BAB 5. PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG
2. Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai
3.4. Nilai Tukar Petani
Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat meningkat dari 92,70 pada triwulan IV 2018 menjadi 96,41 pada triwulan I 2019. Peningkatan NTP tersebut disebabkan oleh lebih tingginya peningkatan indeks yang diterima dibandingkan indeks yang dibayar petani. Adapun subsektor utama yang mendorong kenaikan NTP adalah subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat. Namun demikian, angka NTP Riau pada triwulan I 2019 masih berada dibawah 100 yang berarti bahwa kesejahteraan petani di Riau masih dalam keadaan yang kurang menggembirakan (Grafik 6.12).
Grafik 6.12. Perkembangan Nilai Tukar Petani
Sumber : BPS Provinsi Riau, diolah
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP), yang lebih mencerminkan kemampuan produksi petani karena hanya membandingkan produksi dengan biaya produksi, mengalami peningkatan dari 104,59 pada triwulan IV 2018 menjadi 108,68 pada triwulan I 2019. NTUP tertinggi masih dicatatkan oleh subsektor perikanan sebesar 120,94 dengan rincian subsektor perikanan tangkap 129,70 dan subsektor perikanan budidaya sebesar 108,13. Disisi lain, NTUP terendah dialami oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat yang sebesar 107,07.
90 95 100 105 110 115 120 125 130 135 140
Des Mar Juni Sep Des Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Des
2014 2015 2016 2017 2018
Tanaman Pangan Hortikultura Tanaman Perkebunan Rakyat
Peternakan Perikanan Indeks yang diterima
GE
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI RIAU Prospek Perekonomian Daerah87
1. PROSPEK MAKROREGIONAL
Perkembanganekonomi Riau pada triwulan III 2019 diperkirakan tumbuh positif dan berada pada kisaran 2,00 2,40 %(yoy), relatif stabil dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Riau triwulan II 2019. Ditinjau dari sisi penggunaan, sumber pertumbuhan diperkirakan berasal dari PMTB dan net ekspor. Pertumbuhan PMTB diperkirakan meningkat sejalan dengan perkiraan mulai positifnya pertumbuhan harga CPO dan karet setelah sebelumnya selalu tumbuh negatif sejak pertengahan 2017. Membaiknya pertumbuhan harga kedua komoditas ini menjadi insentif dunia usaha di Riau untuk menambah investasi. Pertumbuhan ekspor luar negeri Riau pada triwulan III 2019 diperkirakan masih tetap meningkat seiring dengan penurunan tarif impor CPO dan RPO India dari 44% dan 54% menjadi 40% dan 50% dan perkiraan
PROSPEK PEREKONOMIAN
DAERAH
88
mulai positifnya pertumbuhan harga CPO di tengah masih terbatasnya ekspor CPO ke Eropa dan AS. Sementara itu, dari sisi sektoral, dorongan terhadap ekonomi Riau triwulan III 2019 utamanya berasal dari: (i) sektor industri pengolahan dan (ii) sektor konstruksi. Dorongan sektor industri pengolahan berasal dari penurunan tarif impor CPO dan RPO India dari 44% dan 54% menjadi 40% dan 50%, mulai positifnya pertumbuhan harga CPO, dan semakin meluasnya program B20 yang digulirkan pemerintah. Sementara itu, dorongan sektor konstruksi pada triwulan III 2019 diperkirakan sejalan dengan masih berlanjutnya konstruksi jalan tol Pekanbaru Dumai yang hingga kini pembangunannya telah mencapai sekitar 46%.Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan berada pada kisaran 2,20 2,60 % (yoy), dengan tendensi meningkat (namun terbatas) jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2018. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Riau untuk keseluruhan 2019 diperkirakan bersumber dari meningkatnya pertumbuhan belanja pemerintah dan ekspor antar daerah. Dari sisi sektoral, sektor industri pengolahan diperkirakan menjadi pendorong utama meningkatnya ekonomi Riau untuk keseluruhan 2019. Namun, peningkatan yang lebih tinggi tertahan oleh sektor pertambangan yang terkontraksi lebih dalam, serta sektor pertanian, konstruksi, dan sektor perdagangan yang diperkirakan mengalami perlambatan.
Grafik 7.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Riau Aktual dan Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi Riau Tahun 2019 (% yoy)
*Proyeksi Bank Indonesia
Dari sisi eksternal, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Riau untuk keseluruhan 2019 didorong utamanya oleh perkiraan masih sedikit meningkatnya perekonomian
GE
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI RIAU Prospek Perekonomian Daerah89
India dan membaiknya harga komoditas minyak kelapa sawit dan karet, meskipun perbaikannya terbatas. Adapun perekonomian dunia pada 2019 diperkirakan tumbuh melambat dibandingkan 2018. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 didorong oleh pertumbuhan ekonomi AS yang diperkirakan melambat sejalan dengan konsumsi yang tertahan, melambatnya investasi, kondisi tenaga kerja yang semakin ketat, serta terbatasnya dukungan fiskal. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2019 diperkirakan sedikit melambat sejalan dengan rebalancing yang tengah dilakukan, dimana ekspor semakin melambat di tengah investasi yang sudah bottoming out dan arah kebijakan counter-cyclical yang dilakukan oleh otoritas Tiongkok. Adapun ekonomi Eropa dan Jepang pada 2019 diperkirakan melambat seiring dengan terbatasnya dorongan sektor eksternal, terbatasnya ruang fiskal, lemahnya permintaan domestik, dan permasalahan struktural tenaga kerja (termasuk aging population) yang memicu lemahnya produktivitas. Sementara itu, harga komoditas non-migas pada 2019, terutama CPO dan karet, diperkirakan membaik dibandingkan 2018. Meskipun harga CPO diperkirakan masih akan terkontraksi di 2019, namun tidak sedalam kontraksi yang terjadi pada 2018. Membaiknya harga CPO sejalan dengan meningkatnya demand India dan perkiraan meningkatnya konsumsi minyak kelapa sawit Tiongkok imbas perang dagang dengan AS. Sementara itu, perbaikan harga karet sejalan dengan pemangkasan pasokan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai produsen utama karet global. Adapun harga minyak dunia 2019 diperkirakan melambat dibandingkan 2018 sejalan dengan meningkatnya suplai minyak AS.Dari sisi sektoral, pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Riau untuk keseluruhan tahun 2019 diperkirakan melambat dibandingkan 2018. Perlambatan sejalan dengan tidak diperbolehkannya perusahaan-perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri untuk melakukan ekspansi dan penanaman kembali (replanting) di lahan-lahan perkebunan yang berada di area fungsi lindung ekosistem gambut sesuai dengan Permen LHK No. P.17/2017. Akan tetapi, perlambatan yang lebih besar tertahan oleh semakin banyaknya tanaman replanting (kelapa sawit dan karet) yang memasuki usia panen dan intensifikasi yang dilakukan banyak perusahaan perkebunan sawit a.l. melalui mekanisasi proses panen dan pengangkutan TBS.
90
Pertumbuhan sektor industri pengolahan Riau untuk keseluruhan 2019 diperkirakan meningkat dibandingkan 2018. Peningkatan diperkirakan didorong oleh tiga hal. Pertama, terus didorongnya kebijakan mandatori campuran biodiesel ke dalam bahan bakar nabati oleh pemerintah (B20). Pada 2019, pemerintah berencana untuk mengalokasikan sekitar 6,19 juta KL biodiesel. Alokasi ini meningkat sekitar 78% dibandingkan penyaluran biodiesel sepanjang 2018 yang tercatat sekitar 3,47 juta KL Riau sebagai provinsi penghasil minyak kelapa sawit terbesar direncanakan mendapat alokasi sekitar 2,28 juta KL pada 2019, dimana alokasi tersebut baru sekitar 50,4% kapasitas aktif industri bahan bakar nabati Riau yang diperkirakan mencapai 4,52 juta KL.Kedua, perkiraan membaiknya ekspor CPO, RPO dan produk berbasis minyak kelapa sawit lainnya ke India sejalan dengan diturunkannya tarif impor produk dimaksud, sehingga produk tersebut semakin kompetitif dibandingkan produk minyak nabati lainnya. Tarif impor CPO dan RPO India per Januari 2019 diturunkan dari 44% dan 54% menjadi 40% dan 50%. Langkah penurunan tersebut diambil India sejalan dengan negosiasi eksportir dan produsen CPO besar dari Malaysia dan Indonesia, serta tidak mencukupinya produksi minyak nabati dalam negeri meskipun beberapa kebijakan telah diterapkan dalam rangka mendorong produksi lokal. Rabobank dalam sebuah riset pada tahun 2018 memperkirakan bahwa pada 2030, konsumsi minyak nabati India akan mencapai sekitar 34 juta ton, dimana produksi lokal hanya dapat mencukupi 9 juta ton (atau sekitar 26,5%). Konsumsi yang besar ini didorong utamanya oleh jumlah penduduk India yang besar. Selain itu, membaiknya ekspor minyak kelapa sawit Riau ke India juga dibantu oleh membaiknya ekspor minyak kelapa sawit Riau ke Bangladesh dan Pakistan yang merupakan anggota SAFTA (South Asian Free Trade Area) bersama India.
Ketiga, prospek meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit Riau ke Tiongkok. Hal ini sejalan dengan kembali meningkatnya eskalasi perang dagang AS-Tiongkok yang membuat Tiongkok masih menghambat impor minyak kedelai dari AS. Seiring dengan menurunnya impor minyak kedelai dari AS akibat naiknya tarif impor, impor minyak kelapa sawit Tiongkok sebagai substitusi minyak kedelai sejak Juni 2018 menunjukkan tren peningkatan, termasuk impor dari Riau.
GE
LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI RIAU Prospek Perekonomian Daerah91
Pertumbuhan industri pengolahan Riau yang lebih tinggi pada 2019 tertahan oleh beberapa faktor, antara lain: (i) Mulai berlakunya phasing out Uni Eropa atas minyak kelapa sawit pasca penerapan Renewable Energy Directive II (RED II) yang mengkategorikan minyak kelapa sawit sebagai faktor penyebab konversi lahan dan berisiko terhadap keberlanjutan lingkungan; (ii) Berlaku efektifnya suspend GSP (Generalised Scheme of Preferences) oleh Uni Eropa atas Indonesia sejak 1 Januari 2018, sehingga tarif impor minyak kelapa sawit dari Indonesia tidak lagi Dengan kata lain, tarif impor minyak kelapa sawit Eropa dari Indonesia meningkat dari 6,10% menjadi 9,60%; dan (iii) Dinaikkannya Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) produk biodiesel dari Indonesia oleh AS menjadi 127% 341%.Sektor pertambangan dan penggalian migas masih cenderung melanjutkan tren kontraktif. Lifting minyak bumi Riau dalam lima tahun terakhir turun 5-10% per tahun sejalan dengan banyaknya sumur yang tua. Telah ditetapkannya PT Pertamina menjadi kontraktor KKS blok Rokan pada 2021 mendatang menggantikan PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) semakin mempertegas bahwa pengembangan Enhance Oil Recovery (EOR) secara full scale tidak akan begitu signifikan setidaknya hingga 2021.
Kinerja sektor konstruksi untuk keseluruhan 2019 diperkirakan sedikit mengalami perlambatan dibandingkan 2018. Perlambatan didorong oleh telah selesainya beberapa proyek infrastruktur strategis provinsi pada awal 2019 seperti Flyover simpang SKA, Flyover simpang pasar pagi Arengka, dan Jembatan Siak IV. Namun perlambatan sektor ini tidak begitu dalam seiring dengan masih berlanjutnya proyek strategis nasional seperti jalan tol Pekanbaru Kandis Dumai sepanjang 135 Km yang perkembangannya hingga kini mencapai sekitar 46%.
Sektor perdagangan besar, eceran, dan reparasi juga diperkirakan melambat untuk keseluruhan 2019. Perlambatan tersebut didorong oleh perkiraan melambatnya konsumsi rumah tangga dan PMTB pada 2019. Akan tetapi, perlambatan sektor ini tidak begitu dalam seiring dengan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Riau, kenaikan dan rapel gaji ASN, momentum pemilu 2019, serta peningkatan nominal bantuan sosial PKH dan BPNT.