Neraca perdagangan migas mencatat surplus sebesar USD6,0 miliar selama 2007, sedikit lebih rendah dibandingkan surplus pada tahun 2006 USD6,8 miliar. Surplus neraca migas tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan gas sebesar USD12,3 miliar yang lebih besar daripada defisit neraca perdagangan minyak sebesar USD6,3 miliar. Masih relatif tingginya surplus neraca perdagangan migas di 2007, terutama didukung oleh tingginya harga minyak di Tw.IV 2007 yang secara bersamaan diikuti oleh peningkatan produksi minyak. Disisi lain, pada Tw. IV-2007 impor minyak baik crude maupun BBM mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Neraca perdagangan minyak 2007 mengalami
peningkatan defisit
Harga minyak pada 2007
mencapai USD73/barel
Kenaikan harga minyak
didorong oleh faktor demand, supply dan sentimen pasar
2.1 Minyak
Neraca perdagangan minyak pada 2007 mengalami defisit nilai sebesar USD7,8 miliar dan defisit volume sebesar 75,8 juta barel. Dibanding tahun 2006 , defisit neraca perdagangan minyak tersebut lebih tinggi baik dari sisi nilai maupun volume. Peningkatan defisit tersebut disebabkan oleh peningkatan volume impor minyak terutama impor produk BBM yang diikuti oleh tingginya harga minyak pada periode tersebut.
Tabel 19
Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak
Volume Value Price Volume Value Price Volume Value Price Volume Value Price
(mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl)
Export (fob) 49 2,607 177 10,602 46 3,838 178 12,497 Crude 36 1,997 68 127 7,911 68 37 3,157 86 133 9,380 70 Product 13 610 61 50 2,691 61 9 681 75 45 3,117 62 Import (c&f) 64 4,113 244 17,439 61 5,917 254 20,322 Crude 30 1,834 61 115 7,590 66 28 2,555 84 116 8,779 69 Product 34 2,279 67 130 9,849 76 33 3,362 93 137 11,543 77 Net -1,506 -6,837 -2,079 -7,825 Crude 6 163 13 321 9 602 16 601 Product -21 -1,669 -80 -7,158 -24 -2,681 -92 -8,426 2006 2007
TW.IV Total 2006 TW.IV Total 2007
Sumber: Pertamina dan BP Migas, data diolah.
Selama 2007, rata-rata harga ekspor minyak mentah Indonesia sebesar USD70 per barel meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD62,5 per barel. Tingginya harga ekspor minyak mentah domestik tersebut sejalan dengan peningkatan harga minyak mentah basket OPEC dan WTI yang mencapai USD69,02 dan USD72.22 per barel. Peningkatan harga minyak tertinggi terutama terjadi pada Tw.IV 2007 dimana rata-rata harga ekspor minyak mentah Indonesia mencapai USD85,6 per barel.
Grafik 33
Perkembangan Harga Minyak Dunia
-10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 00 01 02 03 04 05 2006 2007 USD/bbl OPEC SLC WTI SLC USD53.08/bbl SLC USD62.55/bbl SLC USD94.53/bbl Sumber : OPEC
Secara umum peningkatan harga minyak dunia di tahun 2007 disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Kenaikan harga minyak
akan terus berlanjut
Pasokan minyak dunia
defisit 5 juta barel per hari
Produksi minyak mentah
pada 2007 turun menjadi 0,952 mbpd
Meningkatnya permintaan minyak dunia terutama dari negara konsumen utama seperti AS, Cina dan India. Khususnya Cina, seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut, mendorong peningkatan demand minyak Cina menjadi sebesar 7,5 juta bph di tahun 2007.
Ketatnya suplai minyak dunia yang disebabkan oleh kebijakan OPEC untuk mengurangi produksi dan terjadinya penurunan produksi dari beberapa negara produsen seperti Nigeria. Di tahun 2007, dunia mengalami defisit minyak sekitar 5 juta bph. Dari sekitar 85 juta bph kebutuhan minyak dunia, hanya sekitar 80 juta bph yang dapat disuplai, OPEC sendiri hanya mampu memproduksi sebanyak 31 juta bph.
Belum selesainya permasalahan geopolitik dibeberapa negara produsen minyak, seperti aksi kekerasan dan serangan kelompok militan terhadap fasilitas produksi serta terjadinya pemogokan serikat pekerja yang menyebabkan produksi minyak Nigeria mengalami penurunan sebanyak 550 ribu bph. Isu geopolitik lainnya adalah permasalahan nuklir Iran, krisis Irak dan terjadinya ketegangan antara Turki dan Kurdi di Irak utara.
Bencana alam seperti serangan badai dan meledaknya pipa distribusi sehingga menyebabkan kerusakan dibeberapa fasilitas produksi di Mexico dan AS.
Pelemahan nilai mata uang dolar dan aksi spekulasi dari investor keuangan yang menjadikan minyak sebagai komoditi untuk profit taking. Perdagangan di bursa minyak dunia meningkat sangat tajam melebihi peningkatan produksi minyak itu sendiri .
Tabel 20
Demand dan Supply Minyak Dunia
QI QII Q III Q IV Total
North America 24.6 25.4 25.5 25.3 25.7 25.4 25.5 25.6 25.6
China 5.6 6.5 6.6 7.1 7.5 7.8 7.7 7.4 7.6
Western Europe 15.6 15.6 15.6 15.6 15.3 15.0 15.4 15.7 15.3
Others 33.6 34.8 35.9 36.5 37.3 36.4 36.9 38.4 37.3
Total Permintaan Dunia 79.3 82.3 83.5 84.5 85.8 84.6 85.5 87.1 85.8
Non OPEC 51.8 53.0 53.1 48.9 49.8 49.5 49.0 49.5 49.5
OPEC 27.8 30.0 31.1 31.4 30.5 30.6 31.0 31.7 31.0
Total Suplai Dunia 79.6 83.0 84.2 80.3 80.3 80.1 80.0 81.3 80.4
Source: OPEC Monthly Oil Market report Jan 2008
Permintaan dan Suplai Minyak Dunia
(juta barel per hari)
2007 2006 -5.3 0.7 -4.2 -5.6 -4.5 -5.5 -5.9 2003 2004 2005 Periode Balance 0.3 0.7
Produksi minyak mentah Indonesia selama tahun 2007 mencapai 0,952 mbpd, lebih rendah dibanding rata-rata tahun 2006 sebesar 1,005 mbpd. Penurunan produksi minyak terus berlangsung mencapai rata-rata 4,3% dalam 3 tahun terakhir. Penurunan produksi tersebut, selain didorong oleh permasalahan natural declining juga disebabkan oleh rendahnya investasi baru di sektor migas dan beberapa permasalahan teknis yang terjadi di lapangan produksi. Di samping itu, tingginya bea masuk dan pajak yang
Beberapa masalah dalam peningkatan produksi
minyak dari sejumlah
lapangan selama 2007
dikenakan terhadap peralatan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi menjadi disinsentif bagi KPS untuk mengembangkan lapangan produksi baru. Untuk mengurangi laju penurunan produksi, pemerintah berusaha mengoptimalkan dan merevitalisasi lapangan-lapangan yang masuk kategori brown field dan marginal.
Tabel 21
Produsen Utama Minyak Nasional tahun 2007
Peringkat Perusahaan % Produksi
1 Chevron Pacific Indonesia 44.7 426,282
2 PT. Pertamina 11.3 107,924
3 Total E & P Indonesia 9.2 87,820
4 CNOOC SES 5.4 51,268
5 Connoco Philips 5.2 49,962
6 Medco E & P Indonesia 3.9 37,290
7 Petrochina 2.5 23,972
8 BOB PT BSP - Pertamina Hulu 2.5 24,068
9 BP Indonesia 2.4 22,589
10 Vico 1.7 15,917
Total 88.8 847,092
954,440 Total Produksi Nasional
(barel per day)
Sumber : BP Migas
Sejumlah permasalahan teknis dan gangguan yang terjadi di lapangan produksi antara lain adalah:
Pada Tw.I-2007 terjadi kerusakan pada tangki penampung terapung milik BP West Java dan EMP Kangean, sehingga menyebabkan gangguan produksi masing-masing sebanyak 30 ribu bph dan 3 ribu bph.
Pada Tw.III-2007 terjadi penurunan produksi sebanyak 3.583 bpd yang disebabkan oleh penyesuaian peralatan untuk mengembalikan produksi pada kapasitas normal akibat tingginya kandungan merkuri di lapangan Belanak milik Conoco Philips.
Kebocoran pipa penyaluran di lapangan Mambrungan milik Medco dan PT. Pertamina/Kodeco di lapangan Poleng pada Tw.III-2007 sehingga menyebabkan penurunan produksi masing-masing sebanyak 4.505 bpd dan 8.000 bpd.
Perawatan kompresor di Platform Lima yang dikelola oleh BP West Java, perawatan rutin lapangan Camar dan gangguan listrik di North Area milik CNOOC SES & lapangan Talang Milik PT. Pertamina di Tw.III-2007.
Grafik 34
Produksi Minyak Mentah, Konsumsi dan Impor BBM
0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1.200 1.400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2005 2006 2007 mbpd 0.86 0.88 0.90 0.92 0.94 0.96 0.98 1.00 1.02 1.04 1.06 1.08 mbpd Konsumsi BBM Impor BBM Produksi Minyak Mentah
Konsumsi BBM lebih
tinggi dibandingkan tahun sebelumnya
Impor BBM tahun 2007
mengalami peningkatan
Nilai ekspor gas
meningkat
Konsumsi BBM selama tahun 2007 mencapai 378 juta barel, lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 sebesar 373 juta barel. Peningkatan konsumsi BBM domestik terutama terjadi untuk sektor transportasi yang didorong oleh pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor dan sektor listrik karena meningkatnya penggunan energi untuk mendukung pertumbuhan kegiatan ekonomi. Sementara itu, konsumsi BBM untuk sektor industri dan rumah tangga mengalami penurunan. Penurunan konsumsi BBM untuk industri terutama terjadi pada jenis solar, minyak bakar dan minyak diesel. Penyebab penurunan ini antara lain efesiensi dari sektor industri karena harga BBM industri yang terus mengalami peningkatan. Sedangkan penurunan konsumsi BBM rumah tangga terkait dengan program konversi minyak tanah ke LPG yang selama tahun 2007 berhasil menekan konsumsi minyak tanah sebanyak 0, 2 juta kilo liter.
Selama tahun 2007, PT. Pertamina mengimpor BBM sebanyak 137 juta barel, lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 sebesar 130 juta barel. Peningkatan impor BBM tersebut dalam rangka untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri karena keterbatasan kilang yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Saat ini, 10 kilang pengolahan hanya mampu berproduksi sebesar1,2 juta bph.
2.2. Gas
Nilai ekspor gas selama tahun 2007 sebesar USD12,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 sebesar USD12,0 miliar. Peningkatan ekspor gas tersebut terutama terjadi di Tw. IV-2007 didorong oleh tingginya harga gas seiring dengan kenaikan harga minyak. Masih relatif tingginya ekspor gas di 2007, terutama didukung oleh peningkatan ekspor natural gas, sedangkan ekspor LNG yang selama ini menjadi andalan mengalami penurunan baik dari sisi nilai maupun volume.
Tabel 22
Ekspor LNG, LPG dan Natural Gas
Tw. IV Total Tw. IV Total
LNG
Volume (million british thermal unit) 304 1,172 274 1,080
Value ( millions USD) 2,412 9,953 2,907 9,723
Price (US/mmbtu) 7.9 8.5 10.6 9.0
LPG
Volume (000 metric ton) 122 364 104 337
Value ( millions USD) 58 175 79 210
Price (US/MTon) 471 485 755 605
Natural Gas
Volume (million british thermal unit) 61 265 72 293
Value ( millions USD) 374 1,910 755 2,443
Price (US/mmbtu) 6.1 7.2 10.5 8.3
2007
Ekspor Gas 2006
Realisasi produksi gas tidak mencapai target
Defist neraca jasa
meningkat pada 2007
Penurunan volume ekspor gas terkait dengan rendahnya realisasi produksi gas di 2007 sebesar 7,6 miliar kaki kubik per hari yang berada di bawah target yang ditetapkan sebanyak 8,4 miliar kaki kubik per hari. Penyebab turunnya produksi gas selama tahun 2007 antara lain:
Kondisi lapangan gas utama sudah masuk kategori tua, seperti lapangan gas Arun di Aceh dan Bontang di Kaltim.
Kerusakan di beberapa fasilitas produksi di lapangan milik KPS Total, Exxon dan Conoco Philips.
Rendahnya penemuan/penambahan cadangan baru. Tabel 23
Produsen Utama Gas Nasional tahun 2007
Peringkat Perusahaan % Produksi
1 Total 35.4 2,553 2 Connoco Philips 12.4 895 3 PT. Pertamina 12.2 881 4 Exxon Mobil 10.5 760 5 Vico 6.4 462 6 Petrochina 4.6 333 7 Chevron 3.4 244 8 Medco 1.9 136 9 Premier 1.8 131 10 Kodeco 1.5 108 Total 90.2 6,503 7,208 Total Produksi Nasional
(juta kaki kubik per hari)
Sumber : BP Migas
Sementara itu, beberapa kebijakan pemerintah turut memengaruhi penurunan volume ekspor gas, seperti peningkatan pengalokasian pemanfaatan gas untuk industri dan program konversi minyak tanah dengan LPG.