HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Jenis dan Penggunaan Sumberdaya Hutan Kabupaten Kuningan
6.2.2 Neraca MoneterHutan produksi (Perum Perhutani)
Dalam monetarisasikan neraca, maka dilakukan pendekatan produktivitas (productivity approach) yaitu dengan mengalikan jumlah produksi dengan harga pasarnya dan menggunakan perhitungan resource rentuntuk kayu yang dibedakan dalam dua jenis yaitu kayu jati dan kayu rimba. Untuk valuasi berbagai jenis kayu digunakan harga rata-rata dari masing-masing jenis kayu yang diperoleh dari Perum Perhutani.
Untuk mengestimasi nilai illegall logging, kebakaran hutan, dan kematian alamiah yaitu dengan mencari potensi kayu yang akan hilang. Nilai diperoleh dengan mengalikan banyaknya illegall logging, kebakaran hutan dan kematian alami dalam meter kubik dikalikan harga kayu rata-rata dari semua jenis per meter kubik. Sementara, untuk menduga nilai penanaman dan pertumbuhan alami yaitu dengan melihat potensi jumlah kayu yang akan dihasilkan dalam meter kubik dikalikan dengan harga kayu dalam meter kubik. Di sisi lain, hutan produksi Perum Perhutani KPH Kuningan juga menghasilkan hasil hutan bukan kayu yaitu getah pinus dan daun kayu putih. Nilai tersebut diestimasi dengan mengalikan jumlah produksi dari masing-masing dikalikan harga masing-masing.
Harga tertinggi di antara semua jenis kayu yang dihasilkan di hutan produksi Kabupaten Kuningan yaitu kayu Jati. Kayu lain yang memiliki harga yang cukup tinggi di atas sejuta rupiah per meter kubik yaitu Sonokeling, Sonobrit, Mahoni, dan Mindi. Sedangkan jenis kayu lain memiliki harga di bawah satu juta rupiah semua per meter kubiknya dimana kayu Sengon yang memiliki harga terendah. Selain hasil hutan kayu, Perhutani juga menjual hasil hutan bukan kayu yaitu berupa getah pinus dan daun kayu putih. Harga getah pinus per liter yaitu berkisar Rp 19.161 sedangkan harga daun kayu putih per kilogram yaitu berkisar Rp 50.000. Adapun harga untuk kayu dan hasil hutan bukan kayu yang digunakan sebagai acuan untuk memperoleh neraca moneter adalah sebagai berikut.
Tabel 11. Harga Jual Dasar Kayu
Jenis Kayu Harga (Rp/m3)
Jati 6.865.495 Pinus 351.121 Acasia Mangium 577.650 Sengon 297.792 Sonokeling 3.178.258 Sonobrit 1.578.150 Johar 348.092 Mahoni 1.484.633 Mindi 1.120.433 Albazia 600.779 Rimba lain 600.779 Sumber : Perhutani, 2011
Untuk memperoleh nilai rente ekonomi dan ataupun unit rent dari setiap jenis sumberdaya dalam hal ini kayu, maka perlu mengetahui berapa biaya produksi per unit atau biaya produksi per meter kubik kayu. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa biaya produksi per unit mengalami penurunan dari tahun 2008-2010, namun pada tahun 2011 mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan dua hal. Pertama, ada peningkatan biaya seperti biaya perawatan hutan jati, biaya perawatan hutan rimba, biaya pengawasan dari pencurian kayu, dan biaya penyelesaian perkara dimana peningkatan biaya tersebut cukup besar. Kedua, karena produksi pada tahun 2011 masih sedikit yaitu baru sampai bulan ke delapan, maka pembaginya pun menjadi terlalu kecil dimana biaya yang diperoleh adalah selama setahun. Hal tersebut menjadikan biaya produksi per meter kubik kayu meningkat secara drastis pada tahun 2011. Namun, dugaannya apabila tahun 2011 sudah habis, kemungkingan hasil produksi meningkat dan biaya produksi per meter kubik kayu juga tidak akan berbeda terlalu jauh dengan tahun sebelumnya. Adapun biaya produksi dari kayu yang ada di hutan produksi Kabupaten Kuningan secara rinci adalah sebagai berikut.
Tabel 12. Analisis Ekonomi Produksi Kayu Tahun 2008-2011 di Hutan Produksi Kabupaten Kuningan
Deskripsi Besaran Biaya (Rupiah)
2008 2009 2010 2011
Investasi
Biaya Tanaman Pembangunan Jati 787.991.077 560.427.470 317.651.490 199.171.500 Biaya Tanaman Pembangunan
Rimba
2.076.527.919 1.213.920.675 232.589.436 64.676.863
Biaya Operasional
Biaya persemaian rimba tahun berjalan
152.947.319 26.162.069 - -
Biaya persemaian rimba untuk tahun yad dan tahun lalu
- 32.370.000 - -
Biaya tanaman rutin rimba 27.315.400 0 - -
Biaya perawatan hutan jati 308.248.970 259.951.140 326.783.390 581.518.921 Biaya perawatan hutan rimba 105.565.865 56.856.770 101.024.030 256.932.869 Biaya persiapan eksploitasi kayu jati 19.878.810 94.547.780 215.743.050 31.994.900 Biaya penerimaan kayu jati 53.677.103 83.155.514 156.326.959 102.562.996 Biaya pengangkutan kayu jati 52.670.470 164.451.824 284.009.371 151.273.160 Biaya persiapan eksploitasi kayu
rimba
169.889.580 96.890.830 221.689.645 103.629.650 Biaya penerimaan kayu pertukangan
rimba sonobrit
383.764.680 231.651.780 373.218.730 88.698.560 Biaya penerimaan kayu pertukangan
rimba lain
44.981.550 116.026.950 82.143.420 76.014.760 Iuran hasil hutan (IHH) kayu jati 51.447.800 177.342.800 187.943.800 148.576.440 Iuran hasil hutan (IHH) kayu rimba
lainnya
3.625.200 3.187.800 1.137.500 - Biaya bahan baku 78.802.145 66.689.358 77.304.371 79.653.028 Biaya upah langsung 19.716.601 16.311.602 26.863.019 26.173.098 Biaya pemeliharaan 80.922.750 158.166.000 36.081.700 131.913.000 Biaya penyusutan 10.861.336 8.668.092 82.346.871 21.941.109
Biaya tetap
Biaya perlindungan terhadap pencurian
152.174.900 168.129.423 193.901.612 205.509.980 Biaya perlindungan terhadap
penggembalaan
- 1.800.000 1.500.000 1.575.000 Biaya perlindungan terhadap
kebakaran
2.230.000 8.420.300 4.600.000 27.170.000 Biaya penyelesaian perkara 16.661.000 8.020.000 17.200.000 37.751.000 Biaya sarpra perlindungan hutan 14.682.500 13.559.800 23.400.050 - Biaya perlindungan hutan lainnya 100.733.276 209.103.830 245.798.650 199.913.660
Total biaya 1.850.797.255 2.001.463.662 2.659.016.168 2.272.802.131 Produksi (m3) 4.576,97 5.019,387 9.160,36 2.710,498 Biaya produksi per m3 404.371,73 398.746,63 290.274,20 838.518,28
Setelah diperoleh biaya produksi kayu, maka dapat melakukan perhitungan rente ekonomi ataupun unit rent dari setiap jenis kayu. Hasil perhitungan rente ekonomi dari kayu jati menunjukkan peningkatan begitu pula dengan unit rent nya, walaupun pada tahun 2011 sebenarnya mengalami penurunan. Namun karena tahun 2011 masih berjalan maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya unit rent dari kayu jati terus mengalami peningkatan. Rent yang tinggi ini lebih disebabkan harga kayu Jati yang memang tinggi. Berikut ini adalah hasil perhitungan unit rent untuk kayu Jati.
Tabel 13. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Jati
Deskripsi 2008 2009 2010 2011
Produksi (m3) 369,58 956,07 2023,36 1033,809 Harga (Juta Rp per m3) 6,86 6,86 6,86 6,86 Nilai Produksi (Juta Rp) 2.537,35 6.563,92 13.891,37 7.097,61
Biaya Produksi (Juta Rp) 149,45 381,23 587,33 866,87 Rente ekonomi (Juta Rp) 2.387,90 6.182,69 13.304,04 6.230,74 Unit Rent (Juta Rp per m3) 6,46 6,47 6,57 6,03 Sumber : Data diolah (2011)
Berbeda dengan kayu jati, kayu pinus memiliki rente ekonomi yang bernilai negatif di hampir semua tahun dimana hanya pada tahun 2010 saja kayu pinus memiliki nilai rente yang positif. Rente yang negatif lebih disebabkan harga kayu pinus di pasaran yang rendah ataupun kurang kompetitif sehingga biaya per meter kubik kayu lebih besar dibandingkan dengan harga per meter kubik dari kayu pinus. Namun, di tahun 2010 ternyata biaya produksi per unit bisa ditekan karena pada tahun tersebut hasil produksi kayu pinus sangat tinggi sekali yaitu hampir lima kali lipat dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 pun sebenarnya masih memiliki peluang untuk memiliki rente ekonomi positif yaitu dengan meningkatkan produksi. Hasil perhitungan unit rent untuk kayu Pinus dapat dilihat secara rinci pada Tabel 14.
Tabel 14. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Pinus
Deskripsi 2008 2009 2010 2011
Produksi (m3) 2.165,40 1.339,24 5.093,88 983,20 Harga (Juta Rp per m3) 0,35 0,35 0,35 0,35 Nilai Produksi (Juta Rp) 760,32 470,23 1.788,57 345,22
Biaya Produksi (Juta Rp) 875,63 534,02 1.478,62 824,43 Rente ekonomi (Juta Rp) (115,31) (63,78) 309,95 (479,21) Unit Rent (Juta Rp per
m3)
(0,05) (0,05) 0,06 (0,49)
Sumber : Data diolah (2011)
Kayu Sonobrit memiliki rente ekonomi positif di setiap tahun kecuali pada tahun 2011 karena memang tidak ada produksi untuk kayu tersebut. Unit rent untuk kayu Sonobrit terus mengalami peningkatan yang artinya cukup kompetitif di pasar. Hal tersebut dikarenakan kayu Sonobrit ini memiliki harga yang cukup tinggi. Namun pada tahun 2011 tidak ada penebangan untuk kayu Sonobrit sehingga tidak dapat dihitung unit rent pada tahun 2011. Berikut hasil perhitungan unit rent untuk jenis kayu Sonobrit.
Tabel 15. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Sonobrit
Deskripsi 2008 2009 2010
Produksi (m3) 916,36 375,42 1.364,12 Harga (Juta Rp per m3) 1,58 1,58 1,58 Nilai Produksi (Juta Rp) 1.446,15 592,47 2.152,78 Biaya Produksi (Juta Rp) 370,55 149,70 395,97 Rente ekonomi (Juta Rp) 1.075,60 442,77 1.756,82 Unit Rent (Juta Rp per m3) 1,17 1,18 1,29 Sumber : Data diolah (2011)
Kayu Sonokeling juga memiliki harga yang cukup tinggi dimana kayu tersebut memiliki harga tertinggi kedua setelah kayu jati. Harga kayu Sonokeling berkisar tiga jutaan.Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh unit rent untuk kayu Sonokeling yaitu sebesar Rp. 2.773.886,27 pada tahun 2008. Namun karena pada tahun 2009-2011 tidak ada produksi kayu Sonokeling, maka unit rent untuk kayu Sonokeling tidak bisa diketahui. Hasil perhitungan unit rent Kayu Sonokeling dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Sonokeling
Deskripsi 2008
Produksi (m3) 583,79
Harga (Juta Rp per m3) 3,18
Nilai Produksi (Juta Rp) 1.855,43
Biaya Produksi (Juta Rp) 236,07
Rente ekonomi (Juta Rp) 1.619,37
Unit Rent (Juta Rp per m3) 2,77
Sumber : Data diolah (2011)
Secara umum, unit rent dari Kayu Mahoni cukup tinggi dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penurunan biaya produksi yang cukup tinggi juga terlihat di tahun 2010. Begitu pula pada tahun 2011. Akan tetapi karena produksinya hanya sedikit berkisar sepertujuh, maka unit rent nya pun kecil. Bila produksi mulai bulan ke sembilan tahun 2011 dapat ditingkatkan maka unit rent pun bisa meningkat sehingga nilainya pun tidak akan terlalu jauh dengan tahun sebelumnya. Adapun hasil perhitungan unit rent untuk kayu Mahoni adalah sebagai berikut.
Tabel 17. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk KayuMahoni
Deskripsi 2008 2009 2010 2011
Produksi (m3) 343,43 714,88 633,00 84,15 Harga (Juta Rp per m3) 1,48 1,48 1,48 1,48
Nilai Produksi (Juta Rp) 509,87 1.061,33 939,77 124,92 Biaya Produksi (Juta Rp) 138,87 285,05 183,74 70,56 Rente ekonomi (Juta Rp) 370,99 776,28 756,03 54,37 Unit Rent (Juta Rp per m3) 1,08 1,08 1,19 0,65 Sumber : Data diolah (2011)
Selain kayu pinus, ternyata masih ada jenis kayu lain yang memiliki unit rent negatif. Unit rent yang negatif menunjukkan bahwa harga kayu pada periode tersebut tidak kompetitif atau mungkin kurang diterima di pasaran. Jenis kayu lain yang memiliki unit rent negatif yaitu kayu Johar. Namun, karena ada biaya produksi per unit kayu semakin rendah pada tahun 2010, maka unit rent untuk kayu Johar menjadi positif dan bernilai cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2011, produksi kayu Johar tidak dilakukan sehingga unit rent kayu Johar pada tahun 2011 tidak dapat diketahui. Hasil perhitungan unit rent untuk Kayu Johar dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Johar
Deskripsi 2008 2009 2010
Produksi (m3) 139,97 37,97 5,00
Harga (Juta Rp per m3) 0,35 0,35 0,35
Nilai Produksi (Juta Rp) 48,72 13,22 1,74 Biaya Produksi (Juta Rp) 56,60 15,14 1,45 Rente ekonomi (Juta Rp) (7,88) (1,92) 0,29 Unit Rent (Juta Rp per m3) (0,056) (0,051) 0,058 Sumber : Data diolah (2011)
Jenis kayu lain yang ada di hutan produksi Kabupaten Kuningan yaitu Kayu Sengon. Produksi kayu sengon hanya sedikit dan hanya diproduksi pada tahun 2010. Akan tetapi meskipun produksi hanya sebanyak 41 meter kubik, ternyata kayu tersebut memiliki unit rent yang positif meskipun bernilai kecil yaitu sebesar Rp 7.517,80. Rendahnya unit rent tersebut dikarenakan memang harga kayu Sengon yang rendah di pasaran yaitu hanya berkisar dua ratus ribuan per meter kubik. Berikut hasil perhitungan unit rent untuk kayu sengon.
Tabel 19. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Sengon
Deskripsi 2010
Produksi (m3) 41,00
Harga (Juta Rp per m3) 0,30
Nilai Produksi (Juta Rp) 12,21 Biaya Produksi (Juta Rp) 11,90
Rente ekonomi (Juta Rp) 0,31
Unit Rent (Juta Rp per m3) 0,007
Sumber : Data diolah (2011)
Ada hal yang unik dimana kayu Accasia Mangium yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan kayu sengon, ternyata memiliki unit rent yang negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa kayu accasia mangium tidak bisa bersaing di pasar atau kurang diterima di pasar. Namun, hal lain yang menyebabkan unit rent negatif adalah biaya produksi per unit yang tinggi. Kayu Accasia Mangium pada tahun 2008-2010 tidak diproduksi, baru tahun 2011 dilakukan penebangan kayu tersebut. Sehingga perlu adanya perhatian khusus untuk jenis kayu yang cukup potensial ini agar memiliki unit rent yang positif misalkan dengan meminimisasi
biaya produksi per meter kubik kayu ataupun meningkatkan produksi kayunya. Hasil perhitungan unit rent untuk kayu accasia mangium adalah sebagai berikut. Tabel 20. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Accasia Mangium
Deskripsi 2011
Produksi (m3) 5,79
Harga (Juta Rp per m3) 0,58
Nilai Produksi (Juta Rp) 3,34
Biaya Produksi (Juta Rp) 4,85
Rente ekonomi (Juta Rp) (1,51)
Unit Rent (Juta Rp per m3) (0,26)
Sumber : Data diolah (2011)
Selain jenis-jenis kayu yang telah dibahas sebelumnya, ada jenis kayu lain namun karena jumlahnya yang sangat sedikit sehingga dikategorikan ke dalam rimba lain. Unit rent dari rimba lain bernilai positif dan semakin meningkat setiap tahunnya. Namun, pada tahun 2011, unit rent dari rimba lain yaitu negatif. Hal ini disebabkan biaya per meter kubik kayu yang sangat tinggi dan produksi yang belum mencapai optimal karena pada tahun tersebut masih berjalan dan masih ada peluang untuk melakukan produksi kayu rimba lain. Hasil perhitungan unit rent untuk kayu rimba lain adalah sebagai berikut.
Tabel 21. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Rimba Lain
Deskripsi 2008 2009 2010 2011 Produksi (m3) 58,44 1.595,80 183,51 603,55 Harga (Juta Rp per m3) 0,60 0,60 0,60 0,60 Nilai Produksi (Juta Rp) 35,11 958,72 110,25 362,60
Biaya Produksi (Juta Rp) 23,63 636,32 53,27 506,09 Rente ekonomi (Juta Rp) 11,48 322,40 56,98 (143,49) Unit Rent (Juta Rp per m3) 0,20 0,20 0,31 (0,24) Sumber : Data diolah (2011)
Apabila dilakukan agregasi dari beberapa jenis kayu, dimana selain kayu jati maka kayu tersebut dikelompokkan menjadi kayu Rimba. Sehingga, jika dilakukan perhitungan unit rent dari jenis kayu rimba maka diperoleh unit rent yang meningkat dan cukup tinggi. Namun, pada tahun 2011, unit rent mengalami penurunan. Hal tersebut sama halnya dengan jenis kayu lain dimana biaya per meter kubik dari kayu semakin meningkat sedangkan produksi kayu belum
optimal. Hasil perhitungan unit rent untuk kayu Rimba dapat dilihat secara rinci pada Tabel 22.
Hasil perhitungan unit rent dari masing-masing jenis kayu dimasukkan ke dalam neraca moneter sehingga diperoleh neraca moneter seperti yang ditunjukkan pada Tabel 23.
Tabel 22. Hasil Perhitungan Unit Rent Untuk Kayu Rimba
Deskripsi 2008 2009 2010 2011
Produksi (m3) 4.207,39 4.063,31 7320,51 1676,689 Harga (Juta Rp per m3) 0,95 0,95 0,95 0,95 Nilai Produksi (Juta Rp) 3.996,68 3.859,82 6.953,90 1.592,72
Biaya Produksi (Juta Rp) 1.701,35 1.620,23 2.124,96 1.405,93 Rente ekonomi (Juta Rp) 2.295,33 2.239,59 4.828,94 186,79
Unit Rent (Juta Rp per m3) 0,54 0,55 0,66 0,11
Sumber : Data diolah (2011)
Dari neraca moneter yang telah disusun terlihat bahwa opening stok terus mengalami peningkatan terutama pada tahun 2009 tejadi peningkatan yang sangat tajam.Peningkatan stok awal dikarenakan tingkat pencurian dan kebakaran hutan yang semakin rendah, serta akumulasi lain yang terus mengalami peningkatan. Akumulasi lain diperoleh dari hasil hutan bukan kayu yaitu terdiri dari padi, rotan, bambu, cengkeh, kopi glondong, daun nilam, kapolaga, getah pinus, dan daun kayu putih. Selain dari hasil hutan bukan kayu, akumulasi lain juga diperoleh dari jasa lingkungan yaitu berupa wisata yaitu Bumi Perkemahan Pangembangan yang baru dibuka pada tahun 2011. Namun, sebelumnya yaitu pada tahun 2008-2010 juga terdapat wisata lain yaitu Telagaremis, Palutungan, dan Paniis dimana sekarang sudah dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai. Apabila dilakukan disagregasi artinya unit rent per kayu dimasukkan ke dalam neraca moneter, maka diperoleh hasil bahwa peningkatan stok awal tiap tahunnya tidak sebesar ketika dilakukan agregasi. Namun, sama ketika agregasi ditemukan bahwa peningkatan stok awal tertinggi yaitu pada tahun 2009. Berikut adalah neraca moneter sumberdaya hutan Perum Perhutani KPH Kuningan 2008-2011 bila jenis kayu dibedakan menjadi dua yaitu kayu jati dan kayu selain jati (rimba). Sedangkan neraca moneter sumberdaya hutan Perum Perhutani KPH Kuningan 2008-2011 bila dilakukan disagregasi dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 23. Neraca Moneter (Monetary Account) Sumberdaya Hutan Perum Perhutani KPH Kuningan 2008-2011(Agregat) Dalam Juta Rupiah Activity Tahun 2008 2009 2010 2011 OPENING STOCKS 403.547,81 504.898,44 576.366,13 636.758,16 logging harvest (penebangan) 4.683,24 8.422,28 18.132,98 6.417,53 Jati 2.387,90 6.182,69 13.304,04 6.230,74 Rimba 2.295,33 2.239,59 4.828,94 186,79 Illegall logging (pencurian
kayu) 2,56 1,83 1,42 1,43 Perusakan hutan - - 0,27 0,12 Afforestation (Penanaman) 41.635,77 13.568,79 6.033,83 5.597,54 JPP 16.923,72 12.966,00 4.513,43 5.253,67 JATI 22.341,83 - - -PINUS 194,23 76,75 820,43 111,07 KY.PUTIH 1.895,48 - 60,06 82,96 MAHONI - 526,03 639,90 149,83 MINDI 92,90 - - -ALBAZIA 187,61 - -
-Forest fires (kebakaran hutan) 730,85 450,84 - -Bencana alam 3,71 3,90 89,15 91,24 Kematian alamiah 61.229,88 65.562,78 68.105,41 69.707,07 Natural Growth (Pertumbuhan alami) 85.907,27 87.834,83 87.483,46 83.429,28 OTHER ACCUMULATION 40.457,83 44.505,70 53.203,98 46.519,33 Padi 59,65 64,88 96,30 66,09 Rotan 182,93 6,25 19,07 1,3 Bambu 0,27 - 2,14 -Cengkeh 0,31 0,31 0,75 1,5 Kopi Glondong 13,48 15,03 16,08 21,16 Daun Nilam 15,90 6,55 - 0,70 Kapolaga - - 0,60 2,32
Getah Pinus (ton) 15.134,61 17.203,88 19.554,78 18.40,86 Daun Kayu Putih (ton) 24.663,00 26.791,00 33.489,00 27.903,00
Wisata :
Talagaremis 271,23 334,63 - -
Buper Pakembangan - - 20,40 62,39
Talagaremis (sharing dari Pemda)
- - 4,85
-Palutungan 78,56 24,83 - -
Activity
Tahun
2008 2009 2010 2011
NET VOLUME CHANGE 101.350,63 71.467,68 60.392,03 59.328,75 CLOSING STOCKS 504.898,44 576.366,13 636.758,16 696.086,91
Tabel 24. Neraca Moneter (Monetary Account) Sumberdaya Hutan Perum Perhutani KPH Kuningan 2008-2011( Non Agregat) Dalam Juta Rupiah Activity Tahun 2008 2009 2010 2011 OPENING STOCKS 403.547,81 494.093,04 554.911,57 621.594,61 logging harvest (penebangan) 5.588,53 7.789,85 16.184,41 6.909,32 Jati 2.387,90 6.182,69 13.304,04 6.230,74 Pinus 115,31 63,78 309,95 479,2 Sonobrit 0,001 0,0004 0,002 - Sonokeling 1.619,37 - - -Mahoni 370,99 776,28 756,03 54,37 Johar 7,88 1,92 0,29 -Sengon - - 0,31 -Acaccia Mangium - - - 1,51 Rimba lain 11,48 322,40 56,98 143,49 Illegall logging (pencurian kayu) 1,12 0,80 0,62 0,62 Perusakan hutan - - 0,12 0,05 Afforestation (Penanaman) 45.239,29 14.592,33 21.255,31 7.658,33 JPP 16.923,72 12.966,00 4.513,43 5.253,67 JATI 22.341,83 - - -PINUS 3.797,74 1.500,75 16.041,91 2.171,86 KY.PUTIH 1.895,48 - 60,06 82,96 MAHONI - 123,33 639,90 149,83 MINDI 92,90 2,24 - -ALBAZIA 187,61 - - -
Forest fires (kebakaran hutan) 318,61 196,54 - - Bencana alam 1,62 1,70 38,86 39,77 Kematian alamiah 26.692,86 28.581,77 29.690,21 30.388,45 Natural Growth (Pertumbuhan alami) 37.450,84 38.291,15 38.137,98 36.370,58 OTHER ACCUMULATION 40.457,83 44.505,70 53.203,98 46.519,33
Activity Tahun 2008 2009 2010 2011 Padi 59,65 64,87 96,30 66,09 Rotan 182,93 6,25 19,07 1,3 Bambu 0,27 - 2,14 -Cengkeh 0,31 0,31 0,75 1,50 Kopi Glondong 13,48 15,03 16,08 21,16 Daun Nilam 15,90 6,5 - 0,70 Kapolaga - - 0,60 2,32
Getah Pinus (ton) 15.134,61 17.203,88 19.554,78 18.460,86 Daun Kayu Putih (ton) 24.663,00 26.791,00 33.489,00 27.903,00
Wisata : Talagaremis 271,23 334,63 - - Buper Pakembangan - - 20,40 62,39 Talagaremis (sharing dari Pemda) - - 4,85 - Palutungan 78,56 24,83 - - Paniis 37,89 58,35 - -NET VOLUME CHANGE 90.545,23 60.818,53 66.683,04 53.210,02 CLOSING STOCKS 494.093,04 554.911,57 621.594,61 674.804,63 Sumber : Data diolah (2011)