BAB IV ANALISIS DATA
4.2 Analisis Data
4.2.2 Analisis Penggunaan Unsur Intralingual dan Ekstralingual dalam Nilai Rasa
4.2.2.1 Nilai Rasa Halus
Nilai rasa halus ialah kadar perasaan halus yang dinilai memiliki rasa hormat dan menghargai dalam sebuah tuturan. Bentuk penggunaannya dalam sebuah tuturan membuat tuturan terasa lebih santun. Kadar rasa halus dapat dilihat dari penggunaan pilihan kata yang mencerminkan rasa hormat sepertimbak, mas, ibu, bapak, dll.
4.2.2.1.1 Nilai Rasa Hormat
Nilai rasa hormat ialah kadar rasa bahasa yang digunakan untuk menyatakan rasa hormat penutur yang dinyatakan dalam tuturan.
1. Saya anak tertua, mas
Pairin menganyam caping di rumah Painem membantu simbok di pasar
Sedang bapak seharian di sawah buruh, sibuk mengolah tanah (Sumber data: Prosa Lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag halaman 3, data tuturan NRPP 3)
Konteks tuturan : Penutur dan mitra tutur terlibat dalam suatu percakapan. Tuturan dikatakan oleh Pariyem untuk menanggapi pertanyaan dari Mas Paiman (mitra tuturnya) mengenai anggota keluarganya dan pekerjaannya.
2. “Jangan sampeyan bertanya ‘kenapa dua adik saya tak bernama Bambang dan Endang saja?’ (Sumber data : Prosa Lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag halaman 4, data tuturan NRPP 4) Konteks tuturan : Penutur dan mitra tutur terlibat dalam sebuah percakapan. Tuturan diucapkan oleh Pariyem untuk menanggapi pertanyaan dari mitra tuturnya (Mas Paiman) mengenai nama kedua adiknya.
Data tuturan (1) merupakan bentuk representatif yang digunakan untuk memberitahukan mitra tutur tentang sesuatu hal. Pariyem memberitahukan pekerjaan anggota keluarganya pada Mas Paiman dengan menggunakan deiksis persona “mas” yang merujuk pada Mas Paiman yang dapat dilihat melalui unsur intralingual unsur intralingual melalui pilihan kata “mas”. Penggunaan kata mas dalam bahasa Jawa yang merupakan kata sapaan ini memperlihatkan bahwa Pariyem menghormati mitra tuturnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tuturan (1) mengandung nilai rasa sopan. Nilai rasa hormat juga diperkuat dengan unsur ekstralingual yang berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dapat dilihat dari fenomena praanggapan bahwa Mas Paiman belum mengetahui anggota keluarga Pariyem dan konteks situasi komunikasi yang berupa suasana tuturan yang nyaman membuat Pariyem dapat bercerita pada Mas Paiman dan tetap menempatkan Mas Paiman sebagai orang yang lebih tua
dari dirinya. Tuturan (1) dianggap santun karena menggunakan pilihan kata yang mencerminkan kesantunan seperti penggunaan kata “mas” untuk menyebut seseorang yang dihormati. Hal ini sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo (2009:23) yakni kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi seharusnya mencerminkan “aura kesantunan”.
Data tuturan (2) merupakan bentuk tindak tutur direktif yang digunakan untuk mendorong mitra tutur melakukan sesuatu. Penutur menyuruh mitra tuturnya untuk tidak bertanya nama kedua adiknya bukan Bambang dan Endang dengan menggunakan deiksis persona orang kedua yang merujuk pada mitra tuturnya seperti yang terlihat dari unsur intralingual melalui pilihan kata “sampeyan”. Penggunaan kata “sampeyan” memiliki memperlihatkan bahwa kata “sampeyan” bernilai rasa jauh lebih sopan daripada kata “kowe”. Nilai rasa hormat diperkuat dengan unsur ekstralingual yang berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dapat dilihat dari fenomena praanggapan bahwa Mas Paiman belum mengetahui nama Bambang Endang tidak boleh dimiliki sembarangan orang dan konteks situasi komunikasi yang berupa situasi percakapan yang santai sehingga membuat Pariyem nyaman untuk mengutarakan pendapatnya pada Mas Paiman tetapi tetap menempatkan posisi Mas Paiman lebih tua darinya sehingga ia tetap menggunakan kata “sampeyan” untuk menunjuk Mas Paiman. Oleh karena itu tuturan (2) dirasa santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo
(2009:23) yakni kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi seharusnya mencerminkan “aura kesantunan”.
Dari data tuturan yang mengandung nilai rasa hormat di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai rasa hormat dapat muncul dalam penggunaan pilihan kata yang mencerminkan rasa hormat. Seperti yang terdapat dalam data tuturan (1) dan (2) menggunakan kata “mas” dan “sampeyan” hal ini juga mencerminkan kesantunan, sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa menurut Pranowo (2009) yakni menggunakan pilihan kata yang mencerminkan kesantunan.
4.2.2.1.2 Nilai Rasa Sopan
Nilai rasa sopan merupakan kadar rasa bahasa yang dinilai memiliki nilai sopan santun dalam setiap tuturan. Nilai rasa sopan yang terdapat dalam tuturan membuat tuturan terlihat lebih santun.
3. “PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun sewu tanggal lahir saya lupa
Tapi saya ingat betul weton saya : wukunya kuningan di bawah lindungan bethara Indra (Sumber data : Prosa Lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag halaman 1, data tuturan NRPP 1)
Konteks tuturan : Penutur dan mitra tutur terlibat dalam sebuah percakapan, tuturan diucapkan oleh Pariyem untuk memperkenalkan diri kepada Mas Paiman, mitra tuturnya.
4. “KANJENG Raden Tumenggung gelarnya Putra Wijaya nama timurnya Cokro Sentono nama dewasanya nDoro Kanjeng panggilannya prijagung Kraton Ngayogyakarta
Priyayinya jangkung, tubuhnya gede (Sumber data : Prosa Lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag halaman 51, data tuturan NRPP 51)
Konteks tuturan : Pariyem dan Mas Paiman terlibat dalam sebuah percakapan. Tuturan diucapkan oleh Pariyem untuk menanggapi
pertanyaan mitra tuturnya (Mas Paiman) tentang majikan dimana Pariyem bekerja sebagai pembantu.
5. Kang Kliwon sungkem di muka simbah -ujung- kata wong Jawa
Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan kang Kliwon tangannya ngapurancang
Berpakaian sarung, surjan, dan blangkon, duduk bersila, sedang mulutnya berkata : “Kula sowan wonten ing ngarsanipun mbah putri. Sepisan : nyaosaken sembah pangabekti mugi katur ing ngarsanipun simbah. Ongko kalih : mbok bilih wonten klenta-klentuning atur kula saklimah tuwin lampah kula satindak. Ingkang kula jarag lan mboten kula jarag ingkang mboten ndadosaken sarjuning penggalih. Mugi simbah kersa maringi gunging samodra pangaksami. Kula suwun kaleburna ing dinten Riyadi punika. Lan ingkang wayah nyuwun berkah saha pangestu” (Sumber data : Prosa Lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag halaman 71, data tuturan NRPP 71)
Konteks tuturan : Penutur dan mitra tutur terlibat dalam sebuah percakapan. Tuturan diucapkan oleh Pariyem yang menceritakan pada Mas Paiman tentang cara Kang Kliwon ketika ia sungkem dihadapan orang tua.
Data tuturan (3) merupakan bentuk tindak tutur representatif yang digunakan untuk memberitahukan sesuatu hal. Penutur memberitahukan identitas dirinya namun ia lupa akan tanggal lahirnya sehingga ia meminta maaf pada mitra tuturnya seperti yang ditunjukkan unsur intralingual melalui penggunaan frasa “nuwun sewu”. Kata ini memiliki nilai rasa sopan karena digunakan untuk meminta maaf karena penutur merasa bersalah tidak dapat mengenalkan identitas dirinya secara utuh, hal ini sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa frasa “nuwun sewu” digunakan agar tidak menyinggung mitra tutur. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tuturan (3) mengandung nilai rasa sopan. Nilai rasa sopan diperkuat dengan unsur ekstralingual yang berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dapat dilihat dari fenomena praanggapan bahwa Mas Paiman belum mengetahui identitas diri Pariyem dan konteks situasi
komunikasi yang berupa suasana percakapan yang santai, sehingga dalam suasana yang demikian Pariyem dapat leluasa berbicara untuk mengenalkan dirinya pada Mas Paiman. Tuturan (3) dirasa santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa yang menggunakan pilihan kata yang mencerminkan kesantunan, hal ini dapat dilihat dari penggunaan frasa “nuwun sewu” yang diperkirakan penutur tuturannya dapat menyinggung perasaan mitra tuturnya. Hal ini sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo (2009:23) yakni kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi seharusnya mencerminkan “aura kesantunan”.
Data tuturan (4) merupakan bentuk representatif yang berfungsi untuk memberitahukan diri majikan Pariyem yakni nDoro Kanjeng. Tuturan yang digunakan oleh Pariyem untuk memberitahukan diri majikannya mengandung nilai rasa sopan seperti yang ditunjukkan unsur intralingual melalui penggunaan diksi “priyayinya”. Kata “priyayi”merupakan bentuk krama inggil dari kata “orang” sehingga penggunaan kata ini jauh lebih sopan dibandingkan dengan kata yang lain. Penggunaan diksi ini memperlihatkan Pariyem sangat menghormati majikannya sehingga ia menggunakan kata tersebut untuk menyebut diri nDoro Kanjeng, sehingga dapat dikatakan bahwa tuturan (4) mengandung nilai rasa sopan. Nilai rasa sopan diperkuat dengan unsur ekstralingual yang berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dapat dilihat dari fenomena praanggapan bahwa Mas Paiman belum mengetahui pribadi tentang majikan Pariyem dan konteks situasi komunikasi yang berupa situasi percakapan yang santai
membuat Pariyem nyaman sehingga ia merasa leluasa untuk menceritakan tentang diri nDoro Kanjeng pada Mas Paiman. Tuturan (4) dirasa santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa yang menggunakan pilihan kata yang mencerminkan kesantunan, hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata “priyayi” yang digunakan untuk orang yang lebih dihormati. Hal ini sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo (2009:23) yakni kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi seharusnya mencerminkan “aura kesantunan”.
Selanjutnya, data tuturan (5) merupakan bentuk representatif yang digunakan untuk menceritakan sesuatu hal. Penutur menceritakan saat Kang Kliwon meminta maaf pada orang yang lebih tua unsur intralingual melalui penggunaan kalimat “Kula sowan wonten ing ngarsanipun mbah putri.”, “Sepisan : nyaosaken sembah pangabekti mugi katur ing ngarsanipun simbah.”, “Ongko kalih : mbok bilih wonten klenta-klentuning atur kula saklimah tuwin lampah kula satindak.”, “Ingkang kula jarag lan mboten kula jarag ingkang mboten ndadosaken sarjuning penggalih.”, “Mugi simbah kersa maringi gunging samodra pangaksami.”, “Kula suwun kaleburna ing dinten Riyadi punika.”, “Lan ingkang wayah nyuwun berkah saha pangestu”. Penggunaan wacana ini memperlihatkan bahwa Kang Kliwon masih menghormati orang tua dengan berkata menggunakan bahasa Jawa krama inggil dan berkelakuan sopan di hadapan orang tua seperti yang diceritakan oleh Pariyem. Sehingga dapat dikatakan bahwa tuturan (5) mengandung nilai rasa sopan.
Nilai rasa sopan diperkuat dengan unsur ekstralingual yang berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dapat dilihat dari fenomena praanggapan bahwa Mas Paiman belum mengetahui cara Kang Kliwon meminta maaf pada orang yang lebih tua dan konteks situasi komunikasi yang berupa situasi percakapan yang nyaman membuat Pariyem mengingat saat Kang Kliwon meminta maaf pada orang yan lebih tua sehingga ia dapat bercerita dengan bebas pada Mas Paiman. Tuturan (5) dianggap santun karena menggunakan bahasa krama inggil yang memperlihatkan ia sangat menghormati orang tua dan didukung gerakan tubuh yang memperlihatkan ia berlaku sopan di hadapan orang yang lebih tua. Hal ini sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo (2009:23) yakni kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi seharusnya mencerminkan “aura kesantunan”.
Berdasarkan ketiga contoh tuturan yang mengandung nilai rasa sopan, dapat disimpulkan bahwa nilai rasa sopan muncul pada penggunaan pilihan kata, frasa maupun kalimat yang mencerminkan kesopanan didalamnya. Sebagai orang Jawa, Pariyem tidak meninggalkan unggah-ungguh dan tatakrama ketika berbicara atau membicarakan orang yang lebih dihormati. Seperti yang terdapat pada data tuturan (3) dan (4) Pariyem menggunakan kata “nuwun sewu” dan “priyayinya”, hal ini dapat memperlihatkan nilai kesopanan dari penutur ketika berbicara. Penggunaan kosakata Jawa memang dapat memperlihatkan seseorang menghormati orang lain atau tidak, sebab dalam bahasa Jawa terdapat
tingkatan berbahasa yakni ngoko (digunakan untuk orang yang sebaya), krama (digunakan untuk orang yang dihormati), dan krama inggil (penggunaan bahasa yang lebih halus, tingkatnya lebih tinggi dari krama).