BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kerangka Teori
2.2.5 Pragmatik
Pragmatik sebagai salah satu bidang ilmu linguistik, mengkhususkan pengkajian pada hubungan antara bahasa dan konteks tuturan. Kajian ini menempatkan bahasa dalam pemakaiannya atau pemakaian bahasa dalam konteksnya. Pragmatik adalah suatu studi yang mempelajari tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Menurut Yule (2006:5) pragmatik ialah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk-bentuk-bentuk itu. Studi mengenai pragmatik tidak terlepas dari bagaimana cara orang saling memahami satu sama lain secara linguistik tetapi kita juga harus memahami orang lain dan apa yang ada dalam pikirannya. Cruse (dalam Cumming, 2007:2) mendefinisikan pragmatik sebagi berikut :
“Pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek informasi (dalam pengertian yang paling luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun yang (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut [penekanan ditambahkan].”
Sejalan dengan dua pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pragmatik berkaitan dengan informasi yang melalui bentuk-bentuk linguistik oleh penuturnya. Penggunaan bentuk linguistiknya pun dapat berbeda-beda, ada yang penggunaannya secara konvensi yang telah diterima masyarakat umum maupun makna yang dikodekan sesuai dengan konteks pembicaraan.
Ruang lingkup pragmatik untuk memahami konteks tuturan dapat dilihat dari berbagai aspek (Cummings, 2007:8-42), diantaranya tindak tutur, praanggapan, implikatur, deiksis, yang akan dijabarkan di bawah ini :
a. Tindak tutur
Tindakan-tindakan yang ditampilkan melalui tuturan disebut dengan tindak tutur (Yule,2006:82). Istilah-istilah deskriptif untuk tindak tutur yang berlainan digunakan untuk maksud komunikatif penutur dalam menghasilkan tuturan. Searle (dalam Schiffrin, 2007:70) menyatakan tindak tutur ialah unit dasar dari komunikasi. Tindak tutur ialah peristiwa tutur yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tuturnya. J.L Austin (dalam Nababan, 1987:18) menyatakan tiga hal yang terdapat dalam tindak tutur, yaitu :
(1) Tindak lokusi (locutionary act)
Adalah tindak tutur yang mengaitkan suatu topik dengan sesuatu keterangan dalam suatu ungkapan. Memandang suatu kalimat/ ujaran sebagai suatu “proposisi” yang terdiri dari subjek/topik dan predikat/komentar.
Pengucapan apa yang dirasakan atau dipikirkan yang diwujudkan dalam ungkapan. Memandang suatu kalimat atau ujaran sebagai tindakan bahasa, seperti : menyuruh, memanggil, menyatakan persetujuan, dan sebagainya.
(3) Tindak perlokusi
Efek atau apa yang dihasilkan dari kalimat/ujaran pada pendengar atas ujaran itu sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan ujaran tersebut. Dalam suatu tuturan mengandung setidaknya 3 tindakan yang saling berhubungan (Yule, 2006:83) yaitu : tindak lokusi yaitu tindakan dasar tuturan yang menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna, tindak ilokusi merupakan bentuk tuturan dengan beberapa fungsi, penekanan ilokusi terdapat pada komunikatif suatu tuturan. Tindak perlokusi adalah akibat apa yang ditimbulkan dari ujaran itu. Menurut Yule, ada lima fungsi tindak tutur yaitu :
1) Deklaratif
Berfungsi untuk menyatakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Misalnya pernyataan setuju atau menyetujui : Saya nyatakan sidang kali ini ditutup.
2) Representatif
Tindak tutur yang dipakai untuk menjelaskan, menyatakan, memberitahukan, menolak, dan sebagainya. Misalnya : Saya tidak mau menuruti perintahmu !
Tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan perasaan dan sikap penutur. Mencerminkan pernyataan kegembiraan, kesedihan, kebencian, kesenangan, dan sebagainya. Misalnya :Selamat ulang tahun !
4) Direktif
Tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu. Tindak tutur ini berupa perintah, permohonan, pemesanan, dll. Misalnya :Buatkan aku kopi pahit !
5) Komisif
Tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan kesanggupan atau kesediaan penutur. Tindak ini dapat berupa berjanji, bernasar, bersumpah, mengancam, dll. Misalnya : Aku berjanji akan membelikan boneka itu.
b. Praanggapan
Ruang lingkup pragmatik untuk memahami konteks tuturan dapat dilihat dari berbagai aspek (Cummings, 2007:42), salah satunya praanggapan.
Praanggapan ialah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu. Tidak semua inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu merupakan praanggapan yang tepat terhadap suatu ujaran. Praanggapan ialah sikap penutur yang menganggap bahwa mitra tutur telah mengetahui apa yang dibicarakan oleh penutur. Karena informasi tertentu dianggap sudah diketahui maka informasi itu tidak akan dikatakan tetapi tetap menjadi bagian dari apa yang disampaikan. Menurut Yule (2006:46-51) jenis praanggapan dibedakan menjadi beberapa yaitu : praanggapan potensial,
praanggapan leksikal, praanggapan struktural, praanggapan faktif, praanggapan non-faktif, praanggapan counter-factual.
c. Implikatur
Implikatur adalah efek yang ditimbulkan melalui ujaran, jadi penutur tidak bermaksud menyebabkan efek tertentu melalui penggunaan ujarannya. Efek hanya dapat dicapai dengan tepat apabila maksud untuk menghasilkan efek diketahui oleh pendengarnya. Menurut Yule (2006:61) implikatur adalah informasi tambahan yang tentunya lebih banyak memiliki makna daripada sekedar kata-kata. Makna ini merupakan makna tambahan yang disampaikan melalui ujaran.
Dengan kata lain, implikatur adalah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dari yang diucapkan. Maksud pembicaraan terdapat di balik tuturan, maksud implikatur merujuk pada bukan makna. Makna akan selalu berada dalam tuturan tetapi maksud itu dibawa oleh penutur bukan terdapat dalam tuturan. Apabila dalam sebuah kalimat memiliki maksud dan makna yang sama maka kalimat itu tidak mengandung implikatur. Namun semua itu tergantung pada konteks pembicaraannya.
Jenis-jenis implikatur : 1) Implikatur Konvensional
Implikatur yang maksud yang ingin disampaikan penutur sudah dimengerti oleh mitra tutur. Misalnya :Maaf Pak, saya mau minta ijin ke belakang. 2) Implikatur Conversation (Percakapan)
Implikatur yang hanya dapat dipahami oleh orang yang terlibat dalam percakapan itu.
Implikatur umum, tidak memerlukan pengetahuan khusus untuk memahami maksudnya.
Implikatur khusus, diperlukan pengetahuan yang khusus untuk menangkap maksud penutur.
Implikatur berskala, implikatur yang diambil dari daftar skala. d. Deiksis
Deiksis ialah kata, frase, atau ungkapan yang referensinya dapat berubah atau berganti-ganti. Istilah deiksis mengacu pada ungkapan dari kategori gramatikal yang memiliki keragaman sama banyaknya dengan kata ganti dan kata kerja yang menerangkan berbagai entitas dalam konteks sosial, linguistik atau ruang dan waktu ujaran yang lebih luas.
George Yule dalam bukunya Pragmatik (2006:13) mengatakan deiksis berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penunjukan” melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyatakan penunjukan disebut ungkapan deiksis, ungkapan-ungkapan deiksis disebut juga dengan indeksikal. Deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan konteks penutur, yang dibedakan secara mendasar antara ungkapan-ungkapan deiksis yang “dekat” dan “jauh” dari penutur. Istilah “dekat penutur” disebut dengan proksimal, misalnya : ini, di sini, sekarang. Sebaliknya istilah “jauh dari penutur” disebut dengan distal, misalnya itu, di sana, pada saat itu, dan sebagainya. Bentuk deiksis menurut Yule dapat diperinci lagi menjadi deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu. Berbeda dengan yang diutarakan oleh Nababan, beliau membagi deiksis menjadi 5 jenis, yakni deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis sosial, dan deiksis wacana.
1) Deiksis Persona
Menurut Yule, deiksis persona dengan jelas menerapkan 3 pembagian dasar, yaitu :
a) Kata ganti orang pertama, yaitu rujukan pembicara pada dirinya sendiri (saya, kami).
b) Kata ganti orang kedua, yaitu rujukan pembicara kepada seseorang atau lebih (kamu, anda).
c) Kata ganti orang ketiga, rujukan pembicara kepada orang atau benda yang bukan pembicara ataupun pendengar ( dia, mereka). Dalam istilah deiksis, orang ketiga ialah orang yang bukan terkait secara langsung dalam pembicaraan.
Kategori deiksis penutur, kategori deiksis lawan tutur, dan kategori deiksis lainnya diuraikan panjang lebar dengan tanda status sosial kekerabatan. Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan status lebih tinggi dideskripsikan sebagai honorifics (bentuk yang digunakan untuk mengungkapkan penghormatan).
2) Deiksis Tempat
Deiksis tempat yaitu tempat hubungan antara orang dan bendanya ditunjukkan. Misalnya : di sini, di situ , di sana (Yule,2006:19). Sejalan dengan pendapat Yule, Nababan (1987:41), deiksis tempat yaitu pemberian bentuk pada lokasi ruang dipandang dari lokasi orang atau pemeran dalam peristiwa bahasa itu. Deiksis tempat dibagi menjadi 3, yaitu :
b) Yang bukan dekat dengan pembicara dan dekat dengan pendengar, misalnya:di situ
c) Yang bukan dengan pembicara maupun pendengar, misalnya:di sana 3) Deiksis Waktu
Deiksis waktu adalah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan oleh penutur di dalam peristiwa bahasa. Dalam hal ini, deiksis atau rujukan waktu diungkapkan dalam bentuk “kala” (tense) (Nababan,1987:41).
Contoh :
Pekan inisaya sedang berada di Yogyakarta. Dulusaya pernah tinggal di rumah itu.
Semua pemahaman ungkapan deiksis waktu (temporal) sangat tergantung pada pemahaman seseorang tentang pengetahuan waktu tuturan yang relevan. Waktu yang menunjukkan keadaan sekarang disebut dengan bentuk proksimal, sedangkan waktu yang lampau adalah bentuk distal (Yule, 2006:22).
4) Deiksis sosial
Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan status kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial di masyarakat antara pembicara dan pendengar diwujudkan dalam sistem morfologi tertentu yang sering disebut dengan tingkatan bahasa. Misalnya dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan bahasa atau pembagian bahasa, penggunaan kata mangan-nedha-dhahar akan berbeda-beda walaupun memiliki kesamaan arti “makan”.
Aspek bahasa seperti ini disebut dengan kesopanan berbahasa atau etiket berbahasa. Sistem penggunaan bahasa seperti ini yang mendasari sopan santun berbahasa atau honorifics.
5) Deiksis wacana
Deiksis wacana ini merujuk pada bagian-bagian tertentu yang terdapat dalam wacana yang telah ada atau yang sedang dikembangkan. Deiksis ini mencakup anafora dan katafora. Bentuk yang digunakan untuk menyatakan deiksis ini ialah ini, itu berikut ini, begitulah, dan sebagainya. Ditinjau dari segi referennya, deiksis terdiri dari :
a) Deiksis Eksofora
Deiksis eksofora adalah deiksis yang memiliki acuan atau referen di luar tuturan itu sendiri.
b) Deiksis Endofora
Deiksis endofora ialah deiksis yang memiliki acuan atau referen di dalam tuturan itu sendiri. Deiksis ini dibagi menjadi dua, yaitu :
Anafora : merujuk pada apa yang telah disebutkan sebelumnya. Misalnya : Vina gemar bermain basket. Ia sering berlatih di lapangan basket sepulang sekolah.
Katafora : merujuk pada yang akan disebutkan. Misalnya: Syarat-syarat untuk mengambil dana bantuan ialah sebagai berikut :