Jam’ul Ulum Wal Hikam, hlm. 50 dalam kitab yang ditahqiq oleh Dr. Wahbah Zuhaili ada pada jilid 1, hlm. 111- pent.
Sesungguhnya iman kepada Allah adalah nikmat agung yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang Ia kehendaki, dan dijauhkan Allah dari orang-orang yang Ia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ْمُكَل ُتْلَمْكَأ َـْوَػيْلا
اًنيِد َـَلاْسِلا ُمُكَل ُتيِضَرَو يِتَمْعِن ْمُكْيَلَع ُتْمَمْتَأَو ْمُكَنيِد
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah 5:3).
Nikmat ini menyucikan umur, memberkahi kehidupan, dan mengangkat hati orang mukmin dari dunia dan perhiasannya menuju kecintaan kepada Tuhannya dan negeri Akhirat. Iman adalah nikmat yang tidak bisa dibeli, dijual atau dihadiahkan di antara manusia. Sebab ia adalah hubungan dengan Allah, munajat kepada-Nya, dzikir, doa dan taat serta tunduk di hadapan-Nya. Maka Allah tidak memberikannya, kecuali kepada orang yang kembali kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
َباَنَأ ْنَم ِوْيَلِإ يِدْهَػيَو ءاَشَي نَم ُّلِضُي َوّللا َّفِإ ْلُق
`Katakanlah, `Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya'. "(QS Ar-Ra'd 13: 27).
Di dalam iman terdapat kehidupan yang sejati dan kebahagiaan ukhrawi. Ia adalah jalan ahli Surga, taman orang-orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan), pertanda hati, pembersih jiwa dan cahaya wajah. Iman adalah nikmat yang tidak tertandingi oleh nikmat manapun, karena ia mendekatkanmu kepada Tuhanmu, menempatkanmu di dalam Surga-Nya dan dekat dengan-Nya dalam limpahan nikmat abadi. Dengan iman kamu akan jauh dari Neraka, negeri kesengsaraan, tempat kembalinya orang-orang kafir dan orang-orang yang congkak juga sombong.
Merealisasikan iman, meluruskannya, membersihkannya, memelihara dan memupuknya adalah kebutuhan para hamba dan tujuan orang-orang yang bertauhid. Cahaya kalimat tauhid di dalam hati para hamba adalah bertingkat sesuai dengan perbedaan dan tingkatan hati masing-masing.
Ibnu Abil Izz dalam Syarah Thahawiyyah menyatakan, "Bahkan berbeda-beda tingkatan cahaya la ilaha illallah dalam hati para pemiliknya, tidak dapat menghitungnya kecuali Allah Azza wa Jalla. Di antara manusia ada yang di dalam hatinya terdapat cahaya (la ilaha illallah) seperti matahari, ada yang seperti bintang kejora, ada yang seperti obor besar, ada yang seperti lampu yang terang dan ada pula yang seperti lampu redup. Karena itu, cahaya di hari kiamat pada tangan kanan mereka dan di hadapan mereka berdasarkan ukuran ini. Sesuai dengan cahaya iman dan tauhid yang
terdapat di hati, baik secara ilmu maupun amalnya. Semakin kuat dan besar cahaya kalimat ini, maka semakin membakar syubhat dan syahwat sesuai dengan kekuatannya. Bahkan bisa jadi ia mencapai tingkatan tidak menemukan syubhat, syahwat dan dosa, melainkan ia bisa melumatnya semua. Ini adalah kondisi orang yang shadiq (benar) dalam imannya, langit-langit imannya telah melindungi hatinya dengan meteor-meteor yang membakar setiap ada yang berusaha mencurinya. Siapa yang mengetahui ini maka ia mengetahui ucapan Nabi Shallalah’Alaihi wa Sallam,
"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah karena mencari ridha Allah. " (HR. Bukhari Muslim dari Utban ibn Malik).
Jadi, apabila iman itu telah benar maka ia akan mengalahkan setiap kekuatan, melindungi dari setiap ketergelinciran dan menempati setiap permasalahan. Dengan agama yang benar, siapa saja yang berlindung dengannya pasti dilindungi dan siapa saja yang meminta petunjuk-Nya pasti ditunjuki. Iman itu betul-betul menjadi pelindung dengan ijin Allah dari setiap bala , syahwat dan syubhat. Dengan iman seorang hamba akan selamat dari problematika hidup dan kesulitan-kesulitannya.
Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
Apabila cahaya telah merasuk ke hati, maka hati akan berkembang luas dan lapang. Mereka bertanya, Apa tandanya wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, kembali (menghadap) kepada negeri abadi, menjauh dari negeri tipuan, dan bersiap-siap untuk mati sebelum kedatangannya. 'Rasulullah Shallalahu ’Alaihi wa Sallam - bersabda, 'Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan diberi riziki yang cukup serta dipuaskan oleh Allah apa yang diberikan-Nya padanya'. "(HR. Muslim).
Dengan iman seorang mukmin berada di atas semua perhatian materi dan kesibukan duniawi. Sebab ia hidup di negeri ini hanyalah untuk keridhaan Allah dan mencari apa yang ada di sisi-Nya, bukan untuk dirinya, keinginan-keinginan dan ambisinya.
Dengan iman, hati akan terbuka, fokusnya akan tinggi dan selalu bergantung kepada Rabb-nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Apa yang akan dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Karena Surgaku ada di dalam dadaku, mengusirku adalah
siyahah (tamasya), menahanku adalah khalwah (berduaan dengan Allah) dan
membunuhku adalah syahadah (mati syahid)". Ibrahim bin Adham berkata, "Demi Allah, seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada pada kami, niscaya mereka menebas kami dengan pedang." Yang dimaksud nikmat adalah nikmat iman, mesra dengan Allah, lezat dengan bermunajat kepada-Nya, doa dan bersimpuh di hadapan-Nya.
Dengan iman seorang mukmin tergabung dengan makhluk pilihan, berbaris dengan mereka dan dikumpulkan bersama mereka di Surga, insya Allah. Ia menolong
mereka dan menjadi pengikut mereka. Orang mukmin berada dalam golongan para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang shalih. Allah Azza wa Jalla berfirman:
َنيّْيِبَّنلا َنّْم مِهْيَلَع ُوّللا َمَعْػنَأ َنيِذَّلا َعَم َكِئػَلْوُأَف َؿوُسَّرلاَو َوّللا ِعِطُي نَمَو
َنيِحِلاَّصلاَو ءاَدَهُّشلاَو َنيِقيّْدّْصلاَو
اًقيِفَر َكِئػَلوُأ َنُسَحَو
`Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul--Nya, maka mereka itu akan bersama orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang-orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."(QS An-Nisa 4:69).
Adapun orang-orang yang durjana, yang berpaling dari Allah dan Rasul-Nya, bahkan menentang Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin, maka mereka telah menggabungkan diri dengan makhluk yang paling jahat dan manusia yang rendah dari kalangan orang-orang kafir yang sombong. Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
'
Lima kali shalat (dalam sehari) diwajibkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Barangsiapa menjaganya, maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya di hari Kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya, dan di hari Kiamat dia bersama dengan, Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay ibn Khalaf " (HR. Ahmad, Ibn Hibban dan Thabrani dengan sanad jayyid).
Bila Iman Sudah Benar
Sesungguhnya iman itu memiliki buah yang agung dan membuka pintu-pintu kebaikan yang amat banyak. Tidak mungkin. kita bisa menghitungnya karena dialah nikmat pertama dan terakhir sejak Allah menulis kebahagiaan untuk sang janin, hingga kakinya menginjakkan taman Surga. Dia senantiasa berada dalam uubudiyyah kepada Allah, ridha kepada-Nya sebagai sesembahan, rela Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya.
Dia hidup untuk satu tujuan yang mulia dan agung. Apapun rintangan yang ditemuinya dalam merealisasikan tujuannya adalah hal kecil.
Saudaraku, berikut ini adalah buah yang dapat dipetik dan hasil yang akan diraih manakala iman sudah benar. Allah berfirman,
ٍميِقَتْسُّم ٍطاَرِص ىَلِإ َيِدُى ْدَقَػف ِوّللاِب مِصَتْعَػي نَمَو
`Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diheri petunjuk kepada jalan yang lurus. "(QS Ali Imran 3:101) .
Secara umum yang dimaksud di sini adalah kebaikan di dunia dan di Akhirat, istiqamah dan ridha kepada Allah. Allah berfirman,
ُىَرْجَأ ْمُهَّػنَػيِزْجَنَلَو ًِ َبّْيَط ًةاَيَح ُوَّنَػيِيْحُنَلَػف ٌنِمْؤُم َوُىَو ىَثنُأ ْوَأ ٍرَكَذ نّْم اًحِلاَص َلِمَع ْنَم
اَم ِنَسْحَأِب م
َفوُلَمْعَػي ْاوُناَك
`Barangsiapa yang mengejakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dan apa yang telah mereka ker jakan. " (QS An-Nahl 16: 97).
Dengan iman yang benar, maka kondisi kita akan berubah, dari kecenderungan kepada dunia dan sebab-sebabnya menuju interaksi hati. dengan Allah Sang Pencipta, bergantung kepada-Nya dan mencari ridha-Nya, sehingga Akhirat menjadi perhatian, sekaligus tujuannya dan segala gerak-geriknya hanyalah untuk meraihnya.
Saya akan membatasi pada buah iman berikut ini karena jelasnya dan urgensitasnya. Kalau tidak maka iman itu adalah pembuka setiap kebaikan dan penutup semua kejahatan dan keburukan. Hanya Allah tempat meminta tolong, meminta taufiq dan tempat bergantung.
Pertama: Bila iman sudah benar maka hamba itu akan introspeksi diri, menjaga
diri, mengekang ambisi-ambisi, dan memecahkan kepentingan-kepentingan dan klaim-laim pribadi dalam perjalanan hidupnya. Ia tak akan ikut kompetisi duniawi. Tak akan berebut unggul dan maju mengalahkan pesaing-pesaingnya. Tak akan menampakkan pentingnya nafsu, perannya dan kebutuhan manusia terhadapnya.
Tidaklah keikhlasan itu lemah dan riya' itu merajalela. Tidaklah hasad dan
kezhaliman itu mengambil tempat, melainkan karena tidak terurusnya nafsu ammarah, sehingga ia dibiarkan beraksi dalam harta, kepernimpinan, pujian dan kesombongan. Maka jadilah polisi, hakim, pengawas dan penggembala untuk dirimu sendiri. Nafsu adalah pusat perhatian dan tuduhan. Dia adalah yang pertama dan yang terakhir untuk menang dan mendapat bimbingan atau untuk rugi dan hina. Dia adalah poros keseriusan, amal shalih dan kemenangan yang nyata atau pintu kemalasan dan keputusasaan. Dia adalah jalan semangat yang kuat dan tekad yang tinggi atau jalan keterpurukan dan kehancuran. Siapa yang benar imannya, maka dia pasti mengetahui bahwa musuh utama yang sebenarnya adalah dirinya. Apabila ia mampu mengatasinya, maka ia mampu mengatasi kekuatan apapun. Dia akan menang dalam setiap peperangan dan selamat dari kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
ْمِهِسُفْػنَأِب اَم ْاوُرّْػيَغُػي ىَّتَح ٍـْوَقِب اَم ُرّْػيَغُػي َلا َوّللا َّفِإ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra'd 13:11). .
َمَوآ
ْمُكيِدْيَأ ْتَبَسَك اَمِبَف ٍِ َبيِصُّم نّْم مُكَباَصَأ
`Dan musibah apa yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. ' (QS Asy-Syura 42:30).
Hasan Bashri berkata, "Kamu tidak menjumpai orang mukmin melainkan ia pasti berintrospeksi diri. Apa yang aku inginkan dengai makananku ini, apa yang aku inginkan dengan minumanku ini? Sedangkan orang fajir (yang rusak) maka ia terus maju tidak pernah peduli." Setiap muslim mengetahui bahwa ia wajib menegakkan shalat, berpuasa, pergi haji membayar zakat dan beribadah dengan semua ibadah secara ikhlash karena Allah. Lalu, apakah yang mengurangi dan merusak ibadah, yang menghilangkan ruh dan kekhusyu'an ibadah? Sesungguhnya penyebab yang terbesar adalah nafsu yang sering lepas kontrol. Ia tidak sabar dan tidak ridha jikalau amalnya diketahui oleh Allah semata. Ia tidak merasa cukup akan hal itu, tetapi ingin pula agar diketahui oleh manusia.
Kedua: Bila iman sudah benar, maka dunia adalah kecil di mata dan di hati orang
mukmin. Ia akan zuhud di dunia. Dia mengetahui bahwa dunia adalah penyihir yang banyak menyihir hati dan penipu yang banyak menipu orang. Orang mukmin menyadari bahwa cinta dunia adalah induk segala kesalahan. Dunia adalah barang yang rendah, hina, murah dan fana'.
Bagaimanapun dunia datang melimpah, dia pasti akan memalingkan. Bagaimanapun dunia memberi, dia pasti membuat melarat. Bagaimanapun dunia berkumpul, dia akan memecah belah. Dunia adalah negeri kejahatan, gudang penyakit, musibah dan kekeruhan. Barangsiapa telah benar imannya dan istiqamah hatinya,
Dari Sahal Ibn Sa'ad As-Sa'idi r.a. dia berkata, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Seandainya
dunia itu bernilai di sisi Allah seberat sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun hanya seteguk air. "(HR. Tirmidzi, dia berkata, hadits hasan shahih).
Dari Al-Mustawrid Ibnu Syaddad , dia berkata, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam '. bersabda, Tidaklah dunia
itu dibanding dengan Akhirat melainkan bagaikan salah seorang kamu yang memasukkan jari tangannya ke dalam lautan, perhatikanlab apayang dibawa oleh jari itu?!" (HR. Muslim).
Dari Jabir bahwasanya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan melewati pasar, sementara orangorang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya kemudian bersabda:
`Siapa di antara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?' Mereka menjavab, kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?' Kemudian beliau bertanya, Apakah kamu suka ia milikmu?' Mereka menjawab, Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, lalu bagaimana lagi ketika ia jadi bangkai?' Maka beliau bersabda, Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai itu dalam pandangan kalian. "(HR. Muslim).`
maka ia tidak akan tertarik kepadanya dan tidak akan merugi karenanya. Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak punya rumah. Yang menumpuknya hanyalah orang yang tidak punya akal. Amannya dunia masih tercampur dengan ketakutan, sehatnya tercampur dengan penyakit dan kelebihannya tercampur dengan kekurangan.
Tatkala dunia bertempat di hati sebagian besar kaum muslimin; maka mereka menjadi cinta dan benci karena dunia. Demi dunia mereka berjuang dan berlomba, terhadapnya mereka sibuk di pagi hari dan sore hari. Maka lemahlah semangat Akhirat di hati, terlupakanlah hari yang telah dijanjikan pasti datang, lemahlah pengaruh nasihat, sedikitlah perenungan terhadap Al-Qur'an dan pengambilan pelajaran daripadanya, dan terlupakanlah persiapan untuk berdiri di hadapan Allah. Sebab dunia telah memenuhi ruang hati dan menguasai kendali berpikir dan keinginannya.
Barangsiapa imannya benar, maka ia tidak akan tergiur dan tertipu dengan rayuan dunia. Ia akan menjadikannya sebagai kendaraan menuju Akhirat. Ia mengetahui bahwa setiap hari di dunia ini, sang hari (waktu memanggil dan berseru, "Wahai manusia, aku adalah baru dan atasmu aku akan bersaksi, aku akan meninggalkanmu tanpa kembali, isilah aku sesukamu, kebaikan atau keburukan."
Allah Azza wa Jalla memberitahukan tentang jati diri dunia:
ٌوْهَلَو ٌبِعَل اَيْػنُّدلا ُةاَيَحْلا اَمَّنَأ اوُمَلْعا
ِد َلاْوَْلأاَو ِؿاَوْمَْلأا يِف ٌرُػثاَكَتَو ْمُكَنْػيَػب ٌرُخاَفَػتَو ٌِ َنيِزَو
`Ketahuilah, Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggga tentang bayaknya harta dan anak. "(QS Al-Hadid 57:20).
Imam Syafi'i berkata, "
Barangsiapa mencicipi dunia maka sesungguhnya aku telah merasakannya, telah digiring kepada kita nikmatnya dunia dan sengsaranya.
"Dunia tidak lain adalah bangkai yang akan berubah, di atasnya ada banyak anjing
yang tujuannya hanyalah menarik nariknya "
Jika engkau menghindarinya maka engkau menjadi tangga bagi ahli dunia, tapi jika engkau menariknya maka anjing-anjing dunia pasti mengeroyokmu semua. "
Ibnul Qayyim berkata, "Di antara siksa terbesar dalam dunia adalah kacaunya konsentrasi, terpecahnya hati dan selalu merasa kekurangan yang tidak pernah
meninggalkannya. Seandainya bukan karena mabuknya para pecandu dunia dengan mencintai dunia, niscaya mereka telah meminta pertolongan dari adzab ini, meskipun sebagian besar mereka selalu mengadu dan berteriak karenanya."
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
`Allah berfirman, `Hai anak Adam, luangkanlah seluruh waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menutup kefakiranmu. Apabila kamu tidak melakukan, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu'." (HR. Tirmidzi dan dia hasankan).
Sebagian Salaf mengatakan, "Barangsiapa mencintai dunia maka hendaklah ia menguatkan dirinya untuk menanggung musibah. Pecinta dunia tidak akan dapat lepas dari tiga perkara. beban pikiran yang terus menerus, kepayahan yang tak berkesudahan, dan kepedihan yang tidak pernah berakhir. Ini semua terjadi karena pecinta dunia tidak akan merasa puas dengan apa yang ia peroleh. Setiap kali memperoleh bagian dari dunia, maka ia selalu menginginkan yang lebih tinggi." Dalam hadits shahih Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
"Seandainya anak Adam memiliki harta sebanyak dua lembah, niscaya ia akan mencari (menginginkan) lembah yang ketiga. " (HR. Ahmad, Bukhari Muslim dan Tirmidzi).
Hasan Bashri menulis kepada Umar bin Abdul Aziz, disebutkan "Sesungguhnya dunia telah ditawarkan kepada Nabi kita dengan segala kunci dan gudang-gudangnya, tidak berkurang sedikitpun di sisi Allah meskipun itu seberat sayap lalat, tetapi beliau menolaknya. Sebab beliau tidak mau kalau sampai mencintai apa yang dapat membuat Penciptanya murka atau mengangkat apa yang telah direndahkan oleh Pemiliknya. Dia menjauhkan dunia dari orang shalih karena sengaja dan melapangkannya untuk musuh-musuhnya karena tipuan. Maka, orang yang tertipu dunia dan menguasainya mengira kalau Allah memuliakannya. Dia lupa apa yang dilakukan oleh Allah terhadap Rasul-Nya tatkala beliau mengikat batu pada perutnya."
Ketiga: Bila iman sudah benar, maka perhatian hamba kepada amalan-amalan
hatinya lebih besar daripada perhatiannya kepada amalan anggota tubuhnya, karena intinya terdapat di dalam hati, sedangkan anggota badan mengikutinya. Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya.
Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
Dari Ibnu 'Abbas dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, `Seandainya anak Adam memiliki emas satu lembah, pasti ia ingin seandainya dia memiliki dua lembah, dan tidak akan bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah, dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat. "(HR. Bukhari - Muslim).
`Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila ia baik maka menjadi baiklah seluruh jasadnya dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah, ia adalab jantung (hati). "(HR. Bukhari - Muslim).
Tidaklah melemah pengaruh ibadah terhadap akhlak (suluk) melainkan karena kelalaian terhadap amalan-amalan hati. Tatkala hilang khusyu' dalam shalat dan
perenungan di dalamnya banyak orang yang melakukan shalat tetapi tidak dapat mencegah mereka dari perbuatan keji dan munkar. Sehingga puasa dan zakat, bahkan seluruh ibadah mereka, tidak dapat merealisasikan taqwa, tidak dapat mempengaruhi
suluk (akhlak) dan tidak menghadirkan di hati mereka rasa takut dan harap kepada
Allah, keberagamaannya hanya di dominasi oleh kemasan ibadah, tanpa ada isi dan substansinya. Hanya rutinitas tradisi, bukan ibadah.
Pada akhirnya sebagian besar ibadah hanya menjadi gambar (simbol), bukan bukti dan hakikat. Maka tidak heran kalau anda melihat orang yang sujud sambil menangis, tetapi ber-muamalah dengan sesutu yang jelas-jelas riba dengan santai dan tanpa beban. Orang yang membaca kitab suci Al-Qur'an, tapi di malam harinya ia begadang dalam berbagai macam kesia-siaan dan kemunkaran. Anda melihat orang yang berdzikir kepada Allah, mengucapkan talbiyah, thawaf dan sa'i ternyata berlumuran dengan aneka ragam kejahatan dan dosa yang nyata maupun samar. Anda melihat perhatian orang yang haji dan umrah lebih terpusat pada biaya haji dan persiapan materi seperti pemondokan, makanan, minuman dan peristirahatan, daripada untuk menjaga ke-khusyu’an dan keikhlasan dalam shalatnya serta duduknya di Masjidil Haram untuk ibadah dan dzikir.
Secara umum, amalan-amalan hati adalah khusyu’ , tadharru' (merendahkan diri),
inabah (kembali kepada Allah), khauf (takut kepada Allah), raja' (mengharap kepada
Allah), istighatsah (memohon dihindarkan bahaya), mahabbah (cinta kepada Allah),
tawakkal (berserah diri kepada Allah), menyaksikan panorama ihsan (kebaikan) dari
Allah, sempurnanya muraqabah (merasa diawasi Allah), shidq (jujur), ikhlas, menjaga, merawat dan menyiram hati dengan air taqwa serta menghindarkannya dari kerusakan, riya' (pamer), sum’ah (ingin didengar kebaikannya oleh orang), ’ujub dan idlal (mengungkit-ungkit kebaikan atas Allah). Sesungguhnya amal-amal ini dan
lainnya akan sangat diperhatikan oleh seorang hamba manakala imannya benar. Balasan amal dari Allah disesuaikan dengan apa yang ada di dalam hati. Seperti shidq (jujur), menghadap penuh kepada Allah, menampakkan kehinaan, kerendahan dan kebutuhan kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
َفوُنَػب َلاَو ٌؿاَم ُعَفنَي َلا َـْوَػي
ٍميِلَس ٍبْلَقِب َوَّللا ىَتَأ ْنَم َّلاِإ
"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, "(QS Asy-Syu'ara' 26:88-89).
Bisa saja ada dua orang yang sedang shalat dalam satu tempat, tetapi perbedaan antara keduanya adalah antara langit dan bumi.
Ibnul Qayyim berkata, "Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat karena bertingkatnya apa yang ada di dalam hati." Apabila amalan badan tidak disertai dengan amalan hati, maka ibadah itu hambar, tidak membuahkan kelezatan, kenikmatan, kelapangan dan tidak menambah iman. Ibadah kehilangan ruh dan jiwanya. Inilah kondisi mayoritas umat Islam.
Keempat: Bila iman telah benar, maka terbentuklah ukhuwah (persaudaraan)
karena Allah. Seorang mukmin akan merasa semakin dekat kepada Allah apabila dapat memberikan kemanfaatan kepada saudaranya sesama muslim. Seperti melayaninya, membela kehormatannya, menutup aibnya, memberinya makan jika lapar, memperhatikan keadaannya, berdiri di sampingnya dan menolongnya. Ukhuwah bukanlah sekedar slogan dan retorika kosong. Akan tetapi ia adalah realitas yang konkret, di mana jiwa dipaksa menyerahkan kebaikan yang dia miliki, berkorban dan bersabar dalam melayani saudaranya, serta memuliakan kehormatan, darah dan harta saudara-saudaranya yang seiman.
Bukanlah ukhuwah itu hanya bermesraan saat suasana lapang dan dalam kemakmuran, kemudian kembali bermusuhan di saat ada perbedaan dari sudut pandang dan pendapat. Akibatnya, ukhuwah dan hak-haknya dilupakan, kehormatan tidak diindahkan dan perekat-perekat cinta di hancurkan. Maha Suci Allah, manakah
manhaj syar'i yang menjaga kehormatan seorang muslim?! Manakah kewajiban saling
menasihati, menutup aib dan larangan meninggalkannya? Di manakah kita dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ٌةَوْخِإ َفوُنِمْؤُمْلا اَمَّنِإ
`Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. "(QS Al-Hujuraat 49:10).
Dan sabda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam,
`Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram; kehormatannya, harta dan darahnya. "(HR. Tirmidzi, dia berkata, hadits hasan).
Mengapa pertentangan diperlebar dengan membeber aib dan mengadu domba,