertambangan yang tumbuh 17,2% (pangsa 23,2% terhadap total ekspor nonmigas), diikuti oleh sektor industri dan pertanian masing-masing tumbuh 15,2% (pangsa 63,2%) dan 14,7% (pangsa 12,6%). Pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia tahun 2007 tersebut relatif melambat dibandingkan tahun sebelumnya (20,7%). Perlambatan pertumbuhan ekspor tersebut sejalan dengan melambatnya volume perdagangan dunia serta kenaikan harga komoditas yang tidak setinggi tahun sebelumnya.

Grafik 3 Nilai Ekspor Nonmigas

0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007* Pertanian Pertambangan Industri Juta USD

Selama tahun 2007, ekspor nonmigas Indonesia ditujukan pada lima negara utama, yaitu Jepang dengan pangsa 14,35%, lalu Amerika Serikat (pangsa 12%), negara-negara Uni Eropa (10,9%), Singapura (9,6%) dan China (7,3%). Kenaikan terbesar terjadi pada ekspor ke negara China dan Singapura yang mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 21,1% dan 12,7% dibanding tahun sebelumnya.

Variasi komoditas ekspor

ke lima negara tujuan utama cukup beragam

Nilai Ekspor Pertanian meningkat terutama karena kenaikan harga

Nilai ekspor karet meningkat karena naiknya harga dan volume

Grafik 4

Pangsa Ekspor Nonmigas Berdasarkan Negara Tujuan

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2005 2006 2007 Sg Jpn RRC

USA India - Malaysia (%)

Komoditas utama yang diekspor ke Jepang selama tahun 2007 antara lain biji logam & sisa logam serta batubara, sedangkan ekspor ke Amerika Serikat terutama berupa pakaian dan karet mentah. Ekspor ke negara-negara Uni Eropa didominasi oleh komoditas minyak sayur & lemak serta pakaian. Adapun komoditas utama ekspor ke negara Singapura adalah peralatan listrik dan mesin kantor & pengolah data. Sementara ekspor ke China terdiri dari komoditas minyak sayur & lemak serta biji logam & sisa logam.

Tabel 2

Negara Utama Tujuan Ekspor Menurut Jenis Komoditas Tahun 2007 Berdasarkan SITC 2 Digit (% pangsa thd total ekspor non migas)

Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share

Biji logam & sisa logam 4.22 Pakaian 3.84 Minyak sayur & lemak 1.57 Mesin listrik & peralatan 1.35 Minyak sayur & lemak 1.33

Batubara, krokas & briket 1.40 Karet mentah 1.29 Pakaian 1.35 Mesin kantor & pengolah 1.05 Biji logam & sisa logam 0.82

data

Logam tidak mengandung 1.23 Ikan & udang 0.81 Alas kaki 0.74 Logam tidak mengandung 0.98 Karet mentah 0.78

besi besi

Mesin listrik & peralatan 0.93 Barang-barang 0.62 Furniture 0.65 Alat telekomunikasi 0.64 Kimia organik 0.59

manufaktur

Jepang Amerika Serikat Uni Eropa Singapura China

Nilai ekspor produk pertanian selama tahun 2007 mencapai USD11,7 miliar atau tumbuh sebesar 14,7% dari tahun sebelumnya. Naiknya ekspor pertanian pada periode tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan ekspor karet. Kenaikan nilai ekspor produk pertanian tersebut lebih banyak didorong oleh tingginya harga komoditas primer di pasar dunia. Secara volume, ekspor produk pertanian pada 2007 hanya tumbuh sekitar 0,2%.

Ekspor karet pada tahun 2007 mencapai USD4,9 miliar (pangsa 5,2% dari total ekspor non migas) atau tumbuh positif sebesar 14,1% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor karet tersebut terutama terjadi pada Tw. IV-2007 yang mencapai USD1,3 miliar atau tumbuh 43,2%. Pertumbuhan ekspor karet juga terjadi pada sisi volume meskipun tidak sebesar pertumbuhan nilainya. Selama tahun 2007, volume ekspor karet mencapai 2,4 juta ton atau tumbuh 5%. Kenaikan volume ekspor

Amerika, Jepang dan China merupakan negara

tujuan utama ekspor karet

terutama terjadi pada Tw. IV-2007 yang mencapai 586 ribu ton atau tumbuh 20,8%. Peningkatan nilai ekspor karet tersebut disebabkan oleh tingginya harga karet dunia seiring dengan kenaikan harga minyak pada Tw. IV-2007. Tingginya harga karet tersebut mampu direspon oleh peningkatan produksi karet pada tahun 2007 yang meningkat sebesar 5%.

Grafik 5 Nilai Ekspor Pertanian

0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1* Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2003 2004 2005 2006 2007 Karet Udang Ko pi Juta USD

Volume ekspor karet yang mengalami peningkatan pada tahun 2007 terutama berasal dari ekspor ke negara Singapura yang tumbuh sekitar 18,3% (y.o.y), kemudian diikuti ekspor ke negara Jepang naik sebesar 16,6%, sedangkan ekspor karet ke China hanya meningkat sebesar 2,5%. Negara tujuan utama ekspor karet pada tahun 2007 adalah Amerika Serikat (pangsa 24,6%), Jepang (16,5%) dan China (14,9%).

Grafik 6

Volume Ekspor Karet berdasarkan Negara Tujuan

-20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton

USA JAPAN CHINA

Tabel 3

Ekspor Karet berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

Amerika Serikat 1102 267 325 280 326 1198 24.6 Jepang 638 166 210 223 207 805 16.5 China 665 133 197 199 195 724 14.9 Uni Eropa 444 110 131 124 117 482 9.9 Singapura 244 61 92 152 78 382 7.8 Lainnya 1178 292 319 341 326 1279 26.3 Total 4271 1029 1274 1319 1249 4870 100 2007

Harga karet dunia terus

meningkat

Produksi karet Indonesia

menghadapi kendala

Harga karet alam pada tahun 2007 mencapai rata-rata USD248 cent/kg, dengan tingkat harga paling tinggi terjadi pada Tw. IV-2007 yang mencapai rata-rata USD265 cent/kg. Kenaikan harga minyak dunia mengakibatkan pengolahan karet sintetik berbahan baku minyak bumi menjadi tidak kompetitif sehingga banyak pabrik pengolahan karet berganti pada karet alam akibatnya konsumsi karet alam meningkat dan harganya ikut naik. Selain itu, naiknya harga karet juga didorong oleh kondisi cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan produksi karet alam Indonesia terganggu sehingga pasokan ke pasar internasional menjadi terbatas.

Grafik 7 Harga Karet Dunia

100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 US Cent/kg

Sumber: World Bank

Sepanjang tahun 2007, International Rubber Study Group (IRSG), lembaga studi karet internasional, mencatat produksi karet dunia mencapai 9,7 juta ton naik sedikit dari tahun 2006 sebesar 9,68 juta ton. Indonesia adalah salah satu produsen karet alam dunia tetapi lahan perkebunannya saat ini mengalami penurunan. Selama kurun waktu 1967-2005, areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 1,2% per tahun. Namun selanjutnya areal perkebunan tersebut mengalami penurunan dari sekitar 4,3 juta hektar pada tahun 2005 menjadi 3,3 juta hektar pada tahun 2007.

Tabel 4

Produksi dan Konsumsi Karet Dunia (ribu ton)

Karet Karet Karet Karet

Alam Synthetic Alam Synthetic

1996 6,440 9,760 16,200 6,110 9,590 15,700 1997 6,470 10,080 16,550 6,470 10,010 16,480 1998 6,850 9,880 16,730 6,570 9,870 16,440 1999 6,872 10,335 17,207 6,645 10,195 16,840 2000 6,739 10,819 17,558 7,315 10,764 18,079 2001 7,261 10,485 17,746 7,223 10,253 17,476 2002 7,345 10,882 18,227 7,545 10,723 18,268 2003 7,992 11,448 19,440 7,967 11,381 19,348 2004 8,645 11,978 20,623 8,319 11,860 20,179 2005 8,682 11,965 20,647 8,742 11,917 20,659 2006 9,192 12,527 21,719 9,074 12,245 21,319 2007 9,762 13,104 22,866 9,419 13,244 22,663

Sumber: International Rubber Study Group

Tahun

Produksi Konsumsi

Total Total

Program revitalisasi perkebunan untuk karet

Ekspor udang mengalami

pertumbuhan negatif

Volume ekspor udang

mengalami penurunan

Dalam rangka mengatasi rendahnya produktivitas perkebunan karet, pemerintah menetapkan program revitalisasi perkebunan, termasuk di dalamnya untuk tanaman karet. Program peremajaan ini akan dilaksanakan hingga tahun 2010, meliputi perluasan lahan karet sebesar 50.000 hektar dan peremajaan tanaman karet sebesar 250.000 hektar.

Komoditas utama sektor pertanian lainnya, yaitu udang mengalami penurunan nilai ekspor pada tahun 2007. Nilai ekspor udang hanya sebesar USD790 juta (pangsa 0,8%), tumbuh negatif sekitar 14,6%. Pertumbuhan negatif terutama terjadi pada Tw. I-2007 sekitar 20,7% atau mencapai USD178 juta. Penurunan nilai ekspor udang disebabkan oleh menurunnya ekspor ke negara-negara tujuan utama, seperti Jepang (tumbuh negatif 24,63%), USA (-5,89%), negara-negara Uni Eropa (-12,81%) dan China (-48,84%) akibat adanya penolakan udang Indonesia oleh Uni Eropa dan Jepang karena mengandung unsur antibiotik.

Tabel 5

Nilai Ekspor Udang Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

Jepang 400 77 76 75 74 302 38.3 Amerika Serikat 303 56 80 83 66 285 36.2 Uni Eropa 149 26 37 37 30 130 16.5 Hongkong 16 5 6 4 2 17 2.1 China 15 3 3 1 0 8 1.0 Lainnya 38 10 13 11 13 47 6 Total 922 177 215 211 186 788 100 2007

Penurunan nilai ekspor udang tersebut berasal dari volume ekspor udang yang hanya mencapai 111 ribu ton atau turun 15,1% pada tahun 2007. Volume ekspor udang yang mengalami penurunan terutama berasal dari ekspor ke negara China dan Jepang yang turun masing-masing sebesar 43,9% (y.o.y) dan 26,9%, sedangkan ekspor ke negara Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa dan Hongkong turun sebesar 7,6%, 12,4% dan 10,1%. Penurunan volume tersebut terkait dengan kinerja produksi sektor budidaya udang yang masih rendah. Hingga awal Tw. IV-2007, produksi udang berkisar 220 ribu ton, jauh di bawah target produksi tahun 2007 sebesar 410 ribu ton.

Harga udang di pasar

dunia terus meningkat selama 2007

Nilai ekspor

pertambangan didorong

oleh faktor harga

Grafik 8

Volume Ekspor Udang berdasarkan Negara Tujuan

0 2 4 6 8 10 12 14 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton USA JAPAN

Pada tahun 2007, rata-rata harga udang di pasar internasional mencapai USD1.010 cent/kg. Harga udang terus meningkat dengan tingkat harga tertinggi pada Tw. IV-2007 yang mencapai USD1.045 cent/kg. Harga ini relatif stabil karena harga udang tidak dipengaruhi oleh harga minyak dunia di mana pengeluaran industri udang untuk BBM hanya sekitar 15-20%.

Grafik 9 Harga Udang Dunia

900 940 980 1,020 1,060 1,100 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 US Cent/kg

Sumber: World Bank

Ekspor sektor pertambangan pada tahun 2007 sebesar USD21,6 miliar atau tumbuh 17,2% dengan pangsa 23,2%. Pertumbuhan nilai ekspor pertambangan ini didukung oleh ekspor nikel (tumbuh 76,8%), batubara (12,8%) dan tembaga (11,4%). Tingginya harga komoditas tambang dunia telah menjadi faktor pendorong meningkatnya ekspor sektor pertambangan. Kenaikan nilai ekspor sektor pertambangan terutama terjadi pada Tw.I-2007 yang mencapai USD5,4 miliar atau meningkat 50,6%. Peningkatan tersebut terutama berasal dari ekspor nikel (tumbuh 259,9%), tembaga (51,3%) dan batubara (tumbuh 39,4%). Kenaikan ekspor pada periode tersebut didorong oleh meningkatnya volume ekspor dan kenaikan harga. Namun demikian, ekspor pada Tw. IV-2007 menurun sebesar 15,4% atau sebesar USD4,8 miliar. Penurunan pada Tw. IV-2007 tersebut terutama berasal dari ekspor timah (tumbuh negatif 63,1%), tembaga (-31%), dan nikel (-21,2%), sedangkan ekspor batubara meningkat 8,1%.

Volume ekspor

pertambangan mengalami

kenaikan

Pertumbuhan ekspor batubara didorong oleh

kenaikan harga

Harga batubara naik

dibandingkan tahun sebelumnya

Dari sisi volume, ekspor pertambangan pada tahun 2007 juga mengalami kenaikan sebesar 7,8% atau mencapai 245 juta ton. Kenaikan volume ekspor pertambangan tersebut terjadi pada komoditas nikel (tumbuh 103,7%), aluminium (65,5%) dan batubara (7,9%). Volume ekspor pertambangan meningkat terutama pada Tw. I-2007 sebesar 64,6 juta ton (tumbuh 37,0%). Kenaikan volume ekspor tersebut terutama berasal dari komoditi nikel (tumbuh 247,1%), tembaga (31,0%) dan batubara (41,9%). Sedangkan volume ekspor pertambangan pada Tw. IV-2007 tumbuh negatif 1,3% atau mencapai 60,8 juta ton. Pada Tw. IV-2007 hanya komoditas nikel dan aluminium yang tumbuh positif sedangkan komoditas lainnya seperti timah, tembaga dan batubara tumbuh negatif.

Grafik 10

Nilai Ekspor Pertambangan

0 400 800 1,200 1,600 2,000 2,400 Q. 1 Q. 2 Q. 3 Q. 4 Q. 1 * Q. 2 Q. 3 Q. 4 Q. 1 Q. 2 Q. 3 Q. 4 Q. 1 Q. 2 Q. 3 Q. 4 2004 2005 2006 2007

Tembaga Batu bara Nickel

Juta USD

Nilai ekspor batubara pada tahun 2007 mencapai USD7,0 miliar (pangsa 7,5%) atau tumbuh 12,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang cukup tinggi ini didorong oleh harga batubara dunia yang terus meningkat dan permintaan yang cukup tinggi dari negara-negara utama importir batubara. Kenaikan nilai ekspor batubara terutama terjadi pada Tw. I-2007 yang meningkat sekitar tumbuh 39,4% atau atau mencapai USD1,8 miliar. Selain karena tingginya harga, meningkatnya nilai ekspor batubara juga disebabkan oleh meningkatnya volume pada Tw. I-2007 mencapai 56 juta ton atau naik 41,9%. Sedangkan pada Tw. IV-2007 terjadi penurunan volume ekspor sekitar 0,7% atau mencapai 51,2 juta ton disebabkan oleh masuknya musim penghujan yang menghambat kegiatan penambangan sehingga produksi merosot. Secara keseluruhan 2007, volume ekspor batubara mencapai 206 juta ton atau tumbuh 7,9%. Pada tahun 2007 rata-rata harga batubara mencapai USD65,73 per MTon jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD49,09 per MTon. Peningkatan harga batubara sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai harga tertinggi pada Tw. IV-2007 sebesar USD83,47 per MTon. Tingginya permintaan batubara dari Asia Pasifik, terutama China menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan konsumsi yang turut mendorong naik harga batubara dunia. Selain China, negara pengguna batubara terbesar di dunia adalah India, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Taiwan.

Produksi batubara Indonesia masih

diperkirakan meningkat

Ekspor batubara terutama

ke Jepang, Taiwan dan Korea Selatan

Grafik 11 Harga Batubara Dunia

30 40 50 60 70 80 90 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 USD/MT Sumber: World Bank

Pada tahun 2007, produksi batubara menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta ton (data sementara DESDM sampai dengan November 2007 mencapai 123 juta ton), lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 196 juta ton dan dari tahun sebelumnya yang mencapai 181 juta ton. Kenaikan produksi batubara terutama terjadi pada semester II 2007 sejalan dengan meningkatnya harga batubara di pasar dunia.

Grafik 12

Produksi Batubara Indonesia

45 40 44 48 48 -10 20 30 40 50 60 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 juta ton 50 53 55

Sumber : DESDM & APBI (diolah)

Negara tujuan utama ekspor batubara Indonesia pada tahun 2007 adalah Jepang, Taiwan, Korea Selatan, India dan China. Nilai ekspor ke negara China pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi sebesar 139,3%, sebaliknya ekspor ke negara Jepang mengalami penurunan sebesar 2,0%.

Volume ekspor batubara

juga mengakami peningkatan

Nilai ekspor tembaga tumbuh positif, namun

secara volume menurun

Tabel 6

Nilai Ekspor Batubara Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD)

Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

Jepang 1324 326 304 377 291 1298 18.6 Taiwan 924 239 222 246 218 926 13.3 Korea Selatan 655 228 210 250 237 925 13.3 India 637 273 180 148 256 857 12.3 RRC 207 170 91 125 108 495 7.1 Lainnya 2445 594 592 601 693 2479 35.5 Total 6192 1831 1598 1748 1804 6980 100 2007

Volume ekspor batubara pada tahun 2007 mencapai 206 juta ton, meningkat dari 191 juta ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan volume ekspor yang signifikan terjadi pada negara China yang mencapai 15,5 juta ton (meningkat 115,5%) dan Korea Selatan mencapai 27,4 juta ton (meningkat 31,2 %). Kenaikan volume ekspor ke negara tersebut terkait dengan tingginya permintaan batubara seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri di kedua negara tersebut. Sementara itu, ekspor ke negara Jepang dan Taiwan mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,4% dan 3,7%.

Grafik 13

Volume Ekspor Batubara berdasarkan Negara Tujuan

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton

JAPAN KOREA TAIWAN CHINA

Nilai ekspor tembaga pada tahun 2007 mencapai USD7,3 miliar (pangsa 7,9%) atau tumbuh sekitar 11,4%. Kenaikan ekspor tembaga terjadi terutama pada Tw. II-2007 yang tumbuh sekitar 61,3% atau sebesar USD2,3 miliar. Namun pada Tw. IV-2007 nilai ekspor tembaga tumbuh negatif 31,0% atau mencapai USD1,5 miliar. Dari sisi volume secara keseluruhan tahun 2007, ekspor tembaga mencapai 2,1 juta ton atau menurun 15,9%. Penurunan volume ekspor tersebut terutama terjadi pada Tw. IV (turun 51,8%), meskipun pada Tw.I dan Tw.II masih mengalami peningkatan masing-masing sebesar 31% dan 7,2%. Turunnya volume ekspor tembaga terkait dengan produksi tembaga yang semakin terbatas. Meskipun volume ekspor tembaga mengalami penurunan namun harga tembaga dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Naiknya harga tembaga

karena terbatasnya pasokan

Penurunan produksi tembaga terutama berasal

dari turunnya produksi PT. Freeport

Grafik 14 Harga Tembaga Dunia

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 USD/MT

Sumber: World Bank

Pada tahun 2007, rata-rata harga tembaga di pasar dunia sudah mencapai USD7.118/Mton, lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD6.722/Mton. Harga tembaga mencapai puncaknya pada Tw. III-2007 sebesar USD7.712/Mton. Terbatasnya pasokan tembaga dari negara-negara produsen seperti Chili, Brasil dan Indonesia, sementara permintaan dunia meningkat mendorong harga tembaga terus naik. Negara tujuan ekspor tembaga Indonesia antara lain Jepang (pangsa 30,1%), Korea Selatan (10,9%), Malaysia, (8,5%), Philipina (7,6%) dan India (7,3%).

Tabel 7

Nilai Ekspor Tembaga Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

Jepang 2180 570 762 486 376 2194 30.1 Korea Selatan 820 127 231 305 130 793 10.9 Malaysia 373 96 172 205 145 618 8.5 Philipina 350 178 115 132 130 554 7.6 India 689 158 277 26 69 530 7.3 Lainnya 2140 759 722 526 601 2609 35.7 Total 6552 1888 2278 1680 1452 7298 100 2007

Tingginya harga tembaga di pasar dunia tidak sejalan dengan produksi tembaga Indonesia. Pada tahun 2007, produksi tembaga turun dari 932.270 ton (2006) menjadi 796.899 ton. Penurunan produksi tembaga Indonesia dipengaruhi oleh turunnya produksi PT. Freeport yang merupakan produsen tembaga terbesar di Indonesia terkait dengan kasus demonstrasi karyawan Freeport dan anjuran pemerintah untuk mengurangi produksi yang bertujuan perbaikan lingkungan di lokasi Tambang Grassberg, Papua.

Penurunan volume ekspor tembaga terutama

berasal dari negara India, Jepangdan Korsel

Naiknya nilai Ekspor Nikel, selain didorong oleh harga juga karena peningkatan volume

Grafik 15

Produksi Tembaga Indonesia

272 173 199 288 270 197 173 157 -50 100 150 200 250 300 350 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton Sumber: DESDM

Volume ekspor tembaga ke negara-negara tujuan utama pada tahun 2007 secara keseluruhan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terutama berasal dari ekspor ke negara India, Jepang dan Korea yang turun masing-masing sebesar 39,5% (y.o.y), 31,9% dan 24,9%. Namun ekspor tembaga ke negara Philipina dan Malaysia secara volume mengalami kenaikan masing-masing sebesar 56,5% dan 49,9%.

Grafik 16

Volume Ekspor Tembaga berdasarkan Negara Tujuan

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton

JAPAN KOREA TAIWAN CHINA

Nilai ekspor nikel pada tahun 2007 mencapai USD3,2 miliar (pangsa 3,5%) atau tumbuh sebesar 76,8%. Peningkatan nilai ekspor tersebut terutama didorong oleh peningkatan volume ekspor sebesar 103,7% dari tahun sebelumnya. Meskipun secara keseluruhan nilai ekspor nikel mengalami pertumbuhan pada tahun 2007, namun pada Tw. IV-2007 nilai ekspor nikel hanya mencapai USD663 juta, menurun sebesar 21,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ekspor nikel pada Tw. IV-2007 lebih disebabkan oleh menurunnya harga, sementara volume ekspor nikel mencapai 2,4 juta ton atau meningkat 33,3%.

Jepang dan China

merupakan tujuan utama ekspor nikel

Ekspor industri pada 2007

meningkat terutama berasal dari CPO dan mesin mekanik

Grafik 17 Harga Nikel Dunia

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 USD/Ton

Sumber: World Bank

Tabel 8

Nilai Ekspor Nikel Berdasar Negara Tujuan (juta USD)

Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

Jepang 1449 522 788 545 536 2418 74.7

China 58 53 92 70 70 285 8.8

Lainnya 325 129 316 62 55 536 16.5

Total 1832 704 1196 677 661 3239 100

2007

Negara tujuan utama ekspor nikel adalah China dan Jepang. Ekspor nikel ke China selama tahun 2007 mencapai 5,6 juta ton meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 624 ribu ton, sedangkan ekspor nikel ke Jepang mencapai 2,0 juta ton, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,2 juta ton atau turun sebesar 8,9%. Melonjaknya volume ekspor nikel ke China terkait dengan perkembangan industri manufaktur berbahan dasar nikel yang terus berkembang di negara tersebut.

Grafik 18

Volume ekspor Nikel Berdasarkan Negara Tujuan

-200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2006 2007 ribu ton JAPAN CHINA Nilai ekspor industri manufaktur tahun 2007 mencapai USD58,8 miliar (pangsa 63,2%) atau tumbuh sebesar 15,1%. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan oleh pertumbuhan yang relatif tinggi dari beberapa komoditas manufaktur, seperti CPO (48,9%), mesin mekanik (33,4%), dan produk kimia (22,3%) serta TPT (4,3%). Sementara itu, ekspor alat-alat listrik & elektronik menurun sebesar 5,2%.

Nilai ekspor CPO pada

2007 meningkat didorong oleh kenaikan harga dunia

Grafik 19 Nilai Ekspor Industri

0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1* Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007

Tekstil Alat-Alat Listrik CPO Mesin & Mekanik Kimia Juta USD

Nilai ekspor CPO sepanjang tahun 2007 mencapai USD7,6 miliar (pangsa 8,2%) atau tumbuh sebesar 48,9%. Peningkatan ekspor CPO tersebut terutama disebabkan oleh tingginya harga seiring dengan kuatnya permintaan akan komoditi tersebut. Tingginya permintaan CPO didorong oleh semakin berkembangnya industri bahan bakar alternatif biofuel terutama di India dan China sementara pasokan CPO dari negara-negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia cenderung tetap. Negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia adalah India, China, dan MEE, yang mencapai 53,1% dari total ekspor CPO. Peningkatan nilai ekspor CPO pada tahun 2007 terutama terjadi pada Tw. IV-2007 yang mengalami pertumbuhan hingga mencapai 92,5% atau sebesar USD3,0 miliar.

Grafik 20 Nilai Ekspor CPO

0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 2004 2005 2006 2007 Million USD

Harga CPO terus

mengalami kenaikan akibat lonjakan permintaan China dan India

Volume ekspor CPO

mengalami penurunan

Tabel 9

Nilai Ekspor CPO Berdasar Negara Tujuan (juta USD)

Negara Tujuan 2006

Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%)

India 1015 247 546 481 822 2095 27.7 China 775 140 248 226 348 962 12.7 Uni Eropa 741 155 148 217 441 960 12.7 Lainnya 2556 648 821 715 1368 3554 46.9 Total 5087 1190 1763 1639 2979 7571 100 2007

Pada tahun 2007, rata-rata harga CPO dunia sudah mencapai USD780/ton lebih tinggi dari tahun sebelumnya (USD478/ton). Selama tahun 2007, harga CPO tertinggi terjadi pada Tw. IV-2007 yang mencapai USD928/ton. Tingginya harga pada periode tersebut akibat lonjakan permintaan dari China dan India setelah pemerintah negara tersebut memberikan subsidi penggunaan minyak nabati untuk bahan bakar. Tingginya harga CPO dunia turut memengaruhi harga minyak sawit mentah dan minyak goreng domestik. Untuk mengontrol harga di pasar domestik, pemerintah menetapkan tiga instrumen stabilisasi, yaitu Pajak Ekspor (PE) sebesar 10%, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% yang ditanggung pemerintah dan penjualan minyak goreng bersubsidi sebanyak 10 juta liter dengan potongan harga sampai Rp 2.500 per kepala keluarga untuk masyarakat berpendapatan rendah. Tujuan ditetapkannya ketiga instrumen tersebut antara lain untuk mempertahankan keuntungan harga tandan buah segar (TBS) di kalangan petani dan mengendalikan fluktuasi harga minyak goreng di pasar agar tidak melonjak terlalu tinggi.

Grafik 21 Harga CPO Dunia

300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2004 2005 2006 2007 USD/to n

Sumber: World Bank

Meskipun nilai ekspor CPO tumbuh pada positif pada tahun 2007, namun dari sisi volume mengalami penurunan. Volume ekspor CPO pada tahun 2007 sebesar 11,6 juta ton atau tumbuh negatif 9,1% dari tahun sebelumnya. Turunnya volume ekspor CPO terutama terjadi pada produk turunannya yaitu RBD Palm Oil atau minyak goreng akibat penetapan PE yang besarnya sama antara CPO dan produk turunannya sehingga

Produksi CPO memiliki

potensi untuk ditingkatkan

Nilai ekspor TPT masih

positif meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya

eksportir cenderung untuk mengurangi ekspor produk turunan CPO. Penurunan volume ekspor terjadi ke semua negara tujuan ekspor, kecuali ke India yang mengalami peningkatan volume ekspor sebesar 28,3%.

Grafik 22

Volume ekspor CPO Berdasarkan Negara Tujuan

Dalam dokumen Realisasi 2007 Proyeksi 2008 Februari 2008 (Halaman 12-35)

Dokumen terkait