BAB III PROFIL PENGARANG DAN HASIL ANALISIS
E. Analisis Nilai Moral Tokoh dengan Pendekatan Pragmatik
1. Nilai Moral terhadap Diri Sendiri
a. Menerima segala apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan
Nilai moral terkait dengan sikap menerima segala apa yang sudah ditakdirkan Tuhan tergambar melalui tokoh dari ayah ketiga anak alam yang memiliki sifat nrimo. Hal ini sesuai dengan karakter asli orang Semarang, Jawa Tengah. Semarang adalah bagian dari Jawa Tengah. Di kalangan masyarakat, tercipta stereotip tentang perangai orang Jawa yang begitu halus, sopan dan pasrah menjalani hidup atau nrimo. Karakter dari ayah ketiga anak alam yang nrimo,menerima keadaan begitu saja terlihat dari pekerjaan mereka sebagai budak dari Yok Bek. Mereka tidak mau berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, dan mereka tidak ingin mencari masalah dengan Yok Bek jika mereka berhenti bekerja, maka dari itu mereka pasrah dengan pekerjaan yang mereka miliki.
...Anehnya, ditindas sedemikian rupa seperti sapi perah yang kerap mereka kerjai setiap hari, mereka sama sekali tak pernah memberontak, mereka bahkan sudah tak terpikir untuk mencari pekerjaan lain selain pekerjaannya sekarang.88
87
92
Dari kutipan di atas, jelas terlihat bahwa karakter ayah ketiga anak alam itu benar-benar pasrah dengan keadaan, tidak terbesit dalam pikiran mereka untuk mencari pekerjaan yang lebih baik walaupun mereka ditindas. Mereka menyadari akan kemampuan mereka sehingga mereka tidak memaksakan kehendak untuk meraih sesuatu yang tidak mungkin diraihnya. Ketika semua orang berusaha mencari pekerjaan yang lebih layak untuk dirinya dan keluarganya, mereka justru tak berniat sedikitpun untuk mengubah hidup mereka.
Demikianlah profil mengenai orang Semarang dengan karakter nrimo.
Bersinggungan dengan sikap nrimo,maka masyarakat semarang lebih terlihat bahagia dan seolah tidak memiliki beban sekalipun mereka mengalami perekonomian yang sulit. Seperti yang tergambar dalam novel melalui tokoh Pambudi, Yudi dan Pepeng, walaupun status ekonomi mereka rendah sehingga mengakibatkan mereka tidak bersekolah dan mereka sendiri yang harus bekerja membantu
perekonomian keluarga, namun mereka tetap terlihat bahagia layaknya seorang anak yang menikmati masa kecilnya dan tidak menjadikan kemiskinan sebagai beban. Perhatikanlah kutipan berikut:
Sesampai di sana, aku melihat teman-teman tak membawa perbekalan lengkap seperti itu, mereka tak punya barang-barang bawaan seperti punyaku, mereka tak punya tas karena tidak sekolah, tak punya jaket karena tak punya uang untuk membeli jaket, bahkan ketika musim hujan tiba, mereka justru hujan-hujanan keliling Kampung Genteng dengan meneror orang-orang kampung dengan candaan mereka yang kelewat batas, berteriak-teriak seperti orang gila, berada di bawah kerpus rumah yang airnya terus mengalir ke bawah, mereka bayangkan diri merekaberadadibawahairterjun.89
Dari kutipan di atas, dapat terlihat bagaimana ketiga anak alam itu begitu bahagia menjalani kehidupan dan sangat menikmati masa kecilnya seolah mereka tidak memiliki beban khususnya masalah
93
ekonomi yang sangat jauh dari kata berkecukupan. Namun, sangat berbeda dengan Faisal, ia berasal dari keluarga yang berkecukupan dan anak rumahan yang justru tidak menemukan masa kecilnya seperti ketiga temannya tersebut.
b.Pekerja keras atau giat bekerja
Walaupun masyarakat Jawa, khususnya warga Semarang memiliki sifat nrimoterhadap keadaan, namun ternyata masyarakat Jawa atau warga Semarang khususnya terkenal dengan sifatnya yang pekerja keras. Jika mereka telah memiliki pekerjaan maka mereka akan tekun dan giat dengan pekerjaan yang digelutinya, walaupun pekerjaan mereka masih relatif rendah dibanding kota besar lainnya seperti Jakarta. Seperti yang dialami ayah dari Pambudi, Yudi dan Pepeng, ayah ketiga anak alam itu hanya bekerja sebagai peternak sapi pada seorang warga berkebangsaan Cina bernama Yok Bek, namun mereka giat bekerja dan patuh pada majikannya.
Sepagi itu, mereka telah melakoni hidup dengan susah payah, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, tetapi mereka sama sekali tak mengeluh dengan nasib mereka yang selaludibawah.90
Sikap tersebut melahirkan prinsip nrima ing pandum yakni menerima segala yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Namun demikian, tidak berarti nrima ing pandumini diisi dengan bermalas-malasan, tanpa mau berusaha. Hal itu dibuktikan dengan ketekunan dan kesungguhan mereka dalam bekerja. Sikap pekerja keras yang dimiliki masyarakat Jawa telah melekat dan menjadi prinsip hidup mereka. Walaupun sikap nrimosering disalahartikan oleh kebanyakan orang yang menganggap hanya bermalas-malasan, namun masyarakat Jawa menyeimbangkan persepsi tersebut dengan bekerja keras, karena
94
sikap pekerja keras tersebut merupakan salah satu prinsip dari masyarakat Jawa.
c. Jujur dan Urip Samadya
Masyarakat Jawa dapat mengukur sejauh mana kemampuan yang mereka miliki dan tidak memaksakan kehendak, istilah tersebut dikenal dengan istilah urip samadya.Sikap urip samadyamenjauhkan seseorang dari perbuatan yang menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan yang diinginkannya. Hal tersebut merupakan sebuah
prinsip yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Jawa.
Berdampingan dengan sikap jujur sebagai etika yang harus dipegang teguh, hal tersebut tercermin dalam ungkapan Jawa jujur bakal mujur
yang berarti orang jujur akan beruntung. Masyarakat Jawa memiliki keyakinan yang kuat bahwa siapa saja yang bersikap jujur maka ia akan memperoleh keberuntungan. Maka dari itu, banyak dari masyarakat Jawa yang menerapkan prinsip tersebut karena mereka ingin mendapatkan keberuntungan dalam hidup.
Pengarang novel OMDSini banyak sekali menerapkan prinsip Jawa dalam kepribadian masing-masing tokoh. Salah satu tokoh yang memegang prinsip urip samdadya dan jujur ini bisa dilihat dari penokohan Bu Mutia, seorang guru yang sangat jujur dan menjauhkan diri dari perbuatan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan. Hal tersebut tergambar ketika salah satu wali murid
mengeluarkan uang suap agar anaknya naik kelas, namun ia menolaknya demi prinsip yang ia pegang teguh.
―Apa tidak ada toleransi sedikitpun…?‖ kata perempuan itu sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan
beberapa lembar uang kertas lima puluh ribuan, disorongkan pelan-pelan ke arah Bu Mutia, tanpa
diketahuiolehorangtuamuridyanglain.91
95
Prinsip tersebut jika tidak dilandasi sikap ikhlas maka akan melahirkan sikap pamrih. Tokoh bu Mutia dalam cerita mencoba memegang teguh janjinya sebagai guru untuk tidak melakukan praktek suap seperti terlihat dalam kutipan. Sikap jujur dan tidak mencoba menghalalkan segala cara untuk
kepentingan pribadi tersebut sepantasnya dijadikan contoh untuk masyarakat saat ini. Namun, pada kenyataannya masih banyak sekali saat ini yang memakmurkan praktek tersebut.
d. Sepi ing pamrih, rame ing gawe
SikapdasardarimayarakatJawamenandaiwatakyangluhur adalah kebebasan dari pamrih, sepi ing pamrih. Manusia telah memiliki sikap sepi ing pamrihapabila mereka sebagai manusia telah memegang teguh prinsip tepa slira, yakni sikap toleransi dan peduli terhadap sesama. Manusia itu sepi ing pamrihapabila ia tidak lagi perlu gelisah terhadap dirinya sendiri, dengan arti lain bahwa ia mampu mengontrol hawa nafsu terhadap sesuatu dan ingin memilikinya dengan sikap pamrih tersebut. Masyarakat Jawa memegang teguh prinsip tersebut bahwa dalam melakukan apapun harus dilandasi rasa ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sekalipun mereka seorang pekerja keras namun mereka ikhlas, maka lahirlah prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe. Seperti tergambar melalui tokoh Faisal, sekalipun ia sebagai tenaga pengajar pembantu di kampungnya, namun ia tidak mengharapkan imbalan apapun karena ia memiliki jiwa toleransi yang tinggi.
EmpatorangpanitiadariDinasmenyalamikusambiltangannya menempelkan sepucuk amplop. Naluriku mengatakan isinya uang, dan aku mencoba menolaknya. Bagaimanapun juga pahala lebih berarti daripada sekadar uang. Aku tak mau niat tulusku dilumuri oleh pujian manusia yang berupa materi ataupun ucapansanjungan.92
96
Sikap Sepi ing pamrihakan telah dilandasi rasa ikhlas, sehingga sikap tersebut akan melahirkan jiwa sosial yang sangat tinggi baik terhadap orang lain mapun terhadap lingkungan sekitar. Melalui tokoh Faisal tersebut, jelas terlihat ketika Faisal berusaha menolak amplop tersebut yang sudah dipastika isinya adalah uang. Namun, Faisal sangat ikhlas membantu mengajar tanpa mengharapkan apapun. Prinsip masyarakat Jawa tersebut tercermin melalui tokoh Faisal. Apabila seseorang telah memegang tegug prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawemaka orang tersebut tidak lagi mengejar
kepentingan-kepentingan individualnya tanpa memperhatikan keselarasan
keseluruhan. Ia telah berada di tempat yang tepat dalam kosmos. Sikap tersebut muncul tidak lain hanyalah sebagai wujud memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai sesama manusia.