Tema, Alur, Penohkohan, Pusat Pengisahan, Latar dan Gaya
HASIL PENELITAIN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Nilai Pendidikan Novel Kubah
Dimensi peribadatan (praktIk agama) atau syariah menunjuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Dalam keberislaman, dimensi peribadatan menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an, doa, dzikir, ibadah kurban, iktikaf di masjid di bulan puasa dan sebagainya.
Dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari dimensi peribadatan sebagai nila-nilai pendidikan agama bgi masyarakat sangat tergambar jelas. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kutipan berikut. “Haji Bakir membeli seekor kambing jantan besar. Idul Qurban hampir tiba. Kambing itu berwarna hitam bersurai dan berjanggut panjang. Sepasang tanduknya sebesar lengan Karman.” (Tohari, 2000: 66)
Juga pada kutipan:
Demikian sumur masjid itu selalu ramai oleh gurau anak-anak selagi fajar merekah di timur. Hiruk-pikuk baru berakhir apabila sembahyang subuh sudah di mulai. Dan ketika jamaah yang tua-tua masih berzikir, anak-anak
51
sudah bubar berhamburan. Mereka kembali ke rumah masing-masing gurauan gembira.(Tohari, 2000: 70)
Dimensi pengamalan atau akhlak menunjuk pada seberapa tingkatan Muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Dalam keberislaman, dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menyejahterahkan dan menumbuhkembangkan oranglain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berperilaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak meminum-minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma Islam dalam perilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran Islam dan sebagainya.
Dimensi pengalaman ini pun terdapat dalam novel Kubah, yakni digambarkan dengan keadaan Karman yang seperti menemukan sesuatu yang hilang dibalik dirinya. Seperti pada kutipan berikut:
“Tetapi Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah.
Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia hanya ingin memberi jasa.
Bagaimana juga sepulang dari pengasingan ia merasa ada yang hilang pada dirinya. Ia ingin memperoleh kembali bagian yang hilang itu. Bila ia dapat memberi sebuah kubah yang bagus kepada orang-orang Pegaten, ia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!” (Tohari, 2000 : 209-210).
Ahal ini pula dapat dilihat pada:
Karman mendengar pujian-pujian itu. Rasanya dia yakin bahwa dirinya tidak berhak menerima semua pujian itu. Tetapi wajah-wajah orang Pegaten yang berhias senyum, sikap mereka yang makin ramah, membuat Karman merasa sangat bahagia. Karman sudah melihat jalan kembali menuju kebersamaan dan kesetaraan dalam pergaulan yang hingga hari-hari kemarin terasa mengucilkan dirinya. Oh, kubah yang sederhana itu! Dalam kebisuannya, mahkota masjid itu terus mengumandangkan janji akan memberikan hak asasi kepada setiap
52
manusia yang sadar kemanusiaannya. Dan Karman merasa tidak terkecuali. (Tohari, 2000 : 211)
Pada kutipan di atas digambarkan tokoh Karman yang memiliki sifat menderma. Ia membangun tanpa mengharap upah nilai rupiah se-sen pun.
Akidah sendiri pada dasarnya sudah tertanam sejak manusia ada dalam alam azali (prakelahiran). Akidah akan terpelihara dengan baik apabila perjalanan hidup seseorang diwarnai dengan penanaman tauhid secara memadai.
Sebaliknya, bila perjalanan hidup seseorang diwarnai pengingkaran terhadap apa yang telah Allah ajarkan pada zaman azali, maka ketauhidan seseorang bisa rusak. Oleh karena itu, agar akidah seseorang terpelihara, maka ia harus mendapatkan penjelasan tentang akidah itu dari sumber-sumber formal Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi).
Dimensi pengetahuan atau ilmu pendidikan menunjuk pada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama mengenai ajaran-ajaran pokok dari keberislamanan. Dimensi pengetahuan atau ilmu mutlak diperlukan oleh seorang Muslim jangan sampai kita sebagai ummat Islam menjadi ingkar (murtad) seperti yang dijelaskan pada sosok tokoh Karman. Oleh karena itu, pengetahuan itu sangat diperlukan. Agar kita senantiasa eling pada-Nya.
Dimensi pengalaman atau pengahayatan adalah dimensi yang menyertai keyakinan, pengalaman, dan peribadatan. Dimensi penghayatan menunjuk pada seberapa jauh tingkat Muslim dalam meraskan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman religius. Dalam keberislaman, dimensi itu terwujud dengan dekat/akrab dengan Allah, perasaan doa-doanya sering terkabul, perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal (pasrah diri secara positif) kepada Allah, perasaan khusuk ketika melaksanakan shalat atau berdoa, perasaan tergetar ketika mendengar adzan
53
atau ayat-ayat Al-Qur’an, perasaan bersyukur kepada Allah, perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah.
Dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari, dimensi pengalaman ini dapat digambarkan pada tokoh Karman. Hal ini dapat tergambar pada kutipan berikut:
Tetapi Karman mendadak berhenti gagap. Termangu. Dua-tiga orang yang hendak sembahyang melawatinya tanpa peduli. Namun akhirnya seorang lelaki tua sambil berjalan menepuk pundak Karman. “Mari, Pak, sudah hampir ikamah. Dan seperti ada sesuatu yang mendorongnya, Karman ikut melangkah memasuki halaman masjid.”(Tohari, 2000: 30)
Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang Karman yang akan melakukan ritual sholat. Padahal ia telah lama meninggalkan salah satu rukun Islam tersebut. Sejarah kelamnya yang menjadi antek PKI membuatnya melupakan Tuhan-nya. Tapi ketika terbebas dari Pulau Buru ia pun melaksanakan sholat kembali.
Bisa juga digambarkan pada sosok Kastaghetek sebagai tokoh lataran dalam novel ini. Hal ini dpat digambarkan pada kutipan berikut:
Dari kampung, jauh di seberang sungai terdengar kentongan dipukul dua kali. Fajar akan menejalang dua jam lagi. Bulan hampir tenggelam. Bumi dan seisinya seakan sedang tidur. Langit pun sepi, tak ada sesuatu yang bergerak. Tetapi di atas rakitnya, Kastaghetek masih sibuk. Setelah berganti pakaian, Kasta menggelar tikar kecil, lalu berdiri menghadap ke barat. Di puncak malam yang amat hening, seorang diri Kastaghetek menegakkan shalat. Zikirnya khusuk. Dipandang dari ketinggian langit, Kasta larut dalam tasbih semesta. (Tohari, 2000: 166)
Hal ini juga terlihat pada petikan:” Ketika rasa takut masih mencengkram hatinya, Karman sempat berpikir tentang Kastaghetek. Ketenangannya. Dan keikhlasannya menjalani hidup. Karman Iri.” (Tohari, 2000: 170)
Ketika seseorang menghadirkan empat dimensi di atas dalam kehidupannya, sering pengalaman-pengalaman batin yang sangat individual terjadi. Ketika seseorang melakukan ibadah ritual haji (dimensi peribadatan/syariah), pengalaman-pengalaman batin yang sangat aneh terjadi.
54
Ketika seseorang berderma kepada orang lain (dimensi pengamalan/akhlak), maka dalam hatinya berdesir sebuah perasaan puas yang halus. Ketika seseorang mendapat penjelasan tentang surga dan neraka (dimensi pengetahuan/ilmu) dalam kalbunya muncul perasaan-perasaan aneh yang sulit dipahami. Ketika seseorang sadar bahwa setan selalu menggodanya (dimensi keyakinan/akidah) maka ada nuansa perasaan subjektif yang sangat kuat menyelusup dalam sanubarinya.
Keempat dimensi di atas pun tergambar dalam novel ini. ketika Karman meninggalkan segala bentuk peribadatannya ia pernah meninggalkan Islam (murtad) dengan menjadi antek PKI, itu artinya dimensi pengetahuan atau ilmu yang dimiliki Karman bisa dikatakan tidak terlalu tinggi atau memahami. Tetapi ketika bebas sebagai tahanan politik, Karman pun memulai hidupnya kembali menjadi seorang Muslim, ia kembali melaksanakan sholat. Hal ini merupakan dimensi pengalaman atau penghayatan. Dapat juga dijelaskan pada sosok Karman tatkala ia membangun sebuah kubah, ia mendapat sebuah pengalaman aneh sebelum yakni menjadi antek PKI bahkan sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Lalu ia membuat kubah dengan sangat hati-hati, ia niatkan menjadi sebuah ibadah. Se-sen pun ia tidak mendapatkan upah, dan tatkala ilmu yang didapatnya mengenai membuat kubah dan membangunnya untuk orang desa. Ia merasa sadar dan menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya. Begitulan penggambaran nilai-nilai pendidikan agama Islam sebagai nilai spritual yang disodorkan kepada pembaca.
B. Pembahasan
Nilai pendidikan pada novel bekisar merah adalah nilai pendidikan sosial yang ditunjukkan pada upaya masyarakat yang mengurus Darsa merupakan salah satu sikap positif dari perihal sosial yang ditunjukkan
55
masyarakat Karangsoga sebagai bentuk kepedulian sosial. Nilai pendidikan sosial itu ditegaskan memelalui salah satu tokoh yang menolong langsung saat kejadian Darsa jatuh dari pohon kelapa. Selain itu, nilai pendidikan pada novel Bekisar Merah juga menunjukkan nilai pendidikan budaya. Hal ini ditunjukkan melalui nasihat-nasihat dalam bahasa Jawa yang memiliki makna mendalam tentang hakikat kehidupan dan tanggung jawab terhadap kehidupan. Hal ini menuangkan bagaimana sikap seorang manusia yang hidup dengan kebudayaan orang Jawa, terutama nilai pendidikan dalam kehidupan yang hendaknya bersikap mau menerima kesalahan. Dengan rasa ikhlas menerima kenyataan maka hati akan tenang sehingga dapat menemukan jalan keluar. Selain itu dalam novel bekisar merah terdapat juga nilai pendidikan bahwa dalam bersikap hendaknya hati-hati dan berpikir terlebih dahulu, karena segala perbuatan pasti akan ada akibat dibelakangnya. Apa yang kita kerjakan maka hasil akan diraih setelahnya. Selain nilai pendidikan sosial dan budaya, nilai agama juga terdapat dalam novel tersebut. Pandangan hidup kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan serta sikap menerima terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bahwa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, batin atau jiwa. Novel Bekisar Merah dan Wasripin dan Satinah memiliki nilai-nilai pendidikan agama yang kuat.
Setiap perilaku tokoh terutama tokoh Eyang Mus dan Paman Satinah menuangkan nilai pendidikan agama. Nilai pendidikan agama yang dituangkan lebihmenuju kepada ketentraman batin tokoh. Sikap dan perilaku yang dituangkan beberapa tokoh dalam ke dua novel ini jika dipandang dari
56
pandangan peneliti lebih mengacu pada kitab Al Quran. Setiap agama memiliki pandangan dan pedoman sesuai dengan agama masing-masing.
Dalam novel Bekisar Merah tokoh yang banyak menuangkan nilai-nilai pendidikan agama adalah tokoh Eyang Mus yaitu penjaga surau sekaligus imam surau. Orang paling dihormati oleh penduduk Karangsoga. Mereka selalu banyak meminta nasihat. Salah satunya ketika Mbok Wiryaji mendapat nasihat oleh Eyang Mus bahwa Tuhan itu tidak tidur dan janganlah berputus asa dalam menghadapi ujian kehidupan. Nilai pendidikan agama berupa keikhlasan juga dijelaskan dalam novel Bekisar Merah ini. Nilai pendidikan agama berupa keikhlasan dituangkan ketika keluarga Lasi mengalami ujian hidup. Penduduk Karangsoga menguatkan hati dan menasehati keluarga Lasi yang mendapat musibah. Selain itu, ajaran puasa yang tidak hanya sekedar untuk menahan diri dari makan dan minum tapi ajaran puasa yang sesungguhnya untuk menahan nafsu. Dan ajaran puasa sebenarnya tidak memaksakan, dilakukan bagi mereka yang mampu juga menjadi kekuatan dalam novel Bekisar Merah. Nilai pendidikan agama untuk berpuasa dituangkan dalam novel ini. Ahmad Tohari memiliki latar belakang agama yang bagus karena latar belakang pesantren.
Agak berbeda dengan novel Bekisar Merah, novel kubah lebih menekankan pada nilai pendidikan agama atau religius. Dimensi peribadatan (praktIk agama) atau syariah menunjuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Dalam keberislaman, dimensi peribadatan menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an, doa, dzikir, ibadah kurban, iktikaf di masjid di bulan puasa dan sebagainya.
57
Dimensi pengamalan atau akhlak menunjuk pada seberapa tingkatan Muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Dalam keberislaman, dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menyejahterahkan dan menumbuhkembangkan oranglain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berperilaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak meminum-minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma Islam dalam perilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran Islam dan sebagainya. Hal ini tercermin pada pada upaya pengarang dalam yang digambarkan dalam tokoh Karman yang memiliki sifat menderma. Ia membangun tanpa mengharap upah nilai rupiah se-sen pun. Selain itu, penggambaran aspek pengetahuan atau ilmu pendidikan menunjukkan pada tingkat pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama mengenai ajaran-ajaran pokok dari keberislamanan. Dimensi pengetahuan atau ilmu mutlak diperlukan oleh seorang Muslim jangan sampai kita sebagai ummat Islam menjadi ingkar (murtad) seperti yang dijelaskan pada sosok tokoh Karman. Oleh karena itu, pengetahuan itu sangat diperlukan. Agar kita senantiasa ingat kepada Allah. Dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari, menggambarkan pengalaman ini dapat pada tokoh Karman yang akan melakukan ritual sholat, padahal ia telah lama meninggalkan salah satu rukun Islam tersebut. Sejarah kelamnya yang menjadi antek PKI membuatnya melupakan Tuhan-nya. Tapi ketika terbebas dari Pulau Buru ia pun melaksanakan sholat kembali Ketika Karman meninggalkan segala bentuk peribadatannya ia pernah meninggalkan Islam (murtad) dengan menjadi antek PKI, itu artinya dimensi pengetahuan atau ilmu yang dimiliki Karman bisa
58
dikatakan tidak terlalu tinggi atau memahami. Tetapi ketika bebas sebagai tahanan politik, Karman pun memulai hidupnya kembali menjadi seorang Muslim, ia kembali melaksanakan sholat. Sosok Karman tatkala ia membangun sebuah kubah, ia mendapat sebuah pengalaman aneh sebelum yakni menjadi antek PKI bahkan sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Lalu ia membuat kubah dengan sangat hati-hati, ia niatkan menjadi sebuah ibadah. Se-sen pun ia tidak mendapatkan upah, dan tatkala ilmu yang didapatnya mengenai membuat kubah dan membangunnya untuk orang desa. Ia merasa sadar dan menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya. Itu nilai-nilai pendidikan agama Islam sebagai nilai spritual yang disodorkan kepada pembaca oleh Ahmad Tohari.
59
BAB V