BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kerangka Teori
2.2.4 Unsur Ekstralingual
Unsur ekstralingual merupakan suatu unsur yang berada dalam luar bahasa atau di luar unsur internal, misalnya gerakan anggota tubuh, cara berbicara, sikap sinis, lirikan mata, peristiwa lain, dan tuturan katanya (implikatur). Unsur ekstralingual dapat berupa konteks tuturan yang selalu menyertai tuturan dan konteks situasi komunikasi (Pranowo, 2009:97-98).
Aspek non kebahasaan yang lainnya ialah konteks situasi komunikasi. Konteks situasi komunikasi ialah segala keadaan yang melingkupi terjadinya komunikasi. Hal ini dapat berhubungan dengan tempat, waktu, kondisi psikologis penutur, respons lingkungan terhadap tuturan, dan sebagainya. Konteks situasi
komunikasi dapat mempengaruhi tingkat kesantunan pemakaian bahasa. Sebab, konteks situasi komunikasi yang melingkupi terjadinya berbagai peristiwa dapat memancing emosi penutur sehingga tuturannya terkesan keras dan tidak santun.
Bahasa dan konteks merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain, bahasa membutuhkan suatu konteks tertentu dalam pemakaiannya begitu pula sebaliknya konteks akan bermakna apabila terdapat tindak bahasa di dalamnya. Konteks merupakanbackground knowledge assumed to be shared by s and h and which contributes to h‟s interpretation of what s means by a given utterance (latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur maupun lawan tutur sehingga lawan tutur dapat membuat interpretasi mengenai apa yang dimaksud oleh penutur pada waktu membuat tuturan tertentu (s berarti speaker : penutur ; h berarti hearer: lawan tutur) (Leech, 1983: 13). Konteks lebih sulit dibedakan dari teks, informasi kontekstual ialah informasi yang diidentifikasi dalam hubungannya satu dengan yang lainnya. Isi komunikasi dalam suatu tuturan dapat diperoleh melalui kombinasi makna linguistik dan konteks sehingga pesan yang ada dalam teks dapat dipahami.
Schiffrin dalam bukunya Ancangan Kajian Wacana (2007:549) banyak berpendapat bahwa konteks dalam pembicaraan ialah “pengetahuan” dan “situasi” dalam suatu tuturan. Konteks ialah situasi tutur atau latar terjadi suatu peristiwa komunikasi, dapat dianggap bahwa konteks sebagai sebab dan alasan terjadinya pembicaraan (Mulyana, 2005: 10).
Jadi konteks adalah latar belakang pengetahuan (informasi lain yang tidak terdapat dalam teks) dan situasi dalam pembicaraan yang dapat mendukung atau
menambah kejelasan makna sehingga memudahkan kita untuk memahami makna. Pemberian konteks dalam suatu teks akan memudahkan orang untuk dapat memahami makna.
Menurut Pateda (2004: 228-229) konteks adalah situasi yang terbentuk oleh karena adanya setting, kegiatan dan relasi. Interaksi atau tindak bahasa didasarkan pada ketiga komponen tersebut. Ketiganya diuraikan sebagai berikut : a. Setting meliputi waktu dan tempat situasi itu terjadi, yang termasuk unsur setting yaitu : unsur-unsur material yang ada di sekitar interaksi berbahasa, tempat (tata letak dan tata atur barang dan orang) dan waktu (tata runtun atau pengatursn urutan waktu dalam peristiwa interaksi berbahasa.
b. Kegiatan merupakan semua tingkah laku yang terjadi dalam interaksi berbahasa.
c. Relasi meliputi hubungan antara penutur dan mitra tutur. Hubungan ini meliputi : jenis kelamin, umur, kedudukan (status, peran, prestasi, prestise), hubungan kekeluargaan, hubungan kedinasan.
Konteks baru muncul jika terjadi interaksi berbahasa yang sesuai dengan setting, kegiatan dan relasi.
Konteks menurut Supardo (1988: 48-50) dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni konteks bahasa (konteks linguistik atau konteks kode) dan konteks nonbahasa (konteks nonlingustik) :
a. Konteks bahasa (konteks linguistik atau konteks kode), konteks ini berupa unsur yang secara langsung membentuk struktur lahir, yakni kata, kalimat, dan bangun ujaran atau teks.
b. Konteks nonbahasa (konteks nonlingustik), diklasifikasikan menjadi tiga, yakni sebagai berikut.
(1) Konteks dialektal yang meliputi usia, jenis kelamin, daerah (regional), dan spesialisasi. Spesialisasi adalah identitas seseorang atau sekelompok orang dan menunjuk profesi orang yang bersangkutan.
(2) Konteks diatipik mencakup setting, yakni konteks yang berupa tempat, jarak interaksi, topik pembicaraan, dan fungsi. Setting meliputi waktu, tempat, panjang, dan besarnya interaksi.
(3) Konteks realisasi merupakan cara dan saluran yang digunakan orang untuk menyampaikan pesannya.
Bahasa nonverbal merupakan salah satu unsur ekstralingual. Bahasa nonverbal (unsur ekstralingual) juga tidak kalah penting dalam berkomunikasi. Peran bahasa nonverbal akan nampak pada penggunaan bahasa lisan dalam berkomunikasi. Bahasa nonverbal dapat berupa gesture yaitu gerakan tubuh atau bagian tubuh yang berfungsi penting dalam berkomunikasi. Gesture dapat berupa berupa kinestetik, kontak mata dan kinestetik sedangkan bahasa verbal dapat berupa proksemik, artefak, maupun olfaktori (Brown,2004). Pranowo (2012:3) menyatakan bahwa bahasa non-verbal ialah bahasa yang diungkapkan dalam bentuk mimik, gerak-gerik tubuh, sikap atau perilaku.
Pada dasarnya komunikasi ialah jalan yang menghubungkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Tidak hanya melalui kata-kata namun lewat diam atau gerakan tubuh yang lain itu adalah bentuk komunikasi pula. Diam adalah salah satu bentuk komunikasi antarpribadi, ketika kita berdiam diri maka kita telah melakukan komunikasi non-verbal. Komunikasi non-verbal seringkali digunakan untuk menggambarkan perasaan atau emosi seseorang. Apabila suatu pesan tidak menunjukkan kekuatan pesan maka kita dapat menggunakan tanda-tanda non-verbal sebagai pendukungnya. Komunikasi non-non-verbal disebut juga komunikasi tanpa kata karena tidak berkata-kata dalam berkomunikasi hanya menggunakan gerakan tubuh atau anggota tubuh bahkan tanpa suara (berdiam diri) (Liliweri, 1994:89). Komunikasi tidak hanya sekedar mengalihkan pesan dari pembicara ke pendengar, namun dukungan tanda non-verbal dapat melengkapi kekurangan dari komunikasi verbal. Knapp (dalam Liliweri, 1994:103-105) membedakan antara komunikasi verbal dan non-verbal sebagai berikut :
a. Komunikasi verbal mempunyai ciri yang terpisah-pisah sedangkan komunikasi verbal selalu berkesinambungan. Dalam komunikasi non-verbal seseorang tidak dpat menghentikan gerakan anggota tubuh atas perintah tanda baca, namun dalam komunikasi verbal kita berhenti membaca atas perintah tanda-tanda baca (koma, titik, tanda tanya, tanda seru, dsb). b. Komunikasi verbal merupakan saluran tunggal sedangkan komunikasi
non-verbal bersaluran banyak. Seringkali komunikasi non-non-verbal memberikan tekanan tertentu pada komunikasi verbal. Komunikasi non-verbal lebih
banyak variasinya dibandingkan komunikasi verbal maka dari itulah disebut sebagai saluran banyak.
c. Komunikasi verbal selalu di bawah pengawasan (kontrol) setiap manusia secara sadar maupun sukarela, sedangkan komunikasi non-verbal tidak dapat diawasi dengan baik apalagi sempurna. Sebagian besar komunikasi non-verbal terjadi secara otomatis di setiap situasi.