• Tidak ada hasil yang ditemukan

OBAT ALERGI

Dalam dokumen Buku Obat .pdf (Halaman 156-164)

Sebagai bagian dari kemampuan bertahan hidup, tubuh manusia sudah dibekali dengan sistem imun (daya tahan). Sistem imun ini akan bereaksi setiap kali terpapar sesuatu dari luar tubuh, misalnya bakteri, virus, bahan kimia, dan sejenisnya. Sistem imun inilah yang menjadi benteng pertahanan pertama kalau tubuh kemasukan benda-benda asing yang berbahaya.

Namun, ada kalanya sistem imun mengalami gangguan. Bahan-bahan yang tidak berbahaya pun dilawan karena dianggap berbahaya. Reaksi keliru inilah yang kemudian muncul dalam bentuk alergi.

Bahan-bahan yang biasanya menyebabkan alergi pada sebagian orang antara lain debu, rambut hewan, gigitan serangga,

serbuk sari, udang, ikan, seafood, kacang-kacangan, kedelai, telur, susu formula, tepung terigu, lateks (karet), keringat, asap rokok, bahan kimia (misalnya detergen), dan obat-obatan tertentu (seperti ampisilin dan amoksisilin). Reaksi alergi bisa juga dipicu oleh kondisi, misalnya suhu udara yang terlalu dingin.

Gejala alergi sangat bervariasi, mulai dari yang ringan sampai yang sangat berat. Mulai dari hidung meler, bersin-bersin, gatal, iritasi, biduran, radang tenggorok, bengkak, hipotensi (tekanan darah rendah), asma, diare, muntah, jantung berdebar-debar, sampai pingsan dan syok.

Ada dua kelompok besar obat alergi, yaitu:

1. Antihistamin

Obat ini bekerja dengan cara menetralkan histamin. Histamin adalah bahan yang bertanggung jawab terhadap timbulnya gejala alergi. Contoh obat golongan ini klorfeniramin maleat,

difenhidramin, tripolidin, bromfeniramin, setirizin, loratadin, desloratadin, dan fexofenadin.

Dari sekian banyak contoh antihistamin di atas, yang paling banyak digunakan adalah klorfeniramin maleat yang dalam bahasa sehari-hari, kita mengenalnya dengan sebutan CTM, singkatan dari chlor-trimeton, nama lainnya.

Biasanya antihistamin, terutama antihistamin generasi lama, memiliki efek samping menyebabkan kantuk dan mulut kering.

Itu sebabnya, saat minum obat yang mengandung antihistamin, kita sebaiknya tidak mengendarai kendaraan bermotor karena obat ini bisa menyebabkan kantuk dan mengurangi kemampuan berkonsentrasi. Efek samping ini sebetulnya tidak buruk karena dengan begitu kita akan beristirahat dan memberi kesempatan kepada tubuh untuk menyehatkan diri.

Namun, tidak semua antihistamin menyebabkan kantuk. Sebagian obat generasi baru, misalnya loratadin, desloratadin,

setirizin, dan feksofenadin tidak menyebabkan kantuk berat.

Efek kantuknya mungkin tetap ada tapi sangat kecil. Anda bisa memintanya kepada dokter jika memang Anda sedang beraktivitas penting dan tidak boleh mengantuk.

Obat Contoh merek dagang

CTM Cohistan®, Dehista®,Orphen®, Pehachlor® Deksklorfenira min maleat Polaramine®, Histaklor® Feniramin maleat Avil®

Siproheptadin Apeton®, Ennamax®, Glocyp®, Heptasan®, Lexahist®, Poncohist®, Prohessen®

Mebhidrolin Gabiten®, Histapan®, Interhistin®, Tralgi® Loratadin Claritin® , Alernitis®, Allerhis®, Allohex®, Alloris®, Clarihis®, Clatatin®, Cronitin®, Dayhist®, Folerin®, Gradine®, Imunex®, Inclarin®, Inversyn®, Klinset®, Lesidas®, Logista®, Lolergi®, Loran®, Lorihis®, Nosedin®, Nufalora®, Pylor®, Rahistin®, Rihest®, Sohotin®, Soneryl®, Tinnic®, Urtilar®, Winatin®, Xepalodin® Desloratadin Aerius®

Setirizin Incidal-OD®, Betarhin®, Cerini®, Cetinal®, Cetrixal®, Cetrol®, Cetymin®, Estin®, Falergi®, Intrizin®, Histrine®, Lerzin®, Nichorizin FM®, Ozen®, Rinocet®, Risina®, Ritez®, Rozine®, Rybest®, Rydian®, Ryvel®, Ryzen®, Ryzicor®, Ryzo®, Tiriz®, Zenriz® Levosetirizin Xyzal®

2. Kortikosteroid

Ini bukan obat bebas. Tapi pasien perlu mengetahuinya karena sering diresepkan oleh dokter. Di Indonesia obat ini juga kadang digunakan oleh orang awam secara serampangan (bebas-tapi-salah).

Kortikosteroid bekerja dengan cara menekan sistem daya tahan tubuh sehingga sistem imun ini tidak bereaksi kepada alergen (bahan penyebab alergi). Jadi, sebetulnya cara kerja obat ini justru menekan kesehatan. Ibaratnya, obat ini melumpuhkan “pasukan” yang menjaga kesehatan tubuh kita.

Karena cara kerjanya yang justru menekan daya tahan tubuh, obat ini harus digunakan secara sangat hati-hati. Untuk obat alergi, obat ini biasanya dikombinasikan dengan obat golongan antihistamin. Baca juga Bab Kortikosteroid.

Obat Contoh merek dagang

Kortikosteroid & antihistamin

Celestamine®, Alegi®, Alerdex®, Celestik®, Colergis®, Cortamine®, Dextaco®, Dextafen®, Dextamine®, Domesone®, Gratamin®, Ocuson®, Lorson®, Meclovel®, Nilacelin®, Pritacort®, Proxona®, Soldextam®, Trodex®, Zestam®

Semua obat di atas hanya bekerja sebagai pertolongan pertama yang menghilangkan gejala. Untuk mencegah terulangnya alergi, kita harus mengetahui dengan tepat penyebabnya lalu sebisa mungkin menjauhinya.

Alergi termasuk salah satu masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Anak yang lahir dari orangtua yang punya riwayat alergi biasanya punya kemungkinan lebih besar berkecenderungan alergi.

Alergi pada anak tidak selalu sama dengan alergi pada orangtuanya. Misalnya, si bapak alergi terhadap seafood, bisa saja anaknya tidak alergi terhadap seafood tapi alergi terhadap telur atau kacang. Peluang alergi makin besar pada anak-anak yang tidak memperoleh ASI eksklusif. Oleh sebab itu, untuk mencegah alergi pada anak, orangtua amat sangat disarankan untuk memberi ASI, terutama di usia bayi enam bulan pertama sampai dua tahun.

17

KORTIKOSTEROID

Di Indonesia, kortikosteroid merupakan salah satu golongan obat yang banyak digunakan secara salah (misused), juga disalahgunakan (abused). Itu sebabnya obat ini perlu dibahas secara khusus. Contoh dari kortikosteroid adalah deksametason,

kortison, hidrokortison, prednison, prednisolon, metil prednisolon.

Obat ini sebetulnya bukan termasuk golongan obat bebas. Namun, faktanya kita bisa mendapatkan obat ini dengan mudah, tidak hanya di apotek, tapi juga toko obat, bahkan di penjual jamu. Banyak jamu yang secara sengaja dioplos dengan kortikosteroid agar lebih mujarab dan cespleng.

Di Indonesia, kortikosteroid dijuluki “obat dewa” karena khasiatnya yang luas, bisa menghilangkan gejala bermacam-macam penyakit, mulai dari asma, nyeri, rematik, sakit mata, hingga alergi dan sakit kulit.

Di dalam tubuh, kortikosteroid bisa mengurangi radang (inflamasi). Itu sebabnya obat ini bisa menghilangkan gejala penyakit yang disertai peradangan, misalnya nyeri, rematik, dan asma.

Kortikosteroid juga bisa menekan sistem imun (daya tahan) tubuh. Itu sebabnya obat ini juga bisa menghilangkan gejala penyakit-penyakit akibat reaksi imun, misalnya alergi.

Namun, di samping berbagai manfaat di atas, kortikosteroid juga memiliki banyak mudarat. Jika diminum setiap hari, dalam tempo seminggu saja pemakaian obat ini bisa menimbulkan efek samping antara lain tekanan darah naik, kaki bengkak, glaukoma (hipertensi di mata), hingga kenaikan berat badan. Efek samping yang terakhir ini sering dimanfaatkan oleh pembuat jamu oplosan untuk meracik obat penambah nafsu makan dan peningkat berat badan, misalnya buat anak yang kurus.

Jika digunakan dalam jangka panjang, misalnya sampai berbulan-bulan, efek buruknya lebih banyak lagi. Mulai dari risiko gangguan penglihatan, hipertensi, daya tahan tubuh rendah (membuat peminumnya jadi mudah sakit dan gampang terinfeksi),

tulang keropos (osteoporosis), tukak (luka) lambung, gangguan siklus menstruasi, dan masih banyak lagi.

Karena banyaknya efek buruk ini, sebaiknya kita tidak menggunakannya secara bebas sekalipun faktanya kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Penggunaannya harus sangat hati-hati, dan dosisnya harus benar-benar tepat. Jika digunakan dalam jangka panjang, penghentiannya juga harus dilakukan secara gradual dengan cara menurunkan dosisnya sedikit demi sedikit. Jadi, tidak boleh dihentikan begitu saja. Hal-hal semacam ini tentu sulit dilakukan oleh orang awam kalau tidak di bawah pengawasan dokter dan apoteker.

Dalam dokumen Buku Obat .pdf (Halaman 156-164)

Dokumen terkait