Sesungguhnya faktor-faktor yang merusak keikhlasan sangat banyak jumlahnya. Begitu pula faktor-faktor yang melemahkan iman dan melemahkan pengaruh iman. Di antaranya adalah riya (pamer), sum'ah (nama baik), ’ujub (bangga diri), ghurur (lupa daratan), takabbur (sombong) idlal (gede rasa kepada Allah), mudahanah (menjilat), dusta, suka pujian dan mencari kedudukan di hati manusia. Di sini saya akan membatasi alasan pada dua faktor yaitu ujub dan riya'.
Pertama: Ujub
Ujub (takjub dan bangga dengan diri sendiri) adalah penyakit berbahaya bagi
kehidupan orang-orang yang ahli ibadah. Karena ibadah adalah kesempurnaan merendahkan diri yang disertai dengan kesempurnaan cinta. Sedangkan ujub adalah menafikan sikap rendah diri dan kebutuhannya kepada Allah. Ujub adalah melihat kepada diri sendiri dan ketaatan serta berbangga diri dengan ibadah dan dengan kebaikan-kebaikan yang telah dicapainya. Ketika setan tidak mampu merayu orang-orang shalih untuk melakukan maksiat, maka dia mendatangi mereka dengan jalan yang samar dari dalam diri mereka. Dia datang dengan membawa penyakit ujub (berbangga diri) dan ta’adhum (merasa dirinya besar) dan menyandarkan kebaikan-kebaikan kepada dirinya.
Al-Muhasibi berkata, "Ujub dengan agama adalah memuji diri sendiri atas apa yang kamu amalkan atau yang kamu ketahui dan melupakan nikinat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. Jadi, memuji diri sendiri dan melupakan nikmat adalah ujub dengan agama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Ujub adalah sahabat karibnya riya'. Akan
tetapi, riya' termasuk kategori menyekutukan Allah dengan makhluk, sedangkan ujub adalah menyekutukan-Nya dengan diri sendiri. Orang yang riya' tidak merealisasikan firman Allah (
ُدُبْعَػن َؾاَّيِإ
) `Hanya kepada-Mu kami menyembah. "Sebaliknya orang yang ujub tidak merealisasikan firman Allah( ُنيِعَتْسَن َؾاَّيِإو) `Dan hanya kepada-Mu kami meminta
pertolongan. "Maka barangsiapa merealisasikan (
ُدُبْعَػن َؾاَّيِإ
), artinya dia telah keluar daririya', dan barangsiapa merealisasikan (
ُنيِعَتْسَن َؾاَّيِإو
), artinya dia telah keluar dari ujub." PERBEDAAN ANTARA KIBR DAN UJUBUjub adalah ketika seseorang merasa kagum dengan amalnya, sehingga ia memuji
dirinya sendiri atas amalan itu. Dia lupa bahwa itu adalah karunia dari Tuhannya, tetapi dia tidak berbuat sombong kepada yang lain. Adapun kibr adalah satu kondisi ujub yang membawanya kepada anggapan bahwa dirinya itu lebih baik dari yang lainnya. Lalu ia merendahkannya dan menghinanya, maka pada saat itulah ia menjadi orang yang sombong lagi mengagumi diri sendiri.
Sedangkan idlal itu mengharuskan adanya dugaan balasan. Seperti dia beranggapan bahwa doanya pasti dikabulkan, dan tidak mungkin ditolak. Rasul
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, maka aku mengkhawatirkan atas kalian sesuatu yang lebih parah dari itu yaitu ujub.”
Sehubungan dengan bahaya ujub dan kerusakan besar yang bisa ditimbulkannya, Al-Ghazali mengatakan, "Ketahuilah, sesungguhnya penyakit-penyakit yang ditimbulkan ujub banyak sekali. Ujub mengajak kepada kibr. Lalu dari ujub dan kibr lahirlah penyakit-penyakit yang banyak sekali dan tampak dengan jelas. Ujub mengajak melupakan dosa-dosa dan membiarkannya, maka ia menganggap ibadah sebagai sesuatu yang besar dan membanggakannya. Ia mengungkit-ungkit atas Allah, karena telah melakukan ibadah. Ia lupa nikmat Allah atasnya, yaitu karunia taufiq, kesempatan dan kemampuan untuk melakukannya. Orang yang ujub tertipu dengan dirinya, pendapatnya sendiri dan merasa aman dari tipu daya Allah dan adzab-Nya. Dia
MukhtasarMinhajul Qashidin, him. 254
menganggap bahwa dirinya memiliki kedudukan di sisi Allah. Ujub mendorongnya untuk memuji diri sendiri, menyanjung dan menganggapnya suci."
Allah Azza wa Jalla berfirman,
اًئْيَش ْمُكنَع ِنْغُػت ْمَلَػف ْمُكُتَرْػثَك ْمُكْتَبَجْعَأ ْذِإ ٍنْيَػنُح َـْوَػيَو
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun. "(QS At-Taubah 9:25).
Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
“Tiga perkara yang membinasakan, kikir yang ditaati, keinginan nafsu yang diikuti dan kagumnya seseorang dengan dirinya sendiri."(HR. Tabrani, dihasankan oleh Al-Albani).
Hudzaifah bin Al-Yaman r.a. berkata, "Cukuplah kepandaian seseorang bila ia takut kepada Allah, dan cukuplah kebodohan seseorang bila ia merasa kagum dengan ilmunya sendiri."
Faktor-faktor penyebab ujub:
1. Bodoh terhadap hak Allah, yaitu tidak mengagungkan-Nya sebagaimana mestinya, tidak banyak mengetahui tentang nama-nama dan sifatsifat Allah, dan lemahnya penghambaan kepada Allah dengan konsekuensi nama-nama dan sifat-sifat ini.
2. Ghaflah, yaitu lalai dari hakikat dirinya, sedikitnya ilmu tentang tabiatnya, bodoh
terhadap aib dan cacatnya serta melalaikan muhasabah, (introspeksi diri) dan
muraqabah (penjagaan diri).
3. Memuji dan menyanjung di hadapan orangnya, tanpa memperhatikan aturan-aturan syar’i yang berkaitan. Aturan syar’i menyatakan bahwa pujian tidak boleh berlebihan dan melewati batas. Pujian harus dengan benar, tidak boleh dengan batil. Pujian boleh ditujukan kepada orang yang tidak khawatir terkena fitnah atasnya, seperti ujub dan lainnya.
4. Bergaul dengan kelompok orang-orang yang memiliki sifat ujub.
5. Terfokus pada nikmat dan melupakan Sang Pemberi nikmat. Padahal Allah berfirman,
ِوّللا َنِمَف ٍِ َمْعّْػن نّْم مُكِب اَمَو
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). "(QS An-Nahl 16:53).
6. Tergoda untuk mempelopori amal sebelum matang dan sempurna; tarbiyah (pembinaan diri) di dalam dirinya.
7. Berlebihan dalam memuliakan dan menghormati.
8. Merasa besar karena nasab dan keluarga yang mulia. Padahal All: berfirman,
َفوُلءاَسَتَػي َلاَو ٍذِئَمْوَػي ْمُهَػنْػيَػب َباَسنَأ َلاَف ِروُّصلا يِف َخِفُن اَذِإَف
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya." (QS Al-Mu'minuun 40:101).
Adapun obat ujub adalah anda harus mengetahui dan meyakini bahwa apa saja yang ada pada anda, dan yang keluar dari anda adalah berasal dari Allah Yang Maha Suci, Maha Mencipta, Maha Memberi, Mencurahkan nikmat-nikmat dan Mengaturnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
ًِ َنِطاَبَو ًةَرِىاَظ ُوَمَعِن ْمُكْيَلَع َغَبْسَأَو
“Dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS Luqman 31:20).
Kamu harus mengetahui bahwa Allah-lah yang telah memberimu nikmat hidayah kepada Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman,
ُمَي
ِْلإِل ْمُكاَدَى ْفَأ ْمُكْيَلَع ُّنُمَي ُوَّللا ِلَب مُكَم َلاْسِإ َّيَلَع اوُّنُمَت َّلا لُق اوُمَلْسَأ ْفَأ َكْيَلَع َفوُّن
فِإ ِفاَمي
َنيِقِداَص ْمُتنُك
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar." (QS Al-Hujuraat 49:17).
Ibnul Qayyim berkata, "Ketahuilah bahwa bila seorang hamba mulai dalam satu ucapan atau perbuatan untuk mencari ridha Allah, mengingat di dalamnya karunia Allah atasnya dan taufiq Allah untuknya, bahwasanya dia itu dengan Allah bukan dengan dirinya sendiri, juga bukan dengan pengetahuan dan pikirannya, daya dan upayanya, dan bahkan Dialah yang menciptakan untuknya lisan, hati, mata dan telinga, maka yang menganugerahi semua itu Dialah pula yang menganugerahi ucapan dan perbuatan. Apabila hal ini tidak hilang dari perhatiannya dan pandangan hatinya, maka dia tidak akan didatangi ujub. Akar pangkal dari ujub adalah melihat kepada diri sendiri dan tidak melihat kepada karunia Tuhan dan taufiq-Nya."
Barangsiapa mengetahui bahwa Allah adalah Dzat yang membolak-balikkan hati,
bahwasanya hati berada di antara dua jemari Allah yang dibolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya, dan bahwa seseorang itu beramal dengan amalan ahli Surga menurut penglihatan manusia, padahal dia adalah ahli Neraka. Maka niscaya imannya akan membuahkan rasa takut malu, hina dan ketundukan.
Ibnu Baththal berkata, "Ketika disembunyikannya penutup amal (baik atau buruk) terdapat hikmah yang amat besar dan pengaturan yan sangat lembut. Karena, jika dia tahu bahwa dia itu selamat maka dia akan ujub dan malas, sebaliknya jika dia tahu dia akan binasa, maka dia aka semakin menjadi-jadi, dan dihalangilah hal tersebut dari dirinya."
Sesungguhnya di antara kesempurnaan rahmat Allah dan hikmat-Nya, Dia menjadikan jiwa manusia berpotensi menerima yang baik dan yang buruk. Semua anak Adam adalah ahli berbuat kesalahan dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
"Seandainya kalian tidak melakukan dosa maka aku mengkhawatirkan atas kalian apa yang lebih parah dari itu, yaitu ujub."
Ibnul Qayyim berkata, "Seandainya bukan karena perkiraan dosa tentu anak Adam akan hancur karena ujub.".
Ibnul Jauzi berkata,"Sesungguhnya bila jiwa manusia berada dalam kesadaran terus, tentu ia akan terjatuh dalam hal yang lebih buruk dari itu yaitu ujub dengan kondisinya dan merendahkan sejenisnya. Dan bisa saja dengan kekuatan amalnya itu dia akan meningkat kepada klaim "untukku "ada padaku", "aku berhak" (dan sejenisnya). Maka, membiarkan jiwa bergumul dalam kubangan dosa dan apabila telah
Al-Fawaid,144
Ma’ alim Fis Suluk, hlm. 100
sampai di tepian dia berdiri melaksanakan kerendahan ubudiyyah (ibadah kepada Allah); itulah yang lebih baik baginya."
Sebagian Salaf mengatakan, "Sesungguhnya seorang hamba melakukan sebuah dosa, kemudian karenanya ia masuk Surga, dan mengamalkan satu kebaikan lalu karenanya ia masuk Neraka." Maksudnya, ia melakukan kebaikan, tetapi selalu ujub, sombong dan tertipu, karenanya ia dimurkai dan dilaknat oleh Allah lalu dumasukkan ke Neraka. Yang lain melakukan dosa kemudian kembali kepada Tuhannya dengan penuh penyesalan, menunduk dan bertaubat, karenanya ia merasakan betapa hinanya dia dan betapa hajatnya ia kepada Tuhannya, maka dia berpakaian ubudiyyah,
ber-taqarrub kepada Tuhannya secara sungguh-sungguh demi mencari ampunan-Nya. Dan
Allah meridhainya serta memasukkannya ke dalam Surga.
Ibn Hazm berkata, "Apabila kamu terkagum-kagum kepada pendapat-pendapatmu, maka berfikirlah tentang kesalahan-kesalahanmu, hafalkanlah dan jangan kamu lupakan. Jangan lupakan setiap pendapat yang kamu perkirakan benar tapi ternyata kamu salah, dan selainmulah yang benar. Ketahuilah bahwasanya hal itu adalah murni nikmat dari Allah yang dikaruniakan Tuhanmu kepadamu. Maka janganlah kamu menyikapinya dengan sesuatu yang membuat-Nya murka kepadamu. Barangkali Dia membuatmu lupa akan hal itu dengan alasan Dia mengujimu dengannya yang melahirkan kelupaan terhadap apa yang telah kamu kerjakan dan kamu hafalkan. Apabila kamu merasa tersanjung dengan pujian teman-temanmu maka berfikirlah tentang cercaan musuh-musuhmu kepadamu. Pada saat itu sirnalah kekaguman dari dirimu.
Apabila kamu tidak memiliki musuh, maka tidak ada kebaikan pada dirimu. Tidak ada kedudukan yang lebih rendah dari kedudukan orang yang tidak memiliki musuh. Keadaan tadi tidak lain hanyalah kedudukan orang yang tidak memiliki nikmat dari Allah yang dapat mengundang iri orang lain kepadanya. Semoga Allah menyelamatkan kita. Apabila kamu menganggap kecil aib-aibmu maka berfikirlah bagaimana seandainya hal itu diketahui oleh semua manusia. Maka ketika itulah kamu akan merasa malu dan kamu mengetahui kekuranganmu."
Kedua: Riya'dan Sum'ah
Rya' adalah derivasi (turunan) dari kata ru’yah yang berarti pandangan. Sum’ah
adalah derivasi dari sama' (pendengaran). Jadi mura’i (orang yang berbuat riya) artinya orang yang memperlihatkan kepada manusia hal-hal yang karenanya dia ingin mendapatkan kedudukan di sisi mereka .
Ibid
Mukhtashar Mlinhajul Qashidin, hlm. 233
Riya' adalah penyakit berbahaya dan pintu masuknya setan ke dalam hati
orang-orang mukmin. Rasul telah mengkhawatirkannya terjadi pada para sahabatnya. Padahal mereka adalah pemimpin para wali dan sebaik-baik generasi. Beliau bersabda:
`Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al-Masih Dajjal? Mereka menjawab, Tentu'. Beliau bersabda, 'Riya' seseorang berdiri shalat lalu memperindah shalatnya ketika melihat ada orang yang memperhatikannya. "(HR.
Ahmad).
Yang dimaksud riya' adalah menampakkan amal kepada manusia dan memperlihatkannya, serta berusaha dengan cara apapun agar mereka mengetahuinya. Ini adalah keinginan nafsu yang sangat kuat agar ia bisa bebas dari beratnya ibadah. Oleh karena itu ikhlas adalah agung dan sulit karena di dalamnya tidak ada bagian bagi nafsu. Barangsiapa jujur dalam keikhlasannya maka cukuplah baginya pengetahuan Allah terhadap amalnya dan dia tidak menoleh kepada manusia.
Ibnu Qudamah menyebutkan pembagian riya'. `Rya' dalam agama terbagi atas:
1. Dari sisi badan. Yaitu dengan cara menampakkan kurusnya badan dan warna kulit yang layu untuk memperlihatkan kepada mereka kesungguhannya dalam beribadah dan besarnya ketakutannya kepada Akhirat. Mirip dengan ini adalah merendahkan suara, menyipitkan mata dan melakukan dua bibir untuk menunjukkan bahwa dia ahli berpuasa.
2. Riya' dengan ucapan. seperti riya 'dengan mau'idhah (menasihati), yakni menghafal hadits untuk debat dan untuk menunjukkan keluasan ilmunya. Dia menggerak-gerakkan dua bibirnya dengan dzikir di hadapan banyak orang, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran-kemungkaran di tengah-tengah manusia, merendahkan suara dan mengecilkannya dalam membaca al-Qur'an.
3. Riya' dari segi pakaian dan penampilan. Seperti menunduk saat berjalan,
membicarakan bekas sujud di wajah, memendekkan lengan dan membiarkan pakaian kotor tidak dibersihkan.
4. Riya' dengan amal. Contohnya riya' orang yang shalat dengan memperlama waktu berdiri, ruku' dan sujud, serta menampakkan kekhusyu'an.
5. Riya' dengan kawan dan para pengunjung. Contohnya orang yang memaksa
untuk mengunjungi orang alim atau abid (ahli ibadah) agar dikatakan, "Fulan telah menziarahi Fulan." dan orang yang riya 'dengan banyaknya guru agar dikatakan, "Fulan bertemu dengan masyayikh (para guru) yang banyak sekali."
Masih banyak lagi macam contoh riya' dari keadaan yang samar sebabnya, terutama keadaan yang membiarkan nafsu berjalan dan menjelajah agar tenang nafsunya di hadapan orang lain, baik secara lansung maupun tidak langsung, di antaranya adalah:
1. Seseorang yang memaksa-maksa agar orang lain mengetahui ibadahnya secara langsung atau secara sindiran.
2. Menyukai kalau orang-orang mengawali mengucapkan salam kepadanya, menemuinya dengan senyum dan penghormatan, giat membantu memenuhi hajatnya, dan ramah dalam bermuamalah dengannya. Kalau dia menemui orang yang muqashshir (kurang) dalam hal itu, maka hatinya terasa berat seolah-olah dirinya ingin dibayar dengan penghormatan atas ketaatan yang disembunyikannya.
3. Orang-orang yang ikhlas senantiasa takut dari riya yang samar. Mereka bersusah payah mengelabui manusia agar tidak mengetahui amal-amalnya yang shalih. Mereka lebih ambisi menyembunyikan amalnya daripada ambisinya menutupi dosa-dosanya.
4. Bilamana seseorang mengetahui dari dirinya perbedaan antara diketahui ibadahnya atau tidak diketahui, maka pada diri orang itu ada satu cabang dari riya'.
5. Barangsiapa menyembunyikan ketaatan dengan ikhlas karena Allah, kemudian orang-orang mengetahui hal tersebut, lalu ia merasa senang
dengan perbuatan Allah yang menampakkan ketaatannya dan
menyembunyikan dosanya. Ini adalah terpuji, bukan karena pujian manusia kepadanya, tetapi tegaknya kedudukan di hati mereka sehingga mereka memuji dan menyanjungnya serta memenuhi hajatnya maka ini adalah makruh dan tercela.
Dari Abu Dzar dia berkata, "Ditanyakan, Wahai Rasulullah, ceritakanlah (kepada kami) seseorang yang melakukan satu amal kebajikan lalu orang-orang memujinya atas hal itu. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
“Itu adalah kabar gembira bagi orang mukmin yang disegerakan." (HR. Muslim).
Adapun jika hal itu membuatnya ujub karena orang-orang mengetahui kebaikannya dan memuliakannya, maka hal itu meningkat menjadi riya'