TRADISI 10 MUHARRAM DI PARIAMAN A.Asal Usul Tradisi 10 Muharram
C. Nilai-nilai yang Terkandung dalam Tradisi 10 Muharram
Perayaan tradisi 10 Muharram merupakan bentuk dari kebudayaan
yang berkaitan dengan berbagai nilai-nilai yang mempunyai arti yang
penting bagi setiap kehidupan masyrakatnya. Dimaksud dengan arti penting
di sini melalui perayaan tradisi 10 Muharram ini dapat diperkenalkan
nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Tradisi 10 Muharram
merupakan tadisi dari masyrakat Pariaman, namun tradisi ini bukan saja
penting bagi masyrakat setempat melainkan juga penting bagi masyrakat
lainnya. Dalam pelaksanaan tradisi 10 Muharram pesan-pesan serta
47
Imran. Panitia perayayaan tradisi 10 Muharram. Wawancara pribadi. Pariaman, 8 April 2014 jam 14.00 WIB
48
Yusrizal. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman. Wawancara pribadi. Pariaman , 8 Maret 2014 jam 10.30 WIB
nilai budaya yang patut dijadikan pedoman bagi masyarakat, karena semua
aktivitas mmasyrakat tidak terlepas dari budaya yang dimilikinya.
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah sesuatu yang
memepengaruhi pengetahuan dan juga sistem idea atau gagasan yang ada
dalam pikiran manusia dalam kehidupan yang dilakukan secara turun
temurun.49Dilihat dari defenisi dari Koentjaraningrat tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwasannya kebudayaan itu memiliki beberapa bentuk.
Diantaranya kebudayaan sebagai suatu komplek aktivitas prilaku dari
manusia dalam suatu masyrakat. Kebudayaan sebagai ide-ide, norma,
peraturan yang harus dipatuhi dalam kehidupan bermasyrakat. Kebudayaan
sebagai benda-benda hasil karya dari manusia.50
Hasil pemaparan di atas nilai-nilai kebudayaan murupakan nilai yang
tertinggi dari adat istiadat. Hal ini dikarenakan nilai-nilai kebudayaan
merupakan suatu mengenai hal yang hidup dalam pikiran manusia, sesuatu
yang dianggap mempunyai nilai yang sangat berharga dalam kehidupan,
sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bermasyrakat. Demikian
juga dengan tradisi 10 Muharram mengandung nilai-nilai yang sangat
penting bagi masyrakat Pariaman. Adapun nilai-nilai yang dapat diambil
dalam tradisi 10 Muharram adalah nilai sejarah, nilai seni, nilai sosial dan
nilai agama.
Sebagaimana yang kita ketahui sejarah merupakan suatu kejadian
yang terjadi pada masa lampau yang tidak boleh kita lupakan, karena masa
49
Koentjaningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta : djambatan, 1982), h. 9.
50
Koentjaningrat. Kebudayaan Melintas dan Pembangunan. (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h 5
lampau sangat erat kaitannya dengan masa sekarang maksudnya, tampa
adanya sejarah kita tidak aka nada pada masa sekarang. Dalam tradi 10
Muharram nilai sejarah yang dapat diambil dari pelaksanaan tradisi 10
Muharram di Pariaman adalah tradisi ini merupakan ungkapan rasa
kecintaan terhadap keturunanan Nabi Muhammad serta untuk mengenang
wafatnya Husain bin Ali di Padang Karbela yang di bunuh oleh pasukan
Yazid bin Muawwiyah.51
Nilai seni merupakan nilai budaya khusus dalam bidang kesenian
yang berhubungan dengan seni.52Seni merupakan nilai budaya yang dapat
kita nilai dengan rasa senang melalui suara, bunyi dan bangunan. Dari hal
tersebut dapat menhasilkan seperti seni musik, seni bangunan, seni suara
dan sebagainya. Maka dalam tradisi 10 Muharram nilai seni yang dapat kita
nikmati yaitu seni musik dan seni kerajinan. Seni musik tradisonal
Mingkabau pada masa lampau terbentuk dari perpaduan bunyi dengan
peralatan yang sangat sederhana separti gendang yang terbuat dari kulit sapi
atau kambing. Setiap gendang mempunyai keindahan bunyi tersendiri.
Dalam prosesi pelaksanaan tradisi 10 Muharram di Pariaman gandang di
mainkan secara serentak sehingga menghasilkan bunyi yang sangat bagus
dan memeriahkan suasanan disekitarnya. Alat musik yang digunakan dalam
tradisi ini yaitu alat music pukul yang terdisri dari gandang dan tasa.
Pada perayaan taradisi 10 Muharram ditemukan motif-motif atau
hiasan pada setiap sisi bangunan sehingga menghasilkan seni kerajinan yang
51
Harapandi Dahri. Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu. (Jakarta : Penerbit Citra, 2009), h. 94-95.
52
Sedyawati, 1992 dalam Soimun dkk. Kajian Nilai Budaya Naskah Kuno Puspakerma.((Jakarta: Depdikbud, 1997), h. 126.
sangat indah. Antara bagian puncak tabuik dengan badan tabuik memiliki
motif dan corak yang berbeda-beda. Hiasan yang ada pada bangunan tabuik
merupakan salah satu bukti bahwasaanya masyrakat pendukung perayaan
taradisi 10 Muharram sejak dahulunya telah mengenal seni kerajinan
merancang dan sebagainya.
Nilai sosial merupakan nilai yang terdapat dalam kehidupan yang
berkaitan dengan aturan kehidupan manusia dalam bermasyrakat. Bentuk
dari nilai sosial tersebut menurut M. Jenus Melalatoa seperti tanggung
jawab, tertib, rukun, tolong menolong dan disiplin.53Nilai sosial yang dapat
diambil dalam pelaksanaan tradisi 10 Muharram di Pariaman yaitu dari
partisipasi masyrakat sekitar. Partisipasi masyarakat sekitar dari barbagai
macam hal seperti, penyumbangan dana untuk keperluan paerayaan tradisi
10 Muharram. Perayaan tradisi ini memakan dana yang cukup banyak,
namun dengan banyaknya sumbangangan dari masyrakat semua kendala
dalam pendanaan dapat diatasi. Selain itu partisipasi terlihat dalam
penyelenggaraan dan pembuatan bangunan tabuik. Tukang yang ditunjuk
sebagai pembuat tabuik akan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab
untuk dapat menyelesaikan bangunan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan. Ketepatan waktu sangat mereka jaga, karena ini menyangkut
dengan harga diri mereka masing-masing. Untuk itu mereka yang bertugas
membuat bangunan tabuik bekerja dengan sangat kompok dan saling
mempercayai sehingga pekerjaan mereka akan memebuahkan hasil yang
baik.
53
Soimun dkk. Kajian Nilai Budaya Naskah Kuno Puspakerma.((Jakarta: Depdikbud, 1997), h. 8.
Nilai agama dalam peaksanaan taradisi 10 Muharram dapat diambil
dari segi anjuran untuk membacakan doa atau mantra untuk setiap memulai
suatu pekerjaan. Dengan membaca doa atau mantra yang dipercayai akan
menjauhkan manusia dari sifat sombong yang membanggakan
kemampuannya. Hal ini menggambarkan bahwasannya manusia tidak dapat
hidup sendiri, maka dari itu dianjurkan untuk selalu berdoa agar apa yang
diinginkan dapat tercapai dengan baik.
Setelah diuraikan bagaimana bentuk-bentuk nilai-nilai yang dapat
diambil dari perayaan tardisi 10 Muharram di Pariaman banyak nilai
kebijaksanaan yang dapat dijadikan landasan kehidupan dari pelaksanan
tradisi ini. Akan tetapi, jika hal tersebut di abaikan, maka perayaan tradisi
10 Muharram akan menjadi sebuah festival budaya yang tidak mempunyai
BAB IV
Upaya Mempertahankan Perayaan Tradisi 10 Muharram