BAB II KAJIAN TEORI
D. Teori niat berzakat
5. Niat berzakat profesi
6. Masyarakat belum mengetahui WOM terkait zakat profesi / penghasilan di Baznas dan pengaruhnya terhadap niat berzakat penghasilan.
C. Pembatasan masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah yaitu
1. Kurangnya sosialisasi tentang cara berzakat mal yang benar.
2. Niat berzakat profesi masih rendah terutama di kalangan karyawan swasta.
3. Masyarakat belum mengetahui WOM terkait zakat profesi / penghasilan di Baznas dan pengaruhnya terhadap niat berzakat penghasilan.
D. Perumusan masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana pengaruh word of mouth (WOM)
9
terhadap niat orang untuk berzakat profesi di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)?
E. Tujuan penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh WOM terhadap niat berzakat profesi di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
F. Manfaat penelitian Manfaat teoritis
Adapun manfaat teoritis yang diharapkan adalah menambah khazanah pengetahuan mengenai pengaruh WOM terhadap niat berzakat profesi di Baznas.
Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi beberapa pihak, yaitu: a. Bagi Baznas dan lembaga zakat
Penelitian ini dapat menjadi literatur dan acuan evaluasi dalam mensosialisasikan zakat profesi di kalangan masyarakat.
b. Bagi masyarakat
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penyaluran zakat profesi yang dilaksanakan oleh Baznas dan masyarakat dapat menyalurkan zakatnya pada institusi penghimpun dana umat muslim Indonesia ini.
c. Bagi pemerintah
Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pemerintah pusat dalam mengevaluasi kebijakan tentang zakat khususnya zakat penghasilan/profesi.
d. Bagi perusahaan
Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi perusahaan dalam penyediaan fasilitas berzakat profesi bagi karyawan swasta yang beragama Islam.
10
BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat zakat
1. Pengertian zakat
Kata zakat berasal dari kata zaka dalam Bahasa Arab yang artinya tumbuh dengan subur. Jika arti tersebut dihubungkan dengan harta, maka menurut ajaran Islam, harta yang dizakati itu akan tumbuh berkembang, bertambah karena suci dan berkah (membawa kebaikan bagi hidup dan kehidupan yang punya). Berdasarkan makna tersebut, zakat merupakan bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula.1
Menurut KBBI, zakat menurut KBBI berarti jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak; salah satu rukun Islam yang mengatur harta yang wajib dikeluarkan kepada mustahik.2
Menurut UU no. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.
Beberapa ilmuwan mengemukakan bahwa zakat adalah landasan ekonomi islam, zakat adalah salah satu dari rukun Islam, kewajiban dalam beragama Islam. Zakat dianggap sebagai sistem pokok kesejahteraan masyarakat, bentuk kepedulian kepada orang-orang yang membutuhkan dalam masyarakat melalui pendistribusian
1
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarta : UI Press, 1998), h. 42
2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988), h. 1017
11
pendapatan orang-orang yang memiliki harta yang mencukupi. Zakat juga bisa disebut sebagai pajak agama.3
Berdasarkan definisi-definisi di atas, zakat adalah ibadah yang termasuk dalam rukun Islam berupa kewajiban individu muslim memberikan harta untuk menyejahterakan golongan orang yang telah ditetapkan oleh syariah untuk menerimanya.
2. Jenis-jenis zakat
Zakat memiliki dua varian yaitu : a. Zakat fitrah
Zakat fitrah adalah pengeluaran wajib yang dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari keperluan keluarga yang wajar pada malam dan hari raya Idul fitri.
b. Zakat mal
Zakat mal atau zakat harta adalah bagian dari harta kekayaan seseorang (juga badan hukum) yang wajib dikeluarkan untuk golongan orang-orang tertentu setelah dipunyai selama jangka waktu tertentu dalam jumlah minimal tertentu.4 Menurut UU no. 23 tahun 2011 pasal 4 ayat 2 dan 3, zakat mal meliputi emas, perak, dan logam mulia lainnya; uang dan surat berharga lainnya; perniagaan; pertanian, perkebunan, dan kehutanan; peternakan dan perikanan; pertambangan; perindustrian; pendapatan (penghasilan) dan jasa; dan rikaz merupakan harta yang dimiliki oleh muzaki perseorangan atau badan usaha.
3. Prinsip-prinsip zakat
Menurut M.A Mannan dalam bukunya Islamic Economics: Theory and Practice, zakat mempunyai enam prinsip, yaitu :
a. Prinsip keyakinan (faith)
Prinsip keyakinan keagamaan menyatakan bahwa orang yang membayar zakat yakin bahwa pembayaran tersebut merupakan
3
Ibrahim Warde, Islamic Finance in the Global Economy, (Edinburgh : Edinburgh University Press, 2010), h. 186-187
4
12
salah satu manifestasi keyakinan agamanya, sehingga kalau orang yang bersangkutan belum menunaikan zakatnya, belum merasa sempurna ibadahnya.
b. Prinsip pemerataan (equity) dan keadilan (justice)
Prinsip pemerataan dan keadilan cukup jelas menggambarkan tujuan zakat yaitu membagi lebih adil kekayaan yang telah diberikan Allah SWT kepada umat manusia.
c. Prinsip produktivitas (productivity) dan kematangan
Prinsip produktivitas dan kematangan menekankan bahwa zakat memang wajar harus dibayar karena milik tertentu telah menghasilkan produk tertentu. Hasil produksi tersebut hanya dapat dipungut setelah lewat jangka waktu satu tahun yang merupakan ukuran normal memperoleh hasil tertentu.
d. Prinsip nalar (reason)
Prinsip nalar adalah alasan pribadi untuk menunaikan zakat. e. Prinsip kebebasan (freedom)
Prinsip ini menjelaskan bahwa zakat hanya dibayar oleh orang yang bebas dan sehat jasmani serta rohaninya, yang merasa mempunyai tanggung jawab untuk membayar zakat untuk kepentingan bersama.
f. Prinsip etik (ethic) dan kewajaran
Prinsip ini menyatakan bahwa zakat tidak akan diminta secara semena-mena tanpa memperhatikan akibat yang ditimbulkannya.5 4. Tujuan zakat
Tujuan-tujuan zakat, antara lain :
a. Mengangkat derajat fakir-miskin dan membantunya ke luar dari kesulitan hidup serta penderitaan.
b. Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para
gharimin, ibnu sabil, dan mustahik lainnya.
c. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia pada umumnya.
5
13
d. Menghilangkan sifat kikir dan atau loba pemilik harta.
e. Membersihkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari hati orang-orang miskin.
f. Menjembatani jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin dalam suatu masyarakat.
g. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang, terutama pada mereka yang mempunyai harta.
h. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain yang ada padanya.
i. Sarana pemerataan pendapatan rezeki untuk mencapai keadilan sosial.6
5. Syarat-syarat berzakat
Berdasarkan prinsip etik bahwa zakat tidak dipungut sembarangan, seorang muslim dapat berzakat jika memenuhi beberapa syarat berikut: a. Pemilikan yang pasti
Syarat ini berarti bahwa harta yang dimiliki mutlak berada dalam kekuasaan pemegang harta tersebut.
b. Berkembang
Harta itu berkembang, baik secara alami berdasarkan sunnatullah maupun bertambah karena ikhtiar atau usaha manusia.
c. Melebihi kebutuhan pokok
Harta yang dipunyai oleh seseorang itu melebihi kebutuhan pokok yang diperlukan oleh diri dan keluarganya untuk hidup wajar sebagai manusia.
d. Mencapai nisab
Nisab adalah jumlah minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Jika jumlah harta yang dipunyai mencapai nisab sesuai yang disyariatkan, maka pemilik harta wajib menunaikan zakatnya sesuai dengan norma penghitungan berdasarkan syariat.
e. Mencapai haul
6
14
Harta yang mencapai haul adalah harta yang telah mencapai waktu tertentu pengeluaran zakat, biasanya dua belas (12) bulan atau setiap kali setelah menuai atau panen.7
6. Motivasi berzakat
Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.8
Begitu juga dengan niat atau motivasi berzakat. Berdasarkan tesis karya Lusiana Kanji, H. Abd. Hamid Habbe dan Mediaty yang berjudul “Faktor-Faktor Determinan Motivasi Membayar Zakat”, terdapat lima faktor motivasi yang mempengaruhi keputusan berzakat secara positif dan signifikan yaitu ibadah, pengetahuan berzakat, harta kekayaan atau pendapatan, peran ulama, dan kredibilitas lembaga amil zakat.
a. Motivasi ibadah
Ibadah merupakan tuntutan atas akidah yang dimiliki oleh setiap muslim yang secara syariat memenuhi kriteria sebagai wajib zakat, terdorong dengan ikhlas untuk mengeluarkan zakat, karena ingin membantu saudara yang membutuhkan dan mendapatkan kebahagiaan melalui ridho Allah SWT. Uraian di atas sejalan dengan pernyataan Hasanuri dalam tesisnya yang berjudul “Pemberdayaan Zakat bagi Pengembangan Ekonomi Ummat” bahwa seseorang termotivasi untuk membayar zakat karena :
1) Membayar zakat merupakan simbol dari keimanan seseorang
2) Membayar zakat adalah merupakan simbol ketaqwaan
7
Mohammad Daud Ali, h.41
8
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), h.1
15
3) Membayar zakat adalah merupakan simbol kebersihan dan kesucian jiwa
b. Motivasi pengetahuan berzakat
Variabel pengetahuan berzakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi membayar zakat. Pernyataan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Mohd Ali dalam jurnal berjudul “Kesadaran Membayar Zakat Pendapatan dikalangan Kakitangan Universitas Kebangsaan Malaysia” bahwa semakin tinggi tingkat keimanan dan pengetahuan zakat individu muslim akan lebih cenderung untuk membayar zakat. c. Motivasi harta kekayaan atau pendapatan
Harta kekayaan atau pendapatan muzaki berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi membayar zakat dan besarnya nilai zakat. Jika ada kenaikan harta atau pendapatan dapat mempengaruhi peningkatan jumlah zakat yang akan dikeluarkan berikutnya. Pernyataan di atas sesuai dengan teori konsumsi yang menerangkan bahwa kenaikan jumlah pendapatan akan mempengaruhi pengeluaran seseorang, baik dalam bentuk konsumsi maupun tabungan, termasuk dalam bentuk zakat.
d. Motivasi peran ulama
Peran ulama dapat berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi masyarakat dalam membayar zakat. Peran ulama dalam mensosialisasikan zakat di tengah-tengah masyarakat masih diperlukan karena suara ulama masih didengar oleh masyarakat, petuahnya masih dijadikan sandaran dan pegangan oleh masyarakat, disamping itu ulama memiliki jamaah tersendiri. Para ulama dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa ajaran muamalah maliyah harus dihidupkan kembali sesuai dengan syariah Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
e. Motivasi kredibilitas lembaga amil zakat
Rasa aman akan memantapkan hati muzaki membayar zakat ke lembaga amil zakat. Hal ini sejalan dengan teori
16
kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow bahwa rasa aman merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi setiap manusia. Tingginya tingkat kepercayaan muzaki terhadap kredibilitas lembaga amil zakat akan mempengaruhi motivasi membayar zakat. Pernyataan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Zoel Dirga tentang “Analisis Faktor-Faktor Motivasi yang Berpengaruh Terhadap Keputusan Muzaki Membayar Zakat”. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa responden mengaku lebih senang dan aman menyalurkan zakatnya di lembaga amil zakat karena bisa lebih tepat guna. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, motivasi kredibilitas lembaga amil zakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi membayar zakat.9
7. Norma penghitungan zakat a. Zakat fitrah
Zakat fitrah ini adalah makanan pokok seperti gandum, beras, atau lainnya yang dikeluarkan seseorang pada akhir Ramadhan. Kadarnya sebanyak satu sha’ (2,5 kg).10
b. Zakat mal
1) Zakat emas dan perak
Zakat jenis ini nisabnya adalah 85 gram, dikeluarkan setiap tahun sebanyak 2,5%.
2) Zakat perdagangan
Zakat perdagangan nisabnya seharga 85 gram emas dari uang yang berputar, bukan investasi, dikeluarkan setiap tahun, sebanyak 2,5%.
3) Zakat uang simpanan
Zakat ini nisabnya seharga 85 gram emas, dikeluarkan setiap tahun, sebanyak 2,5%.
9
Lusiana Kanji, Abd. Hamid Habbe, dan Mediaty. Faktor – Faktor Determinan Motivasi Membayar Zakat. Tesis pada Universitas Hasanuddin, 2011, h.6-9, dipublikasikan.
10
17 4) Zakat pertanian
Zakat ini nisabnya 5 wasaq atau setara dengan 635 kg beras, dikeluarkan setiap panen, sebanyak 5% untuk yang diairi (pakai biaya), dan 10% jika diairi oleh hujan.
5) Zakat investasi
Metodenya mengacu pada zakat pertanian dengan nisab 5
wasaq atau setara dengan harga 635 kg beras, dikeluarkan setiap menerima hasil pembayaran (panen), sebanyak 5% atau 10%.11
6) Zakat profesi
Nisab zakat profesi diukur dari nisab uang yang ditetapkan yaitu sebesar 2,5% dari total penghasilan dan dibayarkan setiap menerima penghasilan.
B. Hakikat zakat profesi 1. Pengertian zakat profesi
Menurut Yusuf Al-Qardhawi, zakat profesi adalah zakat atas penghasilan yang diperoleh dari pengembangan potensi diri yang dimiliki seseorang dengan cara yang sesuai syariat, seperti upah kerja rutin, profesi dokter, pengacara, akuntan, dan lain-lain.12
2. Landasan hukum kewajiban zakat profesi
Semua penghasilan melalui kegiatan profesional tersebut apabila telah mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah berikut :
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS Adz -Dzariyaat : 19)
Ayat tersebut bermakna bahwa semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya. Sehingga, setiap
11
Al-Furqon Hasbi, 125 Masalah Zakat, (Solo : Tiga Serangkai, 2008), h. 107
12
Soesilowati, Analisis Prosedur Penerapan Zakat Sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak Pada UU No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat dan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan. Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah, 2013, h. 32, tidak dipublikasikan.
18
keahlian dan pekerjaan apapun yang halal, baik yang dilakukan sendiri maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti seorang pegawai dan karyawan, apabila penghasilannya dan pendapatannya mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakatnya.13
3. Landasan filosofis zakat profesi
Landasan filosofis zakat profesi pada sistem hukum sesungguhnya ingin menempatkan kajian yang sesuai bagi pencapaian keadilan sehingga tujuan pembayaran zakat akan ditemukan aspek epistimologi, aksiologi, dan ontologi. Aspek epistimologi adalah bagimana cara agar jenis-jenis profesi dan jasa yang sedemikian luas berkembang dan dapat dikenai kewajiban zakat. Jika pegawai negeri melakukan tindakan pembayaran zakat dan telah mengetahui fungsi dan kegunaan zakat bagi diri dan orang lain, maka itu adalah tindakan aspek aksiologi. Jika pegawai negeri melakukan kewajiban zakat profesi mengetahui hakikat dan tujuannya, seperti untuk memperoleh keselamatan atau masuk surga, maka tindakan itu adalah aspek ontologi.14
4. Ketentuan nisab zakat profesi
Dari sudut ukuran zakat, dianalogikan pada zakat uang, karena memang gaji, honorarium, upah, dan yang lainnya, pada umumnya diterima dalam bentuk uang. Karena itu ukuran zakatnya adalah sebesar 2,5%15 dari total penghasilan yang diperoleh.
5. Waktu membayar zakat profesi
Yusuf Al-Qardhawi, seorang ahli fiqih menyatakan bahwa penerimaan gaji, honorarium, atau upah, sesuai dengan kewajiban yang dibebankan pada para petani, karena penghasilan tetap para petani adalah hasil pertaniannya, dan penghasilan para pegawai serta pekerja profesional adalah uang hasil kerjanya itu. Oleh sebab itu, mereka diwajibkan untuk membayar zakat penghasilan tetapnya itu
13
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, ( Jakarta : Gema Insani, 2002), h.94-95
14
Muhammad Hadi, h.63
15
19
saat menerima penghasilannya, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :
ِِهِداَصَح َِ ْوَي ِ هّقَح او تآ َو َِرَمْثَأ اَذِإ ِِه ِرَمَث ِْنِم او ك
“Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila berbuah, dan penuhilah haknya (fakir miskin) pada hari memetik hasil tanaman tersebut.” (QS Al-An’am :141)
Memetik hasil tanaman bagi para petani adalah saat panen. Sedangkan memetik hasil bagi para pekerja profesional adalah saat menerima gaji, honorarium, atau imbalan jasa dari pelayanan yang diberikannya pada masyarakat. Oleh sebab itu, pembayaran zakatnya adalah saat menerima gaji atau honorarium tersebut. Penghasilan yang sudah dizakati saat menerima, tidak wajib dizakati lagi di akhir tahun perhitungan.16
6. Zakat profesi pada masa Rasulullah SAW
Selain kekayaan yang wajib dizakatkan seperti uang, hasil pertanian, barang dagangan, buah-buahan, dan harta temuan (rikaz), harta profesi dan jasa sesungguhnya telah ada pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, seperti jasa penggembalaan ternak, pelayanan jamaah haji, penyusuan bayi, dan prajurit tempur.17
C. Hakikat Word of Mouth (WOM)
1. Pengertian Word of Mouth (WOM)
WOM adalah bagaimana komunikasi yang disampaikan seseorang tanpa bermaksud memberi rekomendasi atau promosi, tentang faktor-faktor positif dan negatif suatu produk yang mempengaruhi niat orang yang mendengarnya.18
Definisi lain dari WOM adalah tindakan penyediaan informasi oleh konsumen kepada konsumen lain.19
16
Abuddin Nata, Dede Rosada, dan Akbar Zaenudin, Mengenal Hukum Zakat dan Infak/Sedekah, (Jakarta : Badan Amil Zakat dan Infak/Sedekah (Bazis) Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1999), h.54-55 17 Muhammad Hadi, h.70 18 Tri Putra, h.11 19
20
Menurut Priharmoko, WOM adalah komunikasi interpersonal antar konsumen non pemasar tentang produk atau jasa atau perusahaan tertentu berdasarkan pengalamannya baik langsung maupun tidak langsung pada suatu waktu tertentu.20
WOM adalah komunikasi interpersonal yang membahas hal tertentu lazimnya berupa produk (barang atau jasa) yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan orang yang menerima informasi.
2. Jenis-jenis WOM a. Organic WOM
WOM jenis ini terjadi secara alami. Orang-orang yang merasa puas pada kualitas suatu produk (barang atau pelayanan), memiliki hasrat alami untuk menunjukkan antusiasme mereka. Orang-orang tersebut yang akan menjadi suporter bagi produk tersebut.
b. Amplified WOM
WOM jenis ini merupakan rancangan perusahaan. Perusahaan melakukan kampanye untuk mendorong atau mengatalisasi WOM pada masyarakat.21
3. Sumber WOM
Menurut buku yang ditulis oleh Silverman yang berjudul “The Secrets of Word of Mouth Marketing”, terdapat tiga sumber informasi yang memiliki fungsi berbeda sesuai dengan isi informasi. Tiga sumber tersebut yaitu perusahaan (company), para ahli (experts), dan teman (peers). Berikut pengertian tiga sumber informasi WOM.
a. Perusahaan (company) adalah pencipta suatu produk yang melakukan penetrasi ke dalam pasar sehingga perusahaan menggunakan WOM untuk memberikan informasi kepada
20
Farah Amini, h.39
21
21
masyarakat tentang pengakuan kepemilikan ide atau merk dan manfaat produk.
b. Para ahli (experts) adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang produk. Para ahli memberikan informasi-informasi yang faktual tentang produk. Contohnya adalah dosen, praktisi, guru, atau orang lain yang secara ilmiah memahami produk tersebut.
c. Teman (peers) adalah orang-orang yang bukan termasuk produsen atau para ahli. Teman yang dimaksud adalah orang yang mendiskusikan pengalamannya dan ekspektasinya dalam menggunakan suatu produk kepada orang lain. Teman yang dimaksud bukan sebatas teman, melainkan bisa orangtua, kerabat, ataupun orang lain.
Perbedaan fungsi dari ketiganya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.1
Sumber WOM dan informasi yang diberikan22
Sumber WOM
Sumber informasi Fungsi Informasi yang
disampaikan
Perusahaan (Company)
Informasi Klaim, manfaat produk
Para Ahli (Experts)
Konfirmasi Potensi baik yang positif maupun negatif yang dapat muncul dalam situasi yang terbaik Teman (Peers)
Verifikasi Apa yang diharapkan dalam dunia nyata dalam situasi tertentu 22 Farah Amini, h.49
22 4. WOM dan Social Marketing
WOM alami / WOM secara organik mendorong seseorang untuk memberikan informasi kepada orang lain tentang pengetahuan atau pengalamannya mengenai suatu produk.
Menurut Farah Amini dalam tesisnya23, WOM dapat diaplikasikan pada aktivitas social marketing. WOM pada dasarnya juga menggunakan prinsip-prinsip komunikasi pemasaran, hanya saja yang dipromosikan adalah produk/ ide sosial yang bertujuan pada perubahan perilaku khalayak komunikasi (target adopter).
Menurut Kotler dan Roberto dalam Farah Amini24, produk sosial dalam social marketing tidak bisa dihargai oleh khalayak sasaran sebelum mereka mencobanya. Disini peranan untuk bisa memberikan pemahaman sebelum mencoba produk akan sangat diperlukan utamanya dengan menawarkan berbagai macam pengalaman kepada masyarakat sasaran melalui komunikasi personal berupa ide-ide dan praktik-praktik berkaitan dengan produk yang disampaikan.
Penerapan praktik-praktik yang telah dicoba oleh khalayak sasaran akan timbul dua kemungkinan, orang-orang yang puas akan produk tersebut akan menyebarkan WOM positif dan sebaliknya jika orang-orang tersebut tidak puas maka mereka akan menyebarkan WOM negatif. Perilaku tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harmoko25 bahwa kepuasan konsumen akan mempengaruhi keinginan seseorang menyebarkan informasi mengenai produk atau jasa yang ia konsumsi.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa WOM berperan sebagai salah satu elemen bauran pemasaran yaitu promosi. Bauran pemasaran yang satu ini penting dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meluaskan ide sosial.
23
Farah Amini, h.ii
24
Farah Amini, h.49
25
23 D. Teori niat berzakat
1. Definisi niat
Niat menurut KBBI adalah maksud atau tujuan suatu perbuatan, kehendak atau keinginan di dalam hati untuk melakukan sesuatu26 Dalam bahasa Indonesia sendiri, niat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa, kata niat berarti al-Qashdu yang dalam Bahasa Indonesia berarti keinginan atau tujuan. Sedangkan secara makna secara istilah dari kata niat yang dijelaskan oleh ulama malikiah adalah keinginan yang ada di dalam hatinya untuk melakukan sesuatu.27 Berikut adalah hadits yang berkaitan dengan niat :
ن ام ٍ ئرْما ٍ و ٍةَي ن اب ٍ امْع ْْ امَنإ
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)28Berdasarkan hadits di atas, sebuah perbuatan atau aktivitas itu bergantung pada niat pelakunya dan perbuatan itu terealisasi sesuai dengan niatnya.
Assael dan Sylvana dalam Suherman29, memaparkan niat atau
intention memiliki beberapa pengertian sebagai berikut :
a. Intention dianggap sebagai perangkap atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku. b. Intention juga mengindikasikan seberapa jauh seseorang
akan mencoba.
c. Intention menunjukkan pengukuran kehendak seseorang. d. Intention berhubungan dengan perilaku yang