• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembayaran Jasa Lingkungan Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon

Dalam dokumen ASTI SEKOLAH BOGOR 2012 (Halaman 120-125)

HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Jenis dan Penggunaan Sumberdaya Hutan Kabupaten Kuningan

6.3.3 Analisis Biaya Transaksi Dalam Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Antara Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon Lingkungan Antara Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon

6.3.3.1 Pembayaran Jasa Lingkungan Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon

Kerjasama Pengelolaan Sumber Mata Air Desa Paniis Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan

6.3.3 Analisis Biaya Transaksi Dalam Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Antara Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon

6.3.3.1 Pembayaran Jasa Lingkungan Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon

6.3.3.1.1 Tipe Pembayaran Jasa Lingkungan

Kabupaten Kuningan merupakan kawasan konservasi yang memiliki potensi sumber air. Namun, potensi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk melayani masyarakat Kabupaten Kuningan. Hal itu disebabkan faktor geografis dimana Kabupaten Kuningan berada di dataran yang lebih tinggi dari sumber air. Oleh karenanya, pemanfaatan sumber air akan optimal jika dilakukan oleh wilayah yang lebih rendah dari sumber air atau lintas wilayah.

Salah satu sumber air yang dimanfaatkan secara lintas wilayah administrasi yaitu mata air Paniis. Mata air Paniis merupakan salah satu sumber air yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Desa Paniis, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Mata air tersebut memiliki debit air terbesar di TNGC. Pada kondisi normal, debit mata air ini mencapai 1.179 liter/detik.

Mata air Paniis berada pada ketinggian 375 mdpl. Sejak jaman Belanda, mata air ini dimanfaatkan oleh PDAM Kota Cirebon untuk memasok air minum. Tahun 1937 Pemerintah Belanda membangun sistem penyediaan air dengan kapasitas sebesar 33 liter/detik. Sistem yang digunakan dengan sumur pengumpul vertikal yang berlokasi di Desa Paniis, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Sumur pengumpul vertikal berupa terowongan ini merupakan

penampung air yang berasal dari 15 sumur vertikal berdiameter 200 milimeter (mm) dengan kedalaman bervariasi antara (2-8 m).

Tahun 1982, kapasitas total debit air bertambah menjadi 860 liter/detik. Penambahan ini berasal dari sumber air berupa sumur pengumpul berdiameter dalam 4 m dan diameter luar 5 m, dengan kedalaman lebih dari 7 m yang mengumpulkan air dari 24 buah sumur horizontal yang ada di sekelilingnya dengan diameter 200 mm dan panjang antara 9 sampai 32,5 m. Air dialirkan melalui pipa berdiameter 700 mm dari sumur pengumpul ke instalasi pengolahan di Plangon yang berjarak ± 8.195 m dari Paniis.

PES (Payment for Environmental Services) yang dikembangkan oleh Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon yaitu PES-like karena dalam implementasinya dana konservasi di Kabupaten Kuningan masuk dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dana konservasi tersebut seharusnya dialokasikan dalam bentuk program ke kawasan. Namun, hal tersebut belum dilaksanakan karena TNGC di mana mata air Paniis berada belum mendapatkan Surat Edaran (SE) sehingga dana konservasi masih dalam bentuk uang tunai. SE tersebut merupakan landasan awal pemanfaatan jasa lingkungan air dan wisata alam yang dikeluarkan oleh Dirjen Pengelolaan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). SE Dirjen PHKA tersebut berlaku secara nasional karena belum ada perintah Menteri Kehutanan yang mengatur pemanfaatan air.

6.3.3.1.2 Product-Based PES sebagai instrumen konservasi

PES yang dikembangkan di Kabupaten Kuningan ini lebih didasarkan pada produk (product-based PES) yaitu lebih mengkhususkan pada jenis PES tertentu yakni mata air Paniis. Mata air Paniis merupakan sumber air yang dikelola oleh PDAM Kota Cirebon, baik di Kota maupun di Kabupaten. Sebelum ada penambahan debit pengambilan air, PDAM Kota Cirebon hanya diijinkan untuk mengambil air sebesar 750 liter/detik melalui pipa utama di sumur penampung mata air horizontal Paniis. Pengambilan air tersebut berdasarkan Surat Izin Pengambilan Air (SIPA) yang dikeluarkan oleh Kabupaten Kuningan melalui Kantor Sumberdaya Air dan Mineral Nomor 616/039/SDAM/2003 dan berlaku sejak 23 April 2003 sampai 24 April 2005. Namun PDAM Kota Cirebon

mengambil air lebih dari izin yang diberikan yaitu sebesar 860 liter/detik atau 74,304 juta liter/hari. Kabupaten sebagai pemilik mata air Paniis, mengurangi kelebihan debit air sebesar 110 liter/detik atau 9,504 juta liter/hari.

Berdasarkan master plan, PDAM Kota Cirebon hingga tahun 2026 membutuhkan tambahan pasokan air sebesar 641 liter/detik. Oleh karena itu, diperlukan pelestarian kawasan mata air Paniis agar dapat memasok air sesuai kebutuhan PDAM Kota Cirebon. Namun, Kota Cirebon sebagai pihak yang memanfaatkan mata air Paniis kurang memberikan kontribusi dalam melestarikan sumber air tersebut, terutama kontribusi dalam bentuk finansial.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan sebagai pihak yang selalu dituntut untuk melestarikan daerah resapan air mengajak Pemerintah Kota Cirebon untuk bekerjasama dalam memelihara kelestarian daerah resapan air tersebut. Pada era otonomi daerah, Kabupaten Kuningan meminta kompensasi atas penggunaan mata air yang berada di wilayahnya. Tahun 2004 dihasilkan suatu nota kesepakatan atau MoU antara Bupati Kuningan dan Walikota Cirebon ditandatangani pada tanggal 17 Desember 2004. Isi MoU tersebut merupakan perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan Pemerintah Kota Cirebon tentang Kerjasama Pengelolaan Sumber Mata Air Paniis Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan. Sehingga dapat dikatakan bahwa PES yang dikembangkan di Kabupaten Kuningan ini merupakan instrumen konservasi.

Maksud dari perjanjian tersebut adalah untuk melestarikan sumber air melalui kegiatan konservasi sumberdaya air cathment area. Tujuan kerjasama ini agar dapat saling menguntungkan atas pemanfaatan sumber mata air Paniis. Perjanjian kerjasama juga tercantum mengenai hak dan kewajiban antara Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon. Salah satu isi kesepakatan tersebut adalah mengenai dana kompensasi. Besarnya dana kompensasi tidak tercantum di dalam perjanjian tersebut dan hanya mencantumkan variabel rumusan hak dan kewajiban kedua pihak. Berdasarkan rumusan tersebut maka besarnya dana kompensasi yang harus diterima Kabupaten Kuningan adalah Rp 1,75 miliar per tahun yang dibayarkan secara triwulan dan pembayaran dimulai pada tahun 2005. Ketentuan pembayaran akan ditinjau ulang setiap tiga tahun.

Perjanjian telah disepakati namun PDAM Kota Cirebon masih mengambil air lebih dari izin yang telah diberikan yaitu sebanyak 1061 liter/detik. Padahal pada tahun 2007, Kota Cirebon telah mendapatkan izin untuk menambah pengambilan air sebanyak 110 liter/detik sehingga total pengambilan air yang diijinkan menjadi 860 liter/detik. Berdasarkan permasalahan yang timbul maka dilakukan peninjauan ulang terhadap ketentuan pengukuran dan pembayaran. Akibatnya pada tahun 2009, terjadi perubahan kerjasama tentang pengelolaan sumber mata air Desa Paniis Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan.

Perjanjian kerjasama pasal 5 tercantum besarnya dana kompensasi yang seharusnya dibayarkan oleh Kota Cirebon yaitu sebesar Rp 80/m3 setelah dikurangi toleransi kebocoran 20%. Jadi besarnya kompensasi yang dibayarkan tergantung dengan jumlah debit yang telah digunakan, tidak lagi konstan dengan pembayaran sebesar Rp 1,75 milyar/tahun. Berdasarkan jumlah air yang diambil oleh PDAM Kota Cirebon yaitu sebanyak 860 liter/detik maka PDAM Kota Cirebon harus membayar kompensasi ± Rp 2,1 milyar/tahun. Nilai tersebut berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Dispenda Kabupaten Kuningan. 6.3.3.1.3 Rancang Bangun dan Proses PES

Perjanjian kerjasama terkait pengelolaan mata air Paniis pertama kali dilakukan pada tahun 2004. Perjanjian kerjasama pada tahun 2004, pengelolaan secara teknis diserahkan kepada PDAM di masing-masing daerah. PDAM Kabupaten Kuningan berperan dalam kerjasama penjualan air baku serta penentu harga. Namun pada tahun 2009, terjadi perubahan kerjasama terkait pemanfaatan mata air Paniis tersebut. Salah satu perubahan perjanjian adalah mengenai besarnya dana kompensasi yaitu tidak lagi konstan dengan pembayaran Rp 1,75 miliar/tahun melainkan Rp 80/m3 setelah dikurangi toleransi kebocoran sebesar 20%. Akibat perubahan dana kompensasi tersebut maka besarnya pembayaran Kota Cirebon tergantung dengan banyaknya air yang diambil.

Selain itu, perubahan pun terjadi pada peran PDAM Kabupaten Kuningan yaitu dicabutnya peran PDAM Kabupaten Kuningan serta tidak berlakunya kerjasama antara PDAM Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon terkait pengelolaan mata air Paniis. PDAM Kabupaten Kuningan tidak memiliki

wewenang untuk menentukan harga serta menjual air baku. Perjanjian kerjasama tersebut tercantum pula bahwa Kabupaten Kuningan berhak untuk melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap kegiatan pengambilan dan pemanfaatan air. Secara teknis, kegiatan pengendalian dan pengawasan tersebut dilakukan oleh Dinas SDAP (Sumber Daya Air dan Pertambangan) Kabupaten Kuningan. Selain itu, Dinas SDAP juga memberikan izin pengambilan air kepada Kota Cirebon. Hak Kota Cirebon adalah memanfaatkan air dari sumber mata air Paniis untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan air masyarakat Kota Cirebon sesuai dengan SIPA (Surat Izin Pengambilan Air) yang dikeluarkan oleh Dinas SDAP Kabupaten Kuningan.

Mekanisme PES menggambarkan Kota Cirebon khususnya PDAM Kota Cirebon membayar dana kompensasi kepada Dispenda (Dinas Pendapatan Daerah) Kabupaten Kuningan. Sumber dana pembayaran tersebut berasal dari pembayaran atas penggunaan air oleh pelanggan PDAM Kota Cirebon.

6.3.3.1.4 Faktor dan Aktor

Berdasarkan hasil penelitian Ramdan H (2006) menunjukkan bahwa urutan prioritas faktor yang mempengaruhi PES adalah Kontribusi pengguna air bagian hilir ke bagian hulu, kelestarian sumber mata air, distribusi manfaat air, partisipasi publik, kerjasama daerah, dan peraturan pemanfaatan air. Berdasarkan prioritas tersebut menunjukkan bahwa dalam mengalokasikan air minum lintas wilayah, faktor kontribusi pengguna air bagian hilir ke bagian hulu memiliki peranan penting untuk terjadinya PES yang lebih adil dan baik. Konflik antar Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon menunjukkan bahwa belum jelasnya pengaturan kontribusi pengguna air dari bagian hilir ke bagian hulu menjadi pemicu terjadinya sengketa sumber air minum di antara dua pemda tersebut. Tuntutan Kabupaten Kuningan terhadap Kota Cirebon didasarkan atas masalah tersebut. Kontribusi pengguna air minum dari wilayah hilir ke hulu yang tidak jelas besarannya dirasakan sebagai ketidakadilan dalam alokasi manfaat air minum oleh Pemda dan masyarakat di hulu yang selalu dituntut untuk menyelamatkan dan mengkonservasi resapan sumber air minumnya. Para pengguna air minum baik di bagian hulu (Kabupaten Kuningan) dan di bagian

hilirnya (Kota Cirebon) merasakan pentingnya upaya konservasi untuk menjamin kelestarian sumber airnya, sehingga pengadaan dana kontribusi konservasi untuk menyelamatkan sumber airnya dinilai sebagai hal yang rasional dan wajar untuk dilakukan.

Dalam dokumen ASTI SEKOLAH BOGOR 2012 (Halaman 120-125)