• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

II.I. Bentuk Penelitian

II.5. Teknik Analisis Data

1.5. Kerangka Teori 1.Administrasi 1.Administrasi

1.5.2. Pelayanan Publik

1.5.4.3. Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)

Menurut Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004, tentang Jabatan Notaris dalam Pasal 1 (satu), disebutkan pengertian Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

Menurut Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor: M.01-HT.03.01 tahun 2006, tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan dan Pemindahan, dan Pemberhentian Notaris dalam Pasal 1 ayat (1), yang dimaksud dengan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya.

Notaris adalah pejabat umum maksudnya adalah seseorang yang diangkat, diberi wewenangdan kewajiban oleh Negara untuk melayani publik dalam hal tertentu.

Notaris merupakan merupakan pejabat publik yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, guna memberi perlindungan dan jaminan hukum demi tercapainya kepastian hukum dalam masyarakat. Pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian fungsi publik negara, yang khususnya dibidang hukum Perdata.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) ialah, pejabat yang berfungsi membuat akta yang bermaksud memindahkan tanah, memberikan hak baru atau membebankan hak atas tanah.

Menurut Effendi Perangin dalam Hukum Agraria Indonesia (1994 : 3), Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) adalah pejabat yang berwenang membuat

akta daripada perjanjian-perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah, menggadaikan tanah atau meminjamkan uang dengan hak atas tanah sebagai

tanggungan.

Pengertian Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) lebih ditegaskan lagi dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah yang menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1961 yaitu Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta pemindahan hak atas tanah, pembebanan hak atas tanah dan akta-akta lain yang diatur dengan peratuuran perundang-undangan yang berlaku dan membantu Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional dalam melaksanakan pendaftaran tanah dengan membuat akta-akta yang akan dijadikan dasar pendaftaran, perubahan data pendaftaran tanah.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37/1998, tanggal 5 Maret 1998, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) terdiri dari PPAT, PPAT sementara dan PPAT Khusus, dikemukakan bahwa :

a. PPAT adalah : pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai hak atas tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun, biasanya jabatan ini dirangkap juga oleh Notaris.

b. PPAT Sementara adalah : Pejabat Pemerintah yang ditunjuk karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat Akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT.

karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT tertentu khusus dalam rangka pelaksanaan program atau tugas pemerintah tertentu. 1.5.4.4. Pengertian Hak Milik Atas Tanah

Hak milik merupakan hak atas tanah yang terkuat, terpenuh, dan bersifat turun temurun serta merupakan induk dari hak-hak lain dengan jangka waktu yang tidak terbatas. Hak Milik bisa dialihkan, dijaminkan, dan diwariskan. Dalam penulisan ini Hak Milik yang maksud adalah berbentuk Sertipikat Hak Milik.

Menurut pasal 20 ayat (1) UUPA adalah hak turun temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Turun temurun: maksudnya Hak Milik atas Tanah dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup dan bila pemiliknya meninggal dunia, maka Hak Milinya dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya sepanjang memenuhi syarat sebagai subjek Hak Milik. Terkuat maksudnya: Hak Milik atas tanah lebih kuat bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, tidak mempunyai batas waktu tertentu, mudah dipertahankan dari gangguan pihak lain, dan tidak mudah hapus. Terpenuh: Hak Milik atas Tanah memberi wewenang kepada pemiliknya paling luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, dapat menjadi induk bagi hak atas tanah yang lain, tidak berinduk kepada hak atas tanah yang lain, dan penggunaan tanahnya lebih luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain.

Menurut pasal 50 KUH Perdata, Hak Milik adalah hak untuk menikmati suatu benda itu dengan sebebas-bebasnya, asal tidak dipergunakan bertentangan dengan Undang-Undang atau Peraturan Umum yang diadakan oleh kekuasaan yang mempunyai wewenang untuk itu dan asal tidak menimbulkan gangguan

terhadap hak-hak orang lain.

Kesemuanya itu dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya pencabutan hak itu untuk kepentingan umum, dengan adanya pembayaran

pengganti kerugian yang layak dan menurut ketentuan Undang-Undang. 1.5.4.5. Pendaftaran dan Penerbitan Hak Milik Atas Tanah

Sertipikat hak atas tanah sebagai produk akhir dari pendaftaran tanah yang diperintahkan oleh hukum, yakni Undang-Undang Pokok Agraria dan Peraturan pemerintahNomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah telah mengikat bagi para pejabat Badan Pertanahan Nasional untuk menerbitkan sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemilikan tanah.

Sejak berlakunya PP Nomor 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah, jual beli dilakukan oleh para pihak dihadapan PPAT yang bertugas membuat aktanya. Dengan dilakukannya jual beli dihadapan PPAT, dipenuhi syarat terang (bukan perbuatan hukum yang gelap/yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi). Akta Jual Beli yang ditandatangani para pihak membuktikan telah terjadi pemindahan hak dari penjual kepada pembelinya dengan disertai pembayaran harganya, telah memenuhi syarat tunai dan menunjukan bahwa secara nyata atau riil perbuatan hukum jual beli yang bersangkutan telah dilaksanakan.

Demikian juga menurut PP Nomor 24 tahun 1997 (Pasal 3 ayat 1), menghendaki perjanjian jual beli tanah harus dibuat dalam bentuk akta autentik yang dibuat dihadapan para pejabat yang bewenang, yakni PPAT.

Jadi, menurut PP Nomor 24 tahun 1997 pendaftaran jual beli itu hanya dapat dilakukan dengan Akta PPAT sebagai buktinya. Orang yang melakukan jual beli tanpa dibuktikan dengan Akta PPAT tidak akan dapat memperoleh sertipikat.

Setelah PPAT membuat akta autentik dan telah ditandatangani oleh kedua pihak,

dan setelah penjual, pembeli tersebut memenuhi persyaratan, maka PPAT tersebut melakukan pendaftaran atas tanah tersebut melalui Kantor Badan Pertanahan Nasional dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh Kantor Badan Pertanahan Nasional setempat.

Kemudian Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) tersebutlah yang memproses Pendaftaran dan Peralihan Hak tersebut, dan setelah selesai diproses dalam jangka waktu kurang lebih 2 (dua) bulan berkas tersebut diterima oleh Kantor Badan Pertanahan Nasional, maka setelah selesai terbitlah sertipikat atas nama pembeli yang baru tadi. Dan sertipikat itu

telah resmi menjadi hak milik pembeli sepenuhnya. 1.6. Definisi Konsep

Konsep adalah istilah atau definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi pusat ilmu sosial. Dengan konsep peneliti melakukan abstraksi dan menyederhanakan pemikirannya melalui penggunaan satu istilah untuk beberapa kejadian (event) yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun yang menjadi definisi konsep dalam penelitian ini adalah :

1. Pelayanan Administrasi: hasil pelayanan yang secara kualitas dan kuantitas yang diberikan oleh Kantor Badan Pertanahan Nasional dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan

kepadanya dalam hal pelayanan publik.

2. Proses Peralihan Jual Beli Hak Atas Tanah dan pendaftaran Hak Milik atas Tanah dalam bentuk Sertipikat Hak Milik: pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan untuk melaksanakan kegiatan Pemerintah dalam hal pemindahan nama dan pendaftaran hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3. Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), yaitu menyusun rencana, menyusun program, dan penganggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pertanahan, pelayanan perijinan, pelaksanaan survey, pengukuran, pemetaan dasar, pelaksanaan pengendalian pertanahan.

4. Fungsi Notaris dan PPAT, fungsi dari Notaris/PPAT untuk membuat akta autentik sebagai syarat untuk melakukan pendaftaran Hak Milik Atas Tanah pada Kantor Badan Pertanahan Nasional.

5. Pelayanan Administrasi Kantor Badan Pertanahan Nasional Dalam Menyelesaikan Proses Peralihan Jual Beli Hak Milik Atas Tanah berdasarkan keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 15 tahun 2014 tentang pedoman standar pelayanan, terdapat beberapa persamaan dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 tahun 2003 tersebut diatas, dan pada Nomor 15 tahun 2014 ini terdapat beberapa tambahan sebagai berikut:

a. Identifikasi Persyaratan, yaitu persyaratan pelayanan merupakan suatu tuntutan yang harus dipenuhi, persyaratan pelayanan ini dapat berupa dokumen atau barang/hal lain, tergantung kebutuhan masing-masing jenis pelayanan.

b. Identifikasi Prosedur, yaitu tata cara pelayanan yang dibakukan bagi penerima pelayanan.

c. Identifikasi Waktu, yaitu jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses pelayanan dari setiap jenis pelayanan.

d. Identifikasi Biaya/Tarif, yaitu biaya adalah ongkos yang dikenakan kepada penerima layanan dalam mengurus dan/atau memperoleh pelayanan dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara masyarakat.

e. Hambatan atau kendala yaitu halangan atau rintangan yang dihadapi yang bersifat menghalangi dan mencegah dalam pencapaian sasaran yang ingin dicapai.

1.7. Sistematika Penulisan

Dokumen terkait